Click Here to Back

GUEST ROOM

  1. waduh, e-mail yang mana ya? kirimnya kemana? maaf…saya kadang pelupa (lumayan sering juga seh, hehehe…) ntar saya kirim e-mail kosong deh ke kamu…

    kanggo kang andre venussa….bahasan teh nana deui…nana deui….si nana teh april ini menikah dan bukan sama reni. daripada ngurusin orang lain, mending urus diri sendiri.

    onat….saya lagi malas cari informasi. mending infonya diumumkan disini saja. oh ya…diki itu kerja di dago tea house ya…pantesan kemarin ketemu di sukabumi acaranya pesta nelayan. tapi dianya keburu cabs, jadi gak nanya banyak, hehehe….

    saya mo ngajak perwakilan angkatan makan….nanti waktunya saya kasih tahu lagi….nuhunnya….

    eh iya, angkatan 2001 baru aja punya friendster, lumayan buat gagaringan….mo bergabung? silahkan tulis alamat e-mailnya nanti kami add. nuhun nya….

  2. daramang…. dulur…
    ren… iraha euy???
    kade ah tong hilap ngundang… hehehe….
    jurnalistik… nu…. (sarengan ah…)

  3. tiap malam minggu di Balai Pengelolaan Taman Budaya (Dago Tea House) da pergelaran budaya, arulin atuh ulah cicing wae d kostan

  4. kie….sekalian atuh kasih jadwalnya. biar gak usah bengong dulu pengen ngeliat pagelaran yang mana…..walau kosan di dago, tapi suka males ke dago tea house, hehehe
    kalau acara kabaret kapan? atau acara berbau sunda gitu….. nuhun…..

  5. Ren Malam minggu depan acaranya “Sapeuting Ti Ujungberung”,Tiap Pagelaran Kebanyakan Acaranya tentang budaya sunda,malam minggu kemaren za Pagelaran Etalase Musik Bambu yang mainnya dari Saung Angklung Udjo, Bangklung Dari Garut dan Punklung dari Cicalengka,kabaret paling bulan depan tgl 3 mei, ajakan ren barudak ulah wae di kampus wae kituh he..he,pokonya tiap mlm minggu da pagelaran.

  6. arimaneh dikie…ker nanaonan, iraha aya pagelaran anu wah.ajakan urang atuh……ari gratismah. ke dianter kawin. cenah maneh kawin rek nanggap sasagon hadelah…

  7. Nuhun kang Kie2, upami tiasa mah kabari terus info tentang Dago Tea House, ka Email feri, feri_poernama@yahoo.com
    atanapi ka No Hp, nyungkeun we ka teh Reni, upami di Ol keun mah bisi aya fans anu teu paruguh, he,,he,,, diantos!! mangga, jurnalistik,,,,!!!

  8. feri ke lah kuurang dbjaan deui info pagelaran di dago tea house,ajakan barudak mun aya pagelaran di taman budaya ulah seuna cicing wae di kampus, ieu Email urang Kie_ahmad26@yahoo.com

  9. pengumuman…..hp saya ilang untuk yang ke tiga kalinya. jadi, semua no ikutan ilang. bagi yang memerlukan no telpon saya, bisa kirim e-mail ke dunia_ren@yahoo.com atau rensusanti@yahoo.com, nah…saya juga minta no telpon temen2, mangga dikintun we ka alamat e-mail yang tadi

    kie….acara di dago tea house jadwal untuk satu tahun itu ada kan? kemungkinan berubahnya gimana? boleh dong dikirim ke e-mail, kalo ada soft copy acara setahun. buat ngisi halaman budaya hari sabtu. hehehe….jadi ngomongin kebutuhan begini ya…..
    eh ya, kamu kerja di dago tea house dah lama? kok kita gak pernah ketemu disana ya?
    trus…kabar onat nikah teh leres?
    sekalian ada informasi, kang jalil angkatan 1998 mau nikah 17 Mei nanti di kuningan. informasi lebih lengkap, tanya ke kang jalil aja. sekarang dia di metro tv. wilayah tugasnya di sukabumi

    nuhun

  10. ren gimana khabranya?
    katanya kemaren ke sukabumi waktu hari nelayan kenapa ga bilang-bilang.
    Kie iraha ka sukabumi deui
    ren minta no kang jalil
    smskan ke no 081389217599 atau 0266 9146318

  11. fs alfedo_geren@yahoo.com…….YM / email mio_cpr@yahoo.co.id…………..ADD aku ya.

  12. Turut berduka cita atas kehilangan Hp teh Reni yang ketiga kali semoga Hp yang sudah hilang diganti yang lebih bagus, amin!

    Punteun teh, dupi kitu mah teh kade atuh Hp teh ditalian, ameh teu ngeuncar. Oh ya, kumaha kabar na teh, damang!

  13. Kalender pagelaran tuk satu tahun ada, tunggu za tar dikirim, ki di dago tea house kurang lebih dah satu tahun,tuk malam minggu sekarang kayaknya ga da pagelaran, tp da acara di Teater Tertutup Radio Sinta,

  14. wah…. ayeuna geus leuwih merenah, ngunah ngahunang ngahening. Lalega, lening ngeuna dideuleuna, ngeunah disisinganana…….
    Wilujeng ah… sok sing leuwih daria tur perceka…..

    Abah,
    http://g13b.situsgd.web.id/
    http://hhm.situsgd.web.id/
    http://sastera.situsgd.web.id/

  15. asss.
    aduh jadi isin.
    kamarana atuh jurnal 04
    meni sepi akan apresiasina di jurnal pos.
    isin atuh kua angkatan 2001

  16. Ass….Jurnalistik…..? Nu Aing keneh teu????
    Parmin Hadir? Iraha atuh jang bade hunting teh,Geus nyieun acan team work teh?

  17. Kie,kawinteh nu puguhna tanggal sbrh?/////

  18. salam. iya nih pada kemana nih anak-anak uin bandung. kok tangan-tangan kreatifnya disembunyikan, sehingga tak kelihatan oleh publik.
    saya pikir sih, tak baik untuk saling ngandelin, siapa saja mestinya harus produktif kontributif, dan tidak konsumtive melulu, bahaya kan….
    saya pikir itu dulu dari saya yang hanya tki saja ditengah-tengah padang pasir yang terjal.
    ahmad

  19. ya…setidaknya pernah ke luar negeri, hehehe….
    kang ahmad…jangan selalu merendah…..
    konsumtif? ehm….buatku bandung adalah kota yang sangat hedonis. kota ini penuh dengan warna yang bisa menjerumuskan orang untuk bangkrut. mirip banget ma jakarta, hehehe.
    ada yang menyangkut pautkan gaya hidup hedonis ini dengan merebaknya perempuan cantik, masih ABG pula, di sejumlah tempat pusat hiburan malam. Tak hanya di tempat hiburan malam, tapi juga di kampus-kampus. kalo ngobrol ma mereka, mereka sangat menikmati kehidupan seperti itu. “karena hidup harus dinikmati, buat apa hidup panjang kalo susah juga,” mendengar ucapan itu saya hanya tersenyum.
    Lalu saya berjalan menembus dinginnya malam di Braga. Setibanya di persimpangan Jl Braga pun saya berkata, “Inilah sekelumit wajah Kota Bandung…..sangat hedonis….”

  20. salam.
    meskipun di tengah-tengah padang pasir, tapi paling tidak sudah pernah naik kapal terbang.hehehehehe. tapi saya pikir, naik delman lebih asyik deh…
    saya pikir, dalam kehidupan yang modern ini, gejala hedonisme seakan menjadi agama baru. cewek-cewek itu dibesarkan dengan pandangan hedonisme, clubbing, dugem, dan hiburan-hiburan lainnya. virus hedonisme tak mustahil menjangkiti anak-anak kampus. saya pernah bincang-bincang dengan seseorang dan mengatakan bahwa ia kuliah karena ingin kaya. saya pikir, kapitalis banget motivenya.
    dalam otak saya, menjadi kaya tidaklah salah, tapi jika kekayaan dijadikan tujuan akhir, maka itulah agama dia. cara pandang tersebut tentu saja sangat materialistik sehingga di mata dia, kebahagiaan terletak pada memiliki kekayaan. wanita pun pada akhirnya dianggap sebagai kekayaan atau harta benda dia. disamping itu, cewek2 itu juga mencintai cowok bukan karena cinta intrinsik tapi karena materi itu tadi. maka terjadilah istilah cewek matrei.
    sesungguhnya hedonisme itu telah merendahkan manusia dan melepaskan manusia dari nilai-nilai fitrahnya.
    mereka selalu berfikir, hidup ini harus dinikmati, meski harus konsumtif tapi tak pernah memproduksi. hidup ini harus dinikmati meski harus mengeksploitasi. hidup ini harus dinikmati meski harus menjual diri. itulah gaya hidup yang tengah trend.
    tapi ternyata budaya trivial ini telah juga menjangkiti muda-mudi di desa. dan akhirnya, budaya itu telah mengerak menjadi norma.
    saya pikir itu saja. thanks and salam aja buat teh reni dari ahmad. tki saudi arabia.

  21. Buat ADMIN, mana web-nyaaaaa?

  22. pengumuman di Balai Pengelolaan Taman Budaya “Dago Tea House” da acara Pesona Budaya Cirebon, da pameran batik, lukisan, handycraft, makanan khas cirebon mulai tanggal 3 sampai 10 mei, acara puncaknya tgl 10 mei, arulin atuh ulah kuuleun wae,

  23. sudah lama tak jumpa…
    aduh,
    aku rindu.
    ikut nimbrung yang lagi ngebahas cewek matrei…
    asal tau aja ya…
    …uang adalah hasil terjelek dari kebudayaan…

    hal yang tengah di perbicangkan bagus banget…

  24. kie….ntar malam ren ke dago tea house. eh, minta jadwal tahunan tea nya da kasep…..

    realistis—–perempuan—–materilistis
    ada laki-laki bercanda. dia bilang, di dunia ini hanya ada dua jenis perempuan yaitu bodoh dan matre. lalu dia bertanya, apa yang kamu pilih? hehehe….lucu juga pertanyaannya. lalu ku jawab saja, aku tidak pilih keduanya, kalopun harus milih, aku pilih matre. kenapa? aku bilang saja, aku bukan matre tapi realistis. dan kita tertawa terbahak-bahak.

    pertanyaan itu muncul tatkala kelompok perempuan menawarkan opsi kepada laki-laki. bunyinya: di dunia ini hanya ada dua jenis laki-laki, yaitu brengsek dan homo. mereka pasti jawab: brengsek, hehehe……

  25. salam.
    neng iya….kenapa sih uang merupakan hasil terjelek dari kebudayaan? mohon dijelasin dung.
    soalnya uang dizaman modern ini punya peran besar dalam perniagaan. sebenarnya uang itu kan hanya alat saja dalam proses perniagaan. jika dikaitkan dengan budaya, maka betul uang adalah hasil dari budaya. tapi saya pikir, uang itu bukanlah sesuatu yang harus dikambing hitamkan. yang salah itu, orang yang menyamakan uang dengan kebahagiaan. mereka berfikir, bahwa rumah megah yang dimiliki, mobel mewah yang dikendarai adalah simbol identitas dirinya. tapi apakah betul semua harta bendanya adalah dirinya sendiri? nga kan….
    maka jika iya melihatnya dari konteks ini, bisa jadi menuhankan ‘uang’ adalah penomena terjelek dari kebudayaan. tapi itulah budaya pop yang kini menggerus budaya lokal kita.
    gimana menurut teh iyya..

  26. di dunia ini hanya ada dua jenis perempuan, matre dan bodoh.
    terus didunia ini hanya ada dua jenis laki laki, brengsek dan homo…
    wah, saya pikir pertanyaannya dilematis banget….matre dan bodoh adalah sama jeleknya, setidaknya dimata saya.
    jika cewek memilih matrei….maka bisa saja dirinya equal dengan uang…akhirnya kan bisa muncul anggapan bahwa perempuan itu equal dengan uang. bahaya banget…diskriminasi gender gitu lho…
    berbicara lelaki yang memilih brengsek….pada tahap ini..saya agak bingung. soalnya kalimat brengsek itu bisa mengacu pada dua makna….brengsek dalam artian kurang ajar…..atau brengsek dalam artian ungkapan canda saja yang dialamatkan kepada si penanya…
    akhirnya….semua pilihan terpulang sama anda semua…namanya juga canda….
    salam aja deh buat anak-anak uin bandung.
    ahmad. tki saudi arabia

  27. Ass.
    menanggapi usulan teh reni, lucu juga kalo kita bikin liputan tentang sejarah jurnalistik.
    terutama sejarah kalimat, “Jurnalistik nu aink”.
    benar juga, kalo kita telah dari mana sih asal kalimat ini, gimana sih filosofinya kalimatini bisa nempel banget di pemikiran anak jurnal.
    denger2 mah, kalimat ” Jurnalistik nu aink” teh berasal dari kang aday CS, katanya.
    mungkin akan lebih seru kalo kita bikin liputan mendalam mengenai hal ini.
    ada yang mau bantu saya, di antos di iqro (kos an yopi)
    trus jadi kepikiran kalo diganti slogan itu dengan kalaimat lain giman yah?
    coba bayangkan kalo diganti jadi “JURNALISTIK NU EKEU”
    &^&^&*(^*%^$$&.
    BTW, TETAP SEMANGAT BWAT ANAK JURNA, COZ HARI JUM’AT NANTI, KITA AKAN MELAWAN KESEBELASAN MUAMALAH.
    POKOKNA KUDU DIBANTAI ABIZZZZZZZZZZZ
    BWAT PEMAINNYA TETEP COOL AND CONTROL EMOSI KALIAN.
    OCEH

  28. wah….tanding lagi ya, siapa yang menang?
    bagaimana perkembangan si pasukan orange itu? beberapa waktu lalu, warna kaos kesebelasan anak jurnal sempat dipermasalahkan, karena katanya tidak match dengan warna bendera, kaos, ataupun jaket angkatan jurnalistik. ya….walaupun jaket angkatan 99 warnanya merah. ajat….sekalian iseng bikin tulisan, angkat juga persoalan itu. lumayan lah….kalo tidak dianggap penting, buat ngisi halaman pojok. karena seringkali halaman pojoklah yang menarik orang ingin membacanya.

    sekalian juga, selain mejingin tulisan….kenapa kalian gak mejeng juga disini. setiap anggota redaksi wajib menulis advetorial setiap minggunya. jangan lupa pasang fotonya. jadi kan kita bisa liat, hehehe….karena terkadang, orang butuh dipaksa untuk menulis.

    dulu saya pernah bertanya pada seseorang (saya lupa nama dan angkatannya) soal jaket hima atau angkatan. selama ini, jaket hima setiap angkatan (kalo bikin) selalu berbeda. saya tahu jaket itu hanya casing aja. dan bukan pula berniat menyeragamkan seperti militer. tapi ada baiknya desain jaket yang menandakan itu anak jurnal UIN SGD Bandung. misalnya jurnal unpad. dari angkatan ke angkatan, warna, desain dan logo jaket itu sama. makanya kalo dimanapun ada anak yang mengenakan jaket itu, sudah bisa ketebak, pasti jurnalistik unpad.

    ya….hanya sekedar usulan….nuhun….

  29. jurnal UIN nu Aiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnkk… kitu lin?

    kang Pemred bravo blog na, kango alumni jurnal ’01 UIN nu sok nongol di dieu, hapunten uing nyuhunkeun alamat e-mail na, margi dongkap silaturahmi ka almamater mah teu tiasa

    terutama ka Wadink, Yana, Reni, kum we lah alumni ’01 di antosnya di
    http://www.barjaha@yahoo.co.id

  30. jurnal UIN nu Aiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnkk… kitu lin?

    kang Pemred bravo blog na, kango alumni jurnal ’01 UIN nu sok nongol di dieu, hapunten uing nyuhunkeun alamat e-mail na, margi dongkap silaturahmi ka almamater mah teu tiasa

    terutama ka Wadink, Yana, Reni, kum we lah alumni ’01 di antosnya di
    http://www.barjaha@yahoo.co.id

  31. ass.
    inalilahi wa inailahi rajiun.
    tim nas Jurnal kalah di babak semifinal melawan muamalah.
    dan entah kebetuan atau apa lah.
    kekalahan jurnalistik berbarengan dengan kekalahan tim thomas indonesia.
    pokokna mah hayang ngajeurit maratan langit ngoceak maratan bumi.
    pas ngelihat adu penalty antara tim jurnal dengan tim muamalah.
    dan ternyata, kita kalah……………………………………………….

  32. ass.
    wahai warga jurnal.
    dah pada liat karya terbaru angkatan 2004.
    silakahkan bagi yang merasa keluarga besar jurnalistik uin sgd dari angkatan kolot sampai angkatan ngora.
    silahkan akses http://www.bandung-news.com

  33. saya sudah baca bandung-news.com nya
    bagus dan kreatif, hanya saja beritanya pendek2, atau saya yang gak ngerti menggunakan internetnya? maklum gatek, hehehe…..
    alangkah menarik, kalo cerita yang tegallega (misalnya) dijadikan feature bukan hanya berita kilas. karena saat dibaca informasinya terpotong. keep fight……

    NB: gak buat tulisan investigatif?

  34. SAMPURASUN……………………………..!!!

    Met Siang bwt kwn-kwn Jurnalistik ti angkatan baru nepika nu bari, khusus angkatan 01′ (Uchiem, Bonay, wadink, Barjah, Red-one, (Iraha Euy… rek ka Jaya Giri deui?), Ita, mila, Neni, Kuren (Iraha atuh neng urang ka Ranca Buaya deui naek Treuk? Seru Pisanlah Pokonamah!!!, Muhyar (Yg udh mengakhiri masa lajang), Sayan ( Yg udh terenggut masa bujang) Duh… Hampura Euy…….!!! ka baroedak Bengkel 00′ salam ogenya (Onat, Aday, Wendy dll) dan yg laennya deh yg ga kesebut Salam Silaturrahmi ti uink hampura euy bisi Loba dosa. juga boeat kwn-kwn MAHAPEKA (Angkatan Macan Tebing) Salam Lestari aja, yg ktnya sbntr lg mw pd brangkat bwt ngadain pendakian massal to ‘Triple S’ (Slamet, Sindoro Sumbing) wilujeng waelah ati-ati wae di jalan . Htr Nhun Ka pngurus Blog. God Speed….! Barakallah!

  35. kiwi nt dimana ayena…menta alamat barudak euy..
    iraha atuh urang kumpul ..kangeun euy ka baruddak jurnal.
    salam kabarudak jurnal kabeh ti simkuring saparakanca pokona budak bengkel kabeh lah

  36. Ass.
    teh Reni.
    hayu ah, urang liputan investigatif sasaregan.
    soalna saya masih belum banyak pengalaman untuk liputan investigatif.
    apalagi buta Bandung News, bisa Kan ?
    itung-itung , ngebantuin ADIKnya.
    kalo bisa hub Dzarin (no esianya).
    thank.
    was.

  37. MOHON PALINGKAN SEJENAK BACA INFO INI !
    Untuk alumni, mahasiswa, dan simpatisan dari :
    dadan suherdiana (ketua jurusan ilmu komunikasi)
    Assalamu’alaikum kepada semua mahasiswa, alumni, dan simpatisan …….aduh!!! punten nya ka sadayana… telat merespon. Sebenarnya dah tahu ini media sejak mau luncur…tak disangka begitu cepat berkembang…banyak peminat..sudahlah yang penting saya mau nyapa semua: Apa kabarnya??? Alumni 98 : Heri Ruslan, Adin K, Ozy n kawan kawan kumaha dimarana aktifitas teh? kabarnya ya ditunggu? dimana juga alumni humasnya? beri kabar ya…
    Pokoknya semua alumni ilmu komunikasi (dari mulai 98 smp 2003) ditunggu kabarnya. Sekarang kami (jur) butuh sumbang saran anda semua, terutama setelah aranjeun berkiprah di lapangan… berilah saran untuk kemajuan kita, jangan lupa ke almamater, oke?
    Ini serius : tahun ini jurusan ilmu komunikasi (jurnalistik n humas) genap 10 tahun, selama ini telah sekitar 400 orang alumni yang dihasilkan, mudah-mudahan jaringan telah terbentuk, memang sudah banyak yang bernasib baik telah berkiprah di masyarakat (bekerja,beraktifitas) sesuai cita-cita atau keahlian, akan tetapi masih terdengar juga ada teman-teman kita yang belum beruntung, masih belum bekerja/beraktifitas sesuai keinginan dan keahlian. Saya atas nama lembaga mohon maaf belum bisa membantu, cuma pesan saja jangan patah semangat!!! tetap berkarya!
    Dari sisi kurikulum yang ada, dan yang telah dirasa oleh para alumni tentu saja belum link and match, oleh sebab itu berilah saran yang bisa membangun jurusan kita jadi yang terbaik sesuai pengalaman masing-masing, tambah ini…atau kurangi ini..waktu sepuluh tahun saya rasa cukup untuk menentukan yang terbaik bagi jurusan kita.
    Yang ketiga kelemahan kita dari sisi jaringan….mungkin kita kurang banyak silaturahmi, oleh karena itu mari kita pererat silaturahmi, saling beri informasi, boleh juga tuh media ini jadi salah satu alternatif.
    Program yang akan digarap :
    Dalam rangka 10 tahun jurusan Ilmu Komunikasi kita (jurusan) merencanakan melaksanakan kegiatan “Milad 10 Ilmu Komunikasi” dengan tema besar dengan akhlakul karimah sebagai dasar pijakan kita ciptakan lulusan yang profesional, marketable dan kompetitif…mudah-mudahan tidak terlalu tinggi…Beberapa kegiatan : Seminar kajian dan eksistensi ilmu komunikasi di UIN, lomba karya jurnalistik dan humas, launching web-site, open house dan jejaring alumni, serta bursa kerja.
    Nah bagi alumni yang sudah berkiprah di media atau perusahaan tempatnya bekerja…coba bisa nggak jadi sponsor kegiatan kita? ajak tuh perusahaan/media untuk open house di kampus kita, sekian dulu sementara mohon direspon, oke.Wassalam

  38. membaca bandung news, tak sama dengan membaca media lain coz aktual dan beda. narsis euy……………….hidup tukang alpuket.

  39. ka dzarin…..urangkan resep automotifnya….bandung news aya rubrik bikers?eta cuman saran ti seleb jurnal hahahahahahahhaha

  40. Kro, te salah jang.
    emang maneh seleb jurnal yang sebenarnya.
    para cewe penasaran pengen ketemu ama ukro.
    gampang kok CARANYA Ketik ukro spasi nama kamu
    kirim deh ke 3455.
    dijamin kamu ngak bakal ngesel kalo udah ketemuan ama ukro.

  41. Ass. Wr.Wb. Pak Dadan Apa Khabar? acara yang bagus tuh untuk dilaksanakan. saya mendukung acara tersebut dan saya juga mohon kepada semua alumni yang telah berkiprah di tempat kerjanya masing-masing sekarang saatnya kita lebih memajukan Jurnalistik UIN Bandung dengan mendukung acara tersebut. Wassalam. salam buat anak jurnalistik dari angkatan 1998 sampai sekarang. sekian. jamjam angkatan 2000

  42. formastik2005 dimana kau berada………………..
    teu karasa tilu tahun babarengan ngagosip di kelas….
    eh ternyata sabtu kemaren itu ujian, n diskusi kita secara formal di kelas……………….
    yu ah sing ka giang……
    tong eleh ku si akang-akang nu sanes…………..
    met JOBTRAIN……….

  43. salam jurnalistik nu aink,

  44. aduh kangen euy…
    PAK DADAN DAMANG SOK ATUH KEPRAKEUN BARUDAK JURNALTEH…
    MUNBISAMAH MUKA “DOMPET JURNAL”
    NA WEB LIMAYAN SABULAN 10.000 GE ARI AYA 200 URANGMAH BISA KER NGALENGKAPI LAB BARUDAK JURNAL

  45. Asslm..
Hpunteng ngiring nimbrung ah d bdg newz,knalin abdi nita ank tasik slm ja kgo putra putri jurnalis tasik nu aya d bdg newz ayna,blh ath kali2 mah ajak ta ngliput biar da pnglmaman gtu;-).wslm

  46. pak dadan damang?
    kemarin saya liat bapak di kantor. maaf tidak menyapa, soalnya lagi ngobrol serius ama mas irfan. soal saran, nanti kalau bertemu saya hanya ingin sedikit berdiskusi saja. kalau bagus mungkin bisa dianggap sebuah saran, hehehe.

    soal link and match, semua jurusan umumnya memang punya persoalan yang sama. kalo liat wartawan kompas, mereka rata-rata dari non jurnalistik. ada yang dari hukum, ilmu pemerintahan hingga astronomi. begitupun dengan media lainnya.

    saya malah melihat keinginan anak jurnalistik UIN lebih besar dibanding dengan universitas lain di bandung. salah satu contohnya bisa dilihat dari jumlah kursi jurnalistik. di unpad, kursi paling banyak selalu diraih humas, setelah itu jurnalistik dan mankom. mereka lebih memilih humas karena beberapa alasan. diantaranya mahasiswa jurnalistik unpad susah lulus, yang kedua persoalan kesehatan. beberapa tahun belakangan ini, persoalan kesehatan wartawan menjadi bidikan tersendiri. banyak mahasiswa ilmu komunikasi yang akhirnya tak ingin masuk jurnalistik karena alasan tersebut. ya….itu memang pikiran yang realistis.

    sedangkan mahasiswa yang sudah memilih jurnalistik, biasanya enggan menjadi jurnalis saat masuk ke semester lima atau enam. fenomena itu juga saya lihat di UIN. biasanya setelah job training, mereka kembali berpikir untuk menjadi jurnalis atau putar haluan.

    tapi dari sisi semangat, saya melihat anak UIN lebih militan. namun memang harus diakui, nama UIN yang belum sebesar Unpad membuat lulusan UIN agak terpinggirkan. tapi untuk ukuran jurusan yang masih baru, menurut saya, kita selangkah lebih maju. Hanya saja, lulusan UIN masih bermasalah di bahasa. mungkin yang sekarang lebih baik, karena ada standar minimal yang harus dipenuhi mahasiswa untuk masuk UIN.

    namun alangkah lebih bagus, jika bahasa arab pun menjadi prioritas. saya melihat, itulah potensi yang bisa digali di UIN. tak hanya bahasa inggris tapi bahasa arab pun diolah, siapa tahu bisa kerja di al-jazeera. bangsa timor tengah sedang berpoya-poya sekarang karena harga minyak naik. sampai kemarin orang arab kebingungan inves dimana karena kebanyakan duit, hehehe….

    nuhun
    _ren

  47. Leres pisan. teh Reni

  48. aduh urang timur tengah kabingungan inves
    gampil atuh kitu mah inves keun we ka UIN khususna ka jurusan jurnalistik, nanti invesnya semua mahasiswa jurnalistik UIN dikasih laptop, kamera SLR, serta perpus yang mengkaji tentang komunikasi dan jurnalistik, eh lupa ditambah lagi tentang ke-Islamannya, lengkap tak terlewat satu pun.
    semoga saja tulisan ini nyampe ke Timur tengah, amin. do’a keun tuh barudak, maeunya do’a ti angkatan 1998 sampai ayeuna teu, insya Allah, gusti maparkeun ka urang sararea.

  49. woii.. ka barudak nu magang di radio sinta… cing atuh bantuan euy, jadi tara liputan deui…
    kade ahh.. era ku pak romel… hehehee

  50. woiii.. barudak nu kamari magang di radio shinta, hayu ah.. urang liputan deui. naha jadi jarang liputan… era ah ku pak romel

  51. Ass.
    kasadaya warga jurnal di haturanan linggih kaping 13 juli dina acara nikahan sim kuring,. diki ahmad sodikin jurnal 2000 sareng pupijurnal 2002.
    untuk informasi lebih lanjut hubungi onat2000 sebagai panitia .

  52. beuh…nu coment teh ajat deui ajat deui,kamarana barudaks jurnal nu lain. harirup! sok atuh esuian ieu media teh mun teu ku urang ku saha deui.

  53. wah…selaamat ya kie. punten teu tiasa kaditu, teu terang…..
    mudah-mudahan janteun keluarga sakinas, mawadah, warahmah….amiiiinnn……

  54. Info kecil untuk rekan2 di jurnal

    Percaya, ini kabar gembira buat teman2 yang sudah menancapkan niat menjadi jurnalis…

    Saat ini, Peluang karir reporter semakin terbuka lebar, seiring dengan ekspansi perusahaan media yang lama seperti kompas, tempo, bisnis indonesia. juga ditambah dengan kemunculan media baru sebut saja
    harian ekonomi kontan, harian koran jakarta, harian ekonomi Indonesia business today… dan akan semakin banyak lagi media lain baik lingkup nasional maupun lokal yang akan muncul.

    belum lagi fenomena bermunculannya media online baru seperti : inilah dot com – kanal one dot com dan media berbasis internet lainnya

    fenomena hari ini dan ke depan, hampir semua perusahaan media massa telah dan akan mengarahkan bisnisnya pada konsep multimedia (banyak media).

    tujuannya untuk melayani informasi dengan menggunakan semua jenis media baik cetak maupun elektronik.

    itulah arah bisnis yang dikembangkan semua media mapan maupun media yang tengah berkembang.

    hanya saja perlu menjadi perhatian teman2 : mayoritas kemunculan media ke depan kecenderungannya akan lebih segmented dan itu dipercaya akan lebih diterima masyarakat. (mungkin media umum pasarnya sudah jenuh)

    maksud saya, membidik pasar yang lebih spesifik seperti media ekonomi, olah raga, gaya hidup, teknologi informasi dan banyak lagi. Itu berlaku untuk semua jenis media.

    bahkan kemunculan media komunitas, yang menjamur di beberapa daerah, menjadi satu indikasi bahwa dagang informasi akan semakin menjanjikan bila pasarnya disempitkan pada “kelompok publik khusus”

    Intinya, saya ingin katakan bahwa peluang karir menjadi jurnalis sangat besar dan keahlian tentang kereportasean akan semakin dibutuhkan.

    Untuk itu, perlu ada gerak positif yang harus dimulai sekarang
    – Perbanyak membaca
    – update perkembangan info setiap saat
    – terus latih skill kejurnalistikan
    – jangan takut memulai untuk menulis
    – mulai dari catatan harian : tangkap dan ceritakan
    hal, kejadian atau pengalaman harian
    – manfaatkan media kampus atau tabloid kelas untuk
    berlatih menulis
    – jangan lupa perkuat kemampuan berbahasa asing
    khususnya bahasa inggris (bagi perusahaan media ini wajib hukumnya).

    Pegangan: semangat jurnalis adalah bekerja untuk publik, dan bagi muslim, pola kerja “Tabayyun” harus diterapkan.

    terima kasih
    kalau ada yang ga sepaham
    kritik dan saran bisa dilayangkan ke
    jorelat@yahoo.com

  55. selamat menempuh hidup baru buat R. Diki dan Poppi angkatan 2000 dan 2001 semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. amiiiiiiiiiiiin

  56. – selamat menempuh hidup baru akang R.Diki & Poppi.
    – selamat datang kepada calon mahasiswa baru jurnalistik tahun ini.
    – selamat lieur kanggo nu nuju skripsi,
    – semoga sukses kanggo nu bade kompre.
    – selamat tinggal kanggo nu bade wisuda agustus ayeuna.
    suksesna ka sadayana.

  57. fajar damang?
    saya tidak ingin mengkritik hanya menambahkan sedikit fenomena yang ada.
    berkembangnya teknologi informasi, membuat tiras koran yang selama ini sudah turun terus menurun. malah ada wacana yang berkembang suatu hari nanti online akan menjadi prioritas utama. karena untuk mengakses internet kini bisa dengan menggunakan hp. ya…walaupun harus diakui menurunnya tiras ini disebabkan banyak faktor diantaranya nilai kepercayaan masyarakat, belum lagi persoalan kertas.

    kembali ke fenomena TI, banyak orang yang memilih lebih baik pergi ke warnet bayar Rp 3.000 per jam tapi bisa dapetin berita dari Bandung hingga ke Amerika sana. hal itu pulalah yang membuat salah satu media terkenal di Amerika (kalau tidak salah Washington Post) membuat online. dilihat dari pageviews, pengunjung per hari sangat banyak. tapi dilihat dari pendapatan perusahaan tidak berpengaruh banyak. sejumlah pakar mengatakan, konvergensi yang dilakukan tidak berhasil.

    lalu mereka pun mencoba untuk menaikkan tingkat kepercayaan pembaca. untuk pertama kalinya washington post mendapat 6 pulitzer dalam setahun (ini sejarah buat media di dunia). namun lagi2 tidak banyak membantu.

    Situasi yang sulit diraba ini terjadi pula pada Seattle Times. Mereka membuat kebijakan mengganti editor oleh sekelas marketing. hasilnya? juga tidak banyak membantu.

    lalu apa hubungannya dengan Indonesia?
    banyaknya media membuka peluang yang besar untuk memperoleh pekerjaan. Namun yang harus diingat, media juga perusahaan. contohnya sindo sore yang terpaksa harus tutup. untungnya tidak ada pemecatan karyawan.

    ada beberapa media yang mengubah kebijakannya. kini wartawan juga berperan ganda menjadi sirkulasi dan iklan. saya melihat selain berbahaya bagi independensi juga langkah ini diambil untuk efisiensi. pilih mana: menggaji cukup besar satu orang untuk tiga pekerjaan atau menggaji tiga orang. kalau saya yang punya perusahaan saya akan pilih yang pertama. karena tiga orang ini tidak semata satu orang, tapi dia juga bawa keluarganya.

    lalu, ada pula media yang membuat kebijakan, membayar satu orang untuk beberapa media. misalnya MNC yang membayar 1 orang kontributor televisi. berita yang disetor bisa diakses tiga TV yang masuk MNC.

    dari luar, peluang memang terlihat besar. namun apakah memang besar? yang pasti, hanya yang berkualitas yang akan bertahan. so….mari sama-sama berjuang. karena saya ataupun fajar dan senior lainnya yang lebih dulu terjun ke dunia jurnalistik ini belum tentu berkualitas.

    nuhun
    _ren

    NB: Fajar saya setuju dengan kata-kata “jurnalis bekerja untuk publik, walaupun nanti ada turunannya, publik yang mana? hehehe….” tapi menjaga idealisme lebih sulit dibanding mencari uang. iraha ka bandung?

  58. Yeuh.. akang (sok kolot.. hehe…) rek babagi informasi buat calon jurnalis andal UIN Bandung. Tulisan ieu pernah dimuat di Republika — tapi kapotong ku iklan. Ieu Tulisan lengkap na. Mugi-mugi bisa memberi pencerahan…

    Ternyata yang dibutuhkan dunia industri teh lulusan universitas yang memiliki softskill. Selamat membaca…..

    Jurus Jitu Merebut Pasar Kerja

    Mencari tenaga kerja yang kompeten dan berkualitas di Tanah Air, ibarat mencari jarum di antara tumpukan jerami. “Susahnya minta ampun,” cetus Jimmy M Rifai Gani, Chief Executive Director (CEO) Proven Force Indonesia — sebuah perusahaan konsultan produktivitas dan sumber daya manusia (SDM) terkemuka.

    Fenomena ini tentu saja terbilang sungguh sangat mengherankan. Pasalnya, lulusan diploma dan sarjana yang belum terserap lapangan kerja di Indonesia masih sangat banyak. Biro Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada tahun 2007, jumlah //jebolan// diploma dan sarjana di Indonesia yang masih //nganggur// mencapai 685.480 orang.

    “Di antara pengangguran sebanyak itu, mencari 1.250 pegawai untuk sebuah perusahaan di Lampung, sulitnya minta ampun,” keluh Jimmy. Itu pun, papar dia, yang dicari hanyalah //low skill worker// alias tenaga kerja yang tak dituntut memiliki keahlian tinggi.

    Kalau sudah begitu, jangan heran apabila beragam posisi manajer dan eksekutif di berbagai perusahaan di Indonesia lebih banyak diduduki tenaga kerja asing alias ekspatriat. “Mencari tenaga kerja lokal yang kompeten untuk posisi manajer atau eksekutif, malah lebih parah lagi sulitnya.”

    Akibatnya, sebagian besar perusahaan lebih rela merogoh kocek lebih dalam untuk membayari ekspatriat dengan gaji yang sangat besar, dibanding memilih tenaga kerja lokal. “Padahal, alangkah baiknya jika jabatan strategis itu diduduki oleh orang-orang Indonesia,” cetus Jimmy.

    Lalu, apa yang salah dengan lulusan sarjana dan diploma di Tanah Air hingga sulit diserap lapangan pekerjaan?

    Selepas lulus dari bangku kuliah, begitu banyak sarjana dan diploma yang bingung dan tak berdaya. Boro-boro mau ‘bertarung’ di tengah kompetisi bursa kerja yang sangat ketat. Untuk sekedar percaya diri saja, para sarjana dan diploma yang baru //kelar// diwisuda itu pun tak punya. Jika rasa percaya diri saja sudah tak ada, maka dapat dipastikan para sarjana pengangguran itu juga miskin keterampilan dan keahlian.

    Menurut Jimmy, tujuan utama seseorang untuk kuliah seharusnya bukanlah mencari selembar ijazah saja. Tak bisa dinafikkan bahwa ijazah memang penting. Namun, papar dia, di era globalisasi yang ditandai dengan persaingan yang begitu ketat, orientasi seseorang untuk mengenyam pendidikan tinggi haruslah diupayakan untuk meningkatkan //employability// yakni, kapasitas dan kemampuan untuk diserap lapangan pekerjaan.

    Persaingan untuk terserap lapangan pekerjaan, kini semakin ketat. “Selama 16 tahun terakhir, saya melihat lulusan diploma dan sarjana lebih berorientasi untuk menjadi pekerja,” papar Jimmy. Padahal, kata dia, dalam situasi ekonomi yang kurang kondusif sangat sulit bagi dunia industri untuk mengembangkan usahanya. Itu berarti lapangan pekerjaan yang tersedia kian terbatas.

    Kalaupun lapangan pekerjaan tersedia, papar Jimmy, harapan dunia industri dengan kompetensi lulusan perguruan tinggi masih terhadang jurang kesenjangan alias gap. Ini terjadi akibat masih adanya //missmatch// atau ketidakcocokan antara employability yang dipersepsi dunia pendidikan dengan dunia industri. Perguruan tinggi, ungkap dia, sudah seharusnya bersikap agresif dan responsif untuk memutus missmatch skill yang selama ini terjadi.

    “Sehingga, harapan antara dunia industri dengan persepsi perguruan tinggi mengenai employability bisa //nyambung//,” tutur Jimmy. Saat bertarung memperebutkan lowongan pekerjaan yang tersedia, lulusan diploma dan sarjana akan dihadapkan pada proses yang dinamakan pre-employee. Yakni proses mencari lowongan, mengajukan lamaran, mengikuti tes hingga menghadapi wawancara.

    Nah, agar bisa memenangkan bursa kerja yang semakin ketat dan terbatas, para lulusan diploma dan sarjana perlu mengetahui kriteria pegawai yang dicari perusahaan-perusahaan. “Sebenarnya, jarang sekali perusahaan yang mencari seberapa tinggi IQ serta scientific knowledge calon karyawannya,” ungkap Jimmy. Dengan begitu, indeks prestasi dan IQ i seseorang lulusan diploma dan sarjana yang tinggi bukan jaminan mereka memiliki employability.

    Lalu, kriteria pegawai atau karyawan seperti apa yang dicari perusahaan-perusahaan di era globalisasi saat ini? Selain menguasai bidang keahlian yang dipelajari selama di kampus, menurut Jimmy, perusahaan atau dunia industri lebih tertarik pada calon pegawai yang memiliki //softskill//. “Salah satu kriteria pegawai yang dicari perusahaan adalah mereka yang percaya diri, periang dan memiliki sikap yang positif,” imbuh Jimmy.

    Selain itu, dunia industri pun mencari pegawai yang memiliki kemampuan komunikasi yang bagus. “Ketika wawancara kemampuan ini akan terlihat. Kebanyakan mereka yang mencari kerja gagal lantaran tak bisa mengkomunikasikan keahliannya kepada employer,” cetusnya. Keahlian dan kemampuan berkomunikasi sering kali tak diajarkan saat kuliah.

    Jimmy menyarankan agar saat masih kuliah, para mahasiswa bisa aktif berorganisasi di berbagai unit kegiatan mahasiswa (UKM). Lulusan sarjana dan diploma yang biasa aktif berorganisasi, papar dia, biasanya tak akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Menurut Jimmy, perusahaan atau dunia industri juga akan melihat calon pegawainya dari bagaimana dia berpakaian dan berjabat tangan.

    “Perusahaan akan lebih memilih calon pegawai yang mampu menunjukkan kemampuannya ,” papar Jimmy. Selain itu, papar dia, dunia industri lebih menyenangi calon pegawai yang memiliki perencanaan karir yang jelas. Yang tak kalah penting, dunia industri pun akan melirik calon pegawai yang memiliki kemampuan komunikasi yang dapat membawa keuntungan dalam bisinis perusahaan itu.

    Ketika akan menghadapi sebuah wawancara, persiapkanlah sebuah pertanyaan yang akan diajukan kepada pewawancara. Seringkali pewawancara akan meberi kesempatan kepada para calon pegawai untuk bertanya. Bila pewawancara mempersilakan Anda untuk mengajukan pertanyaan, jangan pernah disia-siakan. “Perusahaan juga menyukai calon pegawai yang menunjukkan pemahaman yang baik akan perannya,” tegas Jimmy.

    Satu hal lagi, dunia industri atau perusahaan lebih menyukai calon pegawai yang memiliki kemampuan sebagai pendengar yang aktif. Selain aktif berorganisasi sewaktu kuliah, softskill dapat dimiliki seorang jebolan sarjana atau diploma, jika pada saat kuliah sudah mulai belajar bekerja atau magang. Jimmy menyarankan agar setiap mahasiswa bisa menyempatkan diri untuk belajar bekerja, karena itu akan banyak membantu saat mencari pekerjaan.

    Jadi nggak ada alasan untuk menganggur begitu Anda lulus kuliah nanti. hri

  59. Selamat Atas Akreditas B untuk Jurnalistik UIN Bandung

    Wilujeung ka sadaya civitas akademika Ilmu Jurnalistik UIN Bandung. Betapa bahagianya mendengar kabar Jurnalistik mendapat akreditasi B (edun pisan). Terima kasih untuk Mr Dadan Suherdiana dan para pengasuh Jurnalistik. Sebagai alumni dan angkatan pertama bangga pisan dengan pencapaian ini.

    Sebagai angkatan perintis Jurnalistik, sempat was-was dan khawatir dengan nasib Jurnalistik IAIN. (Sieun teu diakui ku Depdiknas). Namun, kekhawatiran itu ternyata tak terbukti. Tak, terasa sudah satu dasawarsa Jurnalistik UIN berkiprah. Selamat buat semua. Terus berjuang kampusku untuk mencetak para Jurnalis Andal.

    Salam Perjuangan buat semua

  60. Untuk direnungkan. Agar tak menyesal masuk Jurnalistik… hehehe

    Carut Marut Rangkap Jabatan di Dunia Kewartawanan

    Oleh Herutjahjo Soewardojo
    Anggota Pokja Dewan Pers

    BEBERAPA minggu lalu, terjadi kontroversi mengenai rangkap jabatan di dunia birokrasi. Sejumlah pejabat negara duduk sebagai komisaris di BUMN. Ada yang setuju, tidak setuju, dan ada pula yang mengambil “jalan tengah”: rangkap jabatan tidak masalah asal wajar, tidak rangkap gaji.

    Jika kasus di birokrasi menimbulkan pro-kontra sebaliknya rangkap
    jabatan di dunia kewartawanan terkesan tidak menjadi kontroversi.
    Bahkan tidak diusik oleh kalangan pers sendiri. Paling tidak pers yang —meminjam istilah yang muncul di Dewan Pers— bukan mainstream.

    Kasus rangkap jabatan di dunia kewartawanan itu sengaja diberi tanda kutip. Pasalnya, jika rangkap jabatan di birokrasi —yang menjadi kontroversi akhir-akhir ini— adalah pejabat-pejabat tinggi yang, karena kedudukannya, kemudian diangkat menjadi komisaris di BUMN, sementara rangkap jabatan di dunia pers dilakukan siapa saja dan lebih mengacu sebagai penambah penghasilan alias memperoleh rangkap gaji.

    Soal upah
    Jika dirunut kasus-kasus sengketa pers baik antarmedia maupun media dengan masyarakat —untuk sebagian terutama non mainstream— seringkali “ujung-ujungnya duit”. Celakanya masalah pengupahan memang merupakan problema yang menonjol di dunia penerbitan pers.

    Aliansi Jurnalis Independen (AJI) beberapa waktu lalu melakukan survei mengenai upah layak jurnalis. Hasilnya sungguh menyedihkan. Menurut survei AJI Indonesia atas 400 jurnalis dari 77 media di 17 kota, masih ada jurnalis yang diupah kurang dari 200 ribu rupiah, jauh lebih rendah dari upah minimum yang ditetapkan pemerintah.

    Survai serupa sebelumnya juga dilakukan oleh Hanitzsch (2004,
    -unpublished) sebagaimana dikutip Effendi Ghazali dalam makalahnya berjudul: Kekecewaan Publik terhadap Pers: Dari Munir yang “Tenggelam” di tengah Tsunami Sampai Jurnalis dengan Kepribadian Terbelah (2005). Atas survei yang dilakukan Hanitzsch pada Agustus 2001 hingga Februari 2002 terhadap 385 jurnalis yang berada di Jakarta, Yogyakarta dan Sumatera Utara itu, Effendi Ghazali menulis sbb.:

    Sebanyak “68,5\\% jurnalis Indonesia menerima gaji bulanan antara 1 hingga 3 juta rupiah (antara 120 hingga 360 dolar Amerika pada waktu itu); hanya 9\\% yang menerima gaji di atas angka tersebut. Gaji seperti ini dianggap sudah lebih baik dari rata-rata penghasilan penduduk di daerah dimana riset dilakukan Hanitzsch.

    Namun demikian, 19\\% wartawan Indonesia harus hidup dengan gaji
    sekitar 500 ribu hingga 1 juta rupiah per bulan (60 sampai 120 dolar), dan 3,5\\% menerima lebih rendah dari 500 ribu rupiah. Hanitzsch mencatat bahwa gaji di bawah 1 juta rupiah tidaklah cukup untuk menopang hidup sebuah keluarga urban Indonesia”.

    Kemudian Ghazali menambahkan: “Barangkali karena hal itulah, dalam penelitiannya, ia (Hanitsch — pen) menemukan 1 dari 4 wartawan di Indonesia memiliki pekerjaan sampingan (huruf tebal dari saya — pen) sebagai sopir taksi atau bahkan bekerja sebagai pegawai negeri. Hebatnya, 77\\% jurnalis mengatakan bahwa mereka puas dengan pekerjaannya; 22,6 persen malah mengatakan sangat puas”.

    Tidak jelas apakah mereka “puas” dan “sangat puas” karena memiliki pekerjaan sampingan yang kadang-kadang melebihi gajinya itu. yang jelas apa yang diungkapkan dalam penelitian itu tidak terlalu mengejutkan. AJI memberikan data lebih “gres”: sekitar 580 media cetak yang masih terbit di awal 2008, hanya 30\\% yang sehat bisnis. Dari sekitar 2.000 stasiun radio dan 115 stasiun televisi pada kurun yang sama hanya 10\\% yang sehat bisnis.

    Tidak heran, kalau secara olok-olok sering disebut-sebut ada
    penerbitan yang “menggaji” wartawannya cukup dengan kartu pers.
    Tampaknya kartu pers untuk sebagian wartawan merupakan senjata lebih ampuh ketimbang kemampuan profesionalnya.

    Satu ketika sebuah penerbitan pers —tidak etis untuk disebutkan
    namanya— mengadakan rasionalisasi besar besaran agar tetap hidup.
    Hampir 90\\% karyawan di sektor manajemen penerbitan itu segera
    mendaftarkan untuk mengundurkan diri karena memperoleh uang pesangon lumayan. Akan tetapi hanya di bawah 1\\% karyawan di sektor pemberitaan terutama wartawan yang ingin mengundurkan diri, selebihnya tetap bertahan bahkan ada yang mengaku mau menerima gaji separoh dari semestinya – asalkan kartu pers tidak dicabut.

    Dilematis
    Masalah pengupahan itulah kemudian merembet ke “rangkap jabatan” yang berakumulasi pada carut marut di jagad kewartawanan. Konflik
    kepentingan sering terjadi dan berujung pada pelanggaran Kode Etik Jurnalistik.

    Sekadar sebagai contoh dapat digambarkan sebagai berikut: Dua surat kabar bersengketa. Perkaranya lebih merupakan sengketa bisnis di antara oknum-oknumnya. Akan tetapi karena kedua belah pihak berperan ganda sebagai wartawan dan sekaligus pengusaha, sengketa itu kemudian berujung ke pemberitaan. Mereka menggunakan medianya untuk berkampanye, menyerang dan menghakimi pihak lain. Jelas, keduanya sama-sama melanggar Kode Etik Jurnalistik.

    Dalam hubungan itu —meskipun tidak langsung— tidak bisa dikesampingkan pembicaraan soal amplop. Kecilnya gaji menyebabkan wartawan terkena penyakit “rawan amplop”. Pro-kontra pun terus merebak hingga kini: bolehkah wartawan menerima amplop. Wartawan yang berada di jalur mainstream sangat mengharamkan pemberian amplop. Tetapi wartawan di penerbitan abal-abal (ini juga istilah yang muncul di Dewan Pers) justru memburu amplop. Kemudian ada pula yang mengambil jalan tengah: boleh menerima amplop sepanjang tidak mempengaruhi berita, sesuatu yang masih diragukan pastinya.

    Sialnya profesi wartawan memang mudah dimasuki siapa saja. Profesi itu terbuka bak tanpa pagar. Ghazali menulis —mengutip sejumlah pakar komunikasi— tidak mudah menganggap profesi wartawan langsung sama dengan dokter, jaksa, advokat, dan lain-lain. Semua profesi itu memiliki standar yang lebih jelas yakni sekolah tertentu, dengan ijazah tertentu, kadangkala masih ditambah ujian tertentu dari asosiasinya.

    Memang ada yang mengatakan bahwa wartawan merupakan profesi terbuka. Profesi itu dapat dimasuki siapa saja dengan disiplin ilmu bermacam-macam. Akan tetapi, seperti halnya guru, yang kini juga merupakan profesi terbuka, tetap disyaratkan adanya tambahan
    pendidikan tertentu yang mengacu pada profesi itu, sedangkan wartawan tidak – sekurang-kurangnya untuk wartawan jenis “itu”.

    Karena itulah mungkin profesi wartawan semakin diminati banyak orang karena gampang meraihnya dan dianggap paling mudah untuk mencari penghasilan dengan segala eksesnya. Tanpa pendidikan pers, siapa saja bisa mendirikan penerbitan pers, mengangkat diri menjadi wartawan dengan mencetak kartu pers dan kartu nama.

    Penerbitan semacam itu menjamur di era reformasi dengan tujuan
    semata-mata mencari uang. Tidak ada idealisme profesional sedikit pun. Hal itu diperparah oleh kondisi masyarakat sendiri yang, untuk sebagian, masih belum melek media. Mereka tidak bisa membedakan antara wartawan mainstream dengan wartawan abal-abal. Akibatnya sepak terjang wartawan yang disebut terakhir itu semakin menggila. Mereka memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat untuk memperoleh keuntungan. Banyak pengaduan yang masuk ke Dewan Pers karena ulah wartawan abal-abal.

    Menghadapi kasus itu, ada dua pendapat: Pertama, biarkan saja karena tindakan wartawan itu lebih bersifat kriminal. Itu bukan ranah Dewan Pers melainkan aparat penegak hukum. Kedua, tetap ditangani dengan melihat sungguh-sungguh pelanggaran kode etik jurnalistiknya sebagai proses pembelajaran. Sedangkan tindakan kriminalnya diserahkan ke aparat penegak hukum.

    Jika tidak ditangani bukan tidak mungkin ada tangan lain yang mengambil alih dan menuding Dewan Pers melakukan pembiaran atas pers semacam itu. Lebih berat lagi kalau disalahpahami, merebaknya wartawan abal-abal merupakan dampak langsung dari kebebasan pers yang kebablasan.

    Namun pertanyaan tetap menggantung: Bolehkah pekerja pers mempunyai rangkap jabatan atau pekerjaan sampingan? Mungkin disini akan muncul tiga pendapat. Pertama, tidak boleh karena akan menimbulkan konflik kepentingan yang berujung menabrak UU Pers dan KEJ. Ini yang sangat dianjurkan oleh Dewan Pers. Kedua, boleh demi menambah penghasilan yang kecil. Ketiga, –ini jalan tengah– tidak masalah sepanjang hanya mengenai jabatan non wartawan seperti pemimpin perusahaan. Mana yang dipilih?*

  61. kumaha yeuh jufair?

    rencananya kapan?

    hok ah urang eratkeun deui duduluran jurnal!!

  62. pengelola blog….bisakah ada ruangan khusus yang menyimpan banyak artikel dari alumni?
    sekarang yang posting artikel baru kang heri. tapi kalau blog ini sudah makin menyebar di kalangan alumni, saya yakin banyak yang akan berkontribusi. minimal memberikan artikel tentang kerjurnalistikan. dan sepertinya tidak cukup jika hanya menggunakan guest room…..

    pak dadan….jadi kapan milad teh?

  63. boleh saja……thanks ya….
    kalau untuk kemaslahatan, saya yakin pak dadan tidak akan berkeberatan. walaupun memang timbul sedikit pertanyaan, apakah harus selalu nempel ke jurusan atau fakultas? kalau memang tidak diizinkan, ya….saya cenderung mengusulkan bikin sendiri saja.

    satu lagi….begitu banyak kabar bagus yang mungkin tidak sempat diposting di blog ini. bisakah buat milis untuk warga jurnalistik lintas angkatan? karena milis yang ada selama ini, terkesannya hanya per angkatan. sehingga informasi yang menumpuk itu tidak tersebar. masalah alamat e-mail alumni, saya bisa sedikit membantu.

    seperti yang sering dibilang…..orang yang akan maju di masa depan adalah orang yang dekat dengan berbagai informasi.

    thx ya zarien…..
    saya bangga, ada anak jurnal yang semangat ngurusin hal-hal seperti ini. keliatannya kecil tapi padahal besar dan membutuhkan energi yang besar pula.

  64. jurnalisuinsgd itu siapa ya? kayaknya akan lebih akrab kalo pake nama asli:-)

    seperti yang sering diucapkan, didengar, dan diperhatikan….berbicara itu mudah. waktosna ngalakonan….. masalah ketinggalan, meskipun kenyataannya seperti itu, tapi bukan berarti hilang semangatkan….. tak perlu berkeluh kesah, jika hal itu tak menghasilkan apapun. optimislah……

    jadi, kapan mo ngadain kumpulan?
    adakah orang yang bersedia meluangkan waktunya untuk menjembatani keinginan ini? insya Allah saya bantu. beberapa alumni yang sudah tersebar dimana-mana meminta saya untuk bantu acara kumpulan ini. awalnya saya berkata pada mereka akan meluangkan waktu. tapi di tengah jalan, salah satu rekan kerja saya pindah ke jakarta. jadi ya….saya hanya bisa bantu seadanya. jadi sekarang saya menawarkan diri, ada yang bisa saya bantu? ya….walaupun mungkin bantuannya sangat kecil dan pas-pasan sekali.

  65. yu kiata tingkatkan Fidkom UIN SGD BDG..kita buktikan pada gunia klo kita Bisaaaa…..CayoOo bu pak
    Jurnalis…Nu aing…..><…he2.

  66. Ampun jUrNaL……………….! makin kueren ja ckarang mah jurnalpos, pa lagi tu bdg-news sumpah kueren! sok lah jurnal buktikan kepada dunia urangteh boga pangabisa. pokokne ” JURNALISTIK nu aiiiiiiiing, nya kumaha aiiiiiiiing wen.

  67. junarlis hobi gue yang terpendam, tingkankan trus jangan sampai bosan

  68. http//dedisyaputra.wordpress.com

  69. pelaksanaan buka bareng kenapa gak hari sabtu aja, biar alumni yang ada di luar kota pada datang dan terlepas dari pekerjaan harian?
    maaf ya…gak bisa datang kamis ini, pas buka bareng….

  70. Ass. kumaha yeuh daramang barudak jurnalistik teh?ada informasi terkini akurat dan terpercaya akan segera mengakhiri masa lajang Nurul Hidayat angkatan 02 (Aday), hubngi lebih lanjut hubungi sunan or isep angkatan 02

  71. Pak Rektor.. Tong Ngerakeun atuh… piraku situs IAIN eh .. UIN (Universitas Indonesia Negeri) .. heheheh teh teu bisa dibuka gara-gara can mayar… Budak jurnal tong cicing wae atuh… Demo… demo… tah aljamiah teh…

    Tong sieun… Tong Borangan jadi mahasiswa Jurnalistik TEh.. Sing Kritiss…….

    http://www.uinsgd.ac.id

    Nama Domain ini telah habis masa berlakunya dikarenakan hal-hal berikut:

    Pemakai/pengelola nama domain ini mengetahui bahwa nama domainnya telah habis masa berlakunya tetapi memilih untuk tidak memperpanjang masa berlaku nama domain tersebut.
    Pemakai/pengelola nama domain ini tidak menerima email informasi mengenai habis masa berlakunya nama domain melalui alamat email yang terdaftar pada sistem registrasi. Hal ini dapat disebabkan oleh tidak aktif/validnya alamat email tersebut.
    Bilamana nama domain ini masih ingin dipergunakan maka pihak pemakai/pengelola nama domain ini dapat melakukan proses perpanjangan agar nama domain dapat diaktifkan kembali.

    Untuk informasi mengenai proses perpanjangan silahkan menghubungi pengelola domain anda atau dapat langsung menghubungi:

    PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia)

    Gedung Arthaloka, Lantai 11
    Jalan Jenderal Sudirman Kav 2 Jakarta 10220

    Telepon +622157939151 (hunting), +6221 98290955
    Fax +62 21 579 39152
    Email: info@pandi.or.id
    website: http://www.pandi.or.id

  72. hehehe….masa cuma bayar situs gak mampu?
    kemane aja tuh duit….
    hallo….ini menarik untuk diangkat. jangan-jangan bukan cuma situs yang belum dibayar. dan apa iya, itu tidak dianggarkan? ayo barudak jurnalistik…..kalo teori bilang, wartawan harus punya penciuman yang tajam. dan ada pula yang bilang, wartawan itu orangnya curigaan, jadi mau apruk-aprukan mencari jawaban dari kecurigaan itu. selamat berkarya….

  73. ah maenya.
    sekelas uin teu mampu mayar domain situsna.
    eh teh Ren kang heri
    wajar aja, kalo ngka bisa dibuka atau di akses
    mungkin urang yang ngelola situsnya ngka dibayar and kabur deh,
    ngak mau ngurusin situs uin nya lagi (bwta si orang yg ngelola situs uin jangan geer aku ekspos)
    dan satu lagi
    uin sebagai “Universitas Islami”
    adalah universitas yang paling terjangkau biayanya dan “mewah fasilitasnya” .
    jadi mungkin saja itu menjadi penyebab uin ngak bisa bayar biaya domian situsnya

  74. Ari ajat..mahasiswa sanes?? Lucu euy.. hahha…

    mewah ti mana horeng ajat?? Gaul atauh.. amengan ka kampus lain……. dinte ieu kubadi dibuka deui eta situs kampus ajatanu mewah teh… hasilnya:www.uinsgd.ac.id

    Nama Domain ini telah habis masa berlakunya dikarenakan hal-hal berikut:

    Pemakai/pengelola nama domain ini mengetahui bahwa nama domainnya telah habis masa berlakunya tetapi memilih untuk tidak memperpanjang masa berlaku nama domain tersebut.
    Pemakai/pengelola nama domain ini tidak menerima email informasi mengenai habis masa berlakunya nama domain melalui alamat email yang terdaftar pada sistem registrasi. Hal ini dapat disebabkan oleh tidak aktif/validnya alamat email tersebut.
    Bilamana nama domain ini masih ingin dipergunakan maka pihak pemakai/pengelola nama domain ini dapat melakukan proses perpanjangan agar nama domain dapat diaktifkan kembali.

    Untuk informasi mengenai proses perpanjangan silahkan menghubungi pengelola domain anda atau dapat langsung menghubungi:

    PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia)

    Gedung Arthaloka, Lantai 11
    Jalan Jenderal Sudirman Kav 2 Jakarta 10220

    Telepon +622157939151 (hunting), +6221 98290955
    Fax +62 21 579 39152
    Email: info@pandi.or.id
    website: http://www.pandi.or.id

    aduh isin pisan…. tos we atuh janten STIA wae ulah UIN….

    meuni hayang ceurik…
    eweuh nu paduli mahasiswa teh….

    Ren, kayaknya alumni yang harus bergerak. Coba reni beritakeun lah ceunah genjleuh….. beritakeun we kampus gaptek ngaku-ngaku universitas…..

    Dulu waktu situs jabar.go.id teu bisa diakses… tahun 2002-an.. ku saya diberitakeun… genjleuh tah bepesitelda… besokna geus aya deui…. bari menta maaf sagala ka saya.. hahaha..

    Mana presiden HIMA Jurnalistik?? Turun we lah mun teu kritis mah..

  75. Saya barusan sudah SMS Pak Rektor: Anjeuna berkata: Terima Kasih atas informasinya. Saya akan perhatikan. Kita tunggu saja… berapa lama??

    Selain itu, saya juga menelpon langsung Ketua Program Studi Komunikasi. Mr Dadan juga kaget.

  76. waduh, , katanya pengen go-internasional, eh malahan go-blog, piraku situs UIN jadi je-blog gara-gara can mayar. pak nanat fatah natsir kamana wae atuh.

  77. itu membuktikan bahwa pejabat UIN memang gak pernah buka websitenya sendiri…..
    ini sangat lucu, karena seharusnya pemilik rumah lebih tahu isi rumahnya sendiri. tapi ini?????? wah….parah…..
    gimana pejabat-pejabat itu mau mengembangkan UIN, kalau dia sendiri tidak tahu keadaan dirinya sendiri.

    katanya mahasiswa jurnalistik punya yang namanya bandung news atau media internal lainnya. berhentilah sejenak membuat tulisan yang hanya sekedar memberikan informasi ringan, seperti perjalanan, budaya, etc. sedangkan hal besar yang jelas2 ada di depan mata dilewatkan begitu saja. sadarkah temen2 kalo itu sangat berpengaruh buat jurnalistik. saya yakin masih banyak hal buruk lainnya yang tidak tampak di permukaan. ini tantangan buat kita semua……

    saya teh dah bosan dengar anak jurnalistik makin kesini cuma menang di gaulnya aja. ayo dong…..ulah ngisinkeun. komo ayeuna mahasiswa UIN jumlahnya semakin gemuk. buat apa gemuk di kuantitas kalo miskin kualitas?

    Presma….pengurus hima…..jangan sampai alumni mengulang OPAB temen2 semua. do the best………

  78. Kang heri, meuni kitu.
    ajat masih kacatet sebagai mahasiswa kok.
    sok aja cek di tu fakultas, kalo ngka percaya mah.
    Maksudnya “Megah” itu ya ………………………..
    memang mewah kan.
    sangkin mewahnya,
    domain situs sendiri aja ngka kebayar……………
    duh kampus uin ku yang ku sayang……….
    kampus uin ku yang malang,……………………….
    bener kata si teh reni,
    sok atuh HIMA ama DEMA Fakultas Dakwah
    tunjukkan taring mu untuk permasalahan ini.
    Kalo bisa jangan jadi “Macan Ompong” donk
    bwat HIMA AMA DEMA

  79. hehehe… punten Jat.. kamari nuju esmosi…. hehehe
    Hima tong sare wae….
    saha presiden HIma Jurnal ayeuna??
    Kudu dicarekan ku seluruh senior….

  80. Salam daramang sadayana. Ngiringan nyarios ahkh kenging teu?

  81. Kumaha jurnalistik uin sagede bedug teh ayeuna? Saurna beuki terpuruk. Cik akh diwaler ku nu mahasiswa kenenh etang-etang UAS.

  82. Cik kang ajat kumaha wartosna barudak jurnalistik uin teh? Saurna teu pararede nya? Kang Dipa, heri ruslan, teh reni, kang ageng, kang dedi daramang? Arararaya yeuh……. jawab atuh…jawab…

  83. Rin, planing urang, Jum’at 24 Okt 2008.
    urang dek k kampz.
    deuk nanyakeun ke rektor atawa perek “Pembantu Rektor” tentang masalah web uin.
    sok atuh, SAUDARA YANG TERHORMAT PRESMA DAN SENAT MAHASISWA FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UIN BANDUNG. Action Donk!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    jangan stay aja.
    ngerakeun nya,
    maenyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    teuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
    bisaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    mayarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr
    biayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    domian webbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbbb
    olangannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn
    kamanaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    atuhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
    dananaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    heeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee

  84. parah nya.web t

  85. Zariiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn
    Naha jadi kieu tampilan jurnal pos
    alus nu kamari ceuk urang mah

  86. ass, punten ngiringan ah… nepangkeun sim kuring faisal angkatan ’98. asa cape macaan buku tamu teh…. tapi ku sono mah,….. parat oge dibaca….
    salut lah ka Jurnal ayeuna… salam ka kang (obetz)…. sareng ka sadaya alumni tur mahasiswa wilujeng…..

  87. ehm….akhirnya kang faisal nongol juga, setelah sekian lama tapa di bogor. jadi, siapa wali kota bogor yang baru?
    kang, ceunah bade ka bandung?

  88. ass.
    katanya sistem pemilihan presiden jurusan atau ketua umum hima jurnalistik tahun ini, dipilih melalui sistem pemilu langsung ya.
    aduh, ini sekedar berbagi info saja.
    saya ngalamin jadi panitia pemilu raya di jurnalistik pas jaman rizal presidennya.
    Ada beberapa hal yang akan kalian rasakan jika sistemnya seperti itu (pemilihan langsung)
    RIBETTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT
    MEMAKAN BANYAK WAKTUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU
    CAPEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE
    DUA KALIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII
    DAN YANG PALING UTAMA IALAH
    MEMAKAN BANYAK DANA ALIAS DUITTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT
    Begitu…….
    Paham ora??????????????????????????????
    Truzzzzzzzzzz,
    kalo sistemnya pemilu raya,
    nama HIMPUNAN MAHASISWA JURNALSITIK PUN HARUS DIGANTI MENJADI
    BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA JURUSAN (BEM-J)
    Tambah ribet kan.
    alah……….alah…..
    cape dechhhhhhhhhhhhhh
    kok hal yang mudah aja dipersulit sih.
    catet tah, ngapain sih mempersulit hal yang mudah
    lebih baik pake sistem muhim lagi lah, kalo saran dari saya mah

  89. ajat….kamu teh nulis calon S.Sos, SK wae can kaluar, hehehe…..enggalkeun kuliahna.

    pemilu raya sebenernya bagus, apalagi jika dikaitkan dengan tingkat partisipasi masyarakat jurnalistik. karena mahasiswa yang berpartisipasi dalam muhim biasanya sangat sedikit. namun persoalannya, apakah mahasiswa juga care dengan Hima? berapa persen mahasiswa yang memilih lewat pemilu raya? waktu angkatan 2000 dilaksanakan pemilu raya. pemilihnya tetap saja sedikit. bahkan banyak mahasiswa yang tidak mengerti untuk apa memilih? pentingkah memilih?

    “pentingkah memilih…” itu harus jadi cambuk buat anak2 hima. karena kata-kata itu bisa berarti, kerjaan kalian selama ini tidak berguna untuk teman-temanmu yang lain.

    muhim dan pemilu raya punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. yang terpenting adalah bagaimana anak-anak jurnalistik bahu membahu memajukan nama jurnalistik. bukannya saling hantam antar pemimpin yang mempunyai bendera macam-macam. siapa itu HMI? siapa itu PMII? KAMMI dan sebagainya? gak penting tahu gak!!! bulshit!!! karena ketika masuk HIMA Jurnalistik, kalian satu bendera yaitu jurnalistik. berhentilah saling menjatuhkan. kampus lain sudah berlari kesana-kemari, pengurus Hima UIN hanya sibuk dengan pertikaian bendera masing-masing. kasian banget….

  90. Ada info bahagia neh dari Erna Mardiana angkatan 1999.

    Assalamu’alaikum…

    Jika akhir pekan depan, rekan-rekan sedang bingung mau kemana, sudi kiranya mampir sebentar untuk mendoakan pernikahan kami, yang akan digelar pada :

    Pukul 11.00-14.00 WIB, Minggu, 9 November 2008 atau tepat sehari sebelum peringatan Hari Pahlawan

    Bertempat di Aula KPU Jabar, Jalan Garut No 11 Bandung (dekat RM Bumbu Desa Jalan Laswi atau 200 meter dari Kafe Bali, Jalan Riau

    Kami akan sangat berbahagia dan merasa terhormat jika rekan-rekan semua bisa hadir. Doa restu rekan-rekan semua kami berdua harapkan. Ini untuk mempermudah kami untuk bisa membentuk keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah.

    Salam hormat kami,
    Erna & Rudini

  91. beber tah ceuk ajat sudrajat, anu liputan di antara na teu eureun-eureun,
    jiga urang tuh Jat, jam 10 peting masih nulis berita, nepi eta berita urang diisukeun geura,eh naha jadi nyambung kadinya.
    muhun tah leureus pisan ceuk kang Ajar eh ceuk kang ajat mending Muhim nanaonan Pemilu raya, “Rek saruakeun jeung Pemilu di Indonesia” terus bener oge ceuk teh Reni, “Naha asa loba bener na iraha salahna ieu teh” kaleum engke aya salah na.
    bener ceuk teh Reni (Jurnalis Perempuan Republika yang imut nan manis) buat apa saling menjatuhkan mengatasnamakan bendera, satu dengan bendera lainnya, mendingan bendera mah pasang di depan rumah saja.
    nah, jadi kasian bangeut jurnal lain mah tos kamana, eh ieu mah kerek ngulek keneh di kampus!
    nah, ayeuna gorengna, naha ari diacara Muhim, rokok jeung kopi beut kudu masing-masing, coba kali-kali mah dianggarkeun buat Feri satu Bungkus, buat anggota Muhim sabatang ewang, eh, kang Hendra bade oge? nah kang Hendra sabungkus, ih,,kang entang hoyong, nah Kang entang sabungkus oge, eit si Ajat deuih menta, kan Ajat mah teu nyeseup, ajdi digentos ku permen, “Hiji, Relaxa” ha,ha,,,
    Punteun Guyon abi mah, seueur heureuy, nah da kieu,
    Pokona mah di Muhim ulah rame teu puguh, Keosisten dan berani bertanggung ajwab dengan argumen yang kuat bukan pa loba-loba mawa jelema dalam satu bendera jeung anu daratangna teh anu lulusna geus heubeul tiba-tiba daratang pas pemilihan, bangga! atawa sms’an alias mengundang untuk banyak suara! wae!
    Nay sakitu ti Abi mah sanes kitu pak Haris? kumaha yeuh Pak Haris tulisan abi di Muat di Koran, wantun mere nilai sabaraha ka abi, euleuh kawas ngajual peuteuy wae! punteun pak Haris, guyon ieu mah!
    mangga sok, Muhim sing bener, Jujur dan adil, belajar untuk menerima kekalahan! bukan mencari menang dan menjatuhkan kawan!

  92. kumaha daramang lur?? duh lami teu ngalongok ieu weblog… leres nya asa sae nu kamari ah….

  93. salam Jurnal,
    kumaha kabarna jurnalistik uin teh, basa-basi dulu!
    Sedikit masukan untuk next generation jurnalis alumni UIN, tolong masa kuliah itu adalah masa yang paling indah tidak ada penekanan dari orang lain kecuali dosen dan awewe ato lalaki.
    kuliah di jurnalistik bukanlah sebuah teori belaka yang harus dipelajari tetapi coba praktikan dengan kekuatan dan kemampuan yang ada dalam diri individu.

    Yang saya tahu lapangan dan kampus sangat jauh berbeda sekali dan sekali sangat pisan. Kenapa saya bilang seperti itu, toh yang bukan lulusan jurnalistik juga mampu untuk bekerja dilapangan sebagai jurnalis, bahkan ada yang lebih mengagetkan dengan kemampuan nyali besar alias nekad berani dirinya mengaku wartawan.
    Bagi saya tidak ada jaminan kuliah di jurnalistik akan menjadi jurnalis berkeringat dibawah lapangan, saya yakin semua orang ingin kerja enak santai diruangan ber AC termasuk saya tetapi hal itu sakiranya lama untuk ditempuh oleh awal karir jurnalis, adapun seorang jurnalis yang enak duduk dikantor yakni seorang redaktur pimred dan pemilik perusahaan, namun mereka juga saya yakin pernah terjun dilapangan, tak ubahnya menemukan tantangan yang sangat menakutkan baik fisik ataupun mental.
    Nah, masalah mental saya yakin nanti di acarta koma yang insya Allah katanya akan diselenggarakan 28 November, untuk bisa mendidik mental maupun intelektualnya secara maksimal.
    terlebih utama masalah mental dalam menghadapi perkuliahan dan menerawang masa depan.
    saya meyakini bahwa langkah awal yang bagus adalah seribu langkah kesuksesan.
    selain itu saya ingin membangun secara besar terhadap alumnus2 yang sudah ada dilapangan untuk menyambut baik secara terbuka pada adik-adiknya yang masih dikampus ataupun sudah lulus, jangan anggap mereka (adik kelas) baru terjun dilapangan sedikit diacuhkan, sakiranya itu memang bagus diacuhkan karena untuk melatih mentalitas dilapangan.
    tapi bagi saya tidak ada yang mampu belajar sendiri selain ada dorongan dan semangat dari orang lain.
    gagasan dan ide mungkin dibutuhkan dari orang lain selain dari ide dan gagasannya sendiri.
    tak ada salahnya dalam opab ini membangun secara maksimal jiwa kekeluargaan dan kebersamaan selain sebuah pesta rakyat jurnal.
    untuk itu semoga para alumi bisa menyempatkan waktunya datang dalam acara KOMA supaya bisa sharing atau masukan tentang pengetahuan dan pengalaman di lapangan, ya, sedikit membuka wawasan bagi adik kelas sebelum mereka meninggalkan kampusnya.
    selain itu, ternyata idealisme wartawan yang berani menolak amplop masih sedikit kebanyakan yang saya tahu dalam pandangan mata saya tetap diterima, jujur termasuk saya sendiri.
    namun saya punya alasan tersendiri kenapa saya menerima amplop tersebut, ternyata orang yang tidak sepaham dengan saya akan menyangka “Jaman sekarang masih berpegangan idealime jurnalis” itulah yang saya rasakan dan akan sidkit dilupakan dari kelompoknya.
    namun dibalik pandangan mereka aku terima amplop tersebut dan kembalikan pada sumbernya tanpa harus menyakiti sumber pemberian amplop itu (nara sumber).
    namun ada juga nara sumber yang menolak pengembalian amplop tersebut tetapi saya berikan kepada orang yang terdekat didepan nara sumber, kalau ada OB ya saya berikan kepada OB tapi kalau tidak ada OB saya paksakan untuk disimpan diatas meja dan pamitan sambil mengucapkan salam.
    namun dibalik itu juga secara pribadi saya jujur, saya tidak munafik terhadap uang, saya juga butuh uang, saya butuh uang sebagai penyambung hidupku namun aku juga bingung kemana saya harus berpijak sebagai seorang jurnalis.
    untuk itu saya mempunyai obat yang mujarab yakni rezeki Allah itu tidak akan salah memberikan kepada setiap umatnya.

    kenapa saya bicara di kampus itu berbeda jauh dilapangan, karena di kampus kita membicarakan soal idealisme wartawan, yang sangat saya ingat adalah wartawan tidak boleh menerima uang dalam amplop,
    namun kenyataannya lulusan jurnalistik juga tetap melupakan pahamisme itu,
    seperti halnya saya dilapangan, seorang kakak kelas satu kampus, satu teori dan satu profesi tetap melupakan pahamisme itu, yang dipakai dilapangan adalah bagaimana menulis berita yang bagus,
    ini hanya sebuah cerita nyata yang memang seperti itulah dilapangan.

    “kita tak ada harapan untuk menjadi seorang jurnalis yang semestinya, kita kalah sama orang yang bukan lulusan jurnalsitik S1″
    Saya menyarankan tertawalah sekerasnya untuk next generation jurnalsitik UIN, kenapa Anda masuk jurusan jurnalistik?” ini bukan untuk mematahkan semangat Anda tetapi untuk membuka pikiran Anda yang belum menemukan makna dari sebuah Jurnalsitik.
    Kunci dari saya, lulusan Jurnalistik itu tidak ada yang menganggur, kenapa karena ada jawabannya pada diri sendiri. temukan apa yang Anda sukai, lalu gali sama Anda sendiri, pegang satu, fokus, dan kenali dilaur fokus anda.
    ini sebuah saran pemikiran yang tidak ada dalam kenyataannya, “Jika Anda berani, ketika lulus Anda harus berani membakar ijasahmu, dan temukan dirimu tanpa ijasah, apakah Anda mampu untuk hidup tanpa ijasah? itulah kenapa saya bicara lulusan jurnalistik itu tidak ada yang menganggur.
    Maaf ini sebuah wacana yang sudah diceritakan oleh banyak orang. entah siapa orangnya!
    Feri Jurnal 2004

  94. Perkenankan saya alumni Fakultas Dakwah jurusan Ilmu Jurnalistik angkatan kahiji tahun 1998 atau bisa dibilang mahasiswa “percobaan”. Ditulis “percobaan”, karena saat kulihan dulu saya masih ragu apakah jurusan ini akan terus eksis atau gulung tikar di tengah jalan. Tapi alhamdulillah, ternyata saya bisa juga meraih gelar S.Sos dan masih mendengar dan melihat alamamter saya masih “hidup” sampai detik ini. Meski katanya, 
    masih banyak kekurangan yang terjadi terutama dalam perkuliahan.
    Maaf, saya mungkin termasuk alumni yang tidak tahu perkembangan tentang adanya blog ini. Mungkin karena kurang komunikasi-padahal 
    saya sering ke kampus UIN-, saya baru mengetahui adanya blog ini, 
    sebulan yang lalu.
    Dan, saya sangat salut dengan apa yang telah dikaryakan oleh para mahasiswa jurnalistik sekarang ini. Jujur saja, dulu saya masih tidak kepikiran untuk membuat karya seperi Anda ini. Jangankan 
    berpikir ke arah sana, kondisi perkuliahan yang seadanya sudah 
    cukup menyita pemikiran kami untuk mencari ilmu di luar 
    perkuliahan untuk menciptakan mahasiswa jurnalistik yang bisa bersaing dengan alumnus jurnalistik dari PT yang lain.
    Saking rindunya terhadap juranlistik, saya pun dengan telii dan seksama membasa semua komentar teman-teman dalam Guest Room ini. Meski sedikit, namun rasa kerinduan dalam hati saya bisa terobati.
    Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan dalam kesempatan yang berharga ini. Kondisi yang teman-teman hadapi saat ini, mungkin tidak jauh berbeda dengan yang kami lalui dulu. Masalah dosen 
    yang kurang tidak punya latar belakang juranlsitik dan yang 
    lainnya juga menjadi masalah pelik yang terjadi sejak angkatan 
    ’98.
    Namun yang perlu diperhatikan, adalah kita harus bisa berdiri sendiri di atas kaki kita dan kemampuan kita. Dalam arti, kita jangan terlalu memusingkan hal tersebut. Yang penting, kita mempersiapkan skill dan wawasan kita sebagai bekal ketika kita 
    terjun di dunia kerja ataupun ketika kembali ke masyarakat.
    Dengan kondisi yang serba “keterbatasan”ini-harus diakui oleh semua pihak tentang kondisi jurnalistik dan uin sgd bdg-, 
    mahasiswa jurnalistik dan alumninya jangan pernah merasa minder 
    dan inferior saat berhadapan dengan lulusan jurnalistik dari PT lain. Ingat, kita semua makan NASI. Bearti kita semua 
    sama yang membedakan adalah kemauan kita untuk berubah dan 
    mencapai cita-cita yang kita harapkan.
    Di dunia kerja-khususnya wartawan-, para almuni jurnalistik IAIN SGD BDG yang kemudian berbubah menjadi UIN SGD BDG, telah mampu 
    berkarya dan membawa bendera alamamter kita di dunia 
    kewartawanan. Ini mebjadi bukti, meski dengan “bahan” dan “modal”
    yang serba prihatin, namun prestasi almumni kita banyak mendapatkan aprsiasi yang bagus dari dunia luar (baca:kewartawanan). Dan diluar duania kewartawanan pun, banyak almuni kita yang berkarya dan berprestasi.
    Beberapa media seperti Republika, Galamedia, Radar Bandung, Radar Bogor, Radar Cirebon, Metro TV, Trans TV, STV, Majalah Muslimah dan yang lainnya, memberikan apresiasi besar dengan untuk merekrut alumni kita. Jika tidak mempunyai skill dan prestasi, saya kira media-media tersebut tidak akan memperhitungkan kemampuan alumni kita.Inilah yang saya maksud. Yang penting, kita harus mempunyai skill 
    jurnalsitik yang mumpuni sehingga kita bisa berkarya di manapun 
    baik di dunia kewartawanan maupun di dunia kerja yang lain.
    Sekarang, saya ingin memberikan masukan kepada pihak yang mempunyai wewenang untuk membina dan membimbing para mahsiswa jurnalistik.
    Sudah saatnya, pihak jurusan dan fakultas untuk melakukan evaluasi setelah jurnalistik UIN SGD BDG berusia 10 tahun. Usia yang masih memerlukan perhatian yang cukup besar. Evaluasi yang 
    saya maksud di sini adalah pembenahan tentang kondisi perkuliahan 
    dan yang paling penting adalah SDM dosen.
    Untuk bisa mencetak seorang jurnalis yang handal, tentunya dibutuhkan tenaga dosen yang mumpuni. Dalam hal ini, bukan hanya dosen yang pintar teori atau mengajarkan kepada mahasiswa buku yang dibaca semalam sebelum kuliah. Tapi yang diperlukan adalah pembimbing yang pandai teoritis dan praktis.
    Saran saya, rekrutlah para alumni yang sudah menjadi wartawan untuk memberikan atau sharingilmu dan pengalaman dalam berkiprah menjadi prodeusen berita. Saya kira, para alumni akan 
    menyambut baik hal ini dan dengan sense of belonging yang tinggi, akan berusaha sekuat tenaga untuk memerikan yang 
    terbaik bagi almamaternya.
    Tolong, saran saya ini jangan disalah artikan oleh Pak Dadan Suhediana atau Yang Terhormat Bapak AS. Haris Sumadiria. Kondisi yang terjadi di jurnalistik UIN SGD BDG saat ini, harus menjadi perhatian da tanggung jawab kita bersama. Dan yang paling utama 
    bisa memberkan perubahan adalah pihak jurusan jurnalistik.
    Tentunya sangat disayangkan jika minat besar dari mahasiswa untuk mengambil jurusan jurnalistik tidak diimbangi dengan persiapan dan pembinaan yang baik. Kalau peruabahan tidak dilakukan, maka kita tinggal menunggu “kehancuran” dan jurnalistik hanya tinggal “nama” saja.
    –Tentang warna orange–
    Sebelumnya saya mohon maaf, jika tulisan saya ini tidak sistematis.
    Ada hal yang ingin saya komentari di luar masalah itern jurnalistik secara keseluruhan. Dalam kesempatan ini, saya ingin membahas tentang: keputusan untuk memilih warna orange untuk digunakan menjadi warna kostun kebanggaan tim sepak bola jurnalistik”.
    Sebagai orang yang menjadi bagian dari tim yang membawa jurnalistik menjadi “Jawara” sepakbola untuk yang pertama kalinya-dan belum terulang lagi-pada tahun 1999, pemilihan warna orange diputuskan dengan sangat sederhana.
    Pada Liga Jurusan I tahun 1998, para pemain jurnalistik dibingungkan dengan warna kostum. Kami dulu akhirnya memutuskan untuk memilih warna yang berbeda dengan tim yang lain dan harus menjadi ciri khas jurnalistik. Pilihan pun jatuh kepada warna oranye, karena saat itu tidak ada satu tim pun yang memakai kostum warna oranye.
    Dan sejak itu, kesebelasan jurnalistim selalu identik dengan oranye. Kami bukannya anggota The Jack Mania-untuk menjawab mahasiswa jurnalistik yang menjadi anggota Viking FC sehingga tidak mau mendukung jurnalistik-, tapi lebih didasarkan kepada mencari kekhasab dan keberbedaan dengan tim yang lain. Tidak ada maksud lain ataupun politis dalam hal itu. Semoga penjelasan ini, bisa diterima dan dipahami.
    Terkait dengan kegagalan jurnalistik di beberapa penyelenggaraan liga jurusan untuk meriah titel juara, saya kita tidak ada hubungannya dengan warna oranye atau “kutukan” drama adu penalti. Sebagai kaum intelek, tentunya kita harus bepikir secara logis dan obyektif. Kegagalan tersebut, merupakan kesuksesan yang tertunda. Yang akhirnya, harus menjadi pendorong untuk mempersipan tim jurnalistik untuk menjadi yang terbaik di kampus.
    Kalaupun tetap saja ingin mengganti warna kostum jurnalistik dengan selain oranye, saya kira sah-sah saja. Dan jika pun nanti, jurnalistik menjadi juara dengan tidak memakai warna oranye, kita jangan lantas menyalahkan warna oranye atau percaya dengan mitos yang tidak perlu. Karena, kami dulu juara saat memakai kostum warna oranye.
    Yang perlu diingat adalah, warna oranye bisa langsung mengingatkan orang kepada tim sepakbola jurnalistik. Mau tidak mau, warna oranye sudah identik dan menyatu dengan jurnalistik. Sehingga tim lain pun tidak mau menggunakan warna oranye, karena oranye adalah milik jurnalistik dan jurnalistik adalah oranye. (bersambung…)**
    

  95. fer….kamu berani bakar ijazahmu? hehehe….
    kamu sepertinya sedang kebingungan, hayu urang ngobrol. membicarakan persoalan itu, butuh waktu panjang. AJI, sebuah organisasi profesi yang kata orang paling independent pun hingga kini belum selesai menyelesaikan persoalan itu. padahal mereka sudah mewacanakannya dari awal berdiri.

  96. Ah maca ci Teh Ren.
    Yang aku tau AJI itu salah satu organisasi wartawan yang cukup diperhitungkan.
    Bwat Feri, what the matter with u
    eling fer, eling fer.
    ijazah nu ayeuna aya dilengen maneh
    diperoleh dengan tetesan keringat dan yang pasti dengan diut yang lumayan banyak
    duh malanganya nasib mu nak.
    Deudeuh teuing.
    mana jauh dari cayang Ayu “Ningrum”
    Truz dilempar ke Tasik lagi ama ANTARA.
    Sabar Fer,
    Heeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee

  97. ah ajat…..advokasi buat temen-temen AJI untuk nolak amplop memang berhasil, tapi bagaimana dengan orang di luar AJI? itu berarti, persoalan ini belum selesai. AJI diperhitungkan? bagi saya sangat diperhitungkan. kalo sudah gabung ma mereka, wah….semangat yang sudah surut pun kembali memuncak. makanya Ajat, masuk dulu ke AJI, jadi kamu tahu apa maksud tulisanku.
    sebenernya sekarang, banyak persoalan yang tak kalah besar dalam dunia kejurnalistikan. amplop, itu mungkin persoalan lama, namun kini ada persoalan-persoalan lain yang tak kalah mencengangkan mencengangkan.

  98. Memnag teh saya lagi bingung dalam kekekangan jati diri saya dalam kajian ilmu kejurnalistikan di UIN, saya “berani” membakr ijasah saya, tapi saya tidak berani membakar bukti yang telah saya tempuh selama empat tahun.
    ya, bukti teh walau hanya hiasan lemar dokumen resmi, tapi itulah yang saya banggakan.
    tapi ada yang lebih saya banggakan, ketika saya mampu berjalan seperti ini karena melalui proses empat tahun itu.
    nah saya tidak berani membakar proses empat tahun itu.
    nah, kalau teteh sendiri berani tidak membakar ijasah teteh, yang katanya teteh sebelum lulus sudah kerja di Republika?

  99. bener Jat ijasah sudah ada ditangan saya cuma tidak pake keringat tetapi pake otak yang kemudian mengucur keringat karena naik turun ke tempat foto copian terus mengejar dosen itulah sehingga keluar keringat, tapi ketika mendaptkan ijasah saya dengan tenang dan damai mengambil ijasah dari seorang bapak-bapak yang beruban dengan senyum tak ramah, kemudia melgalisir ke bapak yang lain dengan senyum yang tak ramah pula, kemudian usai legalisir, “Sapuluh ribu!” ucapnya dengan tegas tapi pelan, aga saya secepatnya membayar uang dengan tanpa bukti pembayaran (kwintansi atau kertas jenis lainnya yang membuktikan bahwa saya telah bertransaksi) kemudia jat saya bawa ijasah itu ke rumah dan diberikan pada orang tua saya, apa responnya diraba, dilihat, dan disuruh untuk disimpan di lemari. begitulah akhir ijasah saya Jat.
    mungkin untuk sementara ijasah saya di parkirkan dulu, tapi seandainya ijasah itu bisa menjadi senjata untuk meminjam uang mungkin akan aku gadaikan Jat, untuk minjam uang, ya sekitar 30 sampai 100 juta lah jang modal warnet sakalian jang nyieun kantor BN.
    tapi itulah yang aku banggakan pada diriku, yakni sudah lulus dari pada kamu Jat, he,he,,! sok lah ku urang di doakeun sing geura lulus Jat, sing lancar dipanggihan dosenna, sing getol neangan berita na.doakeun urang oge Jat, sing beutah di tugaskeun dimana wae ge.ok borw kita sambung di acara KOMA.

  100. untuk RENI AFGANISME itu photo afgan yang secomot mirip wartawan ANTARA mau kapan dibawa?kpan ad d kantor.it kantor mash dsna?

  101. aduh angga afganisme…
    aku tunggu dirimu, tapi tak juga muncul. ampe kantor republika pindah, batang hidungmupun tetap tak keliatan. kantor republika pindah ke Jalan RE Martadinata No 126 Bandung (depan taman pramuka). tempatnya lebih enak untuk nongkrong dan dugem (kalo mau). setiap senin-jumat di atas jam 16.00, saya ada di kantor angga.

    angga, sepertinya ajat akan setuju dengan saya. kalo janjian denganmu sebaiknya di kantor republika saja, jangan di Ciwalk alias Cihampelas Walk bukan Braga City Walk, hehehe….diantos di republika….

  102. feri….kok rasanya kamu bikin ribet persoalan. sebelum saya jawab pertanyaan feri, saya mo titip salam dulu buat ukro dan akew, gw suka gaya lo, hahaha….sok atuh geura lalulus. akew, geura kompre. piraku sudah make a wish saat bintang jatuh di ciwidey masih belum lulus kompre, hehehe….

    feri…saya tidak berani bakar ijazah. bukan hanya untuk melihat perjuangan di masa lalu, tapi menatap masa depan. sebagai manusia yang punya banyak impian dan cita-cita, saya ingin melanjutkan kuliah. bagaimana mungkin saya ambil S2, jika ijazah tidak ditangan. untuk mencapai sesuatu, ijazah diperlukan. sudahlah, jangan perumit hidup dengan masalah yang kadang sangat abstrak. saatnya menatap ke depan. kalo memang ada kesalahan di masa lalu yang masih terlihat hingga kini, ayo kita benahi. kalo semisalnya ada kesalahan akibat masa lalu, ayo kita perbaiki. kalo kita dikatakan terpuruk, ayo bangkit. itu yang harus dilakukan fer…perlu obrolan panjang tentang itu.

    ajat, kamu teh nya. pertanyaan teh kenapa tidak dilontarkan saat kita ketemu. sakitu hampir tiap hari kita ketemu. nanti kalo ketemu kita bahas.

  103. jurnalistik anu aing…
    Saya mendengarnya sangat latang di suarakan oleh teman-teman dari jurnal. tapi mengapa saya ingin mempertanyakan kalimat di atas itu sendiri.
    hapunten bilih pertarosan abdi nyinggung.

  104. Kang Rana, ini teh kang Rana dari Tempo bukan??????????????????
    Begini Kang, sebagai seorang warga jurnalistik.
    Slogan “Jurnalistik Nu Aing” itu apa yah.
    Gini deh, saya secara pribadi kurang mengetahui tinjauan historis dari kalimat “Jurnalistik Nu Aing”.
    Cuma, berdasarkan pengalaman spiritual saya, ketika mengucapkan “Jurnalistik Nu Aing” tersebut dengan penuh penghayatan, kesannya itu Gimana Gitu loh Kang.
    Sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.
    Tapi intinya, kata “Nu Aing” bukan berarti mengandung tendensi kasar.
    Dan kata Jurnalsitik Nu Aing itu adalah sebuah spirit bagi seluruh warga jurnal, khususnya saya.
    Ini cuma slogan kok kang.
    ibaratnya gini, slogan RCTI Oke.
    Nah Kalau jurnalistik bukan Jurnalistik Oke Tapi Jurnalistik Nu Aing.

  105. jurnalistik nu aing.mang dah terbiasa aj. tp ga masuk ad art.ngga salah juga klo g menyebutnya. suka-suka aj. yg suka sok, g suka juga g ap.journalistic inside misalnya. so. atau jurnalistik nu ekeu.sok. bebas.. jgn terbebani

  106. memang jurnalistik nu aink sebnuah ungkapan yg terasa bangga, dan terbiasa, coba kalau dulu sebelumnya jurnalistik itu bukan nu aink tetapi jurnalistik UINK kan sedikitnya membawa nama UIN, cuma ada K aja.
    namun seperti diaktakan kang Angga, suka2 saja, terus masih untuk tidak jurnalistik Ekeu, kan jawabnya bisa sambil teupak pundak gemulai, waduh nanti lulusan jurnalistik UIN gawat di mata dunia lapangan, “ko anak jurnalistik gagah gemulai yah?”

    namun bagusnya untuk masih yg mempertanyakan juralistik nu Aink sebaiknya tanyakan dengan mengirim SMS ketik reg spasi aing kirim ke 666, mungkin itulah solusi saya yg penuh dengan canda gurau dan menyebalkan, ha,,ha,,,!!!!

  107. ada pertanyaan yang sampai dulu belum terjawab. mungkin akang teteh pencipta slogan, logo (atau apapun itu) “jurnalistik nu aink” bisa menjelaskan. apa ada hubungannya dengan persib nu aing? karena setahu saya, banyak anak jurnal yang menjadi anggota viking atau bobotoh biasa. untung saja, warna kaos sepak bola gak diganti jadi warna biru. kalo ganti, capek deh…..

  108. mau “Jurnlistik Nu Aing”, “Nu ekeu”, “Nu Abdi”, “Nu Saya”!!!
    Terserah ah.., Nu pentingmah “Nu Aing”!!

    Tp.., jgn cuma suaranya aja dong yg terdengar lantang!!
    gerakan’y manna??
    masa cuma di Koma za kalian bereteriak sekuat tenaga???giliran di kmpz pada barisu!!
    baru dikerjain Dosen dikit za, hehe..,dah kaya cacing mati gaya!!
    terusin atuh euy teriakannya..,teriakan yg keras di telinga mereka!!
    Teriaknya pake otak, mulut & tangan!!
    sok atuh ah.., gereget aingmah!!

  109. OPEN RECRUITMENT BEASISWA MAHASISWA JUARA

    Alhamdulillah, kini telah hadir, program beasiswa dari Rumah Zakat Indonesia untuk para mahasiswa berprestasi yang membutuhkan dukungan dana, berikut ini adalah ketentuan mengenai rekruitasi calon penerima manfaat :

    • Tercatat di PTN/PTS maksimal semester 4
    • Memiliki IPK min. 2,75 untuk jurusan eksakta, IPK min. 3,00 untuk jurusan sosial
    • Pada saat mendaftar, usia tidak lebih dari 22 tahun dan belum menikah
    • Berbadan sehat, tidak memiliki latar belakang penyakit akut/kronis, tidak merokok dan bebas narkoba yang dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter
    • Bersedia dikeluarkan dari penerima beasiswa jika sudah menikah
    • Bersedia untuk menjadi mentor anak asuh Rumah Zakat Indonesia minimal selama masa santunan
    • Bersedia berperan serta aktif mengembangkan konsep pembinaan anak asuh RZI level SD-SMA
    • Bersedia menandatangani surat kontrak yang ditentukan
    • Lebih disukai dari jurusan kependidikan, pernah atau sedang bergabung menjadi mentor Rumah Zakat Indonesia
    * Berdomisili di Bandung, Jakarta, Jogja, Surabaya, Medan, Bali, Manado

    Fasilitas : • Bea Siswa Rp. 1.800.000/Semester

    Pendaftaran :
    20 Desember 2008 – 25 Desember 2008

    Berkas Lamaran yang diperlukan :
    • Surat pengajuan beasiswa dari calon pendaftar
    • Pas foto berwarna dan terbaru ukuran 3×4 ( 4 lembar)
    • Photo copy transkrip nilai 2 semester terakhir
    • Photo copy KTP
    • Membuat narasi tentang kondisi sosial ekonomi keluarga calon pendaftar
    • Membuat narasi tentang diri calon pendaftar dan kegiatan calon pendaftar di kampus
    • Membuat narasi tentang pendidikan islam untuk anak-anak

    Berkas lamaran dikirimkan ke :
    Non Formal Education Division
    EduCare Department
    Rumah Zakat Indonesia
    Jl. Turangga No. 25C Bandung

    Dokumen paling lambat diterima tgl 25 Desember 2008
    Tlp. 022 – 7332407

  110. To Jurnalistik ’05
    yang terbaik tuk mereka belum tentu baik tuk kita
    sok ah jangan terbekenggu dengan “angkatan gagal”
    jadilah “cangkir cantik” tidak akan ada daya tawar tinggi seblum diremas, dibanting dan di bakar…

  111. Ass.
    Kamarana atuh barudak jurnal uin sgd bandung tercinta teh
    meni sepiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
    BTW, sejak hari senin kemarin hingga saat ini, tepatnya tapi, usai ngaliput tentang “OSPEK MAUT JURUSAN GEODESI DAN GEOMATIKA ITB” aku baru tersadar.
    Ternyata, eh ternyata, OSEPEK ITB DI JURUSAN ITU Hampir mirip STPDN MERENNYA.
    Pada baca kan berita seputar kematian mahasiswa ITB yang bernama Dwiyanto Wisnugroho, tewas, karena ikut OSPEK MAUT.
    Seremnya, asa maenya sekelas ITB, yang katanya tempat PARA INTELEKTUAL MUDA BERKUMPUL, menerapkan pola kekerasan dalam OSPEKNYA.
    Saya sempat berpikirm, bagaimana kalau ITB DAN stpdn DI MERGER SAJA.
    NAMANYA JADI STPITBDN (Sekolah Tukang Pukul Injak Tarik Banting Dalam Negeri). HEEEEEEEEE.
    UNTUNG OSPEK JURNALISTIK TEU JIGA ITB.
    PALING TITAH NYAYI YEL-YEL KELOMPOK JEUNG PRESENTASI SIMULASI REDAKSI, YAH CELUP DIKIT KE SUNGAI ATAU JALAN BEBEK MAH WAJAR WEUH.
    NU PASTI MAH OSPEK JURNAL, WALAUPUN PANITIANYA SANGAR TAPI KEGIATANNTA CINTA DAMAI.
    HIDUP JURNAL

  112. nyaa butuh ruang ngabako nu teu berat. ruangan nu teu cape mikir.

    ruang gosip nu ngenah seri….nyengserikeun si sunan anu tara

    kapangaruhan soal hirupna kunu sejen, lempeng weh tapi

    boga kesan positif.

    ku jalan eta kabeh bisa ngariung….keun heula subtansial jeung

    henteuna mah. tiap jelema boga ukuran nu beda.

    da ruang “warung kopi” mah ngenah seri nu diudagna tara jauh.

    nuhun red..

  113. manggeus, ulah ribut ” jurnalistik nu aing atawa nu aden”. mun bosen mah engke oge diganti.

    lain ku sabab barudak viking atawa persib. eta mah gara2 kapangaruhan ku MTV weh keur rame2na…gw banget. di ramekeun ku barudak si onat/y (onat oday cs), harita trendy pisan.

    ku sabab renyah jeung nyankruk di gegelna, katambah2 persib nyaa teruss asa nu pang aingna, engke ge bakal manggihan deui.

    baelah teu paduli, antepppp nu kitu mah ulah ngagunakeun semiotik da teu resmi mereun. salila barudak enjoyyyy y sud

  114. urang mah hayang ngagosip si sunan weh red, baenya

    ” Sunan ….Sunan”

    Lamun ditinggali ti kajauhan eweuh pisan nyarina, awak begung lempang rarampeolan, buuk murungkut, eweuh alaeunana tina fisik mah. eta oge sakali-kali osok make sapatu dines coklat, gaya cenah bari baju jeung calana tara nyambung, nengteng kantong kosong.

    bandungan mun ngobrol kadang nyambung kadang henteu. cuplas ceplos sahayangna bari seserengehan. mun bagian batur ngobrol ….ngahuleung, nu lain seri ehh lempeng weh maneh na mah.
    kungsi hiji waktu lalajo mr bean, sugan kadenge seri….eweuh tanpa ekspresi apapun. ceuk si sunan mah ukuran dewasa teh tinu seri cenahhhh. mun jelema loba seri teu dewasa.

    tes masalah naon jurnalistik, yakin 100% ngagidegkeun sirah. ngan lamun make video shoot biasaeun saetik eta ge pedah weh gaul jeung si iqbal, dipaksa bisa keur nga-shift mun aya proyek ondangan.

    komo deui masalah nulis…ancurrr pisan weh lah

    naha salah gaul atawa kumaha ieu teh ? naha teu kepangaruhan kunu sejen maneh teh ? tuh tinggali nu lain jaradi wartawan dan wartawati. jurusan senang dan bangga dibuatnya.

    lempeung sakali deui….lurus….bari nyerengeh, kungsi bareto abus ka MQTV lain nguruskeun reportase jeung teknis TV. Kalahkah ngoleksi model-model berjilbab se-bandung raya. ahh sulit maneh nan…nepi anu boga Radio Antares (garut)tempat praktek lapangana sampe ayeuna ngabarakatak mun password sunan dibuka teh. boga masalah gede tapi berkesan indah. bayangkeun di radio geus di siarkeun salila 4 poe aya audisi model. geus loba nu daftar. dan tentu saja sunan ketua panitiana. teuing kamana leus lengit pas ngurunyung datang tanpa beban, geus gagalkeun goreng rencana teh….singkat, padat, dan jelas.. kabayang pisan kan….

    ngan bagi urang, moal aya nu mampu siga ente….sampe ka ayeuna. jelema nu berkontribusi gede ka jurnalistik nu nyata. sunan bagi urang figur sosial nu deket jeung sasaha…ditarima ku kelompok mana wae…kakuatan silaturahmina bisa mengket kabeh jurusan, muka tiap celah ku komunikasi nu ringan. tindakan-tindakana ngabukakeun saluran kabeh angkatan. datang tara di ondang, indit tara pamit..

    eweh arogansi angakatan emas dan perunggu, angkatan menang dan kalah. euweuh angkatan bodoh dan pintar.sifat sunan no by design…it’s very nature. bergerak ku guyonan nu natural ka tiap ruang gosip. jujur mengoperasionalisikan diri dan tubuh tanpa pura-pura. teks-teks yaang diproduksinya syarat hubungan sosial yang jauh, teu saharitaeun.

  115. Salamu alaikum.
    Sukses terus ya anak Jurnal.
    Mari kita jadi tetangga yang baik. Huahuahua…

  116. kang TM (nama aslinya siapa ya?) bagaimanapun ada baiknya ‘jurnalistik nu aing itu’ dijelaskan. terima kasih penjelasannya. mungkin menurut akang hal itu sepele sehingga tidak perlu diperbincangkannya. tapi seingat saya, di opab atau koma kita diminta untuk kritis, jadi wajar dong kalo ada pertanyaan kenapa ada slogan ‘jurnalistik nu aing’. apalagi slogan itu selalu disuarakan di setiap angkatan.

    ngomongin soal sunan, emang gak bakal ada matinya. sunan selalu ada di memory saya karena dia pernah ngasih saya kentut di Puntang. kur aj pisan ci cunan teh….hehehe….

    satu lagi, kepala alumni, adakah yang bisa membantu saya? masih ada yang harus dibicarakan antara panitia pertemuan alumni dengan pihak jurusan. kebetulan saya lagi dipindahtugaskan sementara waktu ke jakarta. adakah yang berkenan mewakili untuk bertemu dengan pak dadan? nuhun pisan….

  117. nenK Reni “slogan” teh boga dua arah, nyaeta ide jeung tujuan.

    biasana slogan di gunakeun dina sabangsaning urusan pupulitikan, agama atawa kabeh usaha anu bernilai profit.

    semacam moto lah anu di ekspresikeun keur kaluar sifatna, lain internalisasi. kawas kecap ” kami datang melayani anda”, “terus terang – terang terus”, ” one for all”, ” RCTI OK”, dll.

    eta mah aya anu ngarancang jeung boga tujuan…leheng pisan.

    kumaha tah bedana “jurnalistik nu aing”,

    saia berfikir lain slogan lo ren, tapi nga adopsi “BAHASA SLANK”

    “So what gitu lho ?”. pake harepna jurnalistik jadi renyah
    “Please dong ah’” —–> ” jurnal please dong ah”
    “please deh”—->please deh jurnal gitu lo
    “OMG” (Singkatan dari oh my god)
    “Rasanya gimana gicu”
    “lo aza kali – gw ngga”,

    keula ari “gw banget” teh taun sabaraha, 2002 an nyaa, sekitar eta lah

    cik urang hijikeun geura ren ” jurnalistik – gw banget “, cocoknyaa sundakeun “jurnalistik ..nu aing”

    tah tah lamun kitu mah, jadi konsumen anu baik atuhnya tinu ngaadopsi bahasa slank. nyaaa konsumen penikmat fasiv nu hade

    latah atuh. pan panyakit masyarakat latah mah, tara dibangun ku ide dasar(basic ide) dan penguatan ide…..ula ilu ngaramekeun….masyarakat cheersss

    padahal geus ganti tahun…2009.lamun 2002 mah mending mendapatkan konteksna walaupun ikut-ikutan minimal teu nora

    jurnal teh pagaweanana tinu ngutak ngatik bahasa apan Ren, lain nurutan nu lain. mun tegasna mah neng Reni teh nyengserikeun ngan era ngomongna barudakkkk…maklum awewe. kamu betul-betul pengecut ren hahaha ayo katakan dengan indah hehehe,

    kudu dijieun uy bahasa slank teh lain ukur nurutan…..era nu diluar mah nyengserikeun eta teh..rasa bangga teh ulah nepi jadi poek. eweh tendensi nanaon…lain pedah aing boga makna kasar, lain.

    karena latah eta nu ngerakeun.

  118. Berita duka cita. Telah wafat kakak tercinta kita semua, Amiah, jurnalistik Angkatan 2000. Almarhumah wafat Ahad (1/3) pagi di RS Santo Yusuf. Sabtu (28/2) malam, almarhumah melahirkan anak tercintanya. Mari kita semua doakan bersama kepergian almarhumah. Semoga jasadnya diterima Allah SWT. Mari kita doakan semoga suami dan keluarga yang ditinggalkan bisa tabah menerima keadaan takdir yang maha kuasa. Amin.

    NB: Bagi temen-temen yang kenal dan tahu lokasi tempat tinggal almarhumah, alangkah lebih baiknya untuk bisa mendatanginya dan memberikan ucapan belasungkawa. Atas nama kita semua, Mahasiswa Jurnalistik.

    Muslim Ambarie,
    Jurnalistik 2001

  119. Oya, bagi temen-temen yang mengetahui alamat rumah almarhumah Amiah, angkatan 2000 yang wafat Ahad (1/3) pagi, diharapkan untuk segera mempostingnya ke blog ini. Kita masih kesulitan melacaknya. Atau, bisa langsung memberitahunya via no ponsel saya di 081222899908. Terimakasih.

  120. Amiah dalam Kenangan

    Senyuman selalu ada di bibirnya. Sapaan ramah selalu diutarakannya. Baik di pedestrian kampus, di masjid, di angkot, di himpunan, atau dimanapun. Setiap mahasiswa baru pun pasti pernah melihat dia. Entah saat menjaga stand jurnalistik, pembayaran atau pendaftaran suaka, ataupun jadi seksi ‘riweuh’ jurnalistik. Maklum…perempuan jurnalistik memang terkenal sebagai ibu-ibu komando.

    Seorang Amiah, sangat dikenal orang karena kebaikan, keramahan, kesetiakawanan, dan dedikasinya terhadap organisasi yang dipilih. Seingat saya, dulu dia aktif di Pers Kampus Suaka (sebagai bendahara, kalau tidak salah) dan Kabid I Himpunan Mahasiswa Jurnalistik, Kepemimpinan Deden. Di dua organisasi ini, dia terlihat tidak bisa diam. Apapun yang bisa dia kerjakan akan dia lakukan, walaupun itu bukan tugasnya dia. Hal itu sangat membantu kesuksesan Hima Jurnalistik maupun Suaka.

    Saya masih teringat ketika dia memegang OC dalam acara Jurnalistik Fair. Tak tanggung-tanggung acara saat itu menghabiskan waktu 4 hari. Sangat capek dan melelahkan. Kesolidan panitia pun dipertaruhkan. Ada yang kerja ada yang nggak, ada yang serius, ada yang nggak. Tapi Amiah tetap tersenyum. Selama menjadi pengurus Hima, saya tidak pernah melihat dia marah. Kalau sedikit kesal dia hanya mengutaran kata-kata datar “Ah….Ami mah….”

    Begitupun saat di Suaka. Bersama awak Suaka diantara Yunus (Pantau), Fifit M Ramdhan, dia bekerja keras menyuguhkan yang terbaik. Suaka yang mendapatkan bantuan dari kampus, sering dilabeli sebagai suara pejabat kampus. Namun saat Ami dan Yunus ada disana, mereka berupaya untuk selalu independen. Mereka pun lupa waktu dalam bekerja dan memilih untuk menginap di kampus.

    Amiah bertemu dengan jodohnya di Selasar Sunaryo Art Space, saat magang di GATRA. Waktu itu, liputan berjalan hingga larut malam, dan angkot sudah tidak ada. Ami dan Ita (Republika) terdampar di Selasar Sunaryo bersama para seniman. Salah satu seniman yang sama-sama terdampar itu akhirnya resmi menjadi suami Ami.

    Setelah lulus, beberapa kali saya melihat Ami aktif di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar. Terakhir dia bekerja di Bandung Institute of Governance Studies (BIGS). Tak banyak yang berubah dari dia, meskipun beberapa kali saya ketemu dan bertanya apakah dia sudah punya momongan, dia menggelengkan kepala. Ia mengharap segera mendapat momongan. Baru saja ku tahu dia hamil, beberapa saat kemudian saya menerima kabar perempuan tegar itu meninggal dunia.

    Menurut suaminya, sebelum dibawa ke RS Santo Yusup, dia dibawa ke RS….(sory, lupa). Ketika akan dioperasi, peralatan tidak lengkap sehingga ia dirujuk ke St Yusup. Rupanya bayi Ami sudah meninggal di dalam kandungan, Sabtu (28/2). Beberapa saat kemudian, Ami kejang. Dan Ahad pagi (1/3) Ami menghembuskan nafas terakhirnya. Sebelumnya, Ami sudah mempunyai segudang rencana bersama suami. Jika pameran suaminya sukses, Ami, suami dan dede (calon anaknya) akan membeli rumah. Mimpi itu diceritakan sang suami dengan tegar meskipun terbata-bata, di rumah duka, Jalan Pamekar Barat 2 No 17 Komplek Panghegar Permai. Teh Ami dimakamkan di Bantarujeg Majalengka, Senin (2/3), agar ketika pulang, sang suami bisa melihat isteri serta anaknya.

    Selamat jalan Teh Amiah, mudah-mudahan amal ibadah teteh diterima di sisiNya. Semoga teteh mendapatkan tempat terbaik disisiNya. Dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan keikhlasan. Kami, akan selalu mengenang teteh. Karena seorang Ami adalah perempuan tegar, pintar, baik, sabar, dimata kami; kakak kelas, sahabat, adik kelas, civitas akademika Jurnalistik.

    Nuhun
    _ren

    NB: Maaf kalo ceritanya tidak lengkap. Kepada akang teteh, khususnya angkatan 98 yang sedari kemarin sms atau menelpon ke hp saya, terima kasih banyak. Kita akan terus berdoa untuk Amiah.

  121. Inna Lillahi Wainna Ilaihi Rojiun…
    Turut berduka cita atas wafatnya AMIAH, teman seperjuangan di Jurnal 2000. Saya sebagai pribadi (dan KOSMA waktu itu) menghaturkan belasungkawa sedalam-dalamnya. Semoga almarhumah diterima di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Amin.
    Selamat jalan Mi..Doa kami selalu menyertaimu.

  122. In Memoriam, AMIAH….
    Sahabat yang gigih. Pekerja keras. Intelektual. Penuh dedikasi pada karya yang mandiri, original, dan total.

    Semasa kuliah dulu, aku pernah ngerjain tugas bareng. Kebetulan kita satu kelompok. Ngerjainnya di rumah sodaranya di perumahan yg dkt pasar gd bage itu loh.

    Ia sangat antusias. Sebagai tuan rumah, ia sangat memanjakan tamu2nya. Sebagai rekan satu kelompok, ia sangat paham tentang pendistribusian tugas.

    Pernah satu kelompok juga sama Ami saat masa penerimaan CALON KRU SUAKA. Aku, Asep, Yunus, dan Apip. Ngerjain buletin (nulis dan layout) di rumah Yunus. Sampe nginep karena deadline esok pagi. Ga bisa ditunda. Resikonya bisa kehilangan kesempatan masuk ke UKM paling OK di kampus itu.

    Dari situ aq tahu kapasitas seorang AMIAH. Selamat jalan sobat. Semoga terang jalanmu. Semoga indah tempatmu.

  123. ” ikut berbela sungkawa ”

    mugi-mugi dipasihan kamudahan sareng katabahan ka keluarga anu di kantunkeunana

    kami akan mengenangmu

  124. Assalamu’alaikum wr. wb. Tahniah buat adik-adik ku di UIN (IAIN) SGD. Abang selalu mengikuti perkembangan di kampus dari Malaysia. Terubat juga kerinduan bila melihat photo-photo dan berita terkini dari UIN. Tahniah sekali lagi. Always keep updating the photos and news. PAI Batch86

  125. inalilahi waina ilaihi rojiun mudah2an amal ibadah almarhumah diterima di sisi sang kholik, sareng nu dikantunkeun mudah2an dipasihan katabahan,

  126. abang Drs Mohd Ruzaini, salam kenal dari saya, Ajat.
    bang Ruzaini, sorry, abang itu warga negara Malaysia atau Indonesia.

    • assalamuallakum,,,
      jurnalistik nu aiiiiiing,,,,,hai semua norma neeh,,,,jurnal juara liga ya,,duch,,,cenengnya sayang diriku tidak bisa liat,…

  127. kunaon jat, kalo bang ruzaini ini warga engara malaysia? mau dijadikan nara sumber? halah jat…nyieun berita wae kamu teh. nikmati hidup geura….

  128. selamat atas blognya.mandiri ok.jgn tgantung ama web resmi uin yg msh offline

  129. yeah that’s good idea, it’s not important how big our IPK, the most important think is what you said … loyalitas …….ok keep doing ur job dude …

  130. salamz perkenalan,,,
    saya berasa sangat teruja dengan perkembangan jurnalistik sekarang ini. membuatkan rasa rindu untuk pulang ke tanah air semakin membuak-buak dalam dada.sudah hampir dua tahun saya tak menjejakkan kaki ke kampus tercinta, tepatnya sejak mengambil ijazah nov 07. meskipun kini saya menjadi seorang guru di sebuah sekolah tahfiz, Malaysia, itu tidak mampu memadamkan jiwa jurnalis dalam diri saya. saya sentiasa rindu untuk menikmati masa-masa dahulu.rindu yang teramat rindu.
    untuk adik-adikku mahasiswa/i jurnalistik,
    teruslah berkarya dan berkarya…
    saya di sini akan sentiasa menanti karya-karyamu (maaf la..bahasaku dah banyak tercampur bahasa malaysia he he )

  131. Assalamualaikum. salam kenal untuk adik-adik di jurnalistik Bandung.Salam rindu untuk pak Haris Sumadiria, pak Dadan Suherdiana, pak Ujang Saepullah, pak Dindin Solahuddin dan seluruh warga fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.
    Tsuroyya Abdullah (angkatan 2003)
    Selangor, Malaysia

  132. salam,
    dari angkatan 99′ katanya mu ada reunian dan cara buat jurnal. kalu tetarik hub no nE 081320322559 (Erik Irawan)
    tx

  133. ce ileeehhh angkatan 99. ayo teruskan….tapi kang erik, dari pada kokotakan kitu siga teh kotak, mending ngagabung wae. urang bangun ikatan alumni jurnal.
    ajat…angga…saya dah balik bandung. punten yeuh teu acan ngobrolkeun deui perkawis alumni tea. iraha atuh kempel deui.

    angga…nuhun facebook na. punten teu acan tiasa ngabantosan

  134. Permohonan data alumni jurnalistik UIN SGD Bandung

    beberapa waktu yang lalu, saya menerima sms dari kang doel angkatan 1998. dia menanyakan data alumni jurnalistik UIN SGD Bandung. bagi temen-temen yang belum menyerahkan data alumni, dimohon untuk mengirimkannya ke e-mail saya di kuren08@gmail.com.

    dari pertemuan alumni sebelumnya, saya sudah menerima sebagian data. namun belum lengkap. karena akan digunakan untuk keperluan selanjutnya, dimohon untuk segera mengirimkan data tersebut. formatnya:
    nama:
    alamat:
    no telpon (lengkap dari GSM, CDMA, dan telpon rumah):
    alamat e-mail:
    pekerjaan:

    nuhun
    _ren

  135. lieur aing mah loba teuing budak jurnalistik anu masih keneh neangan gawe, coba atuh ajakan. komo ka alumni alumni anu ges sukses. naha tega nempo adi kelas, jadi (pejabat)pengangguran jawa barat. nuhun ah.., ieu mah pepeling, supaya ulah poho ka babaturan.

  136. duh, geus lila teu ngalongok ieu weblog…. kumaha kabarna rerencangan nu marasih aktif sadaya? kumaha kabar alumni ayeuna euy? asa jiga leho nu lup lep timbul tenggelam….hehehehe (teuing pedah abdi ketang nu tara nyiar kabar)… kabar-kabari atuh upami aya kagiatan teh… oya, khusus ka angkatan 01…. iraha ulin pake treuk nu judulna “jihad” deui?…. yu ah…. bawa kasur plus bantalna, kastrol (bener teu ngaranna?) jariken nu badag sakalian tur coetna nu sagede nyiru tea…. reni, supirna ingetan tong ngbut mun jalanna rusak da abdi teh jalmi sanes keusik! hehehehe..
    halah naha jadi egois ngomong angkatan, hehehe… jadi inget we….(nelp barudak heula ah)
    tapi ah, pokonamah SUKSES SELALU UNTUK JURNALISTIK UIN SGD…. jurnalistik nu… abi…eh salah, nu aing!!

  137. iraha atuh

  138. tos lami teu posting di ieu blog. daramang sadayana? kumaha kabarna? ajat, ari kamu teh angkatan sabarahanya, saya poho. tos lalulus teu acan? sok lah sing enggal lalulus kanu teu acan lulus. ulah betah-betah teuing di kampus, dunia luar lebih menyenangkan meskipun kampus begitu indah, hahahaha (tidak konsisten si saya).

    ajat….angga….kamarana wae? iraha aya konser afgan deui? saya balik deui ka jakarta ayeunamah. yuk ah ka double steak deui? angga…fb alumni teh tos janteun? punten teu tiasa ngabantosan…

  139. sampurasun,,,salam ka sadaya….
    kumaha aya kabar terbaru??? naha asa teu up date ueng???

  140. kmn wae atu budak jurnal teh , jutnal pos asa sepi …

  141. Ass,,duh punteun barudak,tos lami teu ngalongok ieu weblog,,,!!semoga jurnal UIN tetap aya,,,!!i love u full,,

  142. Apakbara Indonesia, This is the dzarin’s campus? I’ve met with him and showed some creativity in the field of communication, I think he’s a friend who is smart and very intelligent at all. I love the ideas. perfectly help our campus in Canada. Unfortunatly he had to get back to Indonesia because he had business. give my regards to him from me.

  143. eh…. ari profil hima jurnal mana meni ga ada…. aku btuh banget niiiiiiiii…… pleas masa jurnalpofilnya sendri oke ditunggu KABID 2

  144. Calageur atuh lur….
    sok ah narulis deui ambeh makin resep ngalongokna…

  145. ngiring ngarameken dulur dulur uin…salam silaturahmi

  146. ngiring curat – coret ah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: