Click Here to Back

Every Citizen is Reporter

In Artikel on July 5, 2008 at 12:35 pm

(“Citizen Journalism” dalam Sorotan)
Oleh Restu.A.Putra*

Saya cukup terkejut menyaksikan perkembangan media komunikasi saat ini yang begitu hebat. Tingkat pemikiran manusia yang semakin berkembang dan maju, membuat mereka tak bisa diam dengan keadaan yang statis. Akan tetapi terus bergerak dinamis. Media dan teknologi informasi menggeliat. Jaringan dan akses informasi laksana kilat. Dunia semakin sempit. Dan persaingan dalam masyarakat kian ketat. Semua menuntut pemberdayaan manusia secara optimal.

Geliat perkembangan itu bisa terlihat secara khusus dalam bidang komunikasi jurnalistik. Salah satunya wacana jurnalisme warga atau yang populer kita kenal citizen journalism. Kalau kita buka situs ensiklopedia gratis, wikipedia di internet, kita akan temukan definisi citizen journalism sebagai berikut ;

Citizen journalism, also known as “participatory journalism”, is the act of citizens “playing an active role in the process of collecting, reporting, analyzing, and disseminating news and information.
Jadi, citizen journalism yang juga dikenal dengan istilah jurnalisme partisipatif, adalah kegiatan warga dalam “memainkan peranan aktif dalam proses pengumpulan, pelaporan, analisis dan penyebvaran berita dan informasi. (Wikipedia, the Free Encyclopedia)

Melihat definisi diatas maka citizen journalism bisa juga disebut jurnalisme warga sebagaimana arti bahasa Inggrisnya. Dalam hal ini masyarakat bukan hanya bertindak sebagai pembaca atau pemirsa media tapi juga menjadi repoter, penulis, editor, bahkan distributor berita. Trevor Barr, professor dari Swinburne University of Technology Australia, menyatakan hal itu dengan kalimat “the audience become the authors” (2000:122).

Filosofi dasarnya adaalah pemberdayaan warga dalam proses penyebaran sekaligus produsen sekligus konsumen informasi demi kepentingan masyarakat itu sendiri. Jadi warga adalah objek sekaligus reporter itu sendiri. Every citizen is reporter. Begitulah kira-kira sederhanya. Tapi jangan salah, meskipun melibatkan warga, istilah citizen journalism tidak sama dengan public journalism. Walaupun keduanya sama-sama bertujuan memberdayakan warga. Sebab, dulu ada yang namanya public journalism atau sering disebut juga civic journalism. Public journalism adalah sebuah gerakan yang dimulai di Amerika Serikat di awal tahun 1990an. Konon Davis Merit, editor The Wichita Eagle Kansas pada saat itu meliput berita pemilihan umum AS tahun 1990 dengan cara berbeda (Fujita, 1998:30). Sudut pandang yang diambil Davis Merit adalah sudut pandang publik yang ketika itu menjadi unsur utama pemilihan umum. Publik dijadikan subyek utama sekaligus dasar filosofis pembuatan berita, bukan sekedar obyek pemberitaan seperti yang biasa dilakukan media massa sebelum itu.

Untuk lebih jelas sistem yang dilakukan Davis Merit ada baiknya kita cermati pernyataan Jay Rosen, seorang professor dari New York University bahwa tujuan public journalism adalah untuk mengangkat derajat warga menjadi pemegang potensial dalam masalah publik, dan bukan sekedar korban kemudian menggerakkan orang-orang sebagai warga negara suatu negara agar lebih meningkatkan diskusi publik, membantu komunitas menyelesaikan masalah dan membantu negara dalam mencari orang-orang yang produktif sehingga politik dan kemasyrakatan dapat berjalan dengan baik (Kasten, 2004:2)

Nah, berbeda dengan citizen journalism, yang lebih bertujuan untuk melibatkan warga secara langsung dalam produksi berita. Sederhananya lagi, jikalau public journalism masih ada peran wartawan formal sebuah media konvensional akan tetapi citizen journalism, totalitas media dan informasi adalah warga.

Pendiri Center of Citizen Media, Dan Gilmor menggunakan istilah “Grassroots Journalism” untuk menggambarkan kinerja citizen journalism.

Merujuk ke tanah air kita Indonesia, jurnalisme ala warga ini telah hadir dalam keseharian melalui acara-acara talk show di radio khususnya sejak awal tahun 90-an. Karena dilarang pemerintah menyiarkan program siaran berita, beberapa stasiun radio membuat terobosan program alternatif demi memepertahankan tradisi jurnalisme yang melibatkan warga secara aktif ini. Diantaranya yang dilakukan radio Mara 106,7 FM di Bandung, menyiarkan acara talkshow yang mengajak pendengar untuk aktif berpartisipasi melalui telepon untuk menyampaikan informasi maupun pendapat tentang sebuah topik hangat. Dan program itu memang laris bagi pemirsa yang berada dalam tekanan pengaruh orde baru untuk menyampaikan keluhan dan aspirasinya.

Dominasi wacana citizen journalism

Belakangan di Indonesia gejala citizen journalism berkembang melalui media internet khususnya Blog. Eit, tapi tunggu dulu sebelum melangkah lebih jauh ada baiknya kita mengenal sekilas lintas perkembangan internet.

Menurut Laquey, asal mula internet adalah tercipta suatu ledakan tak terduga di tahun 1969, yaitu dengan lahirnya Arpanet, suatu proyek Kementrian Pertahanan Amerika Serikat bernama DARPA. Misi awalnya yaitu mencoba menggali teknologi yang dapat menghubungkan para peneliti dengan berbagai sumber daya jauh seperti system computer dan pangkalan data yang besar. Masih menurut Lacquey, yang membedakan internet dengan jaringan global dari teknologi informasi tradisional lainnya adalah tingkat interaksi dan kecepatannya yang bisa dinikmati pengguna.

Dari sanalah akhirnya berkembang sedemikian rupa hingga sekarang media internet menjadi salah satu (yang menjadi wacana) sebagai media citizen journalism. Blog lah salah satunya, area dimana orang bebas mengekspresikan dirinya. Dan sarana yang sangat diperlukan sekali disana adalah kemampuan menulis. Dan saya yakin setiap orang pasti bisa melakukannya. Bukan hanya seorang jurnalis atau penulis buku, ibu rumah tangga pun mampu memanfaatkannya sebagai media ekspresi layaknya diary atau buku harian.

Blog sebenarnya website juga. Website seperti kita ketahui adalah satu lembaran informasi yang ada di internet. Weblog atau blog adalah versi mutakhir dari web. Disebut mutakhir karena di weblog kita bisa berkomunikasi, berdialog, dengan orang yang memiliki blog. Kalau dulu, web itu hanya sebagai sebuah pustaka, sekumpulan arsip. Tapi blog jauh lebih maju, karena ada dialog disitu.
Nah, realitas wacana yang terjadi sekarang adalah bahwa seorang citizen journalist harus terpaku pada media web (internet) sebagai media publikasi informasi yang diperolehnya.

Padahal kalau kita merujuk pada pengertian diatas, asalkan warga yang yang mencari, menngumpulkan, mengolah dan menyebarkan informasi, apapun medianya bagi saya itu tidak masalah. Dominasi wacana yang terjadi sekarang adalah bahwa internet adalah satu-satunya jalan bagi seorang citizen journalist. Karena berangkat dari para praktisi citizen journalism menggunakan media internet. Bahkan ada yang terang-terangan mendefinisikan citizen journalism sebagai jurnalisme dotcom sehubungan media cyber yang menjadi sarananya seperti yang diungkapkan Dra.Haryati, ketua Dewan Redaksi Jurnal Observasi BP2i (Badan Pengkajian dan Pengembangan Informasi) Bandung dalam tulisannya dalam pengantar redaksi (Vol.5, No.1. 2007).

Saya berpendapat jikalau komunitas warga membuat sebuah media bulletin dan dikelola secara teroganisir, itu juga merupakan bagian dari citizen journalism. Atau komunitas pemuda di desa menerbitkan mjalah dinding secara berkala yang berisikan aspirasi warga pemuda desa itu sendiri bagi saya itu juga sebuah citizen journalism. Yang penting jelas informasi yang diangkatnya dan bertanggung jawab atas apa yang dipublikasikannya.

Atau kalau saya merujuk pada sembilan elemen jurnalismenya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, dalam The Elements of Journalism: What Newspeople Should know and the Public Should expect (2001), bahwa jurnalisme memiliki tugas sebagai berikut:

1. Menyampaikan kebenaran
2. Memiliki loyalitas pada masyarakat
3. Memiliki disiplin untuk verifikasi
4. Memiliki kemandirian terhadap apa yang diliputnya
5. Memiliki kemandirian untuk memantau kekuasaan
6. Menjadi forum bagi kritik dan kesepakatan public
7. Menyampaikan sesuatu secara menarik dan relevan kepada public
8. Membuat berita secara komperehensif dan proposional
9. Memberi keleluasaan wartawan untuk mengikuti nurani mereka

Seharusnya wacana citizen journalism tak harus berkembang seiring maraknya fenomena citizen journalism via internet, (asal mengacu pada sembilan elemen tersebut) tapi bagaimana memberdayakan komunitas kecil warga lain yang berjuang seadanya untuk bisa mengembangkan media penyalur aspirasi warga dengan kemampuan dan kecakapan yang terbatas karena penyakit “gaptek”. Saya bukan menyudutkan akan tetapi membangunkan mata kita, bahwa di sudut belahan bumi sana masih ada masyarakat yang terbelakang dan terbatas kualitas pemberdayaan teknologinya. Padahal, mungkin aspirasi dan realitas kehidupannya perlu diangkat ke permukaan. Karena hakikatnya, maksud utama dari jurnalisme, seperti penilaian Kovach dan Rosenstiel, adalah memenuhi atau menyediakan masyarakat dengan informasi yang mereka butuhkan (dengan cara menyampaikan informasi tersebut ) agar mereka bebas dan mampu mengatur dirinya sendiri (“The purpose of journalism is to provide people with the information they need to be free and self-governing”). Disinilah mungkin dan seharusnya kita yang non gaptek ini bisa berbagi dalam pemberdayaan masyarakat seiring maraknya fenomena citizen journalism. Dengan itu baru kita bisa berkata, every citizen is reporter, setiap warga adalah reporter.

*Mahasiswa Jurnalistik UIN SGD Bandung
dan bergiat di Komunitas seni dan sastra ruangsunyi.

  1. […] 1. Menyampaikan kebenaran 2. Memiliki loyalitas pada masyarakat 3. Memiliki disiplin untuk verifikasi 4. Memiliki kemandirian terhadap apa yang diliputnya 5. Memiliki kemandirian untuk memantau kekuasaan 6. Menjadi forum bagi kritik dan kesepakatan public 7. Menyampaikan sesuatu secara menarik dan relevan kepada public 8. Membuat berita secara komperehensif dan proposional 9. Memberi keleluasaan wartawan untuk mengikuti nurani mereka (jurnalistikuinsgd) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s