Click Here to Back

TVRI Versus Almi

In Cerpen on October 6, 2007 at 7:01 pm

Oleh Angga Aditiya
Ditanya tempat dimana aku beralamat. Dengan bangganya, aku sampaikan, letaknya tidak berjauhan dengan TVRI Bandung. Harapanku, , setidaknya mereka yang bertanya mengira, komplek yang tepat di depan wajah gedung TVRI, langganan dari bidikan kamera dan terkenal. Mungkin indikasi kuat itu, aku dapatkan dari kepenasaran mereka, ketika mereka tertarik beradu cerita mengenai kegiatan TVRI ketimbang aktifitasku.

Di usiaku yang mulai remaja, TVRI yang biasa aku lewati setiap hari, tak pernah aku coba-coba masuki hanya sekedar melihat perut gedung, tempat para artis berlenggak lenggok dengan suara bagus. Setahuku, kendati aku sering melihat mata acara berita, tepat jam sembilan malam atau wayang golek sebagai acara favorit bapakku, namun tidak aku lihat acara itu membekas sebagai mata acara unggulan TVRI. Aku hanya memaksa, TVRI adalah gudangnya penyanyi, sebagaimana yang ditampilkan TV swasta. Itulah yang aku banggakan tadi. Seseorang tak perlu susah payah berekspansi ke Jakarta untuk jadi penyanyi yang tanda tangannya jadi buruan para fans.

Keberuntungan selanjutnya, komplek yang aku huni berdampingan dengan TVRI, banyak diantara para karyawannya memilih komplek dimana aku dibesarkan. Pikirku sangat wajar, karena komplek ini berdekatan dengan gedung, dimana mereka bekerja. Ketika usiaku baru enam tahun, aku mengenal tetangga yang bekerja di TVRI. Dia membuka sanggar lukis. Termasuk aku pesertanya. Lama aku mengenalnya, akupun ditawari jadi artis cilik untuk menyanyikan lagu-lagu nasional di TVRI. Tidak aku iyakan tawaran itu, terlebih aku yang belum percaya dengan kemampuanku. Sampai sekarang, di usiaku yang ke dua puluh satu, dia masih juga menabuh drum dalam acara senandung lagu pilihan jam lima sore.

sekarang tidak begitu peduli dengan tawaran itu, walau pa Saud yang melatihku melukis saat itu masih aktif mengiringi artis-artis bernyanyi. Yang kupikirkan saat ini adalah menggunakan lapangan sepak bola yang terhampar di depan gedung TVRI. Lapangan yang menjadi buruan tim-tim membawa panji kompleknya. Bukan untuk mendekati Pak Saud agar kenangan dulu kembali teringat untuk membawaku jadi para idola.
***

Ketika aku bermain bola, aku kenal wajah yang tidak asing muncul di televisi pada saluran TVRI. Itu dia Kang Uyan. Pembawa acara pasosore tembang sunda jam lima sore. Kang Uyan seolah menyengaja melintas diagonal membelah lapangan, ketika kita sedang seru-serunya berperan jadi David Beckham. Sesekali Kang Uyan nyengir, tanda respon ramah pada pemain yang sedikit terdiam dengan kehadirannya. Senyuman yang tidak lantas membuat aku memburu dan mendekatinya hanya untuk minta dibubuhkan tanda tangan pada kaos bola.

Aku salut padanya. Disamping dia pandai membawakan acara, diapun terampil mengocok perut pemirsa. Gayanya tidak pernah habis untuk melucu. Lawakannyapun segar, tidak meniru pelawak lain. Ia pandai mengkombinasi antara tugasnya sebagai pembawa acara dengan kehadiran dirinya yang harus menghibur. Mungkin fisiknya mendukung dirinya untuk membuat orang sedikit tersenyum.

Namun akhir-akhir ini, aku tidak lagi melihat dirinya membawakan acara. Mungkin aktifitasku yang bertepatan dengan siarannya, akupun belum lagi melihat kepiawaian dia membawakan acara dengan kata “pasosore edas”. Apa mungkin tugasnya tergantikan?. Tapi terakhir aku lihat, perempuan yang menjadi partnernya masih membawakan acara tersebut. Kalau saja anggapanku benar, bahwa umur yang menjadikan dirinya terdepak, buktinya perempuan itu masih siaran, yang usianya tidak jauh beda dengan Kang Uyan.

Terakhir aku bertemu dengannya di bus DAMRI Elang-Jatinangor duduk disamping kanan kepala bus. Tampak lusuh. Muka yang kusut dengan pakaian yang khas. Adat sunda. Kendati jam menunjukkan waktu dirinya siaran, pikirku wajar saja dia masih santai melihat pemandangan yang terhijab kaca jendela bus. Hari itu bertepatan dengan pertandingan sepak bola. Aku tidak tahu persis lawannya siapa, namun siapa yang tidak tahu dengan PERSIB. Tim asal Bandung yang selalu jadi langganan TVRI, ketika bertanding di depan pendukungnya sendiri. Otomatis siaran Pasosore mengalah kepada pertandingan yang banyak disaksikan, tidak hanya oleh warga Bandung, tapi juga oleh warga Jawa Barat itu.
***

Sayangnya kehadiran TV swasta lain, telah melahap mata acara unggulan TVRI itu. Lihat saja ANTV dan Lativi yang memborong pertandingan Liga Indonesia dan piala Copa. Kata Usep, yang biasa membantu kala TVRI menyiarkan langsung pertandingan, ia memaparkan bahwa TVRI kalah uang dengan ANTV dan Lativi. Sesuai dengan kesepakatan, ANTV dan Lativi, yang menjadi media partner liga Indonesia, mereka tidak ingin ada TV lokal yang menyiarkan pertandingan tersebut. Diiyakan langsung oleh PSSI yang sebelumnya sudah melakukan kontrak dengan harga miliyaran rupiah.

Rupanya keberadaan TVRI yang masih bergantung pada subsidi pemerintah, tidak memiliki kepatutan banyak menuntut, seperti yang diutarakan Satpam ketika menemaniku menunggu untuk menemui Bu Dina. Menurutnya, semakin banyak TV swasta, semakin mencekik keberadaan TVRI yang sekarang juga bersaing dengan TV lokal lain. “Bisa dibayangkan, jika TVRI tidak lagi disubsidi, maka ngga akan bertahan lama” ujarnnya enteng. Pikirku, TVRI sudah lepas dari peliharaan pemerintah. Tapi ternyata belum.

Setelah aku ngobrol dengan bapak satpam, lalu aku disuruhnya kedalam menemui Bu Dina yang sudah keluar dari ruangan. Ruangan yang tidak jelas aku menamakannya apa. Tapi aku bisa gambarkan, ruangan tersebut menembus pandangan kita pada tempat produksi acara. Yang jelas, baru saja tempat tersebut digunakan mahasiswa UNPAS yang sedang mengikuti pelatihan.
Ketika dirinya keluar, aku langsung menyambar konsentrasinya menuju tempat peristirahatan. “Bu Dina”. “betul” mukanya sedikit lelah. Aku utarakan maksudku datang kepadanyai. Panjang lebar aku menjelaskan, dia hanya menyuruhku untuk menemui Bu Niken yang berada di samping gedung yang aku masuki sekarang. Keramahan dan ketegasan terpancar pada sosoknya. Pernah aku hanyut dalam obrolan kecil, lalu entah dari mana awalnya, aku mendapat sedikit profil tentang Bu Dina. Dia adalah anak perempuan satu-satunya. Perawakannya nyaris menyerupai pria. Tomboy. Dia lulusan salah satu universitas di Jawa Timur. Dia sedang menjalankan S2. cukup itu yang aku tahu. Yang lainnya tidak begitu penting.

Namun dari bibirnya sendiri ia mengutarakan awal karirnya sebagai sutradara produksi semacam sinetron, kalau dirinya pernah dimarahi oleh seniornya. Hal menarik yang sampai sekarang ini tak pernah ia lupakan adalah ketika dirinya pernah termasuk pada barisan panjang orang-orang yang mengikuti tes penerimaan jadi karyawan TVRI. Dari sekian banyak orang yang mengikuti itu, akhirnya dia terpilih.

Jika TVRI konsisten mengadakan tes itu, rasanya pemandangan itu tidak lagi berlaku. Selama tidak lepas pandangan ini pada gedung luas milik TVRI, tidak aku saksikan pemandangan orang yang mengikuti tes bak seorang yang mengikuti perlombaan tarik suara seperti Indonesian Idol. Terakhir aku ketahui, persyaratan untuk jadi karyawan TVRI, haruslah PNS. Ini dibenarkan oleh bu Dina. Setelah mendengar pernyataan itu, aku baru maklumi, jika apa yang dialami oleh Bu Dina tidak terjadi sekarang ini. Pantaslah Bu Dina belum tergantikan posisinya.
***

Innalillahi wainnailaihi rajiuun. Baru saja aku mendengar kabar tetangga, tepat di belakang rumah telah meninggal dunia. Pa Anwar namanya. Ia orang yang lama aku kenal dengan kesibukannya sebagai kameraman. Segera aku bergegas ke masjid, setelah jenazahnya tiba dan diboyong ke Masjid. Suasana sendu mendayu. Perwakilan dari TVRI tempat dirinya bekerja, mengutarakan duka kepada keluarganya, yang dilanjutkan dengan kesan selama almarhum bekerja di TVRI. Mendengar cerita itu aku sedikit berkaca-kaca meneropong dibalik kaca yang dibingkai jendela alumunium.

Aku dengar kabar dari tetangganya, beliau adalah seorang pekerja keras. Seperti yang diamati tetangga depan rumahnya. Sebentar saja tetangga itu yang juga karyawan TVRI menyapa, Hampir saja matanya tak dapatkan sosok yang tinggi besar berlabuh lama di pandangannya. Baru saja sapaan mengawali, ia mesti akhiri dengan kepergian untuk tugasnya. Bisa jadi menurunnya kesehatan dia disebabkan karena padatnya akatifitas itu. Serpihan kabar bahwa pa Anwar sakit jantung, yang sebenarnya tak aku terlalu pedulikan. Dengan tiga anak yang dua diantaranya menggenapkan dirinya setara lulusan sarjana, jelaslah umurnya sudah tidak lagi bertenaga. Di usianya pula sudah rentan diserang penyakit orang dewasa. Namun sebelum meninggal, siangnya, dia masih bisa melakukan aktifitas seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya.

Aku masih belum percaya kalau dirinya meninggal. Namun tidak lama lagi aku akan mengawal kepergian jenazahnya. Nyata. Tepat jam sepluh pagi, tetangga dan teman kantornya sudah berkumpul di rumah yang sebentar lagi tidak akan ada seseorang yang memanaskan mobil dengan rajin untuk pergi dalam semangat menafkahi keluarganya. Rombongan sudah menyemut menghantar kepergian jenazah. Tampak kameraman yang usianya lebih tua dari pa Anwar mengabadikan kepergian jenazah. Mata kamera tidak lepas membidik ambulance.

Suasana mendayu. Semai dan sayup. Terik matahari mampu diserap air mata yang deras menghalau cubitan matahari di pipi. Ibu Anwar tak kuasa menahan kepergian suami tercintanya. Rasanya hanya istri pa Anwar yang merasakan kehilangan suaminya. Sementara anaknya terlihat sedih yang datar. Bunga-bunga ditabur silih berganti oleh anggota keluarganya. Taburan yang ikut mengubur umur kenangan manis.

Dari awal sampai aku melihat penguburannya, tak pernah aku lihat sosok yang sebenarnya teman sekantor almarhum. Jarak yang tidak begitu jauh dari rumah pa Anwar membuatku penasaran dirinya absen. Dia adalah pa Fahjiar, yang mempunyai profesi yang sama dengan almarhum, yaitu kameramen juga. Jalannya yang khas, membuat aku tidak pernah lupa dengan sosoknya. Jalannya sedikit gemulai, berperawakan tinggi besar yang tepat dikatakan gemuk, dan rambut putih melumuri selipan rambut hitam. Kalaupun dia tidak ada, aku bisa maklumi tugasnya sebagai kameramen. Apalagi pos yang ditempati pa Anwar tidak terisi lagi. Bisa jadi dia kerja borongan.
***

Tidak lama lagi aku akan berkunjung ke TVRI untuk memenuhi tugas komunikasi grafisku. Sebelum aku bersama teman-teman memenuhi kunjungan tersebut, terlebih dahulu aku menemui bu Niken. Bu Niken yang bekerja tidak jauh dari gedung yang nanti akan aku lihat kepiawaian crew mengemas acara. Aku datangi Bu Niken dan aku utarakan maksudku. Bu Niken hanya mengatakan, bahwa hal itu bukan wewenangnya. Akupun disuruhnya untuk menghubungi kembali orang yang disebutkannya untuk aku temui.

Dengan nada yang mantap, Bu Niken utarakan prosedur yang mesti aku tempuh. Aku tidak canggung ketika menemui dirinya. Dia layaknya guru bimbingan konseling yang sering aku temui di SMU dulu. Mengenakan kerudung, dan berpakaian rapi, seperti halnya bu guru memberikan pelajaran kepada muridnya. Bertemu dengannya, tidak membekas pada kesan yang istimewa, namun memberikan suasana baru dan pelajaran baru, tidak seperti apa yang aku bayangkan.
Kembali setelah aku utarakan maksudku kepada Bu Niken, aku kembali temui Bu Dina. Barulah, aku tentukan jadwal dengan Bu Dina, aku utarakan bahwa aku berniat mengabadikan dapur produksi TVRI dengan handycam. Ketika itu Bu Dina hanya mengangguk sambil menerawang seolah ada yang membebani di pikirannya. Aku kembali yakinkan tawaran itu.

Bu Dina merevisi anggukannya itu dengan menyuruhku meminta rekomendasi kepada pimpinan yang berwenang memberikan izin.
Disaat itu pula, karena aku ingin momen yang terbilang singkat nantinya bisa benar-benar aku manfaatkan, aku bergegas menemui orang yang kata Bu Dina tadi bisa memberi izin. Aku pamit. Dengan mata lugas, Bu Dina memberi izin kepergianku. Aku tanyakan orang yang Bu Dina maksud. Akhirnya aku temui ruangan yang akan memutuskan izinku nantinya.

Aku sedikit gugup. Kendati aku ditemani teman kampusku, namun, ada suasana lain yang terus meleraiku untuk bertemu dengan bapa yang berwenang tadi. Sedikit pintunya terbuka, seolah ada sedikit celah untuk memberanikaan diri menyusup dengan terlebih dahulu aku mengintip aktifitas didalam. Aku tidak ingin aktifitasnya teganggu karena aku mematahkan konsentrasinya dalam bekerja.

Maksudku, niat mendapatkan izin bisa saja terpatahkan, hanya karena kehadiranku tidak berkenan. Ketika mata memandang memasuki ruangan dengan nakalnya, aku dapati bapak-bapak mengenakan jaket kulit sedang bercerita dengan seseorang yang tidak dapat aku lihat sosoknya. Akhirnya aku beranikan diri untuk bertanya pada bapak-bapak yang sedang komat-kamit tadi agar aku bisa dipertemukan dengan orang yang akan memberikan izin nantinya. Bapak itu memberi izin masuk dan menunjuk pada orang yang aku tanyakan tadi.

Aku dorong pintu dengan langkah memberat. Aku langsung menuju kepada orang yang aku maksud dari tadi. Siapa sangka, orang yang aku kira manusia yang dapat membuatku mimpi buruk, ternyata berbalik 180 derajat. Aku menemui orang seperti Bu Niken. Hanya saja berbeda dengan Bu Niken, bapak yang satu ini seperti dosen kala aku mengikuti aktifitas belajar mengajar. Namun bapak ini jika di perguruan tinggi sudah pantas menempati posisi rektor. Mukanya sudah digelayuti kulit yang tidak bertenaga kencang. Matanya sudah dihalangi kaca transparan pertanda mata tak seawas diriku.

Aku disambut dengan ramah, kendati memperlihatkan muka yang sedikit datar. Akupun dipersilahkan duduk. Aku mulai dengan kata-kata maksudku dengan gagap. Lama kelamaan aku bisa utarakan maksudku dari awal dengan jelas, berapi-api, dan sopan. Beberapa menit aku bicara dengan harapan yang sedikit lagi aku raih. Setelah aku selesai berbicara, aku menunggu dengan harap-harap cemas menanti jawaban pasti.

“Saya tidak punya wewenang untuk itu, kalaupun mau, bikin aja surat yang ditujukan kepada dirut utama pusat di Jakarta” ujarnya langsung. Pernyataan tadi sudah cukup menghentikan harapanku yang sudah menyembul di ubun-ubun. Akhirnya aku putuskan untuk tidak mengambil gambar pelaksanaan produksi acara. Walau bisa saja aku sertakan surat tersebut, namun kunjungan bersama teman lainnya yang semakin mepet, membuat aku pasrah pada kesimpulan “gimana nanti”.
***

Ketika kita bersama-sama dijelaskan prihal Standard Operational Procedure (SOP) dari kinerja keseluruhan oleh Bu Dina dalam kunjungan tersebut, aku bisa menyebutkan sedikitnya maksud yang dijelaskan oleh Bu Dina. Sedikitnya, aku faham dengan apa yang diutarakan oleh Bu Dina, kendati aku dijejali oleh istilah yang lama aku mendengar, namun tak pernah tahu seperti apa bentuknya. Namun setidaknya, aku bisa sedikit mengetahui hal itu dari pelatihan jurnalistik televisi yang pernah aku ikuti dulu.

Dalam pelatihan itu, aku bertemu dengan Pak Hudaya sebagai editor senior di TVRI. Katanya saja sudah senior. Tepat memang dengan kata senior tadi, jika kita melihat sosoknya yang serba tua. Rambutnya beruban dengan kulit kepala mengkilap ditumbuhi rambut yang carang. Namun satu yang masih bisa diandalkan dari Pa Hudaya adalah suaranya yang ngebas. Jenis suara yang pas untuk dubbing.

Darinyalah aku diajari bagaimana menyampaikan sebuah berita. Sesaat sebelum dia menjelaskan bahasannya, terlebih dahulu handout dibagikan kepada peserta pelatihan. Handout sebanyak tiga halaman memuat contoh naskah berita dengan istilah aktual yang sering ada dalam dunia politik.
Masing-masing dari peserta pelatihan harus bisa membawakan dan merasakan sebagai anchor untuk membacakan berita. Beberapa kali aku gagal melakoninya karena aku harus menghafal susunan teks yang aku dapatkan dari pa Hudaya. Kalaupun aku harus membacanya, aku akan banyak mengerenyitkan kening tanda tidak tahu maksud dari simbol-simbol teks itu. Betapa tidak, aku harus membaca rangkaian huruf yang tidak begitu jelas. Pudar seperti sering turun naik mesin foto copy. Belum lagi ada beberapa huruf yang tebal bersinggungan dengan huruf lain. Seperti ada kebocoran pada tinta bolpoin. Dan yang membuat aku sedikit sulit, naskah hasil ketikan mesin tik tidak sejelas print komputer. Hurufnya bisa memanjakan mata. Nyaman.

Kembali, aku bersama teman-teman diajak memasuki perjalanan suka duka Bu Dina menjadi karyawan TVRI. Dari dibentak-bentak sampai membentak-bentak. Tidak lama setelah itu, kita diajak melihat ruang produksi yang sebentar lagi akan disiarkan secara langsung. Tembang lagu-lagu pilihan. Semua bersiap. Kameramen, host, sutradara, operator, VTR (pindahan objek gambar pada televisi) di lantai dua yang dipandu oleh produser, begitupun kita diperkenankan menempati meja yang ekslusif tersaji aneka warna minuman. Semua bersiap, dan acarapun dimulai.

Kami menikmati acara tersebut. Terlebih dua artis wanita yang membawakan lagu dengan nada-nada yang pas dan terbilang muda, seperti aku ditemani memasuki zamanku yang masih segar dan enerjik. Setelah acara itu selesai, kami pamit pada Bu Dina yang sudah mengenalkan kepada kami sedikit hal tentang produksi sebuah acara.
***

Di kampus, giliran kelompoku yang mempresentasikan hasil kunjungan ke TVRI. Aku ditemani teman kelompokku apa saja yang kami dapatkan hasil kunjungan ke TVRI. Setelah selesai aku mempresentasikan dan faham sedikit mengenai produksi acara, aku berniat mengerjakan hal serupa dengan pengerjaan yang lebih sederhana. Aku tampung teman atau saudara yang mempercayakan jasaku untuk mengerjakan film dokumenter, iklan, hingga wedding Video.
Sampailah kepada banyaknya job yang menuntutku kerja keras untuk menghasilkan karya sempurna yang saling berkejaran dengan deadline. Puncaknya sampai pada ketika apa yang dikerjakan terasa begitu menggunung dengan hentakan deadline yang semakin menjadi dan membayangi, akhirnya aku putuskan untuk mempercayakan jasa orang lain yang jaraknya tidak berjauhan dari rumahku. Aku percayakan kepada orang lain, yang aku nilai sudah mewakili standar studio transfer film.

Ketika aku masuk di studio yang bernama Almi Multimedia, aku disambut dengan jajaran film yang membuatku ingin menyentuh dan melihatnya lebih detail. Diantara banyak jajaran cangkang yang berisi CD, aku melihat cover CD yang memuat salah satu materi acara TVRI. Dan seketika itu pula aku saksikan TV yang menghadapku tidak jauh dari shaf CD yang rapi tadi, tayangan berita TVRI sedang di capture pada komputer, tempat menggandakan video melalui kepingan CD.
Di tempat ini pula, aku bertemu orang-orang yang belum aku lihat sebelumnya. Aku bisa mengenalnya dari nametag yang terpasang menjuntai ke bawah saku kemejanya. Namun tidak aku lihat identitas itupun, aku sudah bisa memastikan dari perawakannya. Tidak jauh dari yang aku temui orang-orang yang sebelumnya aku temui. Karyawan TVRI.

Aku lihat tindak tanduknya. Layaknya seperti mandor, ia tunjuk apa-apa yang masih kurang menurut dirinya. Begitupun yang pernah aku alami disampingku, ketika aku menyelesaikan tugasku dengan memotong-motong stock gambar yang harus aku edit. Aku lihat bapak-bapak yang juga mempunyai perawakan yang tidak jauh dari yang aku ceritakan sebelumya. Tubuhnya ramping, namun jalur jalur tua tampak khas mengalur dengan tegas. Matanya memerah tanda dirinya merasakan lelah yang hebat. Ia hanya pandangi komputer menemani karyawan Almi Multimedia memperliahtkan keterampilannya mengemas film dokumenter untuk profil Palembang. Sesekali si bapak mengutarakan kekurangan yang mesti diperbaikinya.
***

Seperti biasa, aku beradu cerita dengan teman-teman. Dari film, urusan akademik, sampai makanan favorit. Tidak ketinggalan, merekapun mengutarakan kesannya setelah melakukan kunjungan ke TVRI, terutama kelompokku yang tahu persis keadaan disana. Rata-rata hampir semua berdecak kagum dengan alat yang berperundag-undag. Begitu banyak dan rumit. Merekapun antusias ketika memasuki gerbang TVRI yang kemudian berjalan di halaman yang terhampar luas. Mengalahkan TV-TV lokal lain.

Luasnya hamparan dan beragamnya alat yang ada, aku belum merasakan kepuasan saat aku berlabuh di saluran yang aku banggakan sebelumnya. Aku pernah bertanya masalah ketajaman gambar TVRI yang jauh berbeda dengan TV lokal lain, terlebih TV swasta, Bu Dina menyebutnya itu hanya berbeda tipe kamera saja.

Oleh karenanya, ketika banyak yang bertanya prihal gambar dan teknik angel yang sering dikeluhkan banyak temanku, aku sudah bisa menjawabnya, lebih dari sekedar kamera. Senjataku mengawali jawaban dimulakan dengan kata wajar yang nantinya akan beranak pinak menyambung menjawab kepenasaran itu.

Aku yang sering berpapasan gedung yang aku banggakan dulu, sekarang hanya tampak gedung-gedung layaknya tempat berkumpulnya pegawai Negara lainnya, tidak terlalu menyapaku bahagia. Datar dan lurus pandanganku menuju tempat yang biasa aku kerjakan kebanyakan tugasku. Almi Multimedia.
***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: