Click Here to Back

UNTUK SIAPA UJIAN NASIONAL?

In Opini on July 25, 2007 at 4:30 pm

Oleh : Dzarin Givarian
Ada kenyataan sejarah tentang pendidikan yang erat kaitannya dengan kebutuhan atau kepentingan golongan tertentu, kita tidak bisa lupa, ketika pemerintah kolonial Belanda mengusung politik Etika (baca: hutang Budi). Maka munculah intelektual, teknokrat, dan birokrat yang serta merta menjadi Belanda-Belanda hitam. Namun, tidak sedikit pula muncul intelektual, teknokrat, dan birokrat yang malah menjadi exstrimis (baca: tidak merasa berhutang budi). Dan sejarah mencatat kelompok yang terakhir ini bapak-bapak bangsa.

Begitupula ketika tentara Jepang membutuhkan “saudara muda”, dibukalah berbagai pelatihan, baik pelatihan keagamaan, kemasyarakatan, keamanan dan militer (sekolah sudah ada pada saat itu). Yang terjadi ada yang lebih ke Jepang dan ada yang exstrimis. Pada gilirannya si exstrimis ini menjadi bapak-bapak bangsa.

Pula, anak bangsa tak perlu buku sejarah (masih banyak saksi hidup dan terlalu sering gonta-ganti cerita sejarah). Manakala pemerintahan orde baru membutuhkan kesetabilan pembangunan, lagi-lagi dunia pendidikan menjadi objek keinginan penguasa, hartawan, dan ilmuan. Hasilnya KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme), tapi tidak sedikit dari anak bangsa itu menjadi extrimis yang pada gilirannya menjadi bapak-bapak bangsa.

Untuk Siapa Pendidikan ?

Rasanya tidak perlu seorang ahli untuk menjawab pertanyaan diatas. Ketertinggalan, keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan, kemalasan, keterpurukan, kehinaan, dan berbagai kondisi dan situasi anak manusia yang bersifat destruktif adalah indikator objek pendidikan yang paling “pelangi”.

Adalah murid, siswa, mahasiswa, guru, dosen, masyarakat dan pemerintah. Pendidikan tidak mentolelir pengrusakan fisik maupun mental, jasmani maupun rohani, material maupun spiritual baik yang dilakukan murid, guru, mahasiswa, dosen, masyarakat, maupun pemerintah.
Proses menuju hal tersebut awal tahun 2000-an. Gemar menyeruak slogan-selogan pendidikan bahwa siswa/murid bukanlah objek pendidikan, melainkan sebagai subjek. Jelas sekali, ini adalah kemajuan besar. Akan sangat beda ketika pendidikan berlangsung dengan siswa/murid sebagai objek dibandingkan siswa/murid sebagai subjek dalam posisinya. Sebagai subjek siswa/murid akan lebih berpeluang untuk mengekspresikan potensi, bakat, karakter, dan keterampilannya tanpa harus terhalangi oleh kebebasan struktural. Jika siswa/murid sebagai objek sangatlah jelas bahwa siswa/murid digiring sedemikian rupa oleh kepentingan struktural. Bisa—terjadi seorang guru yang cerdas memaksa anak didiknya harus secerdas sang guru. Baik ketika guru tersebut masih menjadi siswa/murid ataupun saat dia menjadi guru.

Situasi kondisi seperti ini menghasilkan gaya tolak-menolak antara guru dan muridnya. Guru selalu beranggapan muridnya tidak seperti yang diharapkan. Murid pun memandang sang guru dengan penuh kekecewaan. Mungkinkah proses belajar mengajar (PBM) atau PBM terlaksana pada term yang demikian ?. pada sisi lain gurupun tidak sedemikian leluasa untuk mengapresiasikan kepiawayannya ketika harus berhadapan dengan komunitasnya.
Gejala nyata, para guru itu seolah kekurangan waktu, ruang, materi, dan kesempatan untuk mengapresiasikan kurikulum ke-guruannya. Ketika term siswa/murid sebagai objek dirubah mejadi subjek, maka dengan serta merta harus diikuti oleh komponen-komponen terkaitnya. Salah satunya adalah kurikulum pendidikan.

Ada 3 kurikulum yang masih hangat tersimpan dalam memori para guru; pertama, kurikulum 94 yang masa tuntasnya di Ujian Nasional (UN) tahun pelajaran 2005-2006. Kedua, kurikulum 2004 lebih dikenal dengan nama kurikulum berbasis kompetensi dengan limit waktu pada UN tahun ajaran 2007-2008 dan yang Ketiga, kurikulum 2006 dikenal dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan.

Ke-3 kurikulum diatas memiliki sistem evaluasi yang jelas tentang keterampilan; kurikulum yang harus bisa dilaksanakan oleh guru dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dan daya serap yang harus dicapai siswa/murid. Subtansi ketercapaiannya seperti itu, barangkali hanya perubahan nama dan istilah. Mengingat adanya perubahan yang mendasar tentang pandangan dunia pendidikan terhadap anak didik menyababkan materi penyampainlah yang sangat terasa beda. Khususnya antara kurikulum 94 dengan 2004 dan 2006, malah pada kurikulum 2006. Guru begitu leluasa menentukan indikator ketercapaian sekaligus melihatnya.

adi, pada kurikulum sebenarnya tidak demikian. Kekhawatiran masalah-masalah evaluasi akhir, tahun kenaikan akan kelulusan baik melalui Ujian Semester (US) maupun Ujian Nasional (UN) tergantung kronologis peserta UN.

Mau Dibawa Kemana UN ?

Sejatinya penentuan lulus tidak lulusnya suatu tes adalah team vertifikasi (sekolah) dan ini berlaku untuk ujian sekolah. Disisi lain pemerintah Departemen Pendidikan Nasionak (Depdiknas) berwenang pula untuk menentukan standar nasional melalui Ujian Nasional (UN). Pada saat yang bersamaan pemerintah daerah pun dipacu untuk meningkatkan nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Yang salah satu indikasinya adalah nilai Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduknya.

Uniknya, ketiga kebutuhan yang mulia tersebut berwujud penodaan terhadap kesucian generasi bangsa yang justeru amat sangat kita harapkan memiliki potensi lebih sebagai bekal dalam menuntaskan cita-cita bangsa: ketulusan kita (generasi sekarang) untuk melihat kedepan adalah seperangkat visi, misi, kebijakan, program, sarana-prasarana, dan kegiatan-kegiatan pendidikan melalui ketetapan-ketetapan pemerintah yang lebih berpihak kapada anak didik dari berbagai keadaan peserta didik. Adalah prioritas utama dalam pengambilan kebijakan ketika terjadi hal-hal seperti berikut

1. Biaya pendidikan mahal, gajih guru belum memadai, sarana prasarana minim
2. Pesimisme dan apatisme peserta didik, pengangguran dan gejala prilaku destruktif anak bangsa.
3. Arogansi mistikasi, birokrasi, kesombongan penyandang dana dan keblingaran orang berilmu.

Kesadaran akan sebuah kekeliruan bisa berwujud pelaziman terhadap kekeliruan tersebut, jika kesadaran tersebut hanya retorika popularitas individu atas golongan tertentu (baca: Steak Halder). Kesadaran akan sebuah kekeliruan.

Sejatinya, dunia adalah energi yang dasyat untuk mampu mendorong lebih erat dunia pendidikan ke jenjang lebih manusiawi. Kita sambut gembira gagasan sistem evaluasi pada kurikulum 2006 yang bersifat terbuka dan tuntas menyinggung berbagai aspek kecerdasan (IQ, EQ, dan SQ) dan menghargai ragam potensi peserta didik/ sekolah daerah.
Steak Halder, bahkan pada posisi seperti itu muncul klasifikasi sekolah rintisan, sekolah standar nasional dan sekolah standar internasional. Maka pada posisi itu pula Ujian Nasional (UN) jelas perumusannya.

*Penulis Adalah Mahasiswa S1 jurusan jurnalistik Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN SGD Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: