Click Here to Back

Ukhuwah Islamiyah dan Izzul Islam Wal Muslimin

In Artikel on February 10, 2008 at 9:38 am

Oleh. Oki Sukirman

Menarik sekali ketika membahas tentang ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam). Tema yang memang actual, apalagi terkait dengan realitas social kehidupan umat Islam dewasa ini. Nyatanya kehidupan umat Islam saat ini tak lebih -seperti yang diramalkan Rosulullah SAW pada sebuah hadistnya- bagaikan buih di lautan. Umat Islam secara kuantitas memang banyak, namun mereka tetap dalam bayang-bayang dan cengkraman kaum kafir.

Memang harus kita akui ini merupakan fakta yang tidak mengenakan khususnya bagi kita umat Islam. Tapi fakta tidak pernah hadir dengan wajah dusta, bagaimana para kaum muslim di Timur Tengah yang notebenenya merupakan Negara-negara dengan jumlah kaum muslimin mayoritas, seolah tak berdaya ketika saudaranya diserang dan diperangi oleh musuh (nyata bersama) umat Islam.

Ketika Negara Irak diinvasi oleh Amerika Serikat dengan alibi untuk mencari senjata pemusnah massal –yang nyata-nyatanya sampai sekarang senjata pemusnah massal itu tak terbukti adanya- atau ketika Palestina dibombadir oleh Israel demi mempertahankan bumi Allah dari cengkraman Yahudi, Kemana Negara-negara –yang memploklamirkan- Islam seperti Arab Saudi, Iran, Mesir, UEA, Qatar, Bahrain? Sepertinya mereka tidak punya daya untuk melawan –atau setidaknya membela-. Bahkan yang lebih tragis dan menyakitkan ternyata mereka (Negara-negara muslim itu) menjadi sekutu musuh-musuh Islam untuk menyerang saudaranya.
Penjajahan secara fisik atau perang senjata telah nyata didepan mata menyerang umat Islam. Namun yang lebih berbahaya adalah penjajahan ideologi yang dilancarkan oleh kaum kafir. Tujuan mereka hanya satu, yaitu agar kaum Muslimin terpisah dan dijauhkan dari ajaran-ajarannya terutama Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Gejala-gejala yang dilakukan oleh kaum kafir menurut M. Amien Rais dalam beberapa tulisannya adalah sebagai upaya alienasi masyarakat Islam dari ajaran Islam serta kolonialisme dan imperialisme Barat dengan melakukan Westtoxication atau proses peracunan Barat atas dunia Islam. Akibatnya, sebagian masyarakat Islam kemudian dihinggapi penyakit –meminjam istilah Abul Hasan Bani Sadr – Westomania yaitu penyakit kejiwaan yang menganggap Barat adalah segala-galanya.

Dengan adanya Westomania ini, umat Islam dengan mudahnya dihasut, dipengaruhi bahkan diadudomba sehingga perselisihan dan pertengkaran antara umat Islam sendiri pun tak terhindari, yang pada akhirnya tentu mengancam ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam). Maka logika yang berkembang adalah bagaimana mungkin memujudkan kemandirian umat dan mencapai kejayaan Islam, jika saja ukhuwah Islamiyah saja tidak terbangun dengan kuat dan kokoh.
Membangun Ukhuwah Islamiyah yang kokoh.

Permasalahan ukhuwah merupakan salah satu variabel penting dalam pembangunan kekokohan “bangunan Islam” setelah tauhid atau mengesakan Allah SWT. Sebab ukhuwah merupakan salah syarat utama meraih Izzul Islam Wal Muslimin dan mendapatkan ridho Allah SWT. Melalui ukhuwah Islamiyah kemandirian umat Islam dapat terbangun bahkan lebih dari itu kejayaan dan kedigdayaan Islam dulu pernah dalam genggaman Islam dapat direbut kembali dari tangan kaum kafir.

Sejarah Islam telah menggoreskan pena emas. Dalam perkembangan Islam, umat Islam telah membuktikan bagaimana ukhuwah Islamiyah dapat menjadi jembatan untuk meraih kemandirian umat dan kejayaan Islam. Ini ditandai oleh peristiwa hijrah Rosululloh dan pengikutnya ke Madinah yang merupakan salah satu tolak ukur dari perkembangan Islam. Setiba di Setiba di Madinah kaum muslimin yang hijrah (muhajirin) oleh Rosulullah SAW dipersaudarakan dengan kaum pribumi madinah (anshor).

Dengan adanya jalinan persaudaraan antara kaum muhajirin dan kaum anshor, mereka saling tolong menolong, sepenanggungan dalam suka dan duka, mempunyai rasa empati yang tinggi, dan selalu mengutamakan kepentingan saudara seimannya daripada kepentingannya sendiri (itsar). Bahkan Rosulullah SAW memberikan salah satu gambaran indah terhadap indahnya jalinan ukhuwah antara umat Islam tersebut. “Permisalahn orang mu’min dengan orang mu’min yang satu dengan mukmin yang lain dalam kasih sayang ibarat sebuah anggota badan yang jika merasa sakit yang satu maka anggota badan yang lainpun ikut merasakan sakit” (HR Bukhori Muslim)
Dengan semangat persaudaraan Islam itulah, memberi bantuan, dan bersama-sama membangun negeri Islam Madinah. Sidi Gazalba, seorang cendekiawan muslim asal Malaysia dalam bukunya ”Kebangkitan Islam dalam Pembahasan” (1979), menuliskan, ”Dipandang dari ilmu strategi, hijrah merupakan taktik. Strategi yang hendak dicapai adalah mengembangkan iman dan mempertahankan kaum mukminin.” Hijrah adalah momentum perjalanan menuju Daulah Islamiyah yang membentuk tatanan masyarakat Islam, yang diawali dengan eratnya jalinan solidaritas sesama Muslim (ukhuwah Islamiyah) antara kaum Muhajirin dan kaum Anshor.

Jalinan ukhuwah yang menciptakan integrasi umat Islam yang sangat kokoh itu telah membawa Islam mencapai kejayaan dan mengembangkan sayapnya ke berbagai penjuru bumi. Kaum Muhajirin-Anshar membuktikan, ukhuwah Islamiyah bisa membawa pada kemandirian untuk memperjuangkan Islam jaya dan disegani.
Akar Permasalahan.

Dan memang bisa dimengerti bersama, jika umat Islam dewasa ini tidak disegani musuh-musuhnya, bahkan menjadi umat yang tertindas, serta menjadi bahan permainan umat lain, antara lain akibat jalinan ukhuwah Islamiyah tidak kuat dan tidak seerat kaum Mujahirin-Anshar.

Memang tidak mudah untuk mewujudkan ukhuwah Islamiyah yang kuat dalam rangka membangun kemandirian umat dan kejayaan Islam tersebut, banyak sekali aral melintang yang ditemui dalam menempuh jalan ke arah sana. Terkadang perbedaan ijtihad, faham, serta interpretasi pada suatu permasalahan bisa menimbulkan perselisihan dan percekcokkan yang dapat mengganggu tali ukhuwah diantara umat Islam.

Namun pada hakikatnya semua itu letak permasalahnya ada pada jiwa dan mental setiap individu umat Islam itu sendiri yang mana belum bisa melaksanakan ajaran Islam secara komprehensif (kaffah) yang berkenaan dengan ukhuwah.

Memang konteks ukhuwah tidak sama dan sebangun dengan sama pada satu urusan atau terhimpun pada satu organisasi yang sama, ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk mewujudkan kearah sana dan tidak bisa diraih dengan jalan instans namun melalui proses dan perjalanan yang panjang sehingga diantara kaum muslimin tercapailah puncak kemesraan ukhuwah yang pada akhirnya akan melahirkan sikap takaful (saling membantu), Ta’awun (saling menolong), tasamuh (saling menghargai/toleransi).

Kemesraan ukhuwah tersebut dapat dimulai melalui proses ta’aruf atau saling mengenal. Dalam kontek ukhuwah proses ta’aruf tidak saja dari segi fisikal saja namun dari segi psikis juga semisal pengenalan sifat, karakter, kadar keseriusan taqarrub (kedekatan) pada Allah, kesenangannya, latar belakang keluarga, dan sebagainya. Ta’aruf yang baik akan meminimalisir kekeringan dan keretakan hubungan sesama muslim. Ia juga dapat membuat hati menjadi lembut serta mampu melenyapkan bibit perpecahan.

Bila wilayah ta’aruf telah terbentang, maka akan tumbuh sifat tafahum (saling memahami). Sikap tafahum akan menjaga kesegaran dalam berukhuwah. Karena, ketika keterpautan hati telah terjalin maka timbul sikap saling toleransi, dan saling kompromi pada hal-hal yang mubah (boleh) sehingga akan membuat hubungan satu sama lain menjadi lebih harmonis. Puncak tafahum adalah ketika seorang mukmin dengan mukmin lainnya dapat berbicara dan berpikir dengan pola yang sama.

Namun tahapan diatas terasa belum cukup jika tidak tidak dibarengi dengan beberapa kerangka dalam pembangunan ukhuwah Islamiyah yang lain, diantaranya Pertama, atas dasar cinta dan iman kepada Allah Swt hendaknya setiap individu harus mempunyai kesiapan untuk bisa mengesampingkan pandapat sendiri -atas nama kepentingan sendiri- dan menerima pendapat bersama untuk kepentingan umat. Karena dengan cinta dan imanlah akan menjadi modal penting bagi setiap individu untuk bisa menerima kepentingan bersama diatas kepentingan-kepentingan pribadinya.

Maka tak berlebihan bila Imam Hasan Al-Banna mengatakan bahwa dengan dua sayap (iman dan cinta) inilah Islam diterbangkan setinggi-tingginya ke langit kemuliaan. Bagaimana tidak, dan dengan iman dan cintalah persatuan ummat akan terbentuk dan permasalah pun akan terpecahkan.

Kedua, Melestarikan sikap husnudz-dzan (prasangka baik) diantara sesama dan menghindari sikap su’ud-dzan (prasangka buruk). Karena kalau saja sejak semula kita sudah mempunyai sikap su’ud-dzan (prasangka buruk) terhadap kegiatan keagamaan yang ada misalnya, maka segala yang dilakukan, walaupun itu baik mesti akan ditafsirkan jelek, sehingga menimbulkan keretakan di dalam tubuh umat Islam sendiri.

Ketiga, menghindari sikap fanatisme madzhab atau golongan yang memonopoli kebenaran -sebagaimana tidak ada sekelompok manapun yang memonopoli kesalahan-. Jangan sampai karena suatu kegiatan keagamaan Islam yang dilakukan oleh sekelompok orang atau kelompok lain (yang bukan kelompoknya sendiri), maka selalu dicurigai dan disalahkan, sementara kelompoknya sendirilah yang paling benar. Sebab bagaimanapun wujudnya kebenaran, selama itu berada ditangan manusia, maka kebenaran itu nilainya relative (nisbi). Karena itu setiap menghadapi dan memecahkan umat, perlu ditumbuhkan sikap musyawarah “wa syaawirhum fil-amri” (bermusyawarahlah dalam menghadapi setiap masalah), sehingga segala permasalahan yang dimusyawarahkan dapat diselesaikan dengan baik tanpa melalui perpecahan dan perselisihan dalam tubuh umat Islam sendiri.

Keempat, perlu adanya wawasan dan komitmen bersama tentang keislaman yang tinggi dari diri setiap muslim. Semakin dalam wawasan keislaman kita, maka akan semakin tinggi pula rasa saling pengertian atau ukhuwah Islamiyah kita. Wawasan keislaman sendiri didapatkan adalah dengan proses belajar, pendalaman dan pengkajian pada permasalahan keagamaan.
Kelima, berupaya untuk senantiasa berdakwah, yang mana salah satu tujuannya adalah mengkampanyekan “persatuan umat” dan pemahaman bahwa perbedaan pendapat adalah rahmat -bukan sumber perpecahan, serta menggalang semangat “anti-perpecahan”-. Selain itu juga dakwah merupakan upaya pencerahan, pengembangan, pembangunan dan pemberdayaan umat dan struggle for life (perjuangan untuk hidup) dan struggle for better (perjuangan untuk menjadi terbaik). Sebab pada intinya dakwah tidak semata-mata proses mengenalkan manusia kepada Tuhannya, melainkan juga merupakan sebuah proses transformasi sosial, dengan sejumlah tawaran dan alternatif solusi-solusi bagi umat dalam mengatasi masalah kehidupan yang mereka hadapi.

Namun pada perjalanannya dakwah pula perlu mengacu pada strategi dan pendekatan komprehensif yang pernah dilakukan dan dikembangkan oleh Rasulullah SAW. Dengan muatan pengembangan atau pemberdayaan umat serta berwawasan pembebasan dan problem solving Rasulullah dalam proses mendesain tersebut menggerakan proses takwin, yakni tahap pembentukan masyarakat Islam dengan kegiatan pokok operasional dakwah bil-lisan sebagai ikhtiar sosialisasi akidah. Prosesnya dimulai dari unit terkecil dan terdekat (rumah tangga/keluarga) sampai kepada perwujudan-perwujudan kesepakatan dan masyarakat umum, sosialisasi ukhuwah, dan ta’awun yang ditata menjadi insturmen sosiologis menuju kristalisasi dan internalisasi Islam dalam kepribadian masyarakat, sehingga pada gilirannya akan terekspresikan dalam ghirah dan sikap membela keimanan, keislaman dan tekanan struktural para penindas.
Amrullah Achmad (1996:67) menyatakan bahwa pada tahap takwin ini, fundamen sosial Islam dalam bentuk akidah, ukhuwah Islamiyah, dan ta’awun sudah dapat dibangun Rosulullah SAW, sehingga wujud masyarakat yang bersifat mandiri dan swadaya tersebut terus berkembang dan menjadi community base kegiatan dakwah Islam.

Lalu setelah mobilisasi takwin harus ada juga proses taudi’, yakni tahap keterlepasan masyarakat dari berbagai ketergantungan menuju kemandirian umat dan swadaya, terutama secara manajerial.

Maka dengan demikian jelaslah bahwa dakwah dalam rangka membangun bangunan ukhuwah Islamiyah yang kokoh pada akhirnya adalah untuk mewujudkan kemandirian umat dan lebih jauh lagi untuk mencapai Izzul Islam Wal Muslimin (Kejayaan Islam dan kaum muslimin) Amin.

Penulis Oki Sukirman Mahasiswa Jurusan Jurnalistik. Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: