Click Here to Back

Imajinasi kampus Bebas Rokok

In Cerpen on January 28, 2008 at 3:07 pm

Oleh Jetro Limbong

Sebagaimana kita ketahui bahwa kampus adalah tempat mahasiswa menimba llmu dan aktualisasi diri dengan berbagai aktivitas yang diikuti. Kampus juga adalah tempat untuk mengembangkan jiwa-jiwa intelektualitas seseorang untuk menghadapi persaingan global yang begitu ketat di masa datang (Pikiran Rakyat, 12 April 2007 ).

Untuk pengembangan tersebut, mahasiswa membutuhkan lingkungan sehat dari polutan sebagai penunjang kenyaman dalam belajar. Kenyaman belajar tak hanya ditunjang oleh fasilitas lengkap, tetapi ditunjang oleh kondisi lingkungan kondusif agar mahasiswa dapat berkonsentrasi dalam pengembangan dirinya dalam kampus. Tak bisa dipungkiri rokok adalah teman dalam menemani aktivitas apapun dan Seakan-akan seorang mahasiswa tak bisa lepas dari rokok walau sehari saja dan dalam keadaaan apapun rokok akan dipegang dan dihisapnya. Dan budaya menghisap rokok ataupun membuang puntungnya belum menunjukkan tingkat intelektual tinggi sebagaimana statusnya adalah mahasiswa yang sudah mengerti dampak dari asap rokok baik untuk sendiri maupun lingkungan. Padahal, disaat harga bahan makanan dan biaya kuliah melonjak tinggi, rokok tetap akan selalu terbeli meskipun harganya semakin tinggi.

Inilah fakta yang terjadi di kampus manapun, rokok menjadi teman kuliah untuk mendukung aktualisasi diri dalam berbagai aktivitas. Dengan merokok inspirasi dalam mendapatkan ide ataupun kreativitas sering muncul tatkala menghisap rokok. Padahal bila kita hubungkan dampak asap rokok dengan posisi mahasiswa sebagai pencari ilmu yang membutuhkan lingkungan bersih dari zat beracun, asap rokok akan mengganggu disebabkan lingkungan sudah tercemar oleh kandungan zat-zat yang terkandung dalam rokok.

Adapun salah satu zat berbahaya dalam rokok adalah karbon monoksida yang berpotensi mereduksi aliran oksigen ke dalam sel –sel jaringan dan organ tubuh termasuk otak, sehingga mempengaruhi kecerdasan. Data dalam http://www.healthjounal.com memaparkan bahwa sekitar 87-90% kasus kanker paru-paru disebabkan oleh rokok, dan 30% di antaranya di alami perokok pasif. Berdasarkan data di atas, terbayang bagaimana dampak asap rokok mempengaruhi kecerdasan mahasiswa tatkala menuntut ilmu di saat lingkungan kampusnya tercemar oleh zat-zat berbahaya dari asap rokok. Dan perokok pasif pun menjadi korban dari perokok aktif yang sembarangan menghisap rokok tanpa memperdulikan lingkungan sekitar.

Alasan yang sering terdengar dari perokok aktif mungkin masuk akal dimana memposisikan rokok sebagai stimulus/ rangsangan untuk berpikir dan berkreasi. Bahkan bila tak merokok, rasanya bibir ini masam dan hilang semangat untuk beraktivitas. Alasan itu masuk akal karena rokok laksana narkoba yang bisa menimbulkan adiksi pada pemakainya. Ketergantungan ini muncul akibat zat nikotin dalam rokok. Adapun dampak dari nikotin ini menyebabkan pelepasan glukosa serta peningkatan tekanan darah dan detak jantung. Zat ini memicu otak yang mengendalikan perasaan senang, menenangkan dan peningkatan motivasi. Maka untuk mempertahankan efek menyenangkan ini, seseorang terdorong untuk terus-menerus menghisap rokok. Sehingga, rokok menjadi kebutuhan tatkala stress dan depresi melonjak tinggi.

Bila kita merenungi kembali dampak asap rokok, maka tak salah pada tanggal 31 Mei kita jadikan kampus dalam satu hari bebas rokok karena banyak alasan untuk berhenti merokok. Antara lain, kondisi tubuh akan merasa nyaman karena indera penciuman berfungsi lebih baik, kulit tidak cepat keriput, dan makan pun akan lebih nikmat. Di samping dampak secara fisik, mahasiswa menjadi contoh baik. Manfaat yang dapat dirasakan saat berhenti merokok, dalam tempo 30 menit seusai merokok, tekanan darah dan denyut nadi yang tadinya kacau balau gara-gara racun rokok akan kembali normal.

Setelah tiga hari libur merokok, nikotin tak terdeteksi dalam darah. Namun hal itu tak mudah dilaksanakan seiring kenikmatan dijanjikan oleh rokok yang memberi stimulus untuk menghisapnya. Di samping itu, imajinasi kampus bebas rokok sulit dilawan seiring dengan rokok dapat menyenangkan pemerintah dari pajak cukai yang diterapkan.

Disamping itu, produsen rokok berlimpah ruah akan laba walaupun krisis ekonomi melanda. Sebab, zat adiksi yang terkandung menyebabkan setiap orang untuk merogoh kocek untuk menikmati rokok walau harganya mahal. Imajinasi kampus bebas rokok semakim sulit dilawan dengan adanya media sebagai pencipta imajinasi rokok yang menyajikan kenikmatan dengan tayangan iklan berbagai bentuk mulai dari cetak, audio maupun audio-visual. Kontan saja masyarakat tak bisa menghindari atau mencoba berhenti merokok, sebab media telah mencuci otak perokok agar terus menghisap. Alhasil media mendapatkan bayaran yang bernilai ratusan juta dari aksinya ini. Bahkan penayangan terhadap iklan rokok semakin merangsang konsumen untuk terus membeli di saat tayangan menghadirkan artis tampan dan cantik sebagai bintang iklannya.

Pertanyaannya sekarang, mungkinkah kita mahasiswa dapat mewujudkan kampus bebas dari asap rokok yang menimbulkan berbagai efek samping., mungkinkah kita mengubah budaya ketergantungan terhadap rokok sebagai stimulus untuk berkreasi, ataukah kita selamanya akan terjajah oleh zat nikotin hingga akhir hidup?

Mungkin hal membebaskan dari “penjajahan nikotin “di mulai dengan mendisplinkan tempat merokok bagi perokok di kampus. Caranya, menyediakan tempat khusus atau smoking area agar tidak mencemari lingkungan kampus. Di samping itu, perokok pasif terbebas dari dampaknya. Sebagai catatan, peraturan berlaku bagi semua civitas akademika. Sebab teladan baik akan mudah dijalankan dalam mensosialisasikan imajinasi kampus bebas rokok apabila contoh dimulai dari atas agar terjadi sinkronisasi kampus yang nyaman dan bersih dari polutan.

Imajinasi ini akan terwujud dengan gerakan yang dirancang oleh kampus dalam mengarahkan mahasiswa lebih sadar akan efek luar biasa dari asap rokok yang dihisap maupun dibuangnya. Menyediakan smoking area harus ditunjang pula oleh penanaman pepohonon dalam kampus untuk menyeimbangkan udara tetap segar. Imajinasi hanyalah sebuah mimpi, namun mimpi itu dapat diraih bila kita mempunyai bintang terang atau keinginan besar dalam mewujudkannya. Kerjasama dari semua civitas akademika terlihat indah apabila semua menyadari dampak asap rokok ternyata mempengaruhi produktivitas, kreativitas dan intelektual penghuni kampus.

Penulis Mahasiswa Jurnalistik UIN Bandung
Aktif di salah satu LSM Lingkungan Hidup Kota Cimahi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: