Click Here to Back

Emosi

In Ngobrolin Felem on August 30, 2007 at 10:22 pm

Oleh : Aditiya Angga

Bandung, 30/8 (JURNALPOS) – Di beberapa pelatihan yang berkenaan dengan kecerdasan emotional hampir boleh dikatakan sukses. Tidak hanya bagi penyelenggara, tapi juga bagi peserta. Minimal seminggu dalam kehidupannya bisa berubah. Memang benar adanya, emosi ini sangat berpengaruh dalam kehidupan kita. Namun sebelum melangkah lebih jauh emosional yang digunakan kali ini, yaitu emosi, dimana seseorang mampu merubah keadaan dirinya dari keyakinan pada kumpulan rasa di sebidang afeksi. Di ranah ini, saya tidak dapat menjelaskan lebih jauh, karena melihat objek yang abstrak. Tapi ini dirasakan betul.

Pernah dalam talk show mata acara televisi, bagaimana ada seorang ibu yang sering memerankan tokoh antagonis. Saking berhasilnya peran itu, si ibu mengatakan, bahwa dirinya pernah ditamapar di sela-sela kesibukan syutingnya. Tidak hanya dirinya, begitupun artis-artis lainnya. Dengan perlakuan serupa walau hanya dengan diejek. Betapa luar biasanya emosi tersebut telah mempengaruhi pemirsa lewat box ajaib (TV). Bukan karena audiens bodoh, karena tidak tahu kalau film atau sinetron yang disaksikannya itu diramu oleh tangan-tangan sutradara. Namun jauh dari itu, ternyata pemirsa menyelami betul peranan tokoh yang membuat batinnya terganggu.
Ini membuktikan, betapa dahsyatnya peranan emosi. Begitupun halnya dalam ruang-ruang kehidupan kita. Sebenarnya, jika kita mau terlibat sebagai manusia dan memanusiakan manusia, komponen ini janganlah diabaikan. Betul adanya, jika kita harus bijak. Setiap orang pasti dapati hikmah dari setiap keadaannya itu. Kita menganggap, emosi janganlah perlu banyak dilibatkan dalam edukasi. Toh, baik maupun buruk, jika kita pandai menyibak hikmah, kita akan dapati sesuatu yang berharga. Memang betul, namun ini jalan terakhir yang kita tempuh jika menemukan jalan buntu, karena sekarang sedang menunggalkan lakon bermahzab emosi.

Lepas dari itu, seperti halnya yang dilakukan para pemeran antagonis dalam sebuah tayangan, sebenarnya (dalam terkaan manusiawi), mereka tidak berniat mengajarkan kepada pemirsa untuk seperti dirinya. Justru sebaliknya, mereka berharap, ada pelajaran yang bisa diambil. Itu dunianya sinetron. Mengharuskan adanya peran yang berpasangan. Ada baik dan salah. Namun juga ternyata, niat tersebut tidak cukup menjadi alasan pemirsa untuk membenci tokoh yang lebih personal dalam kehidupan nyata.

Peran manakah yang akan kita masuki. Tentunya peran dalam perspektif emosi. Terlepas apakah itu menjadi kerikil dalam ranah kognitif. Diyakini atau tidak, emosi bisa menjadi penghambat dalam interaksi. Bagi mereka yang begitu bebal, tidak ada salahnya coba memerankan orang yang seolah-olah merasa butuh akan keberadaan orang sekitar kita. Minimal kita memerankan seolah-olah tadi untuk usaha pengendalian. Pengendalian menghadapi makhluk bernama manusia (bukan barang rongsokan).

(aditiya angga)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: