Click Here to Back

Tinta Penuh Darah

In Cerpen on July 22, 2007 at 10:46 pm

Oleh : Aris M Fitrian

Sudah satu minggu lamanya sosok tubuh laki-laki itu terkapar di atas ranjang sebuah kamar rumah sakit. Selama itu pulalah dirinya belum juga siuman. Ya, semenjak timah panas itu bersarang didalam dadanya. Sejak itulah mulai menghentikan kretifitas serta kesehariannya selama ini. Namun denyut nadinya masih berdetak kencang, seolah ia ingin kembali menulis untuk surat kabar esok hari.

Selang-selang yang menancap di seluruh tubuhnya terus memompakan semangat untuk tetap hidup dan kembali memegang pena juga kamera. Namun, tak cukup hanya semangat saja, perlu adanya suatu keajaiban dimana ia bisa kembali berdiri. Mungkin peluru yang bersarang itu telah menembus paru-parunya, namun tidak akan menghentikan nafasnya untuk kembali menulis. Jantungnya terus memompakan darar-darah yang semakin lama menjadi cairan tinta yang menjalar ke setiap urat-urat ditubuhnya..

Fardan, lelaki yang semenjak lima tahun ini bekerja disebuah surat kabar harian pagi di kota ini. Ia selalu berada diantara kobaran api dan himpitan senapan yang meuntahkan peluru-peluru para polisi dan berandal. Mungkin nasib sial sedang merudupinya. Ketika itu ia tengah meliput dan sedang berada di lokasi penyergapan bandar besar narkoba. Sampai pada akhirnya entah peluru itu datang dari mana, polisi ataukan sang bandar, hingga bisa menghujam dan bersarang di tubuhnya. Sejak saat itu ia tidak sadarkan diri, hingga salah seorang dari anggota kepolisian membawanya ke rumah sakit ini.

Inilah jalan hidup yang dipilih oleh Fardan. Tak ada pilihan, gelarnya sebagai sarjana komunikasi bidang jurnalistik disebuah universitas negeri di kota ini membuatnya bergelut dengan dunia yang begitu keras dan penuh tantangan. Tak perlu ada yang disesali, semuanya memang sudah menjadi resiko. Penghasilan yang memang pas-pasan namun memiliki resiko yang sangat besar. Apalagi semenjak dirinya ditempatkan menjadi peliput berita kriminal. Ia terkadang harus berlari mengikuti kepungan para penjahat bahkan terkadang berada diantara terbangnya peluru jika memang terjadi kontak, ya seperti saat itu.

***

Lubang mengaga bekas peluru ditubuhnya telah di jahit, bahkan hampir kering. Namun dokter tak mampu memperkirakan kapan laki-laki itu bisa terbangun kembali. Berbagai peralatan medis dipakai dan menyambung ke tubuhnya, semua cara telah di tempuh agar mengambalikan kehidupan sang kuli tinta kembali berdetak. Entah berapa liter banyaknya cairan yang masuk ke dalam tubuhnya. Numun entah baru berapa orang yang peduli dengan hidupnya. Bahkan dari rekan sepropesi yang selama ini selalu bersamanya.

Ia terus tertidur diantara bunyi mesin-mesin medis yang berjalan memompa semangat. Hanya sebuah vas bunga berisi setangkai mawar yang setia menemaninya. Itu adalah pemberian dari sang kekasih yang pernah menjenguknya kali pertama ia di infuse. Inikah penghargaan dari apa yang selalu ia lakukan, untuk menginformasikan pada orang-orang tentang peristiwa dan segala berita. Atau mungkin ini adalah sebuah penghinaan dari semua kebenaran yang pernah ia suarakan di media-media masa. Bahkan orang-orang pun tak pernah tahu seberapa besar jasa yang pernah diberikannya pada mereka untuk mendapatkan informasi.

Mereka semua hanya mengerti bagaimana memperoleh hasil yang meraka dapatkan. Sejauh ini belum ada yang mengerti bagaimana besar pengorbanan sang kuli tinta untuk memperoleh semua itu. Bahkan untuk mengorbankan kehidupan dan nyawanya sendiri. Hampir separuh waktunya ia curahkan untuk mendapatkan informasi yang ia sampaikan kepada masyarakat kota ini. Tak peduli dengan panas, hujan bahkan perang sekalipun, ia akan terus menggoreskan tinta-tinta itu kedalam koran esok pagi. Ya, selama roda kehidupan ini terus bergulir selama itu pulalah ia terus mengejar berita.

Dalam sosoknya yang tengah terbaring muncul sepasang sosok baru yang selalu membisiki disela tidurnya. Keduanya memang berbeda karakter, tetapi mereka begitu dekat dengan pikiran dan jiwa pria tersebut. Yang satu berada disebelah telinga kanan sedang yang satu lagi menghimpit disebelah kiri. Mereka terus berbisik dan menyuarakan segala hal yang telah dilakukan oleh sang laki-laki itu dimasa lalu. Sosok yang kesatu meyegarkan kehidupan Fardan dengan hal-hal kebajikan yang telah ia lakukan selama ini dan mengajaknya untuk mendekat ke arahnya. Namun sosok yang satu lagi hanya menyuarakan kehidupan pahit yang pernah ia lakukan, bahkan terkadang menggambarkan neraka yang akan ia hadapi dihari depan. Ia pun mengajak dirinya untuk ikut bersama.

Bisikan itu lama-kelamaan berubah menjadi teriakan yang semakin lama memecahkan telinga batin laki-laki tersebut. Hanya ia yang bisa mendengar dan merasakan semua itu. Orang-orang yang berada disana sibuk dengan kegiatannya masing-masing, begitu juga dengan dokter dan suster rumah sakit. Pria itu menggeliat dan meronta mencoba melepaskan diri dari kepungan dua sosok tadi. Dirinya tak tahan lagi akan teriakan yang terus mendengung di telinganya, apalagi untuk mengikuti perkataan mereka.

Ia mulai terbangun perlahan. Menggerakan jari-jarinya yang telah lama mati seolah ia ingin kembali mengisi lembaran –lembaran kertas dengan tulisannya. Denyut jantungnya terus memompakan puluhan liter tinta yang mengisi setiap urat nadi pada seluruh bagian ditubuhnya. Matanya mulai terbuka melihat sekumpulan cahaya yang datang entah dari mana. Dari sana pulalah suara yang tidak asing dipendengarannya muncul. Suara yang pernah mengisi kehidupannya dimasa lalu. Ya, suara sang ayah yang telah lama meninggalkan dirinya sewaktu ia kecil dulu.

Laki-laki itu mulai bangun dari tubuhnya yang masih terkapar di atas ranjang. Perlahan berdiri mengerakan kedua belah kakinya. Ia mulai berjalan perlahan menghampiri asal suara berasal, suara yang datang dari sebuah sinar yang perlahan meredup. Hingga akhirnya ia meninggalkan jasad yang belum juga bisa terbangun. Meninggalkan keseharian yang selama ini ia lakukan. Meninggalkan orang-orang yang masih peduli terhadap kehidupannya. Bahkan meninggalkan pena yang selama ini berselip di kantong baju kerjanya.

Sementara dalam alam sadar, orang-orang telah mulai berkumpul mengelilingi sesosok tubuh yang masih terbaring diranjang kamar rumah sakit. Diantara mereka, sang dokter dan perawat sibuk memberikan rangsangan pada jantung yang telah berhenti berdetak. Dari mereka yang datang satu-persatu mulai mengeluarkan tangisan yang mengalahkan bisingnya mesin-mesin pemompa darah. Dan setangkai bunga mawar yang berada dalam vas perlahan layu dan mati.

Aris M Fitrian Jurnalistik / V / A

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: