Click Here to Back

Sastra Indie

In Ngobrolin Felem on March 22, 2008 at 12:50 pm

Gita
1_947997757m.jpg
Akhir-akhir ini saya lagi excited banget nih sama yang namanya independent label. Gak itu musik, gak itu film…suka banget! Emang sih, sebagai penikmat yang ngakunya suka banget, saya gak terlalu banyak berkorban untuk berapresiasi. Akses buat sekedar tau aja, saya dapet kalau kebetulan aja denger di radio, nonton di tivi, dan baca-baca di media tulis.

Dulu, dalam benak saya, kalau denger nama indie. Entah itu Band, Film… kebayangnya keren melulu. Mungkin, gara-gara yang mereka (baca: penggiat indie label) sajikan buat kita selalu baru! Ya! Itulah kerennya independent label, idenya original dan kemasannya fresh, spirit karyanya asyik, pembuatannya pasti seru bin riweuh, dan nilai moralnya ‘nendang’ banget deh!

Padahal, setelah berapa lama, baru saya tahu, kalo indie label itu artinya jelas bukan major label. Yah…gitu lah! Pokoknya, walau pada akhirnya niat dagang juga seperti major, tapi idealismenya konsisten berkarya!

Kalo film, beda lagi neh, kadang band-band indie itu juga masih ngandelin sponsor banget. Sedangkan kalo film indie biasanya bener-bener dari kita, oleh kita, untuk kita. Karena barangkali, mereka lebih nyari puas akan sukses kecil-kecilan untuk sukses yang lebih gede? Kan kalo band, kecil-kecil juga udah lahir definisi sukses (baca: menghasilkan uang).

Jadi, karya apapun yang sekarang lagi kamu bikin, pada akhirnya akan berujung pada sebuah industri, Guys! Nah, kalo kamu yang lagi punya project nulis novel, puisi, memoar, gugatan kek, biografi orang lah…ada bagusnya semua proses dari pengetikan, penyuntingan…ampe percetakan trus dijualin dikerjain sama sendiri. Terutama buat kamu yang hobinya ditolak penerbit (hehe), kan gak jarang tuh ditolak bukan karena karya kamu jelek, tapi karna beda idealismenya. Itu juga toh yang jadi asbab munculnya independent label: Ideologi.

Sekarang, just the way you are aja! Dan cobain bikin yang namanya sastra indie, ngetik di komputer/laptop/rental, ngedit pake gaya yang kita mau, desain cover sendiri, nyetak dengan P.I.D (penyesuaian isi dompet), kertasnya pilihan sendiri, copy-nya mau gimana, trus bisa narsis-narsisan lagi, jangan lupa jualannya lebih kerasa untung Cuy! Karena gak usah bagi2 ama penerbit yang kapitalis itu. Belum lagi kalo kita jualannya pake e-book, bisa seluruh dunia tuch baca karya kamu!

Itu sih cuma salah satu cara meraih cita-cita. Independent! Kalo belum bisa bernaung sama yang lain. Bukankah jadi bos itu lebih enak ketimbang jadi anak buah? Inget nih…Kata Eyang Edison (ciyee), “keberhasilan itu 1% bakat, 99% kerja keras.” So, ngapain ragu? Ini mah lain lagi, John De Rantau bilang “Spirit indie tuh berkarya, bukan result!” Asyik kan? Salam indie! Wallahu a’lam

Penulis adalah Begi Tabooty Mahasiswa Jurusan Jurnalistik angkatan 07 alamat email (b36i_y5cin34s@yahoo.co.id)

  1. Assalamu’alaikum

    boleh juga tulisan kmu gita. Ini gw yg kmrn chat pake nick edan_tapi_waras. Salam kenal ya. Hidup Indie World!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: