Click Here to Back

Rwanda: Tusti dan Hutu

In Ngobrolin Felem, Surat Pembaca on October 3, 2007 at 9:59 pm

Oleh Angga Aditiya
Hotel Rwanda. Tempat, dimana pelabuhan cerita mengenaskan. Keganasan pemberontak yang mengoyak penduduk golongan Tusti. Sepenggal cerita, Tusti adalah kelompok yang menjadi seteru Hutu yang dibedakan menurut kondisi fisik. Hidung mancung dan elegan, itulah cikal bakal bermuaranya pembantaian yang menewaskan ribuan orang itu. Orang-orang berserakan di jalan tak bernyawa bak kerikil mengganti hamparan jalan.

Pemeran Paul dalam film ini mampu mengajak penonton pada kondisi yang nyata. Kondisi dimana seseorang akrab ditemani letusan senapan dan darah. Pembakaran rumahpun sudah menjadi pemandangan biasa. Pembakaran yang diseling penganiayaan membabi buta. Siapapun orangnya, sekalipun dia tidak melakukan ulah, akan tetapi dia terbukti golongan tusti, maka penyiksaan tak bisa dihindari.

Dari kondisi itu, Paul tidak ambil diam. Terlebih istrinya adalah target pembunuhan mereka. Sekalipun Paul golongan Hutu, tidak dijadikannya sebagai seorang yang acuh dengan keadaan tersebut. Terbukti, uang kocek selama dirinya bekerja, habis untuk menebus tawanan para pemberontak itu. Hingga di saat yang genting, ketika uang sudah tidak dapat diandalkan meredam kekacauan yang terjadi, maka disaat itu pula, Paul berupaya menempuh jalur diplomasi. Harapan cara tersebut bisa membantu, ternyata jalur inipun tidak ia dapatkan dengan mudah. Ia harus meronta-ronta. Berkali-kali ia tidak digubris. Akhirnya dia hanya berharap ada sesuatu yang mendorong kepedulian mereka (Amerika, Jerman, dan Francis) untuk membantu.

Paul beradu cerita dengan Titiana, istrinya, di atas hotel bintang empat dimana ia bekerja. Senyum dan kesedihan silih berganti dengan cepat dalam percakapan itu. Senyuman yang bukan menjadi pertanda keromantisan. arah depan dimana mereka duduk, dentuman dan beredelan senjata, kelap kelip mengalahkan keindahan malam. Senyuman itu sebagai isyarat mereka masih bisa bersatu. Mereka sangat mencintai keluarganya.

Kecintaan yang membawa mereka pada kondisi kritis.. Mereka dikejar oleh pemberontak. istri dan anak-anak Paul adalah target yang akan dibantai oleh pemberontak itu. Istrinya adalah seorang Tusti yang pemberontak anggap, mereka adalah pengkhianat dan harus dimusnahkan. Paul yang punya golongan berbeda dengan istrinya itu kontan tidak ambil diam. Segala cara dilakukan demi menyelamatkan keluarganya. Uang pun habis untuk membayar tawanan mereka. Meminta bantuan ke PBB pun ditempuhnya. Sampai pada waktu yang klimaks usaha itu tidak membuahkan hasil.

Pada suatu waktu pemberontak akan mengevakuasi golongan tusti yang memiliki perbedaan fisik dengan Hutu. Upaya mereka akhirnya bisa digagalkan oleh Paul yang memiliki relasi di diplomat. Dengan itu mereka dapat dibubarkan. Di situasi genting seperti itu, Paul memerintahkan para pengungsi, termasuk stafnya di Hotel untuk menghubungi teman atau saudaranya di luar negeri. Terutama Inggris, Francis, dan Amerika. Paul suruh mereka katakan “terima kasih atas segala kemurahan selama ini, seolah kamu sedang berjabat tangan, dan ketika melepaskannya maka kamu akan mati.” Itu tidak lain agar mereka bisa merasakan apa yang sedang terjadi.

Usahanya itu berbuah hasil. Tentara berdatangan dari tiga Negara besar tersebut. Selang tidak lama kemudian, mereka kembali mengevakuasi orang kulit putih yang menyisakan penduduk kulit hitam. Seorang perempuan kulit putih meronta-ronta saat dipisahkan tentara dengan seorang anak berkulit hitam. Evakuasi itu menyisakan duka mendalam. Derai tangis mengiringi kepergian mereka.

Kondisi semakin tidak menentu. Hotel yang jadi tempat pengungsian terus didatangi pemberontak untuk mengevakuasi golongan Tutsi. Untuk ke sekian kali Paul bisa menyelamatkan mereka dengan sisa kekayaannya. Seringnya mereka datang untuk meminta upeti, akhirnya kekayaan Paul benar-benar habis. dua hari mendatang pemberontak itu akan kembali datang. Paul berfikir keras agar semua yang ada dalam hotel tersebut bisa selamat, termasuk istri dan anaknya.

Upaya Paul mengurangi korban serangan Pemberontak yang membabi buta akhirnya bisa dilakukan. Keluarga Paul termasuk yang mendapat perlindungan dari PBB untuk dibawa ke tempat pengungsian.. Pemberontak yang tau, jika PBB sedang memboyong orang-orang yang menjadi target pembantaiannya, mereka tidak melepas begitu saja. Mereka menghadang dan menyerang orang-orang dalam mobil itu, termasuk istri dan anak Paul yang ikut rombongan tersebut. Film ini begitu dekat dan menegangkan.

Penulis Adalah Mahasiswa S1 Jurusan Jurnalitik UIN Angkatan 2004, sekarang Aktif di dunia Perfilman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: