Click Here to Back

Kenapa Kuliah di Jurnalistik?

In Opini on November 11, 2007 at 11:06 am

Oleh Redaksi Jurnalpos
Sarjana Hukum bisa menjadi wartawan, lulusan Dokter bisa menjadi wartawan, Guru bisa menjadi wartawan, lulusan Sekolah Dasar (SD) bisa menjadi wartawan, asalkan bisa berwawasan luas seperti apa yang dikatakan AA Kunto. (baca buku cara gampang menjadi wartawan) asalkan berwawasan luas dan bisa menulis dengan baik, dan mengetahui kode etik.

Sedangkan lulusan jurnalistik tidak mungkin menjadi seorang Dokter atau menjadi ahli hukum, kalau menjadi Guru sedikit bisa nyambung, entah itu mengajar ektrakulikuler sekolah dalam kajian cara menulis, dan membuat bulletin. Ditambah lagi selama ini tidak ada ditoko buku yang menuliskan “cara gampang menjadi dokter” atau “cara gampang menjadi ahli hukum” hanya profesi wartawan yang saat ini ada buku “cara gampang menjadi wartawan”

Seriing kemajuan zaman “Minat masyarakat akan karier jurnalistik selalu menunjukan angka kenaikan (baca, pengantar buku “karier Jurnalistik” John Tebbel). Apakah Memang jurnalistik sangat menjanjikan, sehingga minat karier jurnalistik meningkat mungkin beranggapan dengan anggapan bahwa jurnalistik dan nantinya akan menjadi wartawan, dan katanya menjadi wartawan itu mengasyikan wartawan bebas bisa kemana-mana, ke-tempat wisata, konser dan mempunyai wawasan yang luas.

Satu yang dituju dan proses adalah yang utamanya, cari apa yang sebenarnya ada dalam benak dan hati kita, apakah cocok dengan ilmu kejurnalistikan atau memang hanya melewati masa perkuliahan saja demi gengsi. Saatnya sekarang mencari, apa sebenarnya yang diminati oleh diri sendiri. Dan bagi para calon mahasiswa yang ingin mengkaji ilmu kejurnalistikan jangan sampai merasa menyesal ditengah jalan. Selamat mencari apa yang belum kalian temukan. Sekali lagi kuliah di jurusan jurnalistik bukan jurusan biasa.

Ada sebuah asumsi dari asisten dosen jurnalistik foto UIN bahwa sarjana lulusan Jurnalistik ketika mencari kerja ke sebuah media itu bukan menawarkan selembar ijazah yang disandang namun, yang pertama, kemampuan (skill) apa yang ditawarkan buat media sedangkan media membutuhkan manusia yang siap dengan kerja keras tanpa kenal lelah.

Jadi apa yang harus ditawarkan pada media, bukanlah sebuah ijazah tapi kemampuan dan otak manusia itu sendiri, dan utama adalah mental, kenapa mental karena ketika menjadi wartawan mental adalah sebagai pondasi karena wartawan berhadapan dengan lapisan dan karakter masyarakat dan cenderung profesi itu sedikit membahayakan. dan ijazah adalah sebagai simbol akademis tentunya kemampuan dan kreatifitas yang ditawarkan.

Ada anggapan menjadi wartawan tidak perlu berlama-lama duduk dibangku kuliah cukup belajar selama tiga bulan maka bisa menjadi wartawan ko, gampang sih. Memang gampang, karena itulah jurnalistik dituntut untuk eksis dan percaya diri dan semangat tanpa mengenal lelah, dimulai dari menulis dan menulis, menulis apa saja yang penting menulis.

Entah bagaimana pandangan orang yang jelas kita sebagai manusia yang menggeluti dunia jurnalistik berusaha terus tanpa mengenal keputus asaan, tentunya setiap ilmu mempunyai kekurangan dan kelebihan setiap bobot masing-masing.

(red.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: