Click Here to Back

Dari Sebungkus Roti

In Cerpen on December 17, 2007 at 4:56 pm

Oleh Restu Ashari Putra
Telah kusadari
Bahwa tak kan berarti hadirmu
Tanpa hadirnya dirimu
Seseorang yang slalu setia menemaniku
Baik suka maupun duka
Mungkin tak kan pernah terhitung
Akan kata cinta yang pernah terucap
Hanya untuk dirimu wahai kekasihku
Yang slalu ada untukku
-W-
Aku tahu, sebungkus roti itu tak cukup. Yang kamu butuhkan hanyalah kasih sayangku. Malam itu, aku tahu, ada segurat kesal yang meluber di hatimu. Namun, kamu masih kuat untuk mengendapnya sekian waktu. Tapi malam itu justru aku datang dengan segurat lelah, hanya demi cinta! Cinta itu lalu kubungkus bersama potongan roti. Bersatu padu dengan krim vanilla. Renyah bila kamu menggigitnya. Itu khusus untukmu, kekasihku.
Mungkin tak cukup juga lagunya Vagetoz, kalau “Betapa aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku…” atau juga senandungnya Jikustik, “Barisan puisi ini hanyalah yang aku punya, mungkin akan kau lupakan atau untuk dikenang….”Apapun malam itu, apapun yang kupunya akan ‘ku berikan untukmu. Itu khusus untukmu, kekasihku. Tapi dari roti itu, kamu tahu tidak kekasihku? aku menerobos deras, aku menyambut rintik, kugenggam erat sebungkus roti itu seperti kamu pernah menggenggam erat tanganku. Keras sekali. Masih ingat tidak? Seperti meremuk hingga aku meringis dibuatnya. Tulang tanganku bergemelutuk kamu cengkeram kuat-kuat. Ah, biarlah aku rela kok. Dan malam itu hanya ingin kulihat senyummu bahkan sebalmu sekalipun. Saat itu masih hujan. Basah hujan itu menyatu dengan cucur keringatku. Sampai dua-duanya kering dan entah mana yang masih terasa melekat, air hujan atau keringat.
Kekasihku, aku tidak begitu berharap kamu senang menerima sebungkus roti ini. Asal cinta masih tetap bersemayam. Kugadaikan maluku demi membeli cinta dalam sebungkus roti itu. Toko roti kelas elit yang menjual bukan hanya rasa coklat dan keju. Aku datang mengunjunginya. Sudah terbersit sejak berjam-jam lalu. Bahkan kalau dikasih kesempatan sejak kita jadian dulu. Tapi apalah artinya sebuah roti. Kalau hati tak bisa menyatu sampai kedalamnya.
Setelah sibuk menjelajahi dunia buku di selasar Gramedia. Tujuanku langsung, kamu. Dan kamu ada dalam sebungkus roti itu. O, kalau kamu tahu, bahkan bacaku pun sebelumnya tak bisa tenang karena berkelebat terus bagaimana aku bisa selalu hadir untukmu walau hanya dari sebungkus roti itu. Ya, aku melangkah mantap menuju toko roti. Aku pilih roti yang memang unik dan menarik. Dari roti dengan siraman coffee mocca, roti sandwich pizza, roti isi krim vanilla, roti taburan daging, dan banyak lagi. Tapi satu, saat itu aku bingung bagaimana cara memesannya.
Roti-roti terpajang terbuka dengan satu deret tempat. Pembeli dibiarkan memilih sesukanya. Dari kejauhan sebelum aku menuju tempat itu, aku sempat melihat beberapa orang memilih, mengambil, dan menyimpannya dalam baki kemudian diberikan pada kasir untuk dibayar. Dan aku, aku sampai ke tempat roti, sempat rikuh karena aku lupa bagaimana cara memesannya.
“Mbak, saya mau yang ini” tanyaku bingung
“Maksudnya, saya mau roti yang ini”
“Ya sudah tinggal pilih aja mas” jawab pelayan roti itu
“Ehh, maksud saya caranya gimana Mbak?” aku pelankan suara. Berbisik. Malu.
“Oh itu bakinya dan silahkan pilih sendiri” Sesungging senyum dari pelayan toko itu sedikit memecahkah kikukku dari tadi. Manis. Tapi tidak semanis kamu, kekasihku.
O, kekasihku, kekasihku. Ini pasti gara-gara kamu. Kamu sengaja mempengaruhi pikiranku ‘ kan ? Sampai di toko roti aja aku tak bisa konsen. Untung bukan di perkuliahan.
Tapi aku sungguh menikmatinya kok. Sekalipun bayanganmu menetap tinggal dalam rumah benakku. Dan singgah dalam gubuk hatiku. Ah, betapa aku akan merasa senyum getir dibuatnya. Tidak, tidak! Aku pasti akan selalu putus asa karena tak selalu bisa membahagiakanmu. Bagaimana membuatmu semakin cinta? Sungguh sekali lagi disitulah aku menikmatinya.
Kekasihku, aku sudah keluar membawa bungkusan cinta untukmu. Aku sudah membelinya. Uangku pun seperti masih tersisa banyak. Ingin rasanya kuborong semua. Tapi itu berlebihan. Aku yakin kamu juga tak suka hal itu bukan? Kamu juga akan melarangnya bukan.
Tepatnya sebungkus roti masih ada kamu di bungkusan itu bersatu padu dengan krim vanilla. kamu pasti sebal kubawakan roti ini. Aku tahu itu, karena aku selalu luput dari hari-harimu, benarkah begitu kekasihku? aku hanya menduga-duga.
Pulang dari toko, aku naik angkot, Aku tak punya motor. Kulihat sepasang kekasih berboncengan mesra di payung hujan rintik. Aku iri dibuatnya. Aku menangis tak berlinang. Sebahagia itukah kamu seandainya motor itu aku yang pakai lalu kau kubonceng. Ah, apa harus begitu ya, kalau punya kekasih? Untuk sementara roti ini dulu ya kekasihku.
Mataku meleng sebelum naik angkot. Sial! Segerombolan air menyerangku dari kubangan becek yang digilas angkutan umum Duh, kekasihku maaf, bajuku kotor. Aku tak bisa menyambutmu dengan pakaian bersih. Langsung kusentak, kumaki habis-habisan angkot yang berlari tanpa henti itu setelah memakan korban tanpa tanggung jawab. Ini bukan perkara bajuku tapi kekasihku. Meski ‘ku yakin ia tak ‘ kan marah. Tapi masak sekian kalinya aku tak bisa prima dihadapannya.
Biarlah, tak usah berlama-lama larut dalam kekesalan, penyesalan dan gerutuan. Waktu semakin berlalu, kekasihku pasti sedang kesal menunggu, aku berharap kamu marah kekasihku, kamu memang baik tapi adakalanya marahlah demi kebaikanku. Marahlah kalau itu hal yang terbaik menurutmu. Agar hatimu tidak sekeras batu.
Tunggu aku kekasihku. Aku masih di jalan dengan sebungkus roti krim vanilla khusus pilihanku untukmu.
****
Di angkot ini masing-masing sunyi, semuanya larut dalam sendiri. Seandainya kamu disini kekasihku? Kita pasti bicara dalam bisu. Kita pasti tertawa dalam diam. Serentak kita bicara kita. Bicara aku, Bicara kamu. Bicara dia, Bicara tentangnya. Masa lalunya. Dan kita lagi. Semakin kita, selalu cinta. Aku tahu itu kamu malu dan selalu disimpan di hati.
Dan cuaca tetap saja murung, Aduh, gimana kalau aku telat bertemu kamu. Hari masih menunggu malam yang hanya tinggal hitungan detik lagi Maghrib. Orang-orang bersumpah serapah karena kecipratan air yang tergilas angkot. Mobil menerjang jalan karena didalam sudah penuh. Ah, pkiranku selalu kamu, hatiku selalu kamu. Begitukah aku mencintaimu? Padahal sebungkus roti sudah dalam genggamanku Uh, udara tetap saja sesak padahal diluar angin berhembus kencang pastinya masuk kedalam. Kalau maluku hilang, sungguh aku pasti teriak sejadi-jadinya. Kencang, sekencang-kencangnya. Sekencang hati ini berdegub tak sabar ingin bertemu kamu kekasihku. Atau kalaupun berteriak pasti namamu yang kudengungkan kencang. Sampai kamu yang menunggu kesal di rumah mendengarkan rintihan kesalku, juga disini kenapa waktu berlalu lambat sekali membawaku pergi.
Duh, kekasihku, aku masih harus naik sekali lagi angkutan umum. Aku tak punya mobil. Sesaat setelah turun, aku melihat mobil hand jazz silver menepi di depan rumah makan khas sunda. Hujan masih saja rintik. Dari mobil itu turun dua sejoli. Sepertinya sepasang kekasih lagi. Sang cowok turun duluan menjemput ceweknya dengan membawa payung. Kemudian dia memayunginya mesra, Melangkah bersama. Berdekap bersama. Mesra. Dalam langkah itu mungkinkah cinta? Mereka melangkah menuju rumah makan khas sunda.
Kekasihku, aku iri dibuatnya. Andai yang memayungi itu aku. Dan yang kudekap adalah kamu. Seperti itukah kalau kita punya kekasih. Atau aku bisa mengantarkanmu kemana pun pergi dengan mobil tanpa mesti bersesak nafas dalam angkot. Kemudian menuju rumah makan khas sunda seperti halnya mereka. Atau bahkan sekalian saja sebungkus roti ini kita beli bersama tanpa harus aku kecipratan air di tengah jalan. Aku menangis tak berlinang.
Duh, kekasihku bukan saja hatiku yang perih. Kini perutku pun perih. Ditambah lagi melihat mereka menuju rumah makan. Ah, kamu pasti sudah lama menunggu. Aku harus buru-buru. Tempat hati lebih tinggi dari pada lambung. Maka harus kudahulukan urusan hati meski entah apa yang terjadi nanti pada lambung. Paling cuma mag. Tempat pikiran lebih tinggi dibanding perasaan. Maka aku harus segera menujumu karena pikiranku tak henti kamu dibanding perasaan laparku yang melilit.
Aduh ini lama banget angkot. Betapa jauh jarak ini. Betapa panjang jalan ini. berkelok, berliku, menanjak, menurun, terkadang berhenti, berjalan lagi, tersendat-sendat, macet, jalan lagi. Kendaraan ini hidupku yang selalu begitu tapi tenang kekasihku, aku selalu kamu, sedikitpun waktu, hati ini kamu kekasihku.
Sebentar lagi kekasihku, sebentar lagi. Yap , aku sampai kekasihku. Aku bisa lihat bulan kekasihku. Aku bisa lihat bintang, ia begitu gemerlap, ia begitu kemilau, ia semakin mengilat. Roti dalam bungkusan ini pun kembali membugar kembali tersadar akan seseorang yang bakalan dikunjungi.
Aku melangkah melompati genangan air, menyisiri trotoar becek, menghindari lumpur dangkal, memaki-maki orang, menggerutui tukang, memeluh keringat, entah keringat entah gerimis. Dan kekasihku, aku bisa lihat kamu, aku bisa lihat kamu. Aku bisa lihat kamu. Bahkan tinggal satu kelokan lagi, aku selalu mengharapkan pintumu masih terbuka. Pintumu masih menganga.
Oya, masih sempatkah kutuliskan sebait puisi. Sebelum benar-benar madrasah cinta itu sudah digusur. Dibeli dengan sebait puisi. Sepertinya sempat, Sabar ya, kekasihku, sabar. Aku robek dulu secarik kertas, aku ambil dulu sebatang pena, sebungkus roti ini akan terasa lebih manis semanis krim vanilla dan wajahmu yang akan kucoreti bait puisi. Tak melulu cinta. Tidak. Aku tidak akan menulis puisi cinta. Aku ingin menulis puisi yang lain, puisi yang lain untukmu, kekasihku.
“marahi aku, kekasihku, dalam puisi yang lain. sudah saja. cukup saja”
Aku berlari. Hujan menderas. Roti itu kudekap. Seperti pernah kau mendekap aku. Erat. Semakin deras. Semakin erat. Kata cinta itu semakin deras. Maka semakin erat. Aku juga balas dekap erat. Bukan persandingan cumbu tapi cinta itu selalu begitu.
Tinggal beberapa langkah lagi, kekasihku, aku kuyup. Sebungkus roti ini masih di dadaku, pintumu masih mengintip dan kau pun mengintip.
“Sayangku, ini aku, kekasihmu”
“Kau? masuk cepat! cepat masuk!”
Ah, aku mendengar suara itu, aku melihat mata itu, aku merasakan tangan itu, Aku begitu kuyup. Deras itu tak menghujaniku, deras itu menamparku dengan dingin, dengan gigil tapi tetap kamu tak bisa hanyut dari pikiranku tetap kamu tak bisa luntur dari hatiku. Tenang kekasihku, cintamu tak kan kedinginan dalam dekapanku dalam sebungkus roti genggamanku bersama krim vanilla.
“Kok kamu hujan-hujanan sih…sayang? Kalau kamu sakit aku juga ikut sakit tau…” ucap kekasihku lalu memberiku handuk, ia menatapku hangat kemudian ia lari ke belakang lalu membawakanku teh manis hangat.
“O ya, aku cuma bawa ini….” malu aku mengeluarkan sebungkus roti itu dari dekapanku tapi bukannya aku tak mau, aku masih ingin mendekapnya lebih lama karena didalamnya ada cinta meski plastiknya basah tapi cinta itu tetap utuh dan kukuh.
“Duh, apa itu sayang? kamu repot-repot segala” ia mengambil bungkusan itu dengan cinta setelah kusodorkan dengan cinta pula “Ini roti ya?” tebaknya setalah membaca merk bungkus kardus yang membungkus isi didalamnya. “Aku buka ya?”
“Ya, buka saja kekasihku, justru itu yang sejak lama ku harapkan semoga kamu menyukainya”
Ia membuka, aku masih terdiam menggigil.
“Lho sayang, rotinya mana? kok cuma cinta?”
“Hah, Cinta?”
Malam itu gerimis makin menggarang semakin menjadi semakin menderas. Aku didera kebingungan karena tak bisa pulang karena rotinya hilang. Tapi yang jelas senyum kekasihku tak kan pernah hilang, sejak malam itu sampai malam nanti.

Penulis Restu Ashari Putra
Mahasiswa Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Pernah aktif di beberapa Lembaga Pers komunitas LENTERA ISID dan redaktur majalah ITQAN Gontor.

  1. lumayan juga tuh cerpennya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: