Click Here to Back

Eksistensi Jurnalistik UIN di Masa Mendatang

In Opini on October 22, 2007 at 8:38 pm

Oleh Feri Purnama

Sebuah nama jurusan yang baru lahir Ilmu komunikasi Jurnalistik di Institute Agama Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung yang sekarang berubah tepatnya tahun 2005 menjadi Universitas Islam Negeri. Jurusan Jurnalistik dibawah Fakultas Dakwah yang berdiri dari tahun 1993 sesuai dengan keputusan Menteri Agama RI nomor 393 dan nomor 407 tahun 1993 dengan empat jurusan BPI, KPI, MD dan PMI bertujuan untuk menyiapkan lulusan yang ahli dan professional dibidang dakwah Islam. Perkembangan dari tahun ketahun fakultas dakwah dilengkapi dengan jurusan/program Studi ilmu komunikasi berdasarkan kep. Ditjen Binbaga Islam Nomor 114 tahun 1998, rekomendasi Ditjen Dikti Depdiknas nomor 2486 tahun 2001, dan Kep. Ditjen kelembagaan Islam nomor 209 tahun 2001. sampai sekarang ini fakultas dakwah menjadi bertambah dua jurusan, Jurnalistik dan Hubungan Masyarakat (Humas). (buku panduan IAIN SGD 2004/2005).

Selama Jrunalistik UIN berhadapan dengan masalah diluar kampus, Jurusan Jurnalistik memangnya ada di UIN? Pertanyaan itu sering terjadi dimasyarakat non akademis ketika mahasiswa jurnalistik Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung sedang ber-gaul dimasyarakat, termasuk didaeerahnya masing-masing maka, ketika ada pertanyaan seperti itu seringkali mental mahasiswa jurnalistik sedikit jatuh tapi dibalik itu kesempatan seperti inilah yang harus diterangkan karena memang manusia tentang pengetahuannya bersifat heterogen, dari ketidak tahuan seperti itulah mesti dijelaskan maka dengan tegas dijelaskan bahwa Di UIN ada jurusan Jurnalistik dibawah naungan fakultas Dakwah dan Komunikasi yang berdiri dari tahun 1998 dengan visi dan misi menjadi seorang jurnalis yang Islamik.

Tetapi belum lagi permasalah dalam berhubungan di luar kampus, tak dapat dipungkiri juga permasalah dalam kampus pun terjadi. Disekian banyaknya jurusan yang identik mengkaji keislaman di Kampus UIN begitu juga jurusan jurnalistik walau jurusan ini disebut umum tapi karena dibawah Instansi yang berbau Islam maka kajian keilmuan pun juga disangkut pautkan dengan ke-Islaman, mungkin beda dengan perguruan tinggi lainnya khususnya dalam mengkaji jurnalistik Berarti disini ada fenomena yang sangat berarti dan menarik, katakanlah beruntung, karena disini jurusan jurnalistik ada nilai plusnya, setiap semester pasti tidak luput dengan kajian ke-Islaman dari mulai semester satu sudah ditekankan untuk belajar Bahasa Arab, semester dua mengkaji sejarah islam dan seterusnya.

Hal tersebut, jurnalistik UIN patut disebut dengan Ilmu Jurnalistik plus (+), nilai lebih untuk mengenal lebih jauh tentang Jurnalistik yang melandaskan keislaman.

Dari persepsi Mahasiswa jurusan lain menyingkapi jurnalistik sering disinggung beda dengan jurusan lain seperti dalam penampilan. Jurnalistik tidak mencerminkan mahasiswa yang berbau Islam entah dari mana pemikiran tersebut sehingga melahirkan opini seperti itu, seolah-olah mahasiswa jurnalistik menampung semua mahasiswa lain diruang lingkup kampus Islam Negeri SGD Bandung bahwa penampilan yang tidak mencerminkan Mahasiswa Islam adalah Jurnalistik, pemikiran seperti itu tak ubahnya mengundang aspek yang negatif terhadap jurnalistik tapi namanya Manusia boleh berpikir dan menilai seseorang menurut apa yang dilihatnya dan dirasakannya.

Lahir dari pemikiran seperti itu tak perlu dihiraukan yang jelas bagaimana jurnalistik itu bergerak yang positif untuk melebarkan sayap perubahan yang lebih baik, seperti membuat sebuah karya yang bisa membanggakan bagi jurusan jurnalistik dan khususnya kampus UIN, bagaiman kita seharusnya menggebrak dan memeperkenalkan Jurnalistik UIN Bandung dalam lingkup ekternal kalau internal? sudah jelas, gebrakan atau menonjolkan jurnalistik UIN kita manfaatkan media massa khususnya cetak, begitupun dengan media online ini, dengan membuat tulisan-tulisan mengatasnamakan mahasiswa jurnalistik atau mengikuti sebuah iven yang berbau dengan jurnalistik. Insya Allah Jurnalistik UIN Bandung berkibar harum dimasyarakat luas dan perguruan tinggi lainnya.

Mengapa saya mengajukan untuk kemajuan jurnalistik melalui media cetak dengan sebuah karya tulis tidak dengan cara mengadakan karya foto atau film (selama ini dikampus UIN belum pernah mengadakan karya Foto jurnalisme begitupun bedah film) perlu diingatkan bahwa dijurnalistik kita lebih difokuskan dalam penulisan walaupun dimata kuliah kita ada jurnalistik foto, jurnalistik radio, dan jurnalistik Televisi. Mata kuliah yang berbau praktek seperti itu sangat jauh sekali dari fasilitas kampus untuk jurnalistik UIN katakanlah sangat minim, terbukti tidak adanya tempat atau wadah untuk kegiatan penuh dan konsentrasi terhadap fasilitas yang memadai untuk mengkaji keilmuan dalam praktek, idealnya jurnalistik UIN membutuhkan ruang untuk berkarya bukan melakukan kegiatan di tempat makan kafe orang lain yang mengganggu mahasiswa lain yang akan mekan, ironis!

Mahasiswa jurnalistik haus dengan pasilitas yang memadai untuk kegiatan kuliahnya.Pernah suatu hari mahasiswa jurnalistik membutuhkan alat untuk ke-efektipan kuliah komunikasi grafis, dosen saya membutuhkan alat infokus untuk kegiatan mengajar. Kejadian tersebut para mahasiswa harus merental pada orang lain yang mempunyai infokus tentunya dengan membayar sewa yang relatif mahal, padahal fasilitas infokus sudah tersedia di Lab Dakwah tetapi prosesnya cukup rumit. Ada apa dengan Infocus? Ironisnya pernah sesekali terpangpang di papan pengumuman “sewa infokus Hub : ..… “ alhamdulillah sekarang sudah tidak ada pamplet iklan yang ditempel dipapan pengumuman, bukankah itu sudah meledek fasilitas kampus, Sungguh terlalu. Siapa sih yang memasang iklan itu?

Saatnya mahasiswa jurnalistik tak perlu menangisi hal seperti itu dan kecewa atas kurangnya fasilitas yang ada, mungkin di Jurnalistik ini mahasiswa dibentuk untuk menjadi jurnalis dimedia cetak tidak untuk dimedia televisi atau di radio, karena bisa jadi dimedia cetak lebih ditonjolkan dalam keahlian penulisan, keahlian yang lain yang berkaitan dengan jurnalistik tak perlu digali hanya untuk diperkenalkan saja tak ada proses selanjutnya.

Berdiri tegak menjadi seorang jurnalis yang professional tak perlu sesali masalah fasilitas toh, sebenarnya tanpa di minta pun “orang yang lebih pintar” lebih tahu.

Untuk permasalahan internal tak perlu diperpanjang lagi karena seperti yang telah diterangkan orang pintar pasti akan lebih tahu kebutuhan mahasiswa jurnalistik, untuk sekarang ini mari kita bangun kampus kita UIN Bandung dengan memperkenalkan Jurnalistik UIN eksis di media cetak dengan membuat tulisan dan hidupkanlah website jurnalistik UIN hanya itulah harta kita satu-satunya untuk mengekspresikan jiwa kita dan terus berkarya. Dan web jurnalistik UIN ini adalah cermin bagi kampus kita buruk jeleknya semua ada disini, semogha Jurnalistik UIN dikenal secara luas dalam hal positif, dan berani bersaing dengan jurusan jurnalistik di perguruan tinggi yang sudah lama berdiri. Amin.

  1. Sy tertarik dengan dunia jurnalistik, dan sy pun sedang mencari-cari univ. di bidang tersebut.
    Sukses u/ UIN.

  2. Cingcirifit jurnalistik kacapit, kacapit ku loyalitas nu kurang ti para punggawa jurnal (Presma dan anggota,red), pergerakan yang kurang dari pengurus menjadikan tongkat estafet perjuangan terdahulu kurang gereget. Terbukti, program yang dicanangkan kurang berpihak pada kepentingan intelejensi mahasiswa JURNALISTIK.

    Kendati demikian kami selaku mahasiswa yang peduli terhadap kemajuan HIMA JURNALISTIK UIN, merasa pesimis akan kemajuan SDM (Sumber Daya Mahasiswa) JURNAL UIN.

    Jurnalistik UIN harus SIKEUP! terutama presma na. tong berat ku buuk. ari program memble, ari Bea Siswa Diparebutkeun. MIKIR ATUH JANG. INI BANDUNG

  3. Sebagai seseorang yang diperlukan namun tak pernah dianggap.

    saya hanya ingin mengungkapkan unek-unek saya.

    dema fakultas dakwah dan komunikasi kita ini kan dari jurusan jurnalistik. yakni saudara Oki S.

    namun kok kayaknya, dengan dema jurusan yang dipimpin oleh orang jurnalistik ini TIDAK MEMBERIKAN EFEK APA-PA YAH TERHADAP PERKEMBANGAN DAN KEMAJUAN HIMA JURNALISRIK”

    TRUZ, KOK HIMA JURNALISTIKNYA DIEM AJA,
    NGAK NUNTUT APA-APA TERHADAP KINERJA DEMA.
    YANG SAYA RASA TIDAK ADA KONSTRIBUSINYA KEPADA JURUSAN JURNALISTIK TERCINTA INI.

    KATANYA DEMA ITU DIPILIH UNTUK MEWAKILI ASPIRASI ANAK-ANAK JURNAL.

    tANYA KENAPA ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: