Click Here to Back

Untuk HIMA

In Opini on November 7, 2007 at 10:36 pm

Oleh Angga Aditiya
Dalam Musyawarah Himpunan, ketua jurusan ilmu Komunikasi, kurang lebih beliau mengatakan kewajiban warga jurnalistik memiliki bulletin. Bulletin sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru di himpunan, terlebih dari beberapa angkatan hal itu selalu diperjuangkan. Benar kata Dul Wahab, yang ketika itu saya memandangnya pesimis, seolah melecehkan dengan ucapannya. “jangan sampai bulletin ini menjadi yang perdana dan terakhir”. Apa yang dikatakannya ternyata itu terbukti, setelah edisi pertama cetak, kinerja lantas melesu. Bukan karena anak jurnalistik tidak produktif melahirkan karyanya, akan tetapi, masalah klasik. Dana.

Memang kalau berbicara bulletin, kita tidak hanya bicara masalah karya tulis. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan, agar bulletin itu bisa mewujud. Salah satunya dana. Jika tergantung dari kas himpunan, maka akan berimbas pada pengalokasian kegiatan-kegiatan lainnya yang numpuk dan sarat duit. Lantas bagaimana dengan iklan? Perkara ini hanya minta jawaban pasti pada para pengelola, apa yang bisa kita tawarkan kepada pengiklan? Bulletin kampus yang tersegmented belum begitu mendapat tempat bagi pengiklan. Terlebih jika sasarannya adalah rumah makan atau toko-toko sekitaran kampus. Bulletin masih belum mampu berkata-kata untuk menginformasikan keberadaan mereka, jika bulletin itu sendiri masih beredar di sekitaran kampus juga. Terkecuali jika ada perusahaan yang ingin melakukan manuver produknya ke kampus dimaksud.

Kemampuan untuk menggalang dana, itu sangat penting berbanding lurus dengan wujud bulletin itu sendiri. Minimal kita diingatkan kembali, pers bukan hanya cetak mencetak, tapi lading industri juga. Tidak bisa dipungkiri, dana menjadi nyawa keberadaan bulletin itu. Tapi bukan berarti mengenyampingkan bulletin yang memuat pesan didalamnya. Kalau ingin memulai, pastikan wujud bulletin dengan perhitungan yang matang dan berani berspekulasi. Spekulasi yang membuat pengiklan tertarik dan tidak kapok untuk mengiklankan.

Alih-alih, jurusan memilki website, yang juga tidak bersebrangan dengan esensi dari jurnalistik itu sendiri. Dengan biaya murah sekitar Rp 120.000-an (ga tau sekarang) per tahun, atau gratis, tapi mudah dihack, sebenarnya bisa dimanfaatkan dengan kerja-kerja jurnalistik professional. Dulu saya menganggap, betapa bodohnya surat kabar skala nasional membuat versi online, yang beritanya mudah diakses tanpa membayar.

Sekarang baru tahu, internet yang jadi rivalnya itu, ternyata dimanfaatkan untuk mendulang kekayaan. Internet menjadi ruang untuk menyeru perusahaan-perusahaan agar bisa menempati spacenya secara nyaman dan efektif. Begitulah mereka dengan surat kabarnya bisa tetap eksis disamping tidak kalah berjubelnya juga iklan dalam bentuk paper. Hanya, jika masih dirasa terlalu jauh menempuh cara-cara itu, tinggal berharap, berusaha, dan berdo’alah agar ada orang yang dibukakan hatinya untuk berderma.

Apapun bisa ditempuh, selama halal, hanya saja, jangan sampai jadi corong keinginan mereka. Tapi kondisi nantinya akan memaksa kita untuk terampil mengemas sebuah kondisi yang berdasar pada prinsip saling menguntungkan. Jauhnya, jika sudah menjadi profesi, tidak bisa terelakan, kita yang menjadikan mata pencaharian di tempat ini, akan begitu pintar menempatkan. Ada masanya dia menjadi karyawan dalam industri pers. Layaknya seorang karyawan yang bergantung pada upah dan dibesarkan oleh pemberi upah. Pabrik kali!!!

Disamping pembuatan bulletin, seperti yang diutarakan Pa Ujang, semestinya warga jurnalistik yang terhimpun dalam Himpunan Mahasiswa, memiliki keterampilan menyelesaikan masalah (problem solving), dan tertib masalah lainnya. Pembuatan proposal salah satunya. Tidak sampai disitu, proposal hanyalah benda mati yang diisi tujuan-tujuan si pembuatnya.

Proposal begitu sangat dingin. Apalagi jika tidak ada pendamping pembuat proposal yang menuntunnya.

Saya merasa, proposal memiliki bentuk yang berbeda-beda. Bahkan terlalu cepat menentukan standarisasi proposal yang tepat. Saya merasa proposal yang baik itu baru pada tahap sopan. Kalaupun ada perhatian serius, acuan yang berlaku adalah standarisasi lembaga pemerintah. Lembaga ini masuk jajaran yang diprioritaskan keinginannya, karena lembaga ini begitu sangat tidak pamrih. Mengeluarkan fresh money tanpa perlu panitia menyiapkan embel-embel keinginan promo, seperti perusahaan yang terlibat menyukseskan acara.

Selaras dengan semangat keterampilan menyelesaikan masalah diatas, kiranya perlu ada pembahasan khusus mengenai langkah-langkah pembuatan proposal, berikut dengan segala aktifitas didalamnya. Lebih luasnya, bagaimana mensukseskan acara, agar acara yang hendak dijual pada perusahaan atau lembaga pemerintah, memiliki bobot untuk dijual.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: