Click Here to Back

Perlukah kultur berTI (Teknologi Informasi) ditumbuhkan?

In Teknologi Komunikasi Info. on July 31, 2007 at 2:27 pm

Oleh : Sulthonie

A.H.Nasution – Bisa apa tidak integrasi secara simultan pada sistem informasi di tubuh Departemen Agama?. Pertanyaan ini pada akhirnya menjadi tema sentral pada Workshop Website Departemen Agama pada 28-30 Juni 2007 di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Hal ini disadari betapa kebutuhan penggunaan TI di berbagai departemen, terutama Departemen Agama, menjadi sebuah keharusan yang hampir pasti tidak bisa dihindari.

Adalah kenyataan paradoks, satu pihak bahwa efesiensi dan efektifitas kinerja dalam tubuh Departemen ini sangat dibutuhkan, mengingat bahwa professionalisme sebagai salah satu wujud Good Governance. Oleh karena itu, salah satu faktor terpenting saat ini adalah pemanfaatan TI (Teknologi Informasi) secara maksimal menjadi sebuah keharusan.

Sementara di pihak lain, tingkat pengertian dan pemahaman pada fungsi TI sendiri sangat minim. Malah sempat muncul keengganan untuk memahaminya. Banyak alasan yang melatarbelakanginya, tapi paling tidak ada tiga hal.

Pertama, keengganan ini muncul karena harus mengenal terlebih dahulu pada makhluk TI ini. Sementara proses pengenalan ini memerlukan keseriusan. Paling tidak waktu dan konsentrasi. Ini merupakan faktor utama yang paling menentukan. Sebab sebagian besar para petugas serta para pengambil kebijakan belum familiar – untuk tidak menyebutkan tidak kenal sama sekali – apa itu TI.

Kedua, faktor regulasi dari pemerintah belum sepenuhnya memberikan dukungan pada pemanfaatan TI ini. Hal ini bisa dipahami karena persoalan administratif masih lebih ditekankan pada lembaran-lembaran kertas yang lebih bisa dipertanggungjawabkan dari sisi legalitas dan pendekatan hukum. Artinya, pemanfaatan TI ini harus didukung oleh perangkat Undang Undang serta diberlakukan di berbagai lembaga-lembaga negara lainnya secara simultan.

Ketiga, saluran internet sebagai salah satu pendukung TI masih dirasakan sangat mahal. Berbagai provider penyedia layanan internet masih belum ada yang bisa memberikan harga yang murah, termasuk dari BUMN sekalipun. Kenyataannya adalah harga saluran internet (bandwith) di negeri kita tidak berbanding lurus dengan kondisi perekonomian masyrakat banyak.

Dari ketiga hal ini, inti permasalahannya pada kultur berTI yang belum tumbuh di negeri kita. TI masih dianggap sebuah makhluk asing yang perlu dicurigai dan diwaspadai, tapi dilain pihak sangat disukai dan dibutuhkan.

Pada akhirnya harus diakui bahwa tuntutan untuk berTI-ria di negeri kita masih harus melalui perjuangan yang tidak ringan. Perjuangan ini tidak bisa dilakukan oleh segelintir orang atau sekelompok komunitas tertentu, melainkan juga harus serempak berjuang bersama, terutama goodwill dari Pemerintah kita. Mudah-mudahan.

(Sulthonie/Bukit Tinggi, quoted from infokomp published on 29 Juni 2007 )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: