Click Here to Back

Puasa Bukan di Siang Hari Doang

In Ngobrolin Felem on October 2, 2007 at 9:56 pm

Oleh Angga Aditiya
Dalam obrolan salah satu radio anak muda di Bandung, “menahan makan dan minum, bukan berarti lo puasa” sering dilontarkan menjadi tagline memulai bacotnya. Saya juga sudah akrab dengan kata-kata itu tidak hanya dari radio tersebut, tapi dari ustadz atau kultum shubuh. Saking akrabnya, jadi dikenal basi. Basa basi busuk. Kira-kira itu yang saya rasakan. Makin lama mengenal, semakin terlihat tanda-tanda memudar sejatinya perkenalan itu.

Malam hari, ketika seluruh anggota keluarga sudah tertidur membabi buta, saya buka kepingan DVD, film yang sedang masuk dalam box office. Sebelumnya, di siang hari saya sempatkan menyaksikan film itu menunggu komputer yang rada ngadat. Terpaksa pilihan mengobati kekesalan itu dengan menyaksikan film. Kebetulan film itu sudah lama tergeletak pasrah belum juga ditonton.

Belum sampai film itu menceritakan kepiawaian sutradara meramu kejadian demi kejadian, saya sudah disajikan trailer yang membuat saya mematikan kembali DVD-nya. Shaum dalam hati. Benar juga, baru kerasa, kalau di bulan Ramadhan setan-setan dibelenggu. Sekalipun demikian, tetap saja fikiran sudah menjadwalkan secara cepat kapan saya harus menyaksikan film itu. Sepertinya sudah otomatis saja otak ini bekerja, dan sudah dengan cepatnya system otak menyeret waktu Ramadhan yang saya yakini sebulan penuh jadi setengahnya. Baginya, malam sudah bisa melakukan aktifitas seperti bulan-bulan lainnya. Yang sabar karena ledekan di siang hari, di malam hari sudah dapat balas dendam dengan kata-kata yang bebas. Saatnya kemenangan, kemenangan untuk meledek secara biadab. Begitu pula nonton. Nonton dengan tontonan yang tidak di filter. Bebas.

Malam hari, akhirnya saya saksikan juga film itu. Walau gambar agak redup dan ngeblur, karena layar mata yang sudah berkurang resolusinya. Namun akhirnya saya bisa mengkhatamnya. Film yang menegangkan. Luar dalam. Pukul 12.30 disaat orang tidur untuk menyambut waktu sahur yang barokah, atau, berdzikir, atau tadarus qur’an, saya baru selesai menyaksikan film itu. Mampus lah.

Tidak seperti biasanya, saya yang termasuk paling ketat menentukan syarat atau aturan menonton, malam itu begitu sangat tumpul. Analisis film yang selalu dijadikan alasan agar film itu layak ditonton, malam itu begitu tidak membekas. Memang sulit kalau film-film thriller. Misinya saja sudah ingin menakut-nakuti, makanya sutradara lebih menekankan pada adegan yang menegangkan saja dibanding dialog atau alur yang bagus, sehingga daya analisis ini melemah. Tapi itu juga tidak semua film berjenis Thriller seperti itu. Bagaimanapun juga semua itu tergantung kita. Buktinya film Final Destination yang bobot alurnya kurang, tapi saya bisa begitu cepat mengambil hikmah. Hikmahnya, film itu sedang menakut-nakuti atau kampanye sadar mati bagi mereka yang bengal. Singkatnya.

Minimal ada tiga kemampuan film begitu banyak digemari. Hiburan, jadi bahan analisa akademis, atau sekedar memenuhi kebutuhan biologis. Mudah-mudahan film yang hendak ditonton nanti, memiliki bobot hikmah yang kuat. Walau tidak sebanding dengan membaca Qur’an, minimal mendatangkan seonggok pahala gunung Hud. Kejadian demi kejadian dalam film mudah-mudahan terasa begitu membanjiri spiritual kita. Kembali ingat, Ramadhan bukan hanya siang hari.

Penulis Adalah Mahasiswa S1 Jurusan Jurnalitik UIN Angkatan 2004, sekarang Aktif di dunia Perfilman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: