Click Here to Back

Media massa, Anak Muda, dan Revolusi Budaya

In Artikel on October 16, 2007 at 3:06 pm

Oleh Adi Ginanjar
”Astaga, apa yang telah terjadi, oh.. astaga,,entah kemana semua ini.. Bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli, mudah putus asa dan kehilangan arah”. (James F. Sundah)

Sebaris lirik yang saya kutip dari sebuah karya lagu sekitar tahun 1980-an. Adalah sebuah refleksi yang sangat dalam, tentang sebuah kekecewaan seorang James F. Sundah terhadap dekadensi moral yang hinggap di tubuh sebagian kaum muda dewasa ini. Kaum muda yang sering orang tua bilang sebagai generasi penerus bangsa, lalu sebagian lagi bilang subjek/pelaku perubahan, bahkan Roma Irama dalam lagunya Menyebut kaum muda sebagai remaja yang selalu merasa gagah, tak pernah mau mengalah. Dan saya lebih suka menyebutnya ”generasi Penggugat Kemapanan”.

Terlepas dari definisi dan harapan yang diberikan dan digantungkan kepada generasi yang satu ini, ada sebuah catatan serius yang harus diperhatikan. Yaitu telah terjadi sebuah kegoncangan peradaban terhadap kultur the youth man dalam kehidupan yang kita temui. Anak muda seakan kini kehilangan libido perjuangan, seperti orang yang sangat kehilangan gairah bila menemukan masalah-masalah yang ada di hadapannya. Sehingga mereka seakan kesulitan menemukan dimana jati dirinya. Dan salah satu penyebab yang berjasa memproduksi situasi ini adalah media massa.

Kemunculan media massa di kehidupan kita telah memberi kontribusi besar terhadap setiap perubahan sosial yang terjadi. Tentu, kita sudah banyak merasakan efek positif dari media massa bagi kehidupan, dan hal itu tidak akan saya bahas disini. Saya lebih tertarik mengungkapkan keresahan saya tentang media massa. Seperti yang telah dikatakan Mc Luhan bahwa ”media massa adalah perpanjangan dari alat indera manusia”, sehingga manusia bisa melihat kondisi dan situasi di luar sana, bahkan sampai jarak yang jauh tanpa harus meninggalkan rumah. Walaupun yang mereka tahu, tidak menyentuh aspek yang fundamental.

Mengingat media massa hanya menyajikan second hand reality (realitas tagan kedua). Dan hal ini yang menurut penulis yang bisa menyebabkan banyak anak dalam berproses menuju mudanya menjadi anti sosial, dan sudah terbiasa hidup individualis. Sudah merasa tidak terlalu penting dalam mengenali sesuatu dan realitas, harus keluar rumah dan membiarkan kulitnya terbakar matahari. Apalagi sudah merasa cukup hanya mempunyai teman Video Games model terbaru.
Beranjak besar anak mulai sekolah dan mulai mengenal banyak teman dan lingkungan sosial, sampai beranjak remaja mereka sudah mulai ingin mengenal dunia luar secara lebih bernas, sehingga mereka pun mulai banyak menghabiskan waktu di luar, ketimbang di rumah. Dari situ mereka mulai sedikit-sedikit mengenal arti kawan, kolektifitas, solidaritas, sampai bahkan gaya hidup, sex, cinta, premanisme, kekerasan, alkohol dsb. Disitulah terjadi benturan kebiasaan yang amat dahsyat yang sering dialami oleh remaja. sayangnya, disaat masa-masa seperti itu, di saat mereka membutuhkan banyak pesan-pesan kehidupan, sebagai pedoman pencarian jati dirinya. mereka menemukan sebuah varian pilihan yang membingungkan. Yaitu antara norma-norma agama, etika, dan moral yang kaku, konservatif, dan juga represif atau gaya hidup trendy, bebas, hedonis, racikan ala kapitalisme global. Dan kondisi itulah yang terkandung di tubuh media massa kita saat ini. Yaitu kebudayaan yang serba ambigu bagi remaja.

Sehingga sudah bisa dipastikan, banyak anak muda yang terlarut dan terlanjur penasaran menikmati gaya hidup bebas, instan, konsumtif, gemerlapan dan juga penuh warna. Mereka berontak terhadap sistem nilai yang telah ada dan mapan. Namun sayang, dalam jalur yang keliru. Bukannya memperbaharui sistem nilai tersebut, melainkan tercebur bebas ke kolam lumpur yang semakin menenggelamkannya dalam kejemuan dan semakin menjauh dari jati dirinya yang sebenarnya. Mereka menjadi orang-orang yang tak berkarakter, ketika kognisi mereka tiap harinya disusui oleh media massa dengan segala bentuk entertain dan menjamurnya iklan produk. Maka yang ada dalam benak mereka, hanyalah obsesi menjadi seorang idola/artis sejati, sambil terus konsumtif keranjingan membeli produk-produk bermerk untuk penunjang pergaulan. Mereka sungguh sudah kehilangan nalar kritis dan identitasnya.

Bila kaum muda sudah terjangkiti penyakit-penyakit seperti itu, bagaimana mungkin mereka bisa menjawab problem-problem sosial yang hinggap di tubuh bangsanya sendiri? Untuk mengatasi masalah pribadinya pun sudah keteteran. Bukan bermaksud bersikap sinis terhadap kaum muda hari ini. Dikarenakan penulis pun merasakan problem yang sama, juga pernah tenggelam di dunia yang menjemukan tersebut. Sehingga diperlukan sebuah pemikiran baru guna meng-counter terhadap kebudayaan dominan ini.

Dan itu semua bisa dimulai dengan membuat sebuah media massa kecil-kecilan yang berbasis komunitas, sebagai wahana menyampaikan gagasan-gagasan baru dan bertukar pikiran. Dan memulai gerakan-gerakan pembaruan tentang kebudayaan, sama seperti yang dilakukan banyak kaum muda di Eropa dan Amerika Serikat periode 1960-an. Semua itu bisa dimulai dari scope terkecil yaitu komunitas nongkrong. Mulai membiasakan budaya membaca, berdiskusi, dan membuat even-even kreatif. Sampai mensosialisasikan budaya bermedia, belajar berwirausaha secara kolektif, dan cara-cara lain yang bisa mengubah kebudayaan nongkrong tidak produktif menjadi nongkrong yang produktif. Sehingga terciptanya kultur baru yang lebih segar dan kreatif tanpa harus jadi budak trend kebudayaan orang lain dan bersikap super konsumtif.

Penulis adalah mahasiswa jurusan jurnalistik semester lima, sekarang aktif di HMI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: