Click Here to Back

POK Bunuh Kebebasan Mahasiswa Untuk Menentukan Nasibnya Sendiri

In Berita Aktual on December 15, 2008 at 7:29 am

Faisal Maulida Presiden Mahasiswa Jurnalistik Periode 2008-2009 Tak Kunjung Dilantik

Faisal Maulida Presiden Mahasiswa Jurnalistik Periode 2008-2009 Tak Kunjung Dilantik

A.H. Nasution (JP) – Pasca Keluarnya SK Dirjen Depag No.23 mengenai Pedoman Organisasi Kemahasiswaan (POK) sontak mengundang reaksi mahasiswa yang berbeda-beda. Ada yang mendukung tapi tak sedikit pula yang menolak. Pasalnya, POK tersebut bertentangan dengan Demokratisasi Kampus. Hal tersebut di utarakan oleh Ketua HIMA Jurnalistik UIN Bandung terpilih Faisal Maulida beberapa waktu lalu.

Salah satu isi POK tersebut adalah ketua Himpunan mempunyai nilai IPK minimal 3,25. Isi tersebut sangat bertentangan dengan kaidah Demokrasi karena seorang pemimpin di kampus khususnya tidak dilihat dari nilai akademis tapi loyalitas terhadap HIMA (Himpunan Mahasiswa). Selain itu, dibekukannya AD/ART Himpunan itu menjadi faktor utama para mahasiswa menolak POK.

“Masa jadi pemimpin dilihat dari IPK,”ujar Faisal Sang KETUM yang sampai saat ini tidak jua di lantik.

Sementara itu, Ketua Jurusan ILmu Komunikasi Jurnalistik UIN Bandung, Dadan Suherdiana, mengatakan POK tersebut tidak bertentangan malahan bagus bagi para aktifis. Pasalnya, Dia (Mahasiswa,red) tidak melupakan kewajiban yang sebenarnya yaitu menuntut ilmu.

“Menurut saya POK itu bagus,”ujarnya.

Namun demikian, ia berharap para mahasiswa dalam menyampaikan aspirasinya dengan cara yang baik jangan sampai melakukan tindakan anarki.

“Dalam menyampaikan aspirasi mahasiswa jangan anarki,” harapnya.

  1. sabar sal…mereka hanya mengutamakan formalitas dari pada loyalitas…!!! tak usah dipikirkan…yang penting bergerak!!! seOrang leadership bukanlah seseorang yg nilai akademiknya bagus, tapi keuletannya dalam memimpin…!kita yang dipimpin mendukungmuuuu!!! jurnalistik/V/A… SMANGATTT!

  2. Go IsaL!! Sok AtUh CurHat ka Baturan SaKElas..Diskustiere (sowi,,jd inget pas stay di JemAn)..Qt bERsamA PecaHkan miSteri InI!!
    Lama GA KunjUng DilanTik bisi kabUru BULUKAN! Qta mAsih punya BanYak Project Bukan??

  3. KAWAN, IPK memang tak penting atau bukan barometer bagi terwujudnya kepemimpinan.

    But… you have to remember!!! sejauh mana kredibilitas orang dalam memimpin jika memang IPK nggak penting???

    kalo bisa and mampu; it’s no problem. kalo nggak???

    mau dibawa ke mana wajah HIMA Jurnalistik??

    tolong selain kritis, anda juga perlu krontstruktif. so kritis-konstruktif.
    sorry gua ngutip istilahnya jurgen habermass.

    biar Jurnal tetep maju and berkualitas.

  4. saya sebagai presma jurnal terpilih merasakan kekesalan yang amat sangat karena adanya POK ini. mahasiswa jurnalistik uin sgd dari dulu memang tidak ingin diatur dalam permasalahan organisasi himpunannnya, kami independent! tapi kami bisa mempertanggungjawabkan ke-indepentdenan kami! sekarang AD/ART kami dihapuskan, bagaimana bisa independent. saya berharap masalah kami bisa diselesaikan dengan baik. jangan sampai ada yang pihak dirugikan satu sama lain. dan saya akan membuktikan kepimpinan saya dapat dipertanggungjawabkan. keinginan kami hanyalah membangun warga jurnalistik untuk dapat berekspresi dalam ilmu kejurnalistikan. saya tidak mengharapkan keuntungan dari hima jurnalistik apalagi ingin mendapatkan uang. apa sich alasan yang konkret sampai-sampai saya tidak juga dilantik? saya menekankan kembali, terpilihnya saya menjadi Presma semata-mata hanya tidak mengharapkan keuntungan!akan tetapi hanya kerena loyalitas saya terhadap Hima jurnalistik UIN.
    terima kasih.

  5. asss,,,,,,,

    Tong patah arang Salllll….. + anak2 nu lain tetep solid……
    POK hanya siasat untuk mengkrangkeng mahasiswa aja….. kita tunduk berarti kita telah di kerangkeng…..
    jika secara legalitas formal (pernyataan dari fakltas) sulit didapatkan,,,,, berarti kita ditelantarkan dirumah sendiri…. kalo begitu penguasa rumah tidak ada rasa seorang ayah+ibu yang melindungi anaknya…. kita harus memilih jalan…..
    jika memang siap jalan sendiri tanpa formalitas POK,,,, mengapa itu tidak diambil aja…..

    saya sangat menyesalkan sikap yang dilakukan Fakultas…. lebih memilih untuk memenjarakan kebebasan para mahasiswanya…. melakukan bongkar pasang sistem se-enaknya…. duh….. mau dibawa kemana masa depan mahasiswa teh… Pak!!!!

    sokkkkk lahh… aing ngadukung perjuangan budak HIMA 2008-2009…. bahela ge urang pernah di HIMA….
    demi Jurnalistik Nu Aing!!!!!!

  6. Ass….Wr. wb. saya lihat saat ini pemerintah mulai menghegemoni kembali semua aktifitas mahasiswa di kampus. Terbukti, SK Dirjen Depag NO. 23 tentang POK merupakan “TAMPARAN” bagi semua mahasiswa terlepas dia seorang aktifis kampus atau bukan. Pasalnya POK sangat membatasi gerak mahasiswa untuk mengaktualisasikan diri dengan berkarya melalui Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) masing-masing.
    Apalagi isinya yang mendeskriditkan loyalitas kader jurusan yang mempunyai itikad baik untuk memberikan semua kemampuannya demi kemajuan jurusan. Hal tersebut ditunjukkan dengan salah satu isi dari POK yaitu Ketua Umum (KETUM) harus memilioki IPK minimal 3,25.
    Padahal IPK 3,25 tidak bisa menjamin keamanahan seorang pemimpin. Buktinya “Maaf” saya bisa memimpin dengan IPK kurang dari tiga dan tidak masuk organisasi ekstra seperti HMI, KAMMI dan PMII. Saya dengan kepengurusan saat itu mampu mendatangkan Mutya Hafidz (Metro TV). Seharusnya SK Dirjen teresbut menjadi tamparan juga bagi civitas akademika kampus khususnya Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Pasalnya IPK 3,25 jarang terjadi di Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik, malahan jikapun ada itu hanya nilainya saja tapi dari segi skill (kemampuan) tidak ada karena prakteknya “juga ga pernah” terus dosennya pun kebanyakan asisten. Kumaha tah PD 3, anda harus pikirkan itu. bukan memikirkan kemampuan mahasiswanya dalam berorganisasi. KAMI BUKAN ANAK SMA.

  7. hanyu ada satu kata

    LAWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN!!!

  8. Sok ah mangga ah
    Bagi anak “Jurnalistik” yang “so” memperjuangkan POK demi kepentingan orang-orang yang memiliki kepentingan di kampus, Silahkan nampang di sini, kita curhat bareng masalah POK.
    Jangan bgumput terus ah.
    Sok nongol.
    katanya “Kalau kita tidak menggunakan POK, berarti hima jurnal dianggap ilegal”
    trus anda bilang, “Kalo ngak pake POK, saya tidak akan ikut campur di Hima”.
    Sok atuh jang aka OKY SUKIRMAN
    Buktikan ucapan anda itu.

  9. persoalan POK harus menjadi kekuatan anak-anak jurnal untuk bersatu. jika keputusan temen-temen untuk melawan bisa dipertanggungjawabkan, maka LAWANLAH….kita alumni mendukung kalian. tidak berlakunya AD/ART membuat kami sakit. meskipun saya tidak tahu bagaimana cerita dibalik pembuatan AD/ART, tapi saya yakin AD/ART mempunyai sejarah yang sangat dalam di hati barudak jurnal. sekarang sejarah itu akan dihilangkan. wah….apa bedanya dengan penjahat negara yang menyembunyikan bahkan memotarbalikkan sejarah?

    buat temen-temen yang masih aktif kuliah, kalian harus membuktikan bahwa kalian mampu menjadi mahasiswa yang unggul dalam segala hal. jangan berpangku tangan pada fakultas atau jurusan. jangan menganggap nilai A itu sebuah kebanggaan ketika kalian tidak mendapat apapun ilmu darinya. jangan cuma diam ketika melihat ketidakadilan. saya ingat ucapan seorang teman “barudak jurnal mah kudu kritis, lamun rek manggut-manggut, pindah jurusan we….tong aya di jurnal”

    soal IPK, saya punya cerita yang lucu. dari catatan beberapa aktivis kampus yang kontra pada perguruan tinggi, seringkali dipersulit. dulu ada seorang mahasiswi angkatan 98 yang nilainya susah sekali keluar. nilainya baru keluar ketika terjadi saling ancam antara civitas akademika dan aktivis tersebut.

    faisal, kamu butuh IPK bagus? gampang. beli saja. bukankah itu hal biasa di fakultas dakwah UIN tercinta itu? jika menjadi pemimpin patokannya hanya pada IPK, saya hanya bisa tertawa terbahak-bahak. karena nilai di UIN itu sangat murah. ketika para dedengkot kampus mengeluarkan persyaratan itu, maka seharusnya mereka menghilangkan praktik2 penjualan nilai. ngomong-ngomong, berapa sekarang harga nilai B? kalo ada nilai triple A, saya beli satu deh….

  10. Saya harap dengan tulisan yang teh reni torehkan di atas.
    Para pelaku jual beli nilai mulai dari dosen, mahasiswa dan pihak perpanjangan tangan lainnya mau insyaf.
    Wueuuuuuuuuuuuuuuuuuuuyyyyyyyyyyyyyyyyyyy.
    Kalian itu kuliah di UIN anu notabene berhawakan atau bernuansakan ISLAM.
    Tapi kelakuan kalian kok kayak bukan orang ISLAM malah kayak yang ngak punya agama.
    Marilah dari sini, kita insyaf, itu teh dosa nyaho.
    Masa ada anak yang ngak kuliah alias males alias jarang masuk kuliah, ujuk-ujuk nilainya keluar dan bisa ikut kompre.
    LUCU, ANEH TAPI NYATA.
    Kasian donx, anak-anak yang rajin kuliah.
    mereka itu harus rela menyita waktunya untuk dapat nilai kuliah.
    eh ini, jarang masuk kuliah tapi nilai hayang alus.
    Apa kata Dunia !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    BTW, masalah POK dan seorang pemimpin harus punya IPK tinggi.
    Aduhhhhhhhh.
    Karunnya teuing UIN Bandung.
    Hellooooooo, Apakah anda pernah dengan multiple intellegencya (kecerdasan yang beraneka ragam).
    Sayang, saat ini, ukuran kesuksesan seseorang tidak hanya dinilai dari aspek akademis aja, ada aspek lainnya, Honeyyyyyyy.

  11. betapa saya terkesan dengan tekad Faisal yang mengatakan Jurnalistik itu independent!!!

    saya sangat-sangat setuju..! banget setuju..

    masalahnya, jika benar anggapan anda independent, lantas mengapa menunggu hari untuk dilantik?? bekerja saja langsung. okey..!

    pernah suatu hari sahabat anda datang bertanya akan pelantikan, :”kenapa saya tak kunjung dilantik?” begitu kurang lebih. . .

    seperti biasa saya sekedar menjawab sekenanya..

    “saya bukan siapa-siapa” kata saya. senat bukan, PD tiga Juga bukan…

    kemudian saya balik tanya. “sudah dibentukkah panitia pelantikannya?”

    teman anda bilang “tidak pernah”.

    saya tersenyum ringan nan miris sembari bertutur “bagaimana akan berlangsung ritual pelantikan, jika panitianya saja tidak pernah dibentuk”.

    artinya anda masih kurang memahami prosedur keorganisasian, lantas bagaimana bisa memimpin jika pengetahuan kepemimpinan saja kurang dikuasai??

    jujur… bagi pribadi saya, selama hidup di Jurnal, tidak pernah sekalipun mengikuti ritual pelantikan, Sumpah. tapi sakali nua aing, Jurnalistik tetep nu aing. apalah artinya pelantikan??

    saran saya, jika memang bersikeras ingin dilantik, coba anda bentuk panitia pelantikan, waktu dan tempat pelaksanaan coba rundingkan dengan PD tiga. siapa tahu ada titik temu antara semua pihak. kalau memang tetep sulit,, kami siap melantik anda asal coba hargai prosedur keorganisasian HIMA jurnalistik. kalau anda pingin tahu, bagi kami (aktivis Paspud Sivi), Jurnalistik adalah HIMA yang sedikit disakralkan dan senantiasa ingin diindahkan.

    jelas tidak akan pernah menerima jika Jurnalistik dihina, apalagi oleh pribuminya sendiri.

  12. Kecacatan HIMA Jurnalistik kali ini setidaknya pernah saya prediksi saat hajatan MUHIM berlangsung.! MUHIM begitu hambar dan waktu itu saya merasakan ketidak puasan sebagai warga Jurnal…

    mungkin saya akan bertanya.. “Benarkah anda semua loyal akan HIMA Jurnalistik? atau sekedar cuap-cuap supaya diakui saja?”

  13. yeh lamun teu bere duit wae ku fakultasmah urang usaha olangan we da geus gede urangmah tong ngandelkeun orang-orang anu caredit yang penting kita maju okey………..semangat ya “pjs”hehehe

  14. Faisal, saya tahu legalitas itu penting. Tapi kamu harus mikirin program juga. Inget…anak jurnal butuh sesuatu yang mencerahkan, memberi semangat, karya-karya yang kreatif dan unik. Ayo…bergeraklah. Lakukan yang terbaik untuk jurnalistik. Buat program dan jalankan.ulah ngayayay teu puguh, rival kamu menunggu itu. Bahkan mereka bisa saja menertawakanmu. Buatlah hima berarti di tengah warganya. Jangan sampai semua pengurus hima terfokus pd POK. Keep fight…

  15. maju terus !!!
    maju tak gentar !!! membela yang….?!?!!?!?!
    apalah arti sebuah ip ? kampus ijo gitu loh… rajin masuk kuliah aja ?
    hehehehehehehe…

  16. Pengen IPK Bagus???

    Ketik REg Spasi Modal Anda Kirim Ke ?????????

    Contoh: Reg 50.000 or 100.0000

    Kirim Ke:&%$#@#$$%%

    Nilai Yang kamu Dapat Langsung Dari Dosen bersangkutan….

  17. HA HA HA Ha……HIdup PD %&**&&* YAKUJA (Yakin Usaha Jang)

  18. Ah Ukro.

    Jadi Malu ah,

    Awas lho entar banyak yang kesinggung atas komentar anda.

    Bukan Gitu caranya kro.

    Tapi, ada cara lain, yaitu

    Pertama, anda main ke fakultas, trus cari deh dosen yang bersangkutan.

    Trus, kamu tinggal ngomong, “Pak, Pak, saya mau perbaikan nilai,”.

    si dosen menjawab, sambil sok berwibawa, “Oh, perbaikan!!!!!!, nanti yah”

    truszz cerita berlanjut dan DISENSOR, yang pada akhirnya kejadian TERLARANG pun terjadi antara dosen dan mahasiswa tersebut.

    Kalo enggak, kamu tinggal ikut organisasi ituuuuuuu tuhhhhhh (Udah Pada Tau Kan, dan sudah menjadi rahasia umum kok)

    Biar kamu dapat nilai bagus dan kemudahan dalam perkuliahan.

  19. ChamiKum….
    Rien,jat,ukro, daraMang??rasanya ta’ lengkap jika ta’ menanyakan mang wai n mang akew…kmarana yeuh??eh y c ‘darius’ qt kmana ja tu anak?ky yg g pny dosa ja ma aq!haha…cwombonx ich.. Aqu kangen neh ma kalian…
    Eh ya..meT taOn bRu y.. Mga d taoN BRu smua tinGkah laKu qt jd iqt baRu jg..mGa mkin b’+ kebAikaN qt d taun ne! Mdh2n momen ini sbgai titik tolak perubahan yg lbh baik tuk msa yg akn dtg,dunia&akhirat..amin..
    Eh y,tp pgn coment neh…euleuh euleuh gening,d jurnalistik uin msh spt yg dlu mslah ‘mempertaruhkan nilai dibyr dgn rupiah’ kdunamah dibayr dgn isi otak dan taruhan nyawa! Cayo lah bwt tim sukses pemberantas ‘hama’.. Ai sugan teh taun baru, hati baru, sikap baru, akhlak bru…. Ngadukung lah! Eh ya rin,anu jd model iklan alumni said…uda alumni kitu…iih lucu! Hehe….just kidd… Wassalam ah…

  20. ADUH BAPAK DZARIN

    INI BUKAN WACANA

    THIS FACT NOT FICTION

    OPEN YOUR EYE

    OPEN YOUR MIND

    AND OPEN YOUR CLOTH (MAKSUDNYA!!!!!!!)

  21. jurnalistik nu aing!!! ceuk saha??? ceuk aing!!!

    show me up….or….give up….
    POK was a little thing for discoursed….
    just hurry up 4 wake up……and fight again…

  22. ass..

    punten….

    pribados tiasa ngiringan leubet…??

    mudah-mudahan heunteu disaha..saha…

    raraosan asa janten “mahasiswa” deui!!! asa nembe leubet taun 2001. wios ah bade leubet deui kuliah janten “mahasiswa”, kampusna di ieu fasilitas, mung bingung saha anu bade janten dosena!!! ha..ha..

    nu munggaran….pribdos teuacan tisa komentar nanaon. mung sakedik ngemutan, pami pekawis AD/ART mudah-mudahan dirumusken ku sobat-sobat teu dibumbuan ku idologi-idologi luar. kumargi tikapungkur JURNALISTIK tetep jalmi-jalmi jurnalistik nalika lebet ka Jurnalistik sanes jalmi anu didamel ku ku organisasi idologi.

    perkawis perkuliahan….masalah NILAI, Dosen, Fasilitas dsb, mangrupiken kakirangan anu ku urang sadayana kedah di payunan bijaksana. kaayaan nu sapertoskitu oge alhamdulilah paran tos masiahan sakedik bekel ka para alumni piken menyunan masalah anu langkung ti kitu dina kahirupan di luar kampus, pami urang tiasa manyunanana…

    ka sadayana ulah bosen-bosen ningal+ngemutan realitas farsial nu aya, ku kayaan urang “sadar” upami ngutif gagasan satre. sareng ulah anteng teuing dina kondisi “mapan” saur CAk Nun. tetaplah “bergerak”.

    terakhir pesen kanggo kang ajat, kumaha kabarna Creative Minority? pang ajaken mas Yudi ka fasilitas ieu, pa hery ulah anteng teuing jangten pejabat teh. teu hilap ka kang Rifa+ pa pajar ulah sibuk teuing ngalibut?

    sakitu wae. insyallah sanes waktos dismpung deui…

    wass….

  23. Satuju kong…….jang budak jurnali saya boga pertanyaan jang balerea warga jurmnalistik paten…

    adek Duduk tertindas? Atau Bangkit melawan?

    Jwab dengan hati…..

  24. pak ukro…

    tidak semua yang duduk ditindas

    tidak semua kebangkitan adalah bentuk perlawanan

    bagi semua wartawan-wartawati yang bukan wacanaean-wacanawati!!

    buktiin you adalah wartawan-wartawati!!!

    sederhananya, coba cek and recek akan fakta sesungguhnya di lapangan. jangan-jangan anda hanya dengar desas-sesus doang yang takutnya jadi “fitnah” dan membusuk dalam prasangka jahat.

  25. Yang penting mah….
    Hidup adalah perbuatan.
    Hayu, buktikan!!! jangan cuma ngomong!

  26. Pada intinya antara kepentingan birokrasi kampus,
    yang membutuhkan gerbong dari mahasiswa.
    Aktifis kampus dibuat tidak kritis,…………
    Pro Kontra kebijakan POK sangatlah wajar
    akantetapi jika kita menyikapi hal ini dengan sikap
    realis, kita akan tahu betapa pentingnya kewajiban
    kita sebagai mahasiswa, terutama pertanggungjawabannya
    terhadap ortu, yaitu lulus tepat pada waktunya dengan nilai
    memuaskan, membangun jaringn tentunya tidak mesti jadi
    ketua himpunan……………………………

    Hayulah kita berjuang bareng2, masih ada harapan kok…….

  27. papal ayoh semangat jangan kalah hahaha

  28. sepakat, jurusan lain pun memiliki pemikiran seperti diatas. Mahasiswa sebagai insan akademik sekaligus insan berfikir seharusnya diberikan aturan yang membantu kebebasan berfikir dan beraksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: