Click Here to Back

Ramadhan di Hati Saja

In Opini on September 27, 2007 at 12:52 pm

Oleh : Ibnu Hanifa

Setiap menjelang Ramadhan, ada saja yang dilakukan orang. Ada yang jauh-jauh hari sudah membersihkan makam leluhur atau guru yang dihormatinya. Ada yang seminggu sebelum Ramadhan, menimbun sembako. Di sebuah daerah di Jawa Tengah bahkan ada tradisi mengecat seluruh bagian rumah agar terlihat mentereng.

Ada pula yang memanfaatkan romantisme teknologi: melalui telepon seluler (ponsel, handphone atau hapé) saling berkirim pesan berisi kata-kata yang dirangkai indah, kadang mesra, tentang Ramadhan. Apapun motifnya, rata-rata mengaku bergembira dengan datangnya Ramadhan.

Ramadhan memang “utusan” yang istimewa. Ia datang bersama tiga rombongan sederhana tetapi sarat makna: pengampunan, bertambahnya rahmat, dan pelipatgandaan pahala. Wajar jika banyak orang bergembira dengan kehadiran Ramadhan dan menyambutnya secara istimewa karena mereka percaya akan dimanjakan Tuhan-Nya.

Tetapi, menjadi tidak wajar saat sambutan-sambutan tadi dilakukan secara tidak substantif. Dilakukan hanya karena formalitas etis, sekadar ikut-ikutan, atau bahkan menjaga citra. Tidak karena kesadaran pribadi yang merindukan Ramadhan setelah sebelas bulan menantinya. Ramadhan pun akhirnya hanya menjadi penanda bergulirnya masa. Ramadhan menjadi sunyi.

Kita memang melihat masjid menjadi ramai. Kita saksikan begitu banyak kegiatan sosial, seperti buka puasa bersama kolega atau dhuafa, sahur bersama tukang ojek, gebyar Ramadhan, bazar, atau apapun namanya. Kita secara berbondong-bondong melakukan hal-hal tadi, dan bangga, menganggap semuanya prestasi rohani.

Tetapi, hanya sampai di situ. Di luar Ramadhan kita kembali berjarak satu-sama-lain. Ramadhan tidak menjadi guru yang baik, atau kita yang tidak menjadi murid yang cerdas memanfaatkan kesempatan belajanya?

Seringkali saat azan maghrib belum usai dikumandangkan kita sudah melaksanakan perintah untuk segera berbuka. Kita menjadi individu yang begitu taatnya. Tidak ada yang salah dengan hal itu, tetapi kenapa kita taat hanya pada perintah yang berhubungan dengan urusan perut semata?

Bagaimana jika semangat ini kita terapkan di luar Ramadhan: kita menghentikan semua aktivitas ketika azan bergema dan bergegas menunaikan sholat; kita selalu berbagi dan mengasihi sesama; tidak menghardik dan bisa meredam amarah; menjadi lebih tepat waktu? Sebagian kita, termasuk saya, mungkin mangkir, dan menganggapnya sekadar ide utopis milik orang-orang idealis. Padahal sebenarnya itulah penanda Ramadhan yang mencerahkan.

Di Ramadhan ini, kepribadian kita diuji. Hati kita dicoba. Mampukah kita bertahan dari godaan-godaan yang terlihat, godaan yang hanya terasa, dan godaan-godaan yang berada di antara keduanya. Mampukah kita pada akhirnya menjadi pribadi yang matang, yang di akhir Ramadhan bertanya dalam senyum puas sekaligus menangis tipis: bisakah berjumpa lagi Ramadhan?

Tak perlu hiruk-pikuk itu. Saya lebih memilih Ramadhan di hati saja. Melakukan ibadah sunyi yang tetap membekas di hati dan mendewasakan rasa, meski Ramadhan pun akhirnya akan berlalu. Selamat menjalani sisa Ramadhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: