Click Here to Back

Ibu, Jadikan Sebuah Renungan

In Opini on September 25, 2007 at 10:11 am

Oleh Sumartini Kusuma Ningrum

Banyak wanita memperingati dan mungkin merayakan hari ibu, pegawai wanita, wanita karier, dan aktifis LSM, perempuan adalah orang-orang yang tidak pernah lupa hari istimewa yang diperingati 22 desember, tapi terlepas dari itu setiap hari perempuan telah memsosialisaikan dirinya untuk bisa bekerja keras memperjuangkan emansipasi perempuan. mereka selalu mengkaitkan makna hari ibu dengan emansipasi.

Surga di talapak kaki ibu, kalimat yang tak asing lagi bagi masyarakat indonesia bahkan di dunia yang kemudian tiap tahunnya diperingati hari ibu sebagai moment memperingati perjuangan perempuan sebagai seorang ibu secara menyeluruh. semangat perjuangan kaum perempuan indonesia tercermin dalam lambang hari ibu berupa setangkai bunga melati dengan kuntumnya yang menggambarkan kasih sayang kodrati antara ibu dan anak, kesucian dan pengorbanan ibu, kesadaran serta keikhlasan berdarma bakhti dalam pembangunan bangsa dan negara indonesia.

Kalau kita menyimak catatan sejarah perjalanan hari ibu yang setiap tahunnya diperingati, muncul kesan bahwa semangat perjuangan kaum perempuan tempo dulu ternyata tidak sedangkal semangat yang sering ditampilkan pada peringatan hari ibu, dulu mereka tidak hanya gigih dalam menyuarakan hak-haknya, tetapi juga berani memikul senjata turun ke medan perang untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini.

Sejarah yang mencatat bahwa dua bulan setelah sumpah pemuda dideklarasikan, persisnya pada tanggal 22 desember 1928, maka berkumpul sekira 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra untuk menyelenggarakan kongres pertamanya dengan mengambil lokasi di yogyakarta salah satu agenda pokoknya adalah menggabungkan organisai-organisasi perempuan Indonesia tanpa membedakan latar belakang politik, suku, status sosial bahkan agama.

Melalui kongres perempuan pertama itu pulalah berhasil dirumuskan beberapa rekomendasi yang berisi tuntutan penerbitan surat kabar sebagai media untuk menyuarakan hak-hak kaum perempuan sampai kepada tuntutan pemberian bantuan khusus bagi perempuan janda dan anak yatim. itu semua menunjukan bahwa jauh sebelum ada lembaga yang sekarang banyak menyuarakan arti pentingnya kesetaraan dan keadilan gender, bahkan jauh sebelum kemerdekaan indonesia diproklamasikan, kaum perempuan indinesia ternyata telah memiliki kesadaran mengenai arti pentingnya pendidikan dan kesehatan sebagai modal utama untuk bisa keluar dari berbagai ketinggalannya, semua itu juga memberi isyarat kepada kita bahwa gerakan kaum perempuan pada saat itu sesungguhnya tidak kalah majunya dibanding dengan perjuangan kaum perempuan saat ini.

Begitu luhur dan mulia, bahkan berani itulah kesan yang muncul kalau kita menyimak sejarah perjuangan kaum perempuan itu pula sebabnya, tidak berlebihan bila hari ibu dipringati setiap tahunnya oleh bangsa ini. Bila kita bandingkan dengan media massa ada hubungan erat antara perempuan dan media massa. Namun dibalik konteks tersebut ada satu keganjilan ynag menggabungkan peran perempuan dengan media massa.seperti produk-produk yang ditampilkan di televise yang berupa iklan lebih menampilkan sosok perempuan yang hanay mejeng atau sekedar penghias di setiap sudut ikal tersebut.

Idealnya kini peran perempuan selalu di sangkutpautkan dengan emansipasi perempuan yang mendorong perempuan untuk sejajar dengan laki-laki, dalam hal pendapatan gaji, pendidikan, dan mengeluarkan pendapat termasuk mengambil keputusan.

Berkenaan dengan kedudukan perempuan dalam islam, terdapat banyak persoalan yang benar-benar tidak sesuai dengan konteks agama. Ayat al-quran yang sering dijadikan argument untuk menempatkan posisi perempuan lebih rendah dari laki-laki dalah surat Al-Nisa ayat 34 yang menyatakan, “Kaum laki-laki qawwamun bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain, dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Artinya, jika seorang istri di bidang ekonomi dapat berdiri sendiri, dan memberi sumbangan untuk kepentingan keluarganya, maka keunggulan suaminya akan berkurang karena sebagai seorang manusia, ia tidak memiliki keunggulan debandingkan dengan istrinya.

Hari Ibu mengingatkan bahwa begitu besar jasa ibu di mata kita, maka tak ubahnya kita untuk sejenak merenungkan betapa indahnya hari Ibu untuk menjadi introfeksi diri.

  1. Rin Baca Yang Ini ya Buat perbandingan or pemikiran, hi…..hi…….hi…………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: