Click Here to Back

Beasiswa dan Kedekatan Pribadi

In Opini on September 25, 2007 at 10:09 am

Oleh Feri Purnama

Mendapatkan beasiswa itu mudah bila akrab dengan dosen, atau pejabat kampus tapi bila tidak, selamat bermimpi saja. Mungkin seperti itulah umpatan salah seorang mahasiswa yang berharap mendapatkan beasiswa.

Selain minimnya informasi tentang beasiswa, dana tersebut juga lama cairnya. Beasisiwa merupakan dambaan seluruh mahasiswa namun, sedikit yang mengetahui wujudnya dan hanya segelintir saja yang tahu seluk beluk serta prosesnya. Dengan begitu, beasisiwa tidak ubahnya gerakan underground (berjalan secara sembunyi-sembunyi).
Betapa tidak, dari sekian banyak masyarakat yang masih duduk dibangku pendidikan khususnya Mahasiswa yang berprestasi namun ekonomi menjadi masalah, maka beasiswa adalah solusi untuk terus berprestasi tanpa memikirkan biaya pendidikan. Namun, informasi beasiswa hanya segelintir orang yang mengetahui Selebihnya, hanya sebatas selintingan dongeng.
Bahkan konon katanya beasisiwa hanya milik mahasiswa yang punya kedekatan dengan para dosen dan pejabat kampus lainnya. Lalu, benarkah beasisiwa yang ada di birokrasi kampus merupakan gerakan underground, dan tidak perlu diketahui oleh mahasiswa seluruhnya? Pertanyaan seperti tak ada jawaban namun, menjadi rahasia umum.
Seperti itukah? Namun, langkah pergerakan yang samar dimana keberadaan beasiswa yang sebenarnya terkadang menjadi kelabu entah jatuh di tangan siapa? Terkadang birokrasi kampus mempermudah tapi juga mempersulit dalam proses pencapaian mendapatkan beasiswa kenapa? masih banyak para pengurus beasiswa mengharapkan imbalan, bahkan menjadi ajang jual jasa.
Tak ubahnya berbagai seleksi yang meyakinkan berhak untuk mendapatkan beasiswa menjadi ajang permainan belaka dengan tujuan mempersulit mendapatkan beasiswa, ironis sekali salah satu anak pejabat kampus dengan mudahnya tercantum nama yang mendapatkan beasiswa.
Keserakahan membuat buta dalam segala hal apapun dilabrak untuk mencapai tujuan tanpa memikirkan hal lain dan disekitarnya, maka rasa tamak pun menempel di benak yang haus dengan keduniawian.
Padahal seperti yang diajarkan oleh Islam bahwa harta dan benda hanyalah sebagi titipan dari Allah SWT. Harta dan benda tidak akan di bawa untuk dijadikan sebagai jaminan surga, namun yang menjadikan jaminan surga adalah amal dan perbuatan manusia di masa hidupnya, dan kesamaran beasiswa nanti akan di tanyakan kelak di alam nanti.
Pertanggung jawaban kepada siapa ketika beasiswa sebagai penyokong untuk membantu pendidikan bagi mahasiswa yang berprestasi dan mahasiswa yang tidak mampu, sedangkan beasiswa di makan tanpa memeprdulikan siapa yang berhak atas pemberian beasiswa itu.
Lagu lama di bangsa ini mempermasalahkan kesimpang siuran bantuan khususnya masalah keuangan, bukan mempermasalahkan bagaimana menciptakan kejujuran dan kedisiplinan, namun, sekarang ini yang dibahas adalah pada urusan pribadi jangan disangkut pautkan dengan kekuasaan jabatan.
Tirani, mungkin ucapan seperti itulah bagi orang yang masih serakah termasuk masalah penyaluran dana beasiswa, bagaimana kah seharusnya supaya kelancaran untuk memberikan beasiswa pada orang yang membutuhkannya, dan menghilangkan manusia yang
serakah.
Adapun pengambilan beasiswa yang didapat baik yang mendapatkannya orang yang tidak mampu dan yang berprestasi ataupun orang yang pura-pura, maka tak ubahnya para pengurus beasiswa tak hentinya meminta pungutan yang tak jelas, samar dan sedikit memaksa. Seperti itukah manusia dewasa ini? Wallahuallam Bissawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: