Click Here to Back

Sales dan Kepala Sekolah-pun Memiliki Kartu Pers

In Berita Aktual on August 29, 2007 at 6:42 pm

Bandung , 29/8 (Jurnalpos Eksternal)–Fenomena yang menarik dimana sebuah Profesi menjadi ganda yang bersangkutan dengan Pers, hal yang lazim sebenarnya dan tak ada larangan untuk mencari profesi lain. Dengan harapan memperoleh pendapatan lebih.

Namun, hal yang menarik apabila profesi tersebut disangkut pautkan dengan dunia wartawan, profesi yang kata orang lain adalah profesi yang berbahaya namun ada juga yang beranggapan profesi yang menjanjikan dan kadang ada yang mengartikannya wartawan adalah manusia bebas “Man of Freedom”.

Apalah arti kalau seandainya seorang kepala sekolah di salah satu SMA di daerah Rancaekek Kabupaten Bandung memiliki kartu Pers dan seorang Sales produk alat elektronik membawa kartu Pers.

Sebenarnya kartu Pers itu digunakan untuk apa? Padahal secara nyatanya kartu Pers adalah sebagai identitas seorang wartawan dimana untuk menjalankan profesinya mencari berita ketika dilapangan.

Lantas untuk apakah kartu pers jika Sales dan Kepala Sekolah memilikinya? Padahal ketika dipertanyakan kartu pers tersebut menyatakan sebagai pegangan saja. Seorang sales tidak menjelaskan media apa dan dimana kantornya, sepertinya media yang dimiliki oleh Sales adalah Gaib (ada tapi tidak ada).

Sedangkan Kepala Sekolah mengaku bahwa dirinya adalah sebagai penasehat surat kabar Mingguan dan kantor redaksinya di daerah Tanjung Sari Kabupaten Sumedang, dan tidak sungkan-sungkan pula Kepala Sekolah itu mengeluarkan dua buah kartu pers dari dalam dompetnya dan menjelaskan pada saya secara terang-terangan, memilki kartu pers.

Di balik dua orang tersebut sales dan kepala sekolah, mengaku dan bercerita soal pengalaman memiliki kartu pers, seorang sales mengaku “memliki kartu pers saya bebas ditilang oleh Polisi” katanya.

Sedangkan Kepala Sekolah selalu didatangi oleh wartawan yang tidak jelas media apa, dan selalu menanyakan kesalahan-kesalahan yang pada ujungnya meminta uang.

“waktu itu datang seorang wartawan menanyakan soal pembangunan sekolah, wartawan itu bertanya, lagi ada proyek ya Pak? Lantas saya jawab ini hasil keringat saya, kamu mau apa?” tegas kepala sekolah pada wartawan.

Masih banyak lagi yang lainnya bahkan Kepala Sekolah tidak sungkan-sungkan untuk mengajak berkelahi bila tingkah laku wartawan tidak mengindahkan tatakrama. Setelah kejadian itu saya mendapatkan surat kaleng dari redaksi wartawan yang pernah saya ajak berkelahi” katanya

Dari cerita kepala sekolah tersebut ada yang lucu dimana wartawan marahin wartawan, wartawan wawancara wartawan, dan wartawan ajak berkelahi wartawan, lucu!!

Sebagai kepala Sekolah memang sangat rentan oleh oknum wartawan, kenapa tidak? Berbagai masalah selalu saja dikorek dicari dan ujungnya pemerasan.

Kebebasan pers memang diraih oleh Bangsa Indonesia , maka tak heran banyaknya wartawan bagaikan bak jamur tersebar dimana-dimana, terkadang image profesi wartawan jatuh di mata masyarakat, instansi dan berbagai lembaga pemerintahan karena ulah oknum wartawan.

Kartu pers-pun bisa dibuat oleh siapa saja tanpa terkecuali (Lihat Pikiran Rakyat, 9 Februari 2007) ada atau tidak ada media orang bisa membuat kartu pers. Kebebasan pers bukan berarti pers di Indonesia menjadi kebablasan atas kebebasan, masih banyak profesi yang menggiurkan dibandingkan membawa kartu pers.

Kartu pers memang senjata yang ampuh namun hal itu adalah sugesti belaka, bagi orang yang pernah berhadapan dengan oknum wartawan, dengan meminta atau memeras, dan tidak mengindahkan etika wartawan maka jangan sungkan-sungkan untuk melapor ke pihak yang berwajib, dan bila perlu laporkan ke kantor redaksi wartawan tersebut atau ke Dewan Pers.

Mark Twain seorang penulis Amerika yang termasyur mengumpamakan sakiranya ada dua hal yang membuat segala sesuatunya terang di muka bumi kita ini yang pertama adalah Matahari di langit dan yang kedua adalah pers di dunia, betapa mulia dan pentingnya kedudukan serta fungsi Pers dalam masyarakat manusia, (Taufik, “sejarah dan Perkembangan Pers di Indonesia”).

Namun ada juga beranggapan lain Pers itu adalah suatu “Black Art” (Rudyard Kippling) dari aspek tersebut kedua kasus profesi Sales dan Kepala Sekolah yang mempunyai kartu pers, apakah digunakan untuk menerangi dunia atau menjadikan pers adalah “Black Art”, entahlah! Wallahualambisawwab.
(Feri Purnama/Jurnalpos)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: