Click Here to Back

Cinta dalam Tempurungku

In Feature on September 14, 2007 at 7:23 pm

Oleh : Ibnu Hanifa
Jika cinta mampu menginspirasi kemegahan Taj Mahal, maka ia pun cukup agung untuk menistakan pemujanya sebagaimana kisah Laila Majnun. Tetapi, cinta adalah suci. Perasaan tentang ketenangan dan kecukupan. Perasaan yang saling bercampur-padu tetapi satu dalam rindu. Cinta adalah perayaan atas kerelaan.

Cinta ada dalam hati. Saat seseorang sedang jatuh cinta, cahayanya benderang di mata, yang jika sudah tak kuasa lagi tertampung akan meluber menjelma air mata; terpancar di bibir yang membentuk segaris senyum paling indah, atau bentuk diam yang tak bermakna apa-apa tetapi ia merasa dan berkata-kata, “Aku sedang jatuh cinta. Senyum ini hanya untuknya”.

Pernahkah kau alami cinta? Atau pernahkah dalam rindumu, hati dihinggapi cemas, tanya, dan bayangan wajah kekasih yang semakin membuatmu gelisah ingin cepat bertemu, tetapi di saat yang sama kau merasa tenang, tercukupi, dan sungguh-sungguh merelakan ketika kau hanya mengingat sebagian dirinya?

Seperti itulah aku memahami cinta. Seperti itu pula aku mencintainya. Untuknya, aku merelakan diri menjadi lilin yang mempersembahkan cahaya demi terang sekitarnya. Perayaan atas kerelaan.

Pemahaman cinta seperti ini adalah jalan pertama yang belum rampung kutempuh. Jalan pertama ke jalan-jalan lain menuju Cinta. Ya, cinta dengan hurup c yang kutulis dengan aksara kapital. Kau tentu paham maksudku.

Cinta adalah Dia. Tuhan Yang Maha Esa. Strata tertinggi cinta manusia, rumah terakhir yang selalu kurindukan di tiap helaan nafas. Dan aku sedang menuju ke sana. Tetapi aku tak tahu jalannya. Sering kali malah aku tersesat, menempuh jalan lain di mana tak ada rambu bertuliskan Cinta.

Aku tahu aku belum melakukan apa-apa untuk membuktikan cintaku pada Cinta. Tetapi aku sudah merasa tenang. Aku tercukupi. Aku rindu. Aku bahkan tak hanya rela menjadi lilin bagi-Nya; tetapi untuk apa? Dia adalah Sang Maha Terang yang tentu saja tak membutuhkan cahaya dari siapapun, bahkan Dia tak memerlukan apa-apa untuk eksistensi-Nya. Aku rela tiada.

Aku memang naif. Tetapi aku percaya Cinta. Ia akan membimbingku menuju pertemuan itu. Hingga saatnya tiba aku akan melepaskan semua cemasku, semua rasa dan segala tanya pada Cinta. Dan, seperti itulah cinta dalam tempurungku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: