Click Here to Back

“Tahu Gejrot ada, Sebelum Indonesia Merdeka”

In Feature on August 24, 2007 at 3:34 pm

Oleh : Feri Purnama

Siapa yang tidak mengetahui rasa makanan Tahu gejrot khas Cirebon ? kalaupun ada yang tidak mengetahuinya mungkin harus mencobanya. Tahu yang dipotong-potong kecil dan di bumbui garam, bawang merah, bawang putih, gula merah dan cabe, kemudian di ulek seperti halnya membuat sambal dalam coet namun ini beda setelah di ulek diberi air yang sudah dibumbui oleh kecap dan gula aren yang sebelumnya di godok dan kemudian di dinginkan, bumbu cair inilah yang membasahi potongan Tahu dan menjadikan ciri khas Tahu gejrot yang rasanya selalu menempel di lidah.

Tahu Gejrot, namanya unik dan dari nama unik itu menyimpan sejuta rasa nikmat di lidah, makanan ini berupa Tahu khusus yang rasanya tawar kemudian dicampur dengan bumbu cair berwarna kecoklatan dan alas makannya pun terbuat dari tanah yang dibuat berupa piring kecil yang disebut dengan Coet dan cara makannya pun memakai tusukan yang terbuat dari bambu, pokoknya kelihatannya menarik dan natural.

Ternyata perjalanan nama Tahu gejrot itu sudah ada sebelum Indonesia ini Merdeka 17 Agustus 1945, namun ketepatan tahun dan tanggal berdirinya makanan Tahu gejrot khas dari Daerah Cirebon ini belum dipastikan secara jelasnya, yang jelas sebelum kemerdekaan Indonesia Tahu gejrot sudah ada di Cirebon.

Seperti halnya Hotib kelahiran tahun 1941 penjual Tahu gejrot di kota Bandung, laki-laki asal Cirebon ini sudah lama berjualan Tahu Gejrot di kota Bandung dari tahun 1995 dan sebelumnya ia berjualan di daerahnya sendiri di Cirebon sejak ia masih muda.

“Tahu Gejrot ini sudah lama sebelum Indonesia merdeka, namun saya kurang tahu kapan dan yang jelas Tahu gejrot berasal dari Cirebon dan menjadi khas makanan Cirebon ” katanya bercerita soal sejarah berdirinya Tahu gejrot.

Sambil mengingat ke masa lalunya Hotib menegaskan bahwa pada masa pemerintahan Presiden Soekarno juga sudah ada bahwakan sebelumnya juga Tahu Gejrot sudah banyak dikenal dimasyarakat Cirebon .

Kamis siang 9/8 dengan teriknya matahari membakar kulit laki-laki tua itu, namun ia tidak menghiraukan panasnya matahari, dengan kaki beralaskan sandal jepit berwarna semu dan baju kemeja yang sudah lusuh dengan wajah yang sudah keriput namun kelihatannya menarik dan berseka.

Hotib biasa berjualan dikawasan kecamatan Kiara condong kota Bandung . Langkah kakinya sudah mengelilingi hampir setiap penjuru dan sudut kota Bandung sambil membawa tanggungannya seberat kurang lebih 20 Kg, setiap langkah kakinya menyimpan sejuta harapan semoga ada yang mau membeli Tahu gejrot.

Makanan ini khas dari Cirebon, jualannya biasa di tanggung dan sering dijumpai di jalanan kota Bandung, nama Tahu gejrot sendiri berawal karena Tahunya itu di gejrot, nama Tahu gejrot sendiri katanya sebelum Indonesia merdeka dan sekarang Indonesia merdeka sudah 62 tahun, dan mungkin saja Tahu gejrot melebihi umur kemerdekaan Indonesia. dan ketepatannya kapan berdiri dan di sahkannya selama ini belum ada kepastian. kurang lebih dari atau .

Langkah kakinya yang kekar tidak mengenakan sepatu hanya mengenakan sendal jepit berwarna hijau yang sudah pudar, dan kemeja yang sduah lusuh namun kelihatan bersih dan berseka, Hotib tinggal di rumah kontrakannya dikawasan Cibangkong, biasanya ia berjualan dari pukul 8 pagi sampai adzan Magrib berkumandang, dan setelah seharian berjualan Hotib kembali kerumah kontrakannya tempat ia bersandar melepas lelah, dirumah konrakannya tidak lain adalah satu profesi dan dihuni oleh pedagang Tahu Gejrot dan disebutnya sebagai pangkalan tukang Tahu gejrot..

Di rumah kontrakannya pula Tahu di kirim setiap Minggunya langsung dari pabriknya di cirebon , dan Hotib biasanya sekali membawa Tahu dalam tanggungannya yang terbuat dari bilik bambu itu hanya 500 biji setiap harinya.

“Tahu itu didatangkan dari pabriknya khusus untuk Tahu gejrot, saya biasa mengambil tahu gejrot untuk satu minggunya itu tidak tentu, yang jelas setiap harinya saya membawa kurang lebih 500 biji” katanya.

Selain itu juga para pedagang Tahu gejrot yang lain juga sama Tahu nya di datangkan langsung dari pabriknya, kalaupun menggunakan Tahu lain kata Hotib tidak cocok dan rasanya pun akan beda

“Kalau Tahu biasa seperti Tahu Sumedang itu tidak cocok untuk dijadikan Tahu gejrot karena biasanya Tahu yang lain rasanya asin dan gurih sedang untuk tahu gejrot itu rasanya tawar” katanya mebedakan.

Entah apa yang dapat mebedakannya yang jelas kata Hotib dari jenis Tahu-nya ada yang asin dan tawar, namun Hotib punya pengalaman sendiri ketika seorang pembeli bercerita membuat Tahu gejrot namun mengeluh pada Hotib katanya, rasanya beda, lalu Hotib menanyakan soal bumbunya pada orang yang mengeluh itu, jawabannya pun sama persis seperti apa yang mang gejrot katakan.

Ternyata orang yang mengeluh itu memakai Tahu nya bukan Tahu tawar tapi tahu asin.
tahu lain dan rasanya itu beda dengan biasanya.

Mendengar keluhan dari pembelinya Hotib menjelaskan dengan rinci yang intinya kesalahan pada bahan bakunya seperti jenis tahu’nya. Katanya mengenang pengalamnnya.
rasanya yang pedas dan bumbu cair yang membuat lidah terasa nikmat sehingga di ibaratkan bagi yang sduah makan tahu gejrot itu kembali segar.

Dari masa ke masa pemerintahan Hotib tetap saja menjual Tahu gejrot, dari harga satu porsi Rp 200 sampai sekarang Rp 4000 dan dari uang hasil jualannya ia bisa membiayai anak dan istrinya di kampung halaman di Cirebon, sedangkan Hotib di Bandung hanya menyewa rumah yang dibilang tidak besar tidak kecil dan cukup untuk tempat istirahat.

Alassannya merantau ke Bandung November 1995 karena untuk memperbaiki nasibnya dengan harapan hidupnya lebih baik dari sebelumnya, bermodalkan berjualan Tahu Gejrot Hotib bisa membiayai keluarganya di kampung.

Dengan berjualan Tahu gejrot Hotib bisa menafkahi keluarganya dan kini Anaknya sudah menikah, walaupun semua anaknya sudah menikah Bapak dari empat anak ini tetap saja berjualan Tahu gejrot, katanya untuk biaya tambahan, “lumayan daripada diam di rumah” katanya sembari tersenyum.

Hotib biasa pulang kampung sebulan sekali itu pun kalau mendapatkan rezeki yang lebih dari hasil julannya, namun sesekali Ia pernah merasakan kangen pada keluarga di kampung walaupun hanya memiliki uang untuk ongkos mobil dan makan, Hotib tetap berangkat demi melepaskan kerinduannya pada keluarga.

‘Mang Gejrot’ itulah nama panggilan bagi para pelanggannya yang semakin hari semakin bertambah, pelanggannya ratusan bahkan ribuan, dari anak kecil sampai orang dewasa.

Di usianya yang sudah melewati setengah abad itu ia masih saja kuat untuk memikul tanggungan yang terbuat dari bilik bambu sambil berkeliling menyusuri jalan berasapal atau jalan yang berbatu, namun sesekali ia pernah mengeluh dengan keadaan tubuhnya yang sedikit merasakan sakit, namunrasa sakit itu cepat di obati dengan minum jamu, obat tradisional yang ia percayai mampu menghilangkan rasa nyeri atau pegal di tubuhnya.

Hari pun semakin gelap dan Ia bergegas mengambil whudu untuk melaksanakan shalat Maghrib, dan hari esok Ia pun kembali berjalan menyusuri jalan untuk menjajakan dagangnnya, walaupun rasa cape yang ia rasakan tapi ia merasa bangga karena apa yang ia lakukan selain mencari nafkah juga memperkenalkan khas makanan Cirebon pada orang lain khususnya kota Bandung , “ini makanan khas Cirebon dan saya bangga berjualan Tahu gejrot” katanya dengan bangga.

Penulis Adalah mahasiswa jurusan Jurnalistik 04, sekarang lagi memperdalam ilmu bidang kejurnalistikan di Antara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: