Click Here to Back

Bila Wartawan Dituding Copet

In Artikel on November 24, 2007 at 6:48 pm

(Dari surat kabar Harian Galamedia )–SIAL bener nasib saya tadi malam. Kalau saja tak mengeluarkan kartu pers, mungkin muka saya babak belur dihajar puluhan massa. Atau malu berurusan dengan pihak berwajib. Gara-garanya, saya yang kebetulan menumpang bus Kotrima jurusan Cicalengka-Cililin, pada Sabtu, 17 November 2007 sekira pukul 18.30 WIB di kawasan Metro Margahayu Raya, Jln Soekarno-Hatta Bandung, disangka copet.

Ketika bus melaju dari arah Cibiru, saya yang kebetulan duduk di jok barisan paling belakang asyik mengirim sms pada teman saya. Di samping kanan saya duduk empat pemuda yang baik dari arah pom bensin belahan pintu masuk jalan Perumahan Bumi Panyileukan.

Di kawasan Metro, bus berhenti dan menurunkan seorang penumpang. Si penumpang itu lantas menjerit karena uang di saku sebesar Rp 200.000 raib dijarah kawanan copet. Kebetulan di pinggir jalan itu banyak tukang ojek dan puluhan pemuda sedang nongkrong. Bus dijaga ketat massa.

“Mana copetnya? Mana copetnya? Ayo tunjukkan!” begitu teriak banyak orang di pinggir jalan menyuruh menunjukkan sang copet yang dimaksud yang masih duduk di dalam bus.

Si korban yang bernama Sudin (37) lantas menunjuk batang hidung para pencopet itu. Aneh, kok saya ditunjuk kawanan copet. Karena duduk bersamaan di bagian belakang jok bersama si kawanan copet itu.

Sial, saya yang lagi tenang-tenang duduk disuruh turun dan langsung kaus saya dipegang erat-erat oleh dua tukang ojek sambil mengancam, “Kembalikan uang korban. Kamu tua-tua jadi copet!” begitu ancamannya.

Saya tenang dan sama sama sekali tak gentar menghadapi ancaman itu. Pertimbangannya kalau saja bereaksi, siapa tahu massa akan menyerbu saya yang dipaksa mengaku nyopet uang. Saya melihat dua copet itu sedang dihajar massa. Saya yang sedang dijaga ketat massa lantas mengambil kamera dan mengabadikan kejadian pemukulan copet oleh massa.

“Kamu pura-pura jadi wartawan saja. Jepretin teman kamu sendiri. Maling mah maling we, siah!” bentak kedua tukang ojek yang sejak tadi tak mau melepas tangannya memegang erat kaus saya.

Massa ribut karena sebagian mengejar maling yang kabur menyeberang marka jalan. Lalu lintas nyaris macet karena terganggu massa yang sedang mengejar maling ke seberang jalan. Tak lama datang dua pemuda yang akan menghajar muka saya. Untung si dua tukang ojek tadi menangkis pukulan si pemuda tadi.

“Stop Stop! Jangan main pukul dulu! Kayaknya si Bapak ini bukan copet. Usianya juga sudah agak tua. Sedangkan kawanan copet muda-muda dan mereka berlarian,” kata si tukang ojek itu.

“Diam itu pura-pura. Siapa copet yang mau ngaku. Kalau sudah tua namanya juga gembongnya copet!” si dua pemuda membalas omongan tukang ojek itu.

Saya terus diam seribu basa. Sebagian penumpang yang masih duduk di dalam bus menyorot pandangan ke arah wajah saya. Entah apa yang mereka maksud. Mungkin banyak di antaranya yang menjadi saksi bahwa bahwa saya bukan copet. Karena saya naik bus Kotrima dari Cibiru bersama penumpang lain. Sementara si empat pemuda yang berlarian, dua di antaranya sempat babak belur dihajar massa, secara bersamaan naik dari pintu masuk Perum Panyileukan.

Selang beberapa menit massa yang gagal mengejar kedua pencopet yang kabur menyeberang jalan lantas kembali ke tempat semula. Mereka lantas berencana rame-rame mau menghajar saya yang sedang dijaga oleh empat orang. Ketika beberapa kepalan tangan sedang diacungkan, saya baru bereaksi.

“Saya ini wartawan! Bila tak percaya nih lihat dan baca kartu pers saya! Masa saya copet. Justru saya adalah orang yang setiap hari sukangeberitain copet!” kata saya dengan nada keras. Lalu saya mengambil dompet dan mengeluarkan kartu biru yang saya perlihatkan kepada banyak orang.

“Betul! Betul! Si Bapak ini wartawan!” kata dua orang yang memberanikan diri melihat dan membaca isi kartu pers dan mencocokkan foto di kartu dengan wajah saya.

“Duh Pak kami minta maaf! Mengapa atuh dari tadi Bapak diam saja! Kalau bilang Bapak wartawan tadi juga kami lepaskan!” kata si tukang ojek.

“Saya diam karena otak saya sedang mencatat peristiwa aksi pencopetan untuk bahan berita besok. Sayang foto jepretan peristiwa tadi hasilnya kurang baik karena diganggu kalian!” papar saya kepada si tukang ojek.

Setelah bersalaman, bus yang dijaga massa itu dipersilakan melaju. Saya pun duduk dan melanjutkan perjalanan menuju Kantor Redaksi Galamedia, Jln. Sekelimus. Di perjalanan saya sempat tersinggung karena ada dua gadis penumpang secara tiba-tiba pindah tempat duduk. Mungkin mereka takut barangkali saya ini copet beneran.

Peristiwa yang membuat sial saya itu langsung dilaporkan ke teman saya di redaksi. Tak lama teman menelepon balik. Mendengar pembicaraan saya, baru semua penumpang percaya bahwa saya bukan copet melainkan wartawan yang terkena sasaran tudingan korban pencopetan. Ada-ada saja.

(h. undang sunaryo)** Dikutip dari surat kabar Harian Galamedia http://klik-galamedia.com/index.php MINGGU, 18 NOVEMBER 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: