Click Here to Back

Idealis Jurnalistik Mati Suri

In Opini on December 30, 2007 at 2:17 pm

Oleh : Jetro Limbong

Bahwa saat ini pertumbuhan pasar yang semakin bersaing membuat institusi media menjadi ekspansi bisnis para pengusaha, sehingga banyak keputusan-keputusan yang diambil berdasarkan keuntungan komersil belaka. Semua media berlomba-lomba membuat tayangan yang kreatif dan menarik perhatian para konsumen, sehingga merebut hati pemirsa.

Hal ini di manfaatkan oleh para media untuk menayangkan iklan-iklan agar dapat di pertontonkan ke para pemirsa. Tentu saja hal tersebut merupakan pemasukan yang terbesar bagi institusi media, bahkan tidak bisa dipungkiri lagi bahwa pemasukan keuangan media adalah iklan. Tetapi yang terjadi adalah bahwa pemasang iklan dapat memutuskan apakah suatu program dapat ditayangkan atau tidak, sehingga kekuasan menjadi di tangan pemasang iklan.

Sebuah idealisme jurnalistik terkadang memang dikalahkan oleh sebuah kekuasan keuangan. Manajemen media sudah mulai di rasuki oleh teori-teori marketing yang penuh strategi untuk meraup keuntungan komersil. Sehingga keputusan-keputusan manajemen media hanya berdasarkan sebuah keuangan semata, dan meletakkan idealisme jurnalistik ke urutan paling bawah. Hal ini menyebabkan adanya dilema antara nilai etis antara tanggung jawab sosial dan tekanan ekonomi yang ada demi kelangsungan institusi media itu sendiri.

Tekanan ekonomi memang sudah menjadi alasan utama untuk semua orang bebas melakukan sesuatu. Tidak terlepas dari sebuah institusi media, yang pada awalnya menyampaikan informasi yang benar dan akurat tanpa ada pengaruh atau tekanan oleh sesuatu apapun. Tetapi saat ini media dijadikan sebuah sarana untuk para pengusaha-pengusaha memperluas jangkauan pasarnya. Seperti contoh, membentuk opini publik tentang produk mereka, mengangkat citra sebuah perusahaan, menghadirkan sebuah kasus untuk menjatuhkan para pesaing dan semua ini hanya berdasarkan tekanan ekonomi semata. Alhasil semua tayangan media dijadikan pasar yang memperlihatkan semua produk dari pemasang iklan dan para sponsor-sponsor acara, yang membuat pemirsa menjadi konsumtif.

Lain lagi dengan tayangan-tayangan yang memperoleh rating tertinggi adalah tayangan yang bisa mengakibatkan munculnya perilaku anti sosial, dan itu jelas bertentangan dengan nilai-nilai etis yang berlaku. Saat dilema antara rasa tanggung jawab sosial itu muncul dengan tekanan ekonomi baik itu bagi kepentingan pribadi ataupun perusahaan, maka nilai-nilai etis akan luntur sendirinya dengan kekuasan sebuah tekanan ekonomi.

Latar belakang pertumbuhan pasar yang semakin hari semakin bersaing telah menjadikan kekayaan materil dan keuntungan komersil sebagai tujuan dasar dari sebuah perusahaan. Pendekatan ekonomi menjadikan perusahaan semakin agresif dan tidak mengenal waktu istirahat untuk berkompetisi memperluas jaringan usahanya. Pada jaman saat ini tidak usah diragukan lagi bahwa ekonomi merupakan motivator yang sangat kuat dan menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan. Konflik-konflik inilah yang menimbulkan dilema antara pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai etis yang berlaku dan tekanan ekonomi demi keberlangsungan perusahaan.

Seorang idealis yang berprinsip kepentingan moral adalah suatu yang penting dapat ditaklukan semata-mata karena alasan ekonomi dan menolak semua prinsipnya mengenai tanggung jawab sosial. Tetapi banyak pula perusahaan yang keuangannya sudah solid, mengalokasikan keuntungannya atas nama tanggung jawab sosial dengan menyumbangkan dana kepada karyawan ataupun masyarakat.

Sebuah pertanyaan muncul dikala pertimbangan ekonomi untuk mencari keuntungan komersil menjadi keputusan yang sangat mendasar dibandingkan pertimbangan moral dan tanggung jawab sosial. Dan hal di atas akan menjadi phobia bagi generasi Jurnalis tatkala akan memberikan kontribusinya kepada masyarakat mengenai sebuah realitas. Mengapa hal ini harus segera “dibangunkan?” Dari ketertindasan para kapitalis media yang saat ini memanfaatkan sebuah peluang bisnis berdasarkan kepada hipotesis “Yang menguasai teknologi akan menguasai informasi, yang menguasai informasi akan menguasai ekonomi dan yang menguasai ekonomi akan menguasai dunia” Barangkali hal ini adalah sebuah kesedihan bagi jurnalis-jurnalis idealis tatkala informasi yang didapat penuh keringat dan pertaruhan nyawa terkatung oleh pemillik media yang hanya mementingkan sebuah acara yang menyedot iklan lebih mahal.

Dan yang lebih sedih lagi, pihak redaksional pun “mati kutu” oleh intervensi ekonomi disaat idealis jurnalistiknya tidak menawarkan acara yang dapat membuat “Bengong” pemirsa sehingga acara tersebut mendapatkan AWARD yang menurut kapitalis media adalah kucuran dana segar dari pemasang iklan. Cukuplah kesedihan ini menjadi sebuah ketertawaan dalan realitas keseharian jurnalis tak lagi berkuasa informasi walau kebebasan pers sudah “diakui” khalayak ramai.

Penulis Mahasiswa Jurnalistik angkatan 2004 UIN SGD Bandung

  1. ideslisme memang menjadi tantangan yang berat baik bagi perusahaan media maupun bagi wartawannya, khusus untuk yang terakhir ini (wartawan, red)idealis kadang dikalahkan dengan iming2 materi yang pada dasarnya membuat wartawan jadi mati suri, hal itu dikarenakan kesejahteraan wartawan dianggap nomor sekian oleh perusahaan media,maka tidak heran banyak wartawan kemudian melacurkan diri dengan kepentingan pemilik modal demi terpenuhinya kebutuhan ekonomi, ingat teori mark, ekonomi adalah faktor dominan yang membentuk karakter manusia, jika ekonomi ter[enuhi maka segalanya akan terpenuhi juga, dan sebaliknya. semoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: