Click Here to Back

Duka Derita Itu Kabut

In Sajak on September 10, 2007 at 2:58 pm

Oleh : Restu Ashari Putra

Menembus kabut itu sesak. Aku beringsut. Menciut. Menjadi butiran abu yang terbang bersaing dengan angin.

Duka derita itu menjelma kabut. Mengawang akrabi malam hingga pagi seperti geli. Ketika mata sudah tak lagi melihat jalan. Terbatas pandang satu jengkal. Aku mati diam.

Setetes embun kureguk. Ternyata hanya arak duka. Pagi itu laksana derita penggali makam. Menyiapkan nisan untuk manusia setelah pesta. Kemudian berdansa dengan kehidupan sebagai ucapan selamat tinggal. Kini selamat tidur di pembaringan.

2007

Mahasiswa Jurnalistik di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pernah aktif di Lembaga Pers Mahasiswa LENTERA ISID dan redaktur majalah ITQAN Gontor. Kini bergiat di Komunitas seni dan sastra ruangsunyi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: