Click Here to Back

Urgensi kah KKN di kota ?

In Artikel on March 3, 2008 at 3:10 pm

cimg9222.jpg
Sebagaimana kita ketahui bahwa salah satu fungsi KKN ( Kuliah Kerja Nyata bagi mahasiswa adalah dapat menjadi Agent of Change dalam segala aspek, termasuk kontribusi bagi masyarakat. Sebab, berbagai masalah banyak bermunculan di masyarakat dengan ukuran yang tak pasti, maka perlu satu waktu dan tempat bagi mahasiswa untuk merealisasikan ilmu yang didapat agar kebenaran ilmu itu nyata. Hari ini abad 21 yang ditandai dengan majunya teknologi komunikasi dan ilmu pengetahuan maka mahasiswa dituntut mampu menghadapi hal tersebut. Melihat kembali pada fungsi mahasiswa sebagai Agent Of Change, tempat KKN selayaknya dapat direlokasi pada masyarakat sesuai skill mahasiswa agar keseimbangan dalam proses interaksi antara masyatakat dan mahasiswa terjalin harmonis. Sebagai contoh, masyarakat pedesaan yang jauh dari keterbatasan informasi dan teknologi, pantas menjadi objek bagi semua perguruan tinggi dalam penyelenggaraan KKN. Tanpa mengecilkan potensi sebagaian masyarakat pedesaan dalam mengembangkan diri mereka, namun jarak perbedaan masyarakat desa dan perkotaan dalam segala aspek terdapat garis pemisah yang jauh dan jelas.

Dan menjadi pertanyaan bagi kita sebagai mahasiswa bila tempat KKN berada di kota. Bagaimana tidak, sebagaimana kita ketahui mahasiswa sudah mengenal perkotaan dengan segala permasalahan. Maka jangan heran salah satu asumsi secara psikologis peserta KKN akan mengelami “stress”. Berbeda Apabila kita melihat potensi mahasiswa melakuan KKN di desa, secara fungsi, mahasiswa dianggap oleh masyakat pedesaan sebagai “Super Hero” yang memberikan pencerahan terhadap sesuatu yang belum mereka dengar dan lihat. Bayangkan bila KKN di kota, sungguh sial rasanya mahasiswa tatkala melakukan hal tersebut. Bagaimana tidak, posisi mahasiswa yang tumbuh di perkotaan akan bosan sebab tidak menemukan sesuatu yang baru. Hal ini dapat digambarkan dari salah satu pendapat peserta KKN Universitas Islam Negeri (UIN ) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung yang bernama Gumgum yang duduk di jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) semester VIII di mana pada bulan Maret 2008 melaksanakan KKN.

Menurutnya, KKN di kota bisa menjadi sesuatu yang mubazir dan tantangan baru. Adapun alasannya adalah, KKN di perkotaan akan berdampak bosan bagi mahasiswa sebab dalam keseharian hidupnya berada di kota. KKN juga menjadi tantangan bagi mahasiswa yang tumbuh di pedesaan. Sebab problema di perkotan akan menjadi hal baru kerena secara psikologis, gambaran pedesaan sudah diketahui terlebih dahulu.

Tanpa mempermasalahkan kehebatan perkotaan dan pedesaan, perlu dipikirkan kembali oleh pihak penyelenggara dalam perencaan tempat agar kegiatan KKN tak hanya untuk menyelesaikan mata kuliah semata. Karena, mahasiswa akan menghadapi realita kehidupan yang sebenarnya setelah lulus nanti. Maka, pencarian dan penempatan lokasi KKN harusla yang termasuk daerah tertinggal dan kompetensi mahasiswa itu sendiri dalam menghadapi sebuah masalah agar dapat memberikan kontrbusi nyata dan dapat dinikmati masyarakat. Maksudnya, janganlah menempatkan seuatu pada bukan tempatnya. Sebagai contoh, mahasiswa jurusan Jurnalistik seharusnya ditempatkan pada masyarakat yang memang membutuhkan pengetahuan kejurnalistikan, bukan menmgajari bagaimana caranya memasak dan mencuci pakaian tapi sedikitnya membuka cara bepikir masyarakat agar melek teknologi nformasi. Bila tidak, sama saja penyelenggara KKN “Membunuh” potensi mahasiswa untuk mengembangankan dirinya dalam mengabdi pada masyarakat.

Mudah-mudahan kepada setiap mahasiswa yang tengah melaksanakan KKN bertindak cerdas dalam menanggapi permasahan di tempat KKN. Kita tidak bisa memaksakan kapasitas sebagai mahasiswa agar permasalahan di masyarakat selesai, namun kita hanyalah mediator antara masyarakat dan pemerntah. Tanpa memperecilkan fungsi KKN, tampaknya pihak institusi setiap perguruan tinggi se-Indonesia haruslah mau “berkorban memfasilitasi “ mahasiswa melakukan KKN ke lokasi daerah tertinggal yang hari ini belum tersentuh oleh kita sebagai mahasiswa. Dan menjadi pertanyaan kembali bagi mahasiswa yang tumbuh dan berkembang di kota, apakah penting KKN di perkotaan. Selama mahasiswa tetap tersenyum walau kita sering “dibunuh” kreativitas hidup oleh formalistik ilmu.

(JP/555)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: