Click Here to Back

Alumni Said

In Opini on December 1, 2008 at 8:07 pm

We Care, We Watching, We Want To Change

We Care, We Watching, We Want To Change

{Reni;2001}
buat anak-anak jurnalistik, selamat ya…..makin kreatif aja neh kayaknya.
saya reni angkatan 2001. kalo saya gak salah baca ada yang nanyain masalah alumni. jurnalistik punya ikatan alumni jurnalistik yang diketuai Oji angkatan 1998. namun memang harus diakui, ikatan alumni itu vakum. kemarin saya bertemu dengan anak-anak angkatan 1998 diantaranya Rony, Adin dan Jalil yang kini ada di Sukabumi. meski secara keseluruhan ikatan alumni vakum, tapi kalau ikatan alumni tiap angkatan tetap hidup.

kemarin sempat keluar wacana untuk mengumpulkan gegedug jurnalistik dari angkatan 1998 (perwakilan aja….) tapi sampai sekarang tidak terwujud. saya berniat meminta bantuan adik-adik jurnalistik yang saat ini masih kuliah. bisakah menjadi fasilitator buat kami…..karena pertemuan ini pun akan berdampak buat yang masih kuliah. mengingat dunia media sangat terbuka, membutuhkan banyak orang. nama UIN memang belum sebegitu terkenal dibanding Unpad. kemajuan unpad salah satunya karena ikatan alumninya juga kuat. so…..bagi yang bersedia membantu saya. hubungi saya di dunia_ren@yahoo.com, terima kasih….

=================================

{Ibnu Romli;1998}
Perkenankan saya alumni Fakultas Dakwah jurusan Ilmu Jurnalistik angkatan kahiji tahun 1998 atau bisa dibilang mahasiswa “percobaan”. Ditulis “percobaan”, karena saat kulihan dulu saya masih ragu apakah jurusan ini akan terus eksis atau gulung tikar di tengah jalan. Tapi alhamdulillah, ternyata saya bisa juga meraih gelar S.Sos dan masih mendengar dan melihat alamamter saya masih “hidup” sampai detik ini. Meski katanya, 
masih banyak kekurangan yang terjadi terutama dalam perkuliahan.
Maaf, saya mungkin termasuk alumni yang tidak tahu perkembangan tentang adanya blog ini. Mungkin karena kurang komunikasi-padahal 
saya sering ke kampus UIN-, saya baru mengetahui adanya blog ini, 
sebulan yang lalu.
Dan, saya sangat salut dengan apa yang telah dikaryakan oleh para mahasiswa jurnalistik sekarang ini. Jujur saja, dulu saya masih tidak kepikiran untuk membuat karya seperi Anda ini. Jangankan 
berpikir ke arah sana, kondisi perkuliahan yang seadanya sudah 
cukup menyita pemikiran kami untuk mencari ilmu di luar 
perkuliahan untuk menciptakan mahasiswa jurnalistik yang bisa bersaing dengan alumnus jurnalistik dari PT yang lain.
Saking rindunya terhadap juranlistik, saya pun dengan telii dan seksama membasa semua komentar teman-teman dalam Guest Room ini. Meski sedikit, namun rasa kerinduan dalam hati saya bisa terobati.
Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan dalam kesempatan yang berharga ini. Kondisi yang teman-teman hadapi saat ini, mungkin tidak jauh berbeda dengan yang kami lalui dulu. Masalah dosen 
yang kurang tidak punya latar belakang juranlsitik dan yang 
lainnya juga menjadi masalah pelik yang terjadi sejak angkatan 
‘98.
Namun yang perlu diperhatikan, adalah kita harus bisa berdiri sendiri di atas kaki kita dan kemampuan kita. Dalam arti, kita jangan terlalu memusingkan hal tersebut. Yang penting, kita mempersiapkan skill dan wawasan kita sebagai bekal ketika kita 
terjun di dunia kerja ataupun ketika kembali ke masyarakat.
Dengan kondisi yang serba “keterbatasan”ini-harus diakui oleh semua pihak tentang kondisi jurnalistik dan uin sgd bdg-, 
mahasiswa jurnalistik dan alumninya jangan pernah merasa minder 
dan inferior saat berhadapan dengan lulusan jurnalistik dari PT lain. Ingat, kita semua makan NASI. Bearti kita semua 
sama yang membedakan adalah kemauan kita untuk berubah dan 
mencapai cita-cita yang kita harapkan.
Di dunia kerja-khususnya wartawan-, para almuni jurnalistik IAIN SGD BDG yang kemudian berbubah menjadi UIN SGD BDG, telah mampu 
berkarya dan membawa bendera alamamter kita di dunia 
kewartawanan. Ini mebjadi bukti, meski dengan “bahan” dan “modal”
yang serba prihatin, namun prestasi almumni kita banyak mendapatkan aprsiasi yang bagus dari dunia luar (baca:kewartawanan). Dan diluar duania kewartawanan pun, banyak almuni kita yang berkarya dan berprestasi.
Beberapa media seperti Republika, Galamedia, Radar Bandung, Radar Bogor, Radar Cirebon, Metro TV, Trans TV, STV, Majalah Muslimah dan yang lainnya, memberikan apresiasi besar dengan untuk merekrut alumni kita. Jika tidak mempunyai skill dan prestasi, saya kira media-media tersebut tidak akan memperhitungkan kemampuan alumni kita.Inilah yang saya maksud. Yang penting, kita harus mempunyai skill 
jurnalsitik yang mumpuni sehingga kita bisa berkarya di manapun 
baik di dunia kewartawanan maupun di dunia kerja yang lain.
Sekarang, saya ingin memberikan masukan kepada pihak yang mempunyai wewenang untuk membina dan membimbing para mahsiswa jurnalistik.
Sudah saatnya, pihak jurusan dan fakultas untuk melakukan evaluasi setelah jurnalistik UIN SGD BDG berusia 10 tahun. Usia yang masih memerlukan perhatian yang cukup besar. Evaluasi yang 
saya maksud di sini adalah pembenahan tentang kondisi perkuliahan 
dan yang paling penting adalah SDM dosen.
Untuk bisa mencetak seorang jurnalis yang handal, tentunya dibutuhkan tenaga dosen yang mumpuni. Dalam hal ini, bukan hanya dosen yang pintar teori atau mengajarkan kepada mahasiswa buku yang dibaca semalam sebelum kuliah. Tapi yang diperlukan adalah pembimbing yang pandai teoritis dan praktis.
Saran saya, rekrutlah para alumni yang sudah menjadi wartawan untuk memberikan atau sharingilmu dan pengalaman dalam berkiprah menjadi prodeusen berita. Saya kira, para alumni akan 
menyambut baik hal ini dan dengan sense of belonging yang tinggi, akan berusaha sekuat tenaga untuk memerikan yang 
terbaik bagi almamaternya.
Tolong, saran saya ini jangan disalah artikan oleh Pak Dadan Suhediana atau Yang Terhormat Bapak AS. Haris Sumadiria. Kondisi yang terjadi di jurnalistik UIN SGD BDG saat ini, harus menjadi perhatian da tanggung jawab kita bersama. Dan yang paling utama 
bisa memberkan perubahan adalah pihak jurusan jurnalistik.
Tentunya sangat disayangkan jika minat besar dari mahasiswa untuk mengambil jurusan jurnalistik tidak diimbangi dengan persiapan dan pembinaan yang baik. Kalau peruabahan tidak dilakukan, maka kita tinggal menunggu “kehancuran” dan jurnalistik hanya tinggal “nama” saja.
–Tentang warna orange–
Sebelumnya saya mohon maaf, jika tulisan saya ini tidak sistematis.
Ada hal yang ingin saya komentari di luar masalah itern jurnalistik secara keseluruhan. Dalam kesempatan ini, saya ingin membahas tentang: keputusan untuk memilih warna orange untuk digunakan menjadi warna kostun kebanggaan tim sepak bola jurnalistik”.
Sebagai orang yang menjadi bagian dari tim yang membawa jurnalistik menjadi “Jawara” sepakbola untuk yang pertama kalinya-dan belum terulang lagi-pada tahun 1999, pemilihan warna orange diputuskan dengan sangat sederhana.
Pada Liga Jurusan I tahun 1998, para pemain jurnalistik dibingungkan dengan warna kostum. Kami dulu akhirnya memutuskan untuk memilih warna yang berbeda dengan tim yang lain dan harus menjadi ciri khas jurnalistik. Pilihan pun jatuh kepada warna oranye, karena saat itu tidak ada satu tim pun yang memakai kostum warna oranye.
Dan sejak itu, kesebelasan jurnalistim selalu identik dengan oranye. Kami bukannya anggota The Jack Mania-untuk menjawab mahasiswa jurnalistik yang menjadi anggota Viking FC sehingga tidak mau mendukung jurnalistik-, tapi lebih didasarkan kepada mencari kekhasab dan keberbedaan dengan tim yang lain. Tidak ada maksud lain ataupun politis dalam hal itu. Semoga penjelasan ini, bisa diterima dan dipahami.
Terkait dengan kegagalan jurnalistik di beberapa penyelenggaraan liga jurusan untuk meriah titel juara, saya kita tidak ada hubungannya dengan warna oranye atau “kutukan” drama adu penalti. Sebagai kaum intelek, tentunya kita harus bepikir secara logis dan obyektif. Kegagalan tersebut, merupakan kesuksesan yang tertunda. Yang akhirnya, harus menjadi pendorong untuk mempersipan tim jurnalistik untuk menjadi yang terbaik di kampus.
Kalaupun tetap saja ingin mengganti warna kostum jurnalistik dengan selain oranye, saya kira sah-sah saja. Dan jika pun nanti, jurnalistik menjadi juara dengan tidak memakai warna oranye, kita jangan lantas menyalahkan warna oranye atau percaya dengan mitos yang tidak perlu. Karena, kami dulu juara saat memakai kostum warna oranye.
Yang perlu diingat adalah, warna oranye bisa langsung mengingatkan orang kepada tim sepakbola jurnalistik. Mau tidak mau, warna oranye sudah identik dan menyatu dengan jurnalistik. Sehingga tim lain pun tidak mau menggunakan warna oranye, karena oranye adalah milik jurnalistik dan jurnalistik adalah oranye. (bersambung…)**

=================================

{Feri Jurnal; 2004}
salam Jurnal,
kumaha kabarna jurnalistik uin teh, basa-basi dulu!
Sedikit masukan untuk next generation jurnalis alumni UIN, tolong masa kuliah itu adalah masa yang paling indah tidak ada penekanan dari orang lain kecuali dosen dan awewe ato lalaki.
kuliah di jurnalistik bukanlah sebuah teori belaka yang harus dipelajari tetapi coba praktikan dengan kekuatan dan kemampuan yang ada dalam diri individu.

Yang saya tahu lapangan dan kampus sangat jauh berbeda sekali dan sekali sangat pisan. Kenapa saya bilang seperti itu, toh yang bukan lulusan jurnalistik juga mampu untuk bekerja dilapangan sebagai jurnalis, bahkan ada yang lebih mengagetkan dengan kemampuan nyali besar alias nekad berani dirinya mengaku wartawan.
Bagi saya tidak ada jaminan kuliah di jurnalistik akan menjadi jurnalis berkeringat dibawah lapangan, saya yakin semua orang ingin kerja enak santai diruangan ber AC termasuk saya tetapi hal itu sakiranya lama untuk ditempuh oleh awal karir jurnalis, adapun seorang jurnalis yang enak duduk dikantor yakni seorang redaktur pimred dan pemilik perusahaan, namun mereka juga saya yakin pernah terjun dilapangan, tak ubahnya menemukan tantangan yang sangat menakutkan baik fisik ataupun mental.
Nah, masalah mental saya yakin nanti di acarta koma yang insya Allah katanya akan diselenggarakan 28 November, untuk bisa mendidik mental maupun intelektualnya secara maksimal.
terlebih utama masalah mental dalam menghadapi perkuliahan dan menerawang masa depan.
saya meyakini bahwa langkah awal yang bagus adalah seribu langkah kesuksesan.
selain itu saya ingin membangun secara besar terhadap alumnus2 yang sudah ada dilapangan untuk menyambut baik secara terbuka pada adik-adiknya yang masih dikampus ataupun sudah lulus, jangan anggap mereka (adik kelas) baru terjun dilapangan sedikit diacuhkan, sakiranya itu memang bagus diacuhkan karena untuk melatih mentalitas dilapangan.
tapi bagi saya tidak ada yang mampu belajar sendiri selain ada dorongan dan semangat dari orang lain.
gagasan dan ide mungkin dibutuhkan dari orang lain selain dari ide dan gagasannya sendiri.
tak ada salahnya dalam opab ini membangun secara maksimal jiwa kekeluargaan dan kebersamaan selain sebuah pesta rakyat jurnal.
untuk itu semoga para alumi bisa menyempatkan waktunya datang dalam acara KOMA supaya bisa sharing atau masukan tentang pengetahuan dan pengalaman di lapangan, ya, sedikit membuka wawasan bagi adik kelas sebelum mereka meninggalkan kampusnya.
selain itu, ternyata idealisme wartawan yang berani menolak amplop masih sedikit kebanyakan yang saya tahu dalam pandangan mata saya tetap diterima, jujur termasuk saya sendiri.
namun saya punya alasan tersendiri kenapa saya menerima amplop tersebut, ternyata orang yang tidak sepaham dengan saya akan menyangka “Jaman sekarang masih berpegangan idealime jurnalis” itulah yang saya rasakan dan akan sidkit dilupakan dari kelompoknya.
namun dibalik pandangan mereka aku terima amplop tersebut dan kembalikan pada sumbernya tanpa harus menyakiti sumber pemberian amplop itu (nara sumber).
namun ada juga nara sumber yang menolak pengembalian amplop tersebut tetapi saya berikan kepada orang yang terdekat didepan nara sumber, kalau ada OB ya saya berikan kepada OB tapi kalau tidak ada OB saya paksakan untuk disimpan diatas meja dan pamitan sambil mengucapkan salam.
namun dibalik itu juga secara pribadi saya jujur, saya tidak munafik terhadap uang, saya juga butuh uang, saya butuh uang sebagai penyambung hidupku namun aku juga bingung kemana saya harus berpijak sebagai seorang jurnalis.
untuk itu saya mempunyai obat yang mujarab yakni rezeki Allah itu tidak akan salah memberikan kepada setiap umatnya.

kenapa saya bicara di kampus itu berbeda jauh dilapangan, karena di kampus kita membicarakan soal idealisme wartawan, yang sangat saya ingat adalah wartawan tidak boleh menerima uang dalam amplop,
namun kenyataannya lulusan jurnalistik juga tetap melupakan pahamisme itu,
seperti halnya saya dilapangan, seorang kakak kelas satu kampus, satu teori dan satu profesi tetap melupakan pahamisme itu, yang dipakai dilapangan adalah bagaimana menulis berita yang bagus,
ini hanya sebuah cerita nyata yang memang seperti itulah dilapangan.

“kita tak ada harapan untuk menjadi seorang jurnalis yang semestinya, kita kalah sama orang yang bukan lulusan jurnalsitik S1″
Saya menyarankan tertawalah sekerasnya untuk next generation jurnalsitik UIN, kenapa Anda masuk jurusan jurnalistik?” ini bukan untuk mematahkan semangat Anda tetapi untuk membuka pikiran Anda yang belum menemukan makna dari sebuah Jurnalsitik.
Kunci dari saya, lulusan Jurnalistik itu tidak ada yang menganggur, kenapa karena ada jawabannya pada diri sendiri. temukan apa yang Anda sukai, lalu gali sama Anda sendiri, pegang satu, fokus, dan kenali dilaur fokus anda.
ini sebuah saran pemikiran yang tidak ada dalam kenyataannya, “Jika Anda berani, ketika lulus Anda harus berani membakar ijasahmu, dan temukan dirimu tanpa ijasah, apakah Anda mampu untuk hidup tanpa ijasah? itulah kenapa saya bicara lulusan jurnalistik itu tidak ada yang menganggur.
Maaf ini sebuah wacana yang sudah diceritakan oleh banyak orang. entah siapa orangnya!

=================================

{Ageng Rustandi;1998}

pertama liat Kagum…

surprise banget euy liat kemajuan jurusan ku..

pertama masuk uin (dulu masih iain sgd bdg) jurnalistik masih sebagai jurusan dan misah dengan humas, dengan ketua jurusan Bapak Asep S. Muhtadi atau yang lebih akrab dengan sebutan Pak Samuh…

Ayeuna IAIN SGD rubah jadi UIN SGD Bdg, mudah-mudahan lain rubah ngaran wungkul tapi jeung fasilitasna oge nambahan alus komo deuk masuk SPMB mah… (tong ngisinkeun sim kuring ah alumni UIN Bandung pak Nanat…)

Dulu jurusan Jurnalistik saat angkatan pertama ‘98 (jumlah mahasiswa 90 orang dua kelas…), tidak memiliki sarana yang memadai baik untuk perkuliahan…

Namun perjuangan kami angkatan pertama dan waktu menjawab keraguan tersebut..

perlahan namun pasti jurusan jurnalistik mulai bangkit dan menjadi salah satu jurusan favorit di kampus UIN cibiru….

laboratorium cuci cetak (walau seadanya..) mulai dibangun, plus ruang kluliah jurnalisme tv yang dikelola oleh Drs. Dede Mulkansas lalu diserahkan kepada Bapak Woody Oktav…

Sekarang saya hanya berharap kepada mahasiswa yang lagi nyuprih ilmu di jurusan ilmu komunikasi konsentrasi bidang ilmu jurnalistik untuk menjaga nama baik serta keunggulan jurusan kita…

slam hangat dan salut untuk anda semua..
Ageng Rustandi (NIM. 98201804)

=================================

{Agus Sudrajat;2004}
hallo….kawan-kawanku!!! ieu urang jalma anu tara kuliah tea (tapi pinter).
simkuring ngaraos bagja anu kalintang agueungna, pernah ulubiung jeung barudak jurnalistik uin teh. tos yakin dina pamadegan dijero hate, kuliah urang urang tinggal sababaraha waktos deui bakalan paturai pateupang deui dina kaayaan anu langkung sae deui. janten tiayeuna hidep kedah tiasa ngajenan kana kahirupan, salah sahijina web ieu. sok ah. . .

=================================

{Nana;2001}

Buat teman-teman “Gank Biru” Jurnalistik 2001: Oecok ‘Kautsar’ Van Hallen, Topik ‘Batax Saragih’ Iskandar, “Bony” Sumardi, Yan Candra ‘Husnul’ Maulana, Maman ‘Tuyul’ Koswara, Usep ‘Usenk Bulu’ Ahmad Muslih, Mba Lista Cahyawaty, Tita Fatimah, Ida ‘Presidium Langit’, Nunun Nuria plus Sri Kurniasih, kamarana atuh mani lawas teu aya kabarna? Mudah-mudahan hidupmu sukses sesuai dengan apa yang diharapkan!

Sahabat, dulu kita pernah seiring-sejalan, membangun taman pendidikan Madrasah Diroshatul Islamiyah (MDI) di LSM Edukasia untuk pengabdian pada masyarakat. Akankah ini cuma tinggal kenangan dalam angan?

Sahabat, aku merindukan tawa canda dan kebersamaan dengan kalian!

=================================

{Yana Bonay;2001}
Aslallamualaikum

Hatur nuhun ka Pemred

ehh ari opab mah sok ngiring wae atuh
anu terakhir diciwidey oge abdimah nging sanaos damel jauh tibandung oge dongkap weh abdimah sok sareng angkatan abdi wehh…
tapi nyak kitu tea punten nyak yeuh..
sok asa pa aing-aing…
aing senior…nte yunior tara gabung…
sok taun payun mah selain opab aya keun oge acara kangge alumni
wawrtos geura ka kang jayus_erlan angkatan 99,, kang sunan 2000 teh reni,ema kang wading-muslim 2001 kedah kumah saena kumaha…
janten tiap opab teh sanes ngaorentasi hungkul anak2 baru wungkul..hehehe
punten ach…

kang wadink damang yeuh abdi bade uih ka bandung hoyong naon??

We Care, We Watching, We Want To Change

We Care, We Watching, We Want To Change

  1. Ce ileh…Angga nampang gitu. pengen cepet2 jadi alumni ya…inget, lulus langsung ke Jakarta.

    Alhamdulillah, pertemuan ikatan alumni pada tanggal 29 Nopember 2008 sukses. Dari daftar hadir sebanyak 80 orang menandatanganinya. jumlah itu termasuk perwakilan mahasiswa semester 3-7. tapi saya yakin jumlah alumni yang datang lebih banyak. karena banyak alumni yang enggan masuk ke dalam (tempat pertemuan kurang representatif).

    dari pertemuan itu, diputuskan ikatan alumni jurnalistik (entah apa namanya nanti), akan membuat AD/ART. Kemarin sudah dibentuk presidium dari perwakilan angkatan 1998-2004. Setelah AD/ART terbentuk akan dipilih ketua ikatan alumni, apakah masih oji atau bukan tergantung pemilihan nanti.

    kepengurusan ini nanti akan membuat berbagai macam program, terutama yang berhubungan dengan jurnalistik UIN SGD Bandung. karena ketua jurusan, Dadan Suherdiana, sudah memberikan tawaran agar alumni mengisi pelatihan, workshop, atau apapun bentuknya untuk menambah skill mahasiswa jurnalistik. sebelum ikatan alumni terbentuk sah secara hukum, mahasiswa yang ingin beajar kepada alumni boleh-boleh aja. caranya bisa difasilitasi oleh Hima. Yakni Hima Jurnalistik membuat surat dan permohonan kepada alumni untuk mengisi acara….apalah, misalnya pelatihan penulisan berita atau feature.

    eh ya…makasih tak terkira buat temen2 angkatan 2001 yang sudah membantuku menyelenggarakan temu alumni. walaupun uang yang dikumpulkan, tidak membuat balik modal, tapi kerja keras kalian sangat saya kagumi. thx bro….

  2. Wah nyesel rasanya melewatkan momen berharga itu. Next, I won’t missed the event, promise (the pirates promise🙂..

  3. Alow teman-teman, kayaknya anak-anak jurnalistik dari tahun ke tahun makin kreatif dan inovatif aja…salut lah.
    Oh ya, ane alumnus jurnalistik angkatan ’99 [angkatan nu hese diatur bo…:) ], mungkin sebagian sudah ada yang kenal dan gak asing lagi dengan nama beken sim kuring…hahaha (beken sa-RT). bagi yang blom kenal, kontak-kontak aja via email : sunaryo_sarwoko@yahoo.com
    Menjalani profesi sebagai kuli tinta (tentu berbeda dengan kuli aduk) ternyata sangat menyenangkan, dulu selepas kuliah (tahun 2003) ane jujur ga minat buanget terjun ke dunia jurnalistik…., namun setelah 10 bulan kerja di sebuah konsultan akhirnya ane memutuskan terjun didunia jurnalistik – hingga sekarang (ceritanya insyaf coy..).
    Dimulai jadi Reporter di STV Bandung, radio Garuda FM, radio Barani Cileunyi (sekarang dah ganti nama), kemudian Produser Daily News MQTV Bandung, sekarang ane Freelance untuk PT. Akirah Media Productions di Jakarta dan turut berkecimpung di bagian redaksi Majalah Percikan Iman Bandung.
    Mungkin ada yang tanya, kok sering pindah-pindah kantor ya? awalnya sich, ingin banyak pengalaman (kerennya mah milari jati diri..), eh malah jadi senang aclog-aclogan (loncat-loncat) yang penting kan bukan kutu loncat… (kayak para politikus dinegeri ini…haha).
    Bernostalgia ke jaman ane kuliah, dulu angkatan ’99 pernah menerbitkan media angkatan jurnalistik angkatan-99 dalam bentuk buletin, waktu itu dirintis ane (sunaryo), rifa (sekarang direpublika), ega (sekarang di radar bandung), Syam M. Ramdhan, Nia Kurniawati, Opan Koswara, Rodian Naulipane, Ujang Yaya, Ujang Sudrajat…..(saha deuinya?) dan beberapa teman-teman lain. Namun miris, waktu itu media angkatan hanya terbit sekali dan mati untuk selamanya. Mungkin karena banyaknya kendala dan kurangnya gairah menulis mahasiswa saat itu, menjadi pemicu tidak optimalnya kinerja penerbitan.
    Ini adalah pelajaran..(wuih..jadi inget jaman SD) yang sangat berharga, kadang kalau inget itu, ane suka senyum sendiri. Tapi ane yakin, jurnalistik yang sekarang anak-anaknya lebih maknyussssssss. Berbanggalah bisa kuliah di jurusan jurnalistik, dan songsonglah setiap episode-nya dengan penuh motivasi dan perjuangan. Salam perjuangan [wow….tapi bukan PDI-perjuangan lho :)]

    Fr. Sunaryo—–’99

  4. salam-salam buat rIfa, ega, rodian, opan koswara, ujang yaya, ujang sudrajat, nia kurniawati, taufik, epul, syam, asep, herlan, dan sohib-ku ageng rustandi kumaha damang? kade pami liputan bawa jas hujan bisi salesma:), yeni di galamedia…kade tong diporsir bilih ke teu damang.
    untuk para dosen salam hangat selalu…..

  5. jurnalistik angkatan-99, dulu boleh dibilang….barudakna nyeleneh n kritis, tapi saroleh bo…banyak ustadnya..hehe. (jadi emut Mumu dan kang Asep sudrajat..kumaha damang?)
    walaupun…diidentikan jadi mahasiswa percobaan, tapi alhamdulillah semmuanya terbilang para pemikir dan punya kreativitas unik tersendiri, banyak alumni yang sekarang maju, bukan hanya jadi wartawan tapi juga jadi aktivis sosial, dosen hingga pengusaha (ngomong-ngomong pengusaha..jadi inget sohib-ku iman rohiman, yang sekarang jadi pengusaha sarung dari majalaya, kumaha damang?).
    berbagi pemikiran dan informasi sangat penting dilakukan, maksimalkan terus blog ini, mudah-mudahan ke depan bisa jadi pemicu kemajuan kita bersama. amiiiii.

  6. assalamuaikum
    sateuacana hapunten pribados bade ngiring urubiung, kumargi asa lawas tilawah teu ngadangu kabarna barudak sareng alimni jurnalistik di UIN Bandung. ngaraos bingah teuaya kantena kuayana kamajengan murangkalih ti kampus sareng para alumni anu paran tos nyadiaken fasilitas kanggo silaturahmi.
    sareng, hapunten nukasuhun pribados teutiasa ngabantosan temu alumni, kumargi teuterang tea!
    saterasna, ka sobat-sobat angkatan 2001, sobat sakelas iraha urang tias kulah di hijikeun deui, tap ulah narundutan…eehm…, sobat di organisasi iraha urang tiasa tepang di dirapat-rapat Dewan? he..he.., sobat jalan-lalan, iraha bade amengan ka tasik deui? bibit gurame paran tos mejehna di beuleum, ha..ha…
    terakhir, bil khususon kanggo Crative Minority (mas yudi, pa hery, asep Sudrajat, Rifa, Herlan, pa pajar, Ruruli dll-punten anu teu kasebat) mudah-mudahan tiasa urubiung dina fasilitas ieu, wios teu ngumpul sasarengan bari ngopihideung sareng nyesep jarum coklat oge, mudah-mudh masih tisa sasarengan tuker fikiran, gagasan sareng kasusah mayunan kanyataan sosiokurtural+nusanesna.
    sakitu wa anutiasa di dugiken danget ieu…
    ulah hilap !!! jurnalistik nu AING….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: