Click Here to Back

Kaya untuk Kaya

In Cerpen on January 1, 2008 at 6:54 am

Oleh Angga Aditiya

Aku baca lembar per lembar buku temanku yang aku pinjam tak sengaja. Mengharu biru, menggebu, penuh penaklukan. Penulis itu membuatku kuyu disemprot guyuran pesan. Penulis yang telah menaklukan kegagahan monument ketidakmungkinan untuk memperoleh sesuatu.. Aku bahkan telah digaet untuk mencoba terlibat dalam perjalanannya. Sarat keabadian.

Ketika membaca, aku seperti mengganda menjadi dirinya. Hatiku diperas, asaku dicambuk berkali-kali untuk berusaha seperti dirinya. Dualisme ‘kaya’ membelah diri yang berarti; seperti, mirip, atau persis. Mentalku mengikatkan pada kamuflase perjalanannya. Layaknya joki limbung yang terjatuh, lalu digusur oleh kuda yang berlari kencang. Berusaha bangkit lalu mengejar!. Aku sadar posisiku jauh dibawah lantai pengalaman dan prestasinya. Aku sadar, aku telah melakoni nyanyian yang sering dinyanyikan Ahmad Albar, sandiwara untuk seperti.

episodeku kali ini mungkin awal cerita dari banyak scene yang ditulis Sutradara. Penuh rintangan, kesedihan, dan berakhir dalam samudra bintang gemintang kesuksesan. Pikirku yang sinetron berat. Bahkan aku sedang mengibas kemungkinan yang muncul mematahkan pikirku tadi. Namun tetap tidak bias disangkal. Film lain seolah membentuk barisan, merubuhkan kemungkinan akhir kesuksesan itu. Memberi pelajaran dengan kejahatan atau mati untuk ketentraman. Film Nomad the Warior semakin menegaskan penaklukan membiaskan bintang gemintang itu. Film itu memuntahkan kembali kemenangan yang kutelan bulat-bulat. Aku khawatir terperosok untuk memerankan tokoh-tokoh yang menjadi pahlawan, kala dirinya ditakdirkan menjadi lawan untuk menopang kedigdayaan sang teman. Tragis.

Aku getir meneropong akhir dari perjalanan yang penuh misteri ini. Penentuan hari H. asaku melompat, menyundul-nyundul untuk jiwa yang terkulai. Malas. Rasanya hanya dewi fortuna yang akan mengangkat derajat itu. Melihat kondisiku, semua orang sepertinya sepakat dengan madzhab kebanyakan. No pain, no gain. Guncangan-guncangan wujud kesuksesan terus membayangiku dari berbagai arah. Lembut tapi mematikan. Killing me softly.

Tapi aku patut bersyukur dengan biusan yang hampir membuatku gila itu. Aku semakin hidup seperti yang seringkali aku lihat dan dengar pada iklan rokok. Aku semakin merasakan saripati hidup. Ujian berkelas yang aku terima. Kendati ujian itu masih jauh dibawah para sahabat ketika perang Uhud yang harus menggadaikan nyawa, harta, dan orang-orang yang dicintanya, namun aku merasakan ujian itu merayap pada posisi peperangan luar biasa itu. Peperangan yang terjadi dalam batin. Pergumulan dan pertempuran yang menyiksa.

Yang membuat aku lebih tersiksa adalah, ketika aku teringat sebuah kisah yang masih hafal betul dimana orang itu bercerita, dalam posisi bagaimana, dan mimik yang seperti apa. Orang itu tidak lain adalah guruku sewaktu SMP. Perawakannya kurus dengan jalan mendayu kaku. Kepalanya sudah dilumuri uban. Matanya terhijab kaca tebal membantu dirinya membaca buku yang digenggam karena tasnya tidak menerima kedatangan buku berukuran gemuk.

Sebut saja namanya Pak Harun. dia bertutur berapi-api. Walau aku tidak dapati dia seperti para mahasiswa yang berorasi di depan mulut kantor pejabat, tapi auranya memancarkan semangat membabi buta. Ia mengisahkan seorang pelajar yang berniat menjaili guru galaknya. Niat menjaili berubah malapetaka. Mesin pemotong tubuh yang tidak begitu jelas aku deskripsikan seperti apa, telah merobek fikirannya. Disinyalir ia meninggal karena guru itu merasa, akhir hayatnya akan berakhir tercincang seperti daun saledri teriris kecil-kecil. Nyatanya tidak demikian, mesin tersebut sedikitpun tidak menyentuh tubuhnya. Kepalang fikirannya melampui keadaan, menyerah, alhasil guru itu tewas mengenaskan. Naas.

Pelajaran pertama, sungguh murid yang tidak memuliakan gurunya. Pelajaran kedua, dahsyatnya imajinasi fikiran. Kisah itu semakin menakut nakutiku. Ditengah perang batin berkecamuk membakar fikiran, kisah sarat nasihat itu seolah meriam yang datang memporakporandakan batinku. Jika aku tidak bisa menaklukan peperangan itu, kalau tidak mati berkeping-keping, minimal musuh yang entah dari kerajaan mana, akan tertawa menang sambil mengibarkan panjinya melihat keadaanku yang lusuh, compang-camping, tertawa tanpa sebab di emper jalan. Menghinakan.

Rupanya aku masih bisa merasakan beban yang bagi sebagian orang tidak begitu difikirkannya. Bahagia dengan posisi dan keadaannya. Seperti kupu-kupu yang hanya menari nari diatas bunga indah berwarna warni untuk dihisap saripatinya. Begitulah ia lakukan sehari-harinya. Tidak berusaha menanam atau dibekal hanya sekedar memberikannya kepada kupu-kupu lain yang sedang kesusahan. Pengaduanku kali ini tidak lebih dari harapan ‘kaya’ yang berarti berjejalnya semua bentuk kesuksesan. Semangati diri.

(Angga Aditiya jurnalistik semester VII, sekarang aktif dibidang perfilman )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: