Click Here to Back

JANGAN PAGI

In Cerpen on October 4, 2007 at 10:09 pm

Oleh Mulyadi
Kabut malam mulai tampak dengan dengan sedikit sorot bulan. Bintang tak hanya diam. Dia juga ikut meramaikan langit yang cerah. Bayang seseorang terlihat dari sudut pagar samping rumahku. Bergoyang. Terdengar pula suara sendal yang menyeret di tanah. Tampak seperti orang yang kebingungan dan sedikit ruet pikirannya.Aku sedikit menundukkan kepala berharap untuk bisa cepat melihat seseorang yang misterius.

“Siapa sih…? Pelit banget dengan wajah, nggak tau apa aku lagi penasaran setengah mati.” Gumamku dalam hati. Tak juga kunjung kelihatan tampangnya. Sedikit demi sedikit aku mulai mendekati sumber bayangan. Tak terlihat dengan jelas ia cowok atau cewek yang ngumpet.

Tapi aku tak ambil pusing. Aku yang kembali dengan memegang gitarku dan memetiknya kembali dengan iringan klasik yang disertai syair-syair pujaan terhadap alam dan kehidupan yang menyelimuti waktuku. Aku sedikit berfikir bahwa besok aku harus berangkat kekota untuk menyelesaikan studi.
*****
Aku bangun saat siang telah memanggilku.
“Ahhhhh….” Aku mulet dan merasa sangat males sekali aku bangun, apalagi ditambah dengan dinginnya pagi yang menggodaku supaya tidak bangun. Aku rabahkan lagi badanku sambil meringkuk diatas kasur yang berpeta-peta itu.
Fikirku sejenak mengingat perkataan Ayahku dulu.

“Kalau malas bangun pagi itu di selimutin sama setan supaya kita tidak bangun dan menjadi budak dia.” Seraya aku langsung tegakkan kepala perlahan dan aku langsung menelungkupkan badan. Langkah kakiku dengan malasnya terasa dari aku menggapai gagang pintu kamarku. Kreeeett…..suara pintu berbunyi. Aku langsung menuju kamar mandi.
“Mendingan aku langsung mandi aja kayaknya, ntar males lagi…” Aku ngomong sendiri di dalam kamar mandi yang sedikit bau pesing. Keluar lagi aku mengambil handuk dikamar. Tak kusadari air di bak mandiku kosong. Aku langsung telanjang seraya ingin mandi cebas-cebus karena takut sekali dengan dingin.

“Wah…Buseeet… air nggak ada lagi!” Berubah langsung fikiranku yang tadinya mau mandi bergati menjadi cuci muka dan gosok gigi saja. Kuraih sikat gigi dan sambil aku menciduk air.

“Untung air abis kalau nggak aku harus mandi. Sedingin ini lagi. Eehehe….” Getarku kedinginan seperti aku menggigil. Aku rasakan air yang ada di dalam mulutku sambil ku goyang-goyang pipiku seperti berkumur. Rasa pasta gigi membuat lidahku menjadi lebih tak terasa dengan pedas mint.

“Beh…beh…” Mulutku membuang busa. Aku masukkan lagi air dalam mulutku dan ku goyang-goyang lagi sampai benar-benar bersih.
*****
Aku berangkat kuliah dengan lemas. Malam tadi aku hanya tidur sekejap memang aku sangat suka sekali dengan malam hari. Temen-temen sudah masuk. Dosen pun telah masuk pagi itu. Kusam wajahku, rambutku juga berantakan dan kering membuat anak-anak di dalam kelas semua terpaku menatapku. Aku sudah sangat tau sifat mereka.

“Pasti kamu-kamu akan bilang kalau aku nggak madi kan…?” Ucapku sebagai pembelaan supaya tidak begitu sakit hati diledek. Tapi temanku yang satu ini hanya senyum sungging seperti meremehkan omongan aku.

“Ngapaiin senyum..?” Tanyaku terang.
“Enggak….. lucu aja..?” Ia seperti benar-benar mengejek-ku dengan halus. Aku semakin penasaran.

“Emang ada yang lucu ya…?” Kali ini aku bertanya sangat serius dengan nada yang menekan. Aku sangat penasaran dengan ucapannya itu. Namun ia hanya senyum sedikit meledek.

“Hai…Apa sih yang lucu…” Benar-benar kupaksa ia menjawab dengan suara yang keras. Dosen bahasa Inggris kali itu langsung menegurku dengan suara yang diselimuti amarah.

“Kamu..ini sudah datang telat. Ribut lagi…” Dengan seriusnya dosen itu memarahiku. Aku sangat malu sekali semua Mahasiswa yang ada di lokalku tertawa sambil menatapku. Aku hanya menundukkan kepala.

“Buseeet…sial banget aku hari ini.” Dalam hatiku teriak.
“Ya…itu yang lucu” Ujar temanku di samping kanan. Aku kesal sekali dengan Febbry, temaku itu.

“Kalau saja tidak ada Dosen didalam mungkin aku berantem dengannya tapi, kalau tidak ada dosen, tidak mungkin aku dimarahin.”Mengerutu sendiri akhirnya aku.
*****

Sore itu aku semakin sepi di kamar Kos Sangat Sederhana Sekali (KSSS). Emang rumah aja yang ada RSSS, kos juga ada. Aku memegang lidi kecil yang sedikit demi sedikit aku patah-patah kecil seperti sangat jenuh dan kosong tiada yang aku fikirkan saat itu.

Datang seorang temanku yang menyapa, dan aku tau pasti dia mengajakku ngumpul di depan.
“Van…. ngapain kamu sendiri aja..? Ngelamun lagi..!.” Aku yang ditanyanya begitu.

“Aku lagi menikmati sore hari yang indah Don…!.” Jawabku dengan sepenuh hati. Doni hanya menggelengkan kepala sambil berkata,
“Aneh…” Ia pun terus berjalan, yang tadinya mau mampir. Jadi ia langsung ke depan nongkrong. Kunikmati sorot matahari sore itu karena ia sudah mulai tenggelam dan sebentar lagi malam menjemput dan pagi yang menjadi momok yang sadis bagiku.

Semakin gelap ternyata hari. Menggiringku terus dalam kesenangan menatap indahnya langit. Menatap sepinya awan yang berlalu. Merenung sambil menghirup udara yang dingin.
Aku terbawa terus dengan lamunan yang sahdu. Tanpa ku ingat bagaimana besok pagi. Untaian puisi aku lantunkan dengan sepenuh hati dan resapan jiwa. Ku pikir tanpa pagi dan terus malam juga itu pasti sangat mengasikkan sekali.

Subuh menjelang dengan sahut-sahutan Ayam melantunkan suara khasnya.
“Kuk-kuruyuk…..” Aku mulai masuk kekamar kos yang sangat misterius dan terasa sejuk seperti dalam gua. Kurabahkan tubuhku dan kupandangi langit-langit kamar kata orang sih dek. Pejam mataku sambil bergumam,
“Ah….Pagi lagi…” Aku merasa sangat takut sekali untuk menatap pagi. Dengan bayangan bahwa pagi itu identik dengan dingin dan malas. Dan itu juga menghantuiku didalam keadaan dingin sekarang ini.
*****

Aku bangun jam delapan pas. Kamarku yang penuh dengan sampah dan abu rokok yang dimana sela terlihat dengan jelasnya. Buku-buku yang berantakan sehabis dibaca kapan saja ku mau. Angkat kakiku seraya membalikkan badan kearah bantal guling yang lusuk karena setiap aku tidur selalu aku peluk dan aku tindih-tindih.

“Waaaaah…Udah siang..” Benakku berkata dengan nada sedikit gembira.
“Telah kulewati juga pagi” Sambil aku berdiri dengan membengkok-bengkokkan badan supaya sedikit lemas.

“Tok….tok…tok….” Suara ketokan pintu yang nyaring di sertai panggilan namaku,
“Van….Van….” Sepertinya itu seorang temanku.
“Ya…ya….siapa…?.” Tanyaku sambil menuju pintu.
“Ini aku…Doni” Sahutnya dari luar dengan sedikit keras. Aku pun membuka kunci rumahku sambil mengucek-ngucek mata sebagai pertanda kalau sebenarnya aku malas sekali melayani tamu pada saat-saat sekarang ini. Dengan nada males aku manyapanya,
“Hai..Don…!” Seraya aku langsung melontarkan tanya berikutnya,
“Ada apa…!” Sebuah pertanyaan basa-basi yang sering dan selalu digunakan oleh setiap orang.
“Kamu nggak kuliah Van..?” sambil membuka sepatu ia bertamnya padaku.
“Kuliah Entar..!” Aku mempersilahkan dia masuk dan aku pun duduk disampingnya. Aku langsung mengambil gelas dan kopi saset yang selalu tersedia di pojok kamar. Tanpa aku cuci muka dan gosok gigi aku nyropot kopi hangat.
“Inilah pengganti gosok gigi dan cuci muka” Pikirku sendiri. Sambil berdiri aku menarik handuk.
“Don,….! aku tinggal dulu ya..? aku mau mandi.” Seraya aku melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Setelah selesai aku pun pergi menuju kampus bersama Doni.
****

Sari adalah wanita yang istimewa bagiku. Aku sangat mencintainya karena dia lah yang bisa mengerti dan bertahan dengan gaya hidup yang ku anut, meski aku tak tahu persis apa ia benar-benar mencintaiku.

Aku pulang kekosan bersama Sari dengan gandengan tangan yang lembut dari Sari yang memulai terlebih dahulu. Kami berjalan beriringan sambil bercanda dan tertawa kecil terkadang.
“Van …kamu bisa nggak bangun pagi …terus kamu jangan ngelamun terus, tida hasilnya lho…?” Nasehat itu terkeluar dari mulutnya dengan nada yang lembut.

“Kamu jangan sok perhatian deh… ma aku?” Ujarku yang sedikit sungging seperti meremehkan alias memojokkannya. Tak habis fikir ia mendengar jawabanku. Ia terkadang kagum sendiri dengan prilaku yang sering aku lakukan. Seperti ia mencintai sosok pria yang tidak jentelmen saat sekarang ini.

“Mengapa ya…aku bisa sayang sama dia padahal dia tidak bisa ku nasehati” Seperti itu lah yang difikirkan Sari kala itu.
Setelah sampai di kosanku, Sari langsung duduk dan melihat kamarku ia hanya geleng-geleng kepala melihat sebegitu berantakannya kamar itu. Beranjak Sari membersihkan dan mengemasnya supaya terlihat rapi dan bersih. Sapu yang ia ranggeh serasa ringan melihat itu kamar sang kekasih. Aku masuk menyusul, tadinya aku mampir dulu ke warung membeli sebungkus rokok.
******

Malam datang menyapaku yang sekarang mulai sendiri. Sebelumnya aku mengusir Sari yang dari pulang kuliah belum pulang ke kosnya.

“Sari… Pulang dulu gi… udah mulai magrib belum mandi lagi.” Alsan itu muncul karena aku sangat senang dengan malam yang sunyi tiada yang mengusik.

Kesendirian telah ia jelang dan sekarang malam semakin gelap dan arlojiku telah menunjukkan pukul sepuluh. Sambil memegang gitar yang terusku dekap setiap malamnya. Gitar itu bukan untuk bernyanyi tetapi untuk mengiringi, lantunan puisi dan syair. Jariku memetikkan irama klasik sembari aku bersyair.

Malam….
Sungguh kau indah sekali
Langitmu…
Bintang mu…yang senantiasa temani aku
Malam…
Jangan kau berpaling dariku
Meski sedetikpun
Aku takkan rela
Malam…
Aku ingin kau terus ada
Tanpa pagi….
Tanpa siang…
Tanpa sore…

Puisi demi puisi terus melantun sampai malam yang sunyi menyelimuti. Alam. Kopi. Rokok yang bagiku itulah kesetiaan yang menyertai kehidupan tanpa mengusik ku. Tengah malampun telah terlewati sampai akhirnya ia merasa lebih terhanyut dengan keasikan berpuisi dan bersyair.

Dengar alamku….
Aku tau kau tak suka padaku
Karna aku takut dengan kehidupan
Aku yang tidak mensyukuri waktu
Aku ingin kau tak berpihak pada yang lain…
Hanya pada ku …
Alam…..

Kokok ayamlah panggilan untuk tidur bagiku. Dan sekarang panggilan itu telah terdengar oleh kupingku yang jeli terhadap kode pagi itu. Perasaan ku selalu berubah saat pagi datang. Suasana yang tadinya begitu indah sekarang semua berganti menjadi kekalutan yang sangat dahsyat. Aku hanya mengobatinya dengan tidur supaya itu tidak selalu terniang di dalam lubuk hatiku.
*****

“Tok…tok…tok…. Van bangun…..!” Suara itu terdengar dari luar pintu. Aku yang berpura-pura tidak dengar itu menutupkan bantal gulingku di telinga.

“Pasti itu Sari…. Aku paham sekali dengan suaranya itu.” Fikirku yang sangat takut untuk bangun pagi. Saat itu sekitar jam setengah enam pagi. Tetapi sepertinya Sari tidak bosan untuk memanggil dan mengetuk pintu, meski tidak dibuka dan tidak di ladeni olehku. Namun lama kelamaan, mungkin sudah lebih dari sepuluh kali ia memanggilku.Akhirnya aku pun bangun dan dengan wajah jengkel sekali. Aku sangat ingin marah . Emosiku menggebu-gebu seperti granat yang mau meledak.

Aku beranjak ke kunci sambil ku ucak-ucek mata yang di hiasi belek.

“Ada apasih…? Pagi-pagi gini..?” Tanyaku dengan nada yang sangat kasar alias nada marah.

“Anterin aku dong…! Mau kerumah temen penting ni…!” Ia memohon dengan melasnya. Jawabku dengan kasar lagi,
“Pergi sendiri ngapain sih…!, Manja banget.” Ia hanya menunduk kesal.
“Siang aja entar..!, dan kamu sekarang sebaiknya pulang atau aku usir…” Emosiku benar-benar tercurah tanpa aku sadari kalau yang aku usir itu adalah kekasihku.
“Kamu kok gitu sih..? Aku kecewa banget ma kamu tau..?” Ujar Sari dengan suara sedihnya. Aku terdiam seakan lebih membeludak.

“Emang apa hubungannya denganku. Kamu mau kesal kek..kamu mau pergi kak…kamu mau apa aja terserah kamu. Yang jelas sekarang pergi atau aku tarik kamu keluar dari pagar ini.” Aku mulai panas.

“Jadi kamu maunya itu..?” Ceplos dari Sari. Aku langsung tumbur pembicaraannya.

“Yang jelas aku sekarang lagi mau tidur. Tidak ada yang berhak menggangguku meskipun itu kamu.” Sambil kubanting pintu kosku. Seraya aku kunci dan aku langsung berbaring melanjutkan penghindaran pagi.

“Tok…tok..tok…Ivan..Van…” Suara itu terus terdengar berratus kali namun tiada ku respon sama sekali, sampai akhirnya ia pergi dan beranjak pulang.

Sebanarnya Sari mempunyai maksud lain. Bukan ingin mengajak kerumah temen dengan sepenting yang ia katakan, melainkan ia hanya ingin membangunkan diriku dan supaya aku bisa bangun pagi dan ia ingin merubah karakterku.

Ponsel ku terus berdering dari menit kemenit sampai akhirnya aku matikan bukan aku angkat dan aku tanpa lihat itu dari siapa dan yang dalam perkiraanku kuat itu adalah dari dia.
Dengan lemahnya Sari berjalan menuju kosnya yang tidak jauh dari kosan ku. Sambil berjalan ia terus berusaha menghubungi dan sampai akhirnya, ponsel ku Mail Book. Ia SMS dengan panjang lebar namun tak ku baca apalagi balas yang jelas aku tertidur lagi. Siang harinya aku bangun dan mengaktivkan ponselku, berpuluh-puluh macam SMS dari Sari. Tak ku balas juga sebab hatiku telah berbaur dengan kekesalan yang masih tersimpan rapi didalam rak hati.
“Tit…tot..tit..tut…” Suara ponselku berdering berulang-ulang kali. Setelah kulihat ternyata dari Sari, aku ranggeh Hp ku dan kupencet non aktive. Aku sudah malas menerima telpon dari dia. Seduhan kopi dan rokok Mild ditanganku mengencerkan otak seketika. Berfikir kembali aku,

“Hp, aku matiin kalau Mama, atau Papa nelpon terus ada apa-apa bagai mana..?” Tanyaku sendiri dalam hati. Setelah itu kuaktivkan lagi ponselku. Langsung berdering lagi ternyata.

“Sari lagi…Sari lagi.., Maunya apa sih …?” Gumamku dengan emosi. Tapi akhirnya kuangkat juga.

“Hallo..! ada apa ya..?.” Jawabku dengan nada perlahan seperti tidak marah.
“Kamu nggak marah kan… ma aku…?” Suara Sari lembut seakan takut sekali denganku, tapi kalau dia takut denganku mengapa dia ganggu aku.

“Jelas aku Marah…Kamu itu nggak pernah tau aku, dan tak pernah mengerti aku.. aku benci cewek seperti kamu.” Ucapku dengan keras sambil kupencet bermaksud mematikan Hp ku. Setelah itu tak pernah kuangkat lagi panggilan dari dia. SMS pun berturut-turut masuk hanya ku balas sekali yang isinya bahwa kita “PUTUS”.
Kekecewaan Sari yang semakin bertumpuk ia merasa gagal untuk merubah kebiasaanku. dan kasih sayangnya buyar cuma karna kesalahan yang ia buat sendiri. Ribuan kata maaf tak juga kuhiraukan. Meski aku tak tau kalau itu sebenarnya tulus dari dalam hatinya.
*****

Beberapa hari tak pernah kulihat lagi sosok Sari di kampus dan dikelasnya. Sepertinya ia sangat kecewa dengan keputusanku. Aku juga sebenarnya sangat menyesal.

“Andai saja kata itu tak aku ucapkan meski semuanya akan baik-baik saja.” Mengomel sendiri dalam batinku. Tapi egoku berkata lain. Aku malah mengikutinya dengan tidak mau meminta maaf dan terus ingin pisah meski perang dalam benak.
Pengandai-andaian dalam hati Sari yang membuat ia menjadi setres berat dalam menghadapi kenyataan yang memilukan hati tersebut. Sampai akhirnya seorang cowok melamarnya. Ia memutuskan untuk berhenti kuliah supaya hatinya lebih tenang tanpa melihat aku.
Lama sekali aku tak pernah melihat Sari aku merasa sangat rindu tetapi dalam kerinduanku, masih menahan ego yang takkan datang kerumahnya atau menghugunginya lewat telpon. Aku semakin sadar kalau bahwasanya aku sangat salah dalam menjalani hidup. Aku berusaha mulai berubah dengan sedikit demi sedikit. Aku sangat ingin perubahanku ini terlihat dan dirasakan Sari. Aku mulai ingin menelpon ke Ponselanya namun,

“Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktive atau berada diluar jangkauan mohon hubungi beberapa saat lagi.” Suara itu terus kudengarkan beberapa kali. Malam ini aku berniat akan pergi kerumah Sari, bermaksud ingin meminta maaf dan aku ingin bersamanya lagi.
Malam itu aku mengenakan baju yang rapi. Aku sela motor butut yang ku berinama Roben. Padahal rumah Sari tidak seberapa jauh dari kos ku. Sesampainya disana terlihat sepi sekali dan gelap rumahnya. Ku tekan bell rumahnya. Keluar seorang perempuan yang sedikit tua kemungkinan besar ia Ibu kosnya Sari.

“Sarinya ada..?” Tanyaku dengan sopannya.
“Oh…Sari..! Sari sudah pindah dari sini dari mulai ia menikah langsung ia ikut suaminya.” Terangkan sang Ibu dengan nada yang sangat serius. Hatiku serasa hancur luluh dan bercabik-cabik setelah mendengar perkataan sang Ibu itu.
“Ibu tidak bohongkan..?” Aku bertanya kembali bermaksud meyakinkan benak.
“Mas….Untuk apa Ibu bohong toh…tak ada gunanya. Mas ini siapanya..?” Tanya kembali ia kepadaku. Namun aku tak sanggup lagi untuk berkata. Ku genjot Roben dan langsung kutarik gas dengan kencangnya pertanda keruhnya hatiku saat ini. Sang Ibu hanya bergeleng kepala sambil berbicara sendiri.

“Anak sekarang..” Aku habiskan malamku merenung dan menyesali perbuatanku yang sebenarnya merusak susunan otakku sendiri. Bagiku benar-benar tidak adil dunia ini yang selalu memojokkan diriku dalam masalah yang terus datang terus bertubi-tubi. Sedikit kusadar sebenarnya ini semua karna aku yang pengecut dan aku yang terlalu mengikuti kata hati.

Keparat kau…..
Yang tak pernah membelaku…
Yang tak pernah berpihak padaku…
Kau itu sebenarnya suka atau tidak padaku…
Atau kau hanya mengujiku….
Mengapa tidak kau bunuh saja aku….

Tak lagi aku membaca puisi dengan lantunan gitar melainkan dengan teriakan sampai habis suaraku. Sampai semua melihatku dari jendela-jendela kos seberang. Samping. Depan. Dan semua sudut yang dekat dengan suaraku. Mereka semua berfikir kalau sebenarnya aku ini orang gila.
*****

Penulis Adalaha Mahasiswa S1 Jurusan Jurnalistik semester 3, juga penggiat di Komunitas Ruang Sunyi UIN SGD Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: