Click Here to Back

PERMATA DI KAMPUNG NAGA

In Feature on July 11, 2007 at 2:39 pm

Kita mungkin pernah mendengar nama Kampung naga, sebuah perkampungan kecil yang masih tetap berpegang pada adat dan istiadat. Tepatnya di Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya, kampung Naga menjadi salah satu objek parawisata unggulan di wilayah Tasikmalaya. Tempat ini memiliki kelebihan dibanding daerah lain di Kabupaten Tasikmalaya.

Disamping masyarakatnya yang masih memegang teguh terhadap adat, juga sikap ramah yang mereka tunjukan terhadap pengunjung adalah khas dari masyarakat Naga. Maka tak heran jika banyak orang yang berkunjung kesana baik dari dalam maupun luar negeri. Mereka berkunjung dengan berbagai tujuan, dari sekedar Wisata hingga untuk melakukan study terhadap kehidupan disana.

Kampung Naga merupakan daerah yang potensial untuk menggambarkan miniatur pada masyarakat sunda tempo dulu. Kita akan terpana dengan kebertahanan masyarakat yang memang tidak ter-infus oleh perkembangan teknologi. Tentunya hal ini mereka pandang sebagai faktor yang akan merubah pada cultur sosial masyarakat.

Siang itu udara pagi disekitar wilayah kampung Naga terasa menyegarkan. Cahaya mentari tidak begitu menterik, namun tidak juga mendung. Sampai dilokasi, tepatnya di tempat parkir kendaraan, para penjual cendra mata berjejer disepanjang pinggiran lokasi tersebut. Mulai dari menjajakan makanan khas hingga pernak-pernik yang siap untuk dibawa sebagai oleh-oleh. Namun ini bukan termasuk kawasan dari perkampungan Naga sendiri. Untuk sampai di perkampungan tersebut, kita harus berjalan terlebih dahulu melewati hampir 360 anak tangga.

Berbicara tentang tangga ini. Ada hal yang menarik mengenai cerita mitos jumlah hitungan tangga tersebut. Tangga yang menukik turun ke lembah kampung Naga tersebut tak pernah sama jumlah hitungannya. Ada yang menghitung berjumlah kurang dari 360 buah anak tangga, namun banyak juga diantaranya yang menghitung lebih dari itu. Bahkan pernah dua orang yang menghitung bersamaan tidak bisa memperoleh jumlah hitungan yang sama. Semua ini masih merupakan sebuah teka-teki bagi pengunjung yang datang kesana.

Kapung Naga memiliki luas sekitar 1,5 ha. Jika kita jabarkan secara geortafis perbatasannya meliputi : sebelah barat terdapat Tebing, Sebelah Utara berbatasn dengan Kakalen(sungai Ciwulan), Sebelah Timur dibatasi Sungai Ciwulan, dan Sebelah Selatan Kakalen (sungai). Kampung Naga memang diapit oleh tebing dan sungai yang mengalir disepanjang kawasan tersebut. Sungai inipun mereka manfaatkan sebagai kolam masyarakat. Setiap 3 bulan sekali mereka menanam dan menggambil ikan dari kubangan (leuwi) yang dibuat khusus oleh masyarakat Kampung Naga.

Memasuki wilayah perkampungan Naga, terlihat sekali ornament bangunan yang sudah langka kita temukan pada masyarakat sunda saat ini. Betuk dan posisinya yang seragam antara rumah satu dengan yang lain. Rumah panggung, berbahan baku dari kayu dan bambu serta beratapkan Injuk (dari pohon Aren) yang katanya diambil langsung dari hutan sekitar Naga. Terdapat 111 jumlah bangunan, yang terdiri dari 109 rumah hunian sebuah mesjid dan sebuah aula pertemuan yang kesemuanya menghadap kearah Timur.

Menurut ketua adat kang Ade, alasan mendirikan rumah panggung agar menjaga tidak ada kecemburuan sosial pada masyarakat, lagi pula jika mendirikan rumah permanent akan mengeluarkan biaya yang cukup besar. Untuk jumlahnya sendiri masyarakat Naga tidak akan menambah jumlah rumah yang ada, karena keterbatasan lahan serta telah menjadi hukum adat. Sedang alasan mengapa semua bangunan menghadap kearah timur, beliau menuturkan selain menyesuaikan dengan keadaan lahan dan menjaga kebersihan juga agar sinar matahari bisa langsung sampai kedalam rumah-rumah tanpa terhalangi oleh bangunan yang lain. Untuk membuat sebuah rumah, hamper semua masyarakat ikut bergotong royong dalam pengerjaannya, sehingga pada proses pengerjaanya tidak menggunakan kuli bangunan.

“Semua bangunan di Kampung Naga tidak boleh ditambah karena memang keterbatasan lahan yang tersedia disini”. “semua lahan disini telah disesuaikan pergunaannya agar tidak merusak tatanan alam disekitar wilayah ini”. Begitu yang dituturkan kang Ade saat ditemui di beranda rumahnya. Sebelum kita memasuki kampung naga, memang sangat dianjurkan sekali untuk meminta ijin terlebih dahulu pada sesepuh kampung. Selain memimta persetujuannya, diharapkan agar masyarakat kampung naga juga tidak merasa terganggu akan kedatangan kita. Dengan begitu kedatangan kita akan merassa tenang saat memasuki kampung tersebut.

Disebelah pingir utara kampung, berderet beberapa kolam-kolam ikan yang sengaja dibuat warga. Memang telah menggunakan tembok untuk pinggirnya, namun hampir disetiap kolam memiliki jamban (pacilingan) yang masih terbuat dari anyamam bambu. Jamban tersebut dipergunakan warga sebagai tempat MCK. Meski sederhana namun masyarakat naga telah memandang kesehatan sebagi suatu kebutuhan utama.

Berdasarkan hasil observasi dan sensus penduduk tahun 2004 masyarakat Naga berpenduduk kurang lebih 326 jiwa, yang terdiri dari 106 kepala keluarga. Mayoritas dari mereka bermata pencaharian sebagi petani, disamping ada yang berdagang dan merantau ke luar kampong Naga. Ada yang mengejutkan dari tingkat pendidikan mereka. Ternyata masyarakat naga ada yang berpendidikan sampai perguruan tinggi bahkan bekerja di jepang. Semua itu dengan biaya bea-siswa. Termasuk ketua adat Kang Ade yang memiliki gelar Drs. Tetapi memang mayoritas dari mereka berpendidikan sampai Sekolah Dasar dan SLTP.

Sebuah pertanyaan besar saat bertemu dengan Kang Ade, yakni mengapa kampung ini dinakamakan Kampung Naga. Ternyata jawaban tersebut sulit untuk didapat, dikarenakan ini adalah hari Rabu, hari yang ditabukan (terlarang) oleh adat untuk membicarakan sejarah Naga, termasuk pada hari sabtu. Diluar hari tersebut masyarakat naga tidak ada pantangan untuk membicarakan hukum dan sejarah adat Naga. Bagi kang Ade sendiri pantangan adat masih berlaku kuat disini. Meskipun ia berpikir secara rasional, tapi hukum adat adalah pegangan yang tidak bisa ditinggalkan.

Namun, menurut pendapat masyarakat sekitar luar perkampung Naga, nama Naga sendiri berasal dari mitos yang mengatakan tempat tersebut dulunya dulunya merupakan tempat bersemayangnya seekor Naga. Namun sumber lain mengatakan bahwa tempat tersebut merupakan tempat pelarian prajurit Mataram saat dikejar musuh dalam pertempuran. Kemudia mereka bermukim dan menetap disana, hingga saat ini mereka merupakan cikal dari keturunan masyarakat Naga.

Pembicaraan pun berlangsung memanjang dengan kang Ade, apa saja yang menjadi pantangan bagi masyarakat naga?. Untuk hal ini ia sedikit terbuka. Sama seperti masyarakat lainnya, masyarakat naga terlarang untuk berbohong, berzinah, memitnah dan pantangan lainnya. Bagi mereka yang melanggar, maka akan dikenakan sanksi adat yang berujung pada pengusiran dari kampung Naga. Untungnya sampai saat ini belum ada masyarakat yang melanggar pantangan besar tersebut. Ini menggambarkan bahwa masyarakat Naga yang tidak pernah ingkar pada hukum dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh adat. Semua telah dijabarkan dan dijelaskan secara tersirat lewat norma dan ketentuan tidak tertulis.

Tidak akan lengkap jika datang ke kampung Naga jika kita tidak berjalan-jalan disini. Menelusuri gang-gang pendek dan dempetan atap-atap rumah yang tersusun berdekatan satu sama lain. Menyusuri tangga-tangga dari tumpukan batu yang disusun rapi dari bawah hingga atas. Kampung permukiman naga dibentuk dalam 3 susunan (estengger), yang kesemuanya ditempati sebagai rumah penduduk. Semakin keatas maka semakin jelas pemandangan keseluruhan kampung tersebut.

Lalu bagaimana dengan aliran listrik yang tidak terdapat di Naga?. Beliau sederhana meneturkan. Hal ini bukannya ditabukan, tetapi memang masyarakat Naga tidak menginginkan adanya aliran listrik. Walaupun masyarakat Naga sudah beberapa kali ditawari oleh pemerintah. Pada dasarnya masyarakat Naga masih awam terhadap listrik, sehingga mereka agak sedikit takut terhadap penggunaan listrik. Pasalnya banggunan di Naga pada umumnya terbuat dari bahan yang mudah terbakar, sehingga takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Selain dari itu juga yakni untuk menjaga kebersamaan dan mencegah terjadinya kecemburuan sosial pada masyarakat. Dengan munculnya listrik tidak menutup kemungkinan masyarakat berlomba untuk membeli dan menggunakan barang-barang elektronik. Alasan ayang cukup logis sebagai hukum adat yang diterapkan.

Ada pemandangan lain disini. Meskipun masyarakat Naga tidak menerima aliran listrik, tetapi dari beberapa rumah penduduk telah berdiri tiang-tiang antenna Televisi. Meskipun Televisi yang digunakan memakai tenaga Accumulator sebagai pembangkit listriknya. Hal tersebut membuktikan masyarakat naga tidak sepenuhnya menutup diri terhadap globalisai. Ada beberapa hal yang diambil dari perkembnagan globalisi. Salah satunys pola prilaku yang yang disadari oleh Kang Ade sendiri telah bergeser, begitu pula dengan pakaian dan alat keseharian yang dipergunakan oleh masyarakat. Dan hal tersebut disadari sebagai westernisai yang dibawa oleh Televisi salahsatunya.

Kebetulan pada waktu itu sedang musim tanam padi. Sembari berjalan-jalkan pertanyaanpun muncul mengenai pertanian di Naga yang katanya mayoritas bermata pencaharian sebagai petani. Lahan persawahan yang menghampar di sebelah timur kampung begitu subur dan hijau. Cukup luas, hampir semuanya milik masyarakat Naga dan dikelola oleh penduduk naga sendiri. Begitu juga dengan rimbunnya hutan yang terdiri dari hutan olahan dan hutan larangan.

Terlihat pula sekelompok ibu-ibu masyarakat naga yang tengah memberikan pupuk pada padi mereka. Pupuk kandang, mereka masih setia dengan pupuk tersebut. Walaupun pernah menggunakan pupuk urea, tetapi mereka menilai pupuk alami lebih sehat dibanding urea. Mereka tidak menyesalkan bila menggunakan pupuk kandang hasil panen mereka hanya dua kali setahun. Begitu pula dengan proses pembajakan sawah yang masih menggunakan kerbau ketimbang traktor. Pupuk kandang serta membajak sawah dengan kerbau memang dinilai masih sangat tradisional, tetapi dari segi kwalitas yang dihasilkan mereka puas.

Masyarakat naga memang secara mayoritas berprofesi sebagai petani, namun sebagian lagi ada yang merantau ke Jakarta dan Bali menjadi karyawan dan pedagang. Kadang mereka kembali setelah beberapa tahun dirantau atau pada saat idul fitri. Kesuksesan yang diraih oleh keluarga atau masyarakat naga dalam pekerjaan, pada akhinya diikuti oleh sebagian orang untuk ikut bekerja dan merantau ke kota. Setiap orang yang pergi ke kota memiliki satu pegangan yang dibekali oleh sesepuh kampung. “jangan mencari permusuhan, tetapi jika ada musuh janganlah lari”. Sebuah bekal yang selalu dijunjung tinggi oleh setiap orang yang hendak merantau ke kota.

***

Hutan yang memang terlihat rimbun di samping utara dan selatan kampung Naga adalah hutan adat. Hutan tersebut adalah peru-paru bagi ekosistem yang ada di Naga. Mereka terus menjaganya dari generasi ke generasi, agar keberlangsungan kehidupan di Naga berkesinambungan. Hutan larangan dan hutan olahan, keduanya memiliki fungsi adat yang berbeda. Terlarang bagi siapapun untuk memasuki hutan larangan, termasuk bagi masyarakat Naga yang tidak berkepentingan. Terkecuali pada saat hutan ini digunakan bagi ritual upacara adat. Namun untuk hutan olahan boleh dimasuki dan diambil kayunya asal bagi kepentingan adat. Selain untuk pembangunan perkampungan naga serta bagi mereka yang diijinkan oleh hukum adat.

Terdengar suara pentongan dan bedug dari surau yang ada di tengah perkampungan. Itu adalah pertanda memasuki waktu dzuhur. Dengan alat tersebut pulalah mereka melakukan komunikasi jarak jauh bila ada kepentingan untuk diskusi (rembung) adat. Didalam surau yang tidak begitu luas hampir semua masyarakat berkumpul untuk shalat berjamah. Mulai dari anak hingga orang tua. Begitu juga yang tengah bekerja diladang dan persawahan, semua ikut berjamaah. Semua penduduk Naga memang beragama islam. Tetapi mereka menolak untuk dicap sebagai salah satu aliran dalam islam, baik NU, Muhamadiah atau Persis. Yang ada adalah mereka pengikut Ahli sunah wal jama’ah.

Kebudayaan disini memang tidak jauh dengan kebudayaan sunda pada umumnya. Justru mereka masih mencerminkan kebudayaan sunda asli. Bahasa yang terlempar dari perkataan kang Ade menguntai dengan tertata, halus dan penuh dengan makna tersirat. Meskipun bahasa yang diucapkan oleh orang kampung naga sudah jarang digunakan oleh masyarakat sunda umumnya, tetapi mereka sangat akrab dengan bahasa sunda tersebut. Begitu juga dengan pakaian yang dikenakanya, untuk acara ritual maka para ibu mengenakan kebaya dan para pria mengenakan pakaian pangsi. Terkecuali untuk pakaian keseharian, kini mereka telah menggunakan pakaian biasa seperti kita pada umumnya.

Dimana pun berada, masyarakat naga selalu terlihat berbeda dengan orang lain pada umumnya. Hal tersebut dikarenakan mereka selalu membawa palsapah hidup kampung Naga kemanapun mereka pergi. Diantaranya ; 1.Ngalindungna sihung maung, diteuheurna meumenteng. 2.Ulah aya guam. 3.Bisa tuliskeun,teu bisa kanyahokeun. 4.Sok lamun eling, moal hirup salamet.

Hari telah beranjak sore, cahaya senja mulai turun kelembah naga yang kian elok disinari bagaikan pancaran cahaya emas. Kesibukan lain telah dimuali. Anak-anak naga yang tadinya sedang bersekolah kini telah kembali. Mereka asik sekali memainkan berbagai mainan tradional. Gelak tawa serta canda terlontar dari bibir mereka yang kecil. Adapula yang memaikan raket dan satelcook didepan rumah mereka. Semuanya terlihat asik memainkan permainan mereka masing-masing.

Begitu pula dengan para ibu yang tengah berderet depan beranda rumahnya untuk sekedar bercengkrama dan saling membersihkan rambut mereka. Ini sangat jarang sekali terlihat pada masyarkat sunda sekarang. Nyiaran Kutu, itu yang meraka lakukan. Empat sampai enam orang ibu-ibu berderet saling membersihkan rambut mereka. Berjam-jam mereka melakukan hal tersebut. Sebuah cara berinteraksi dengan sesama tetangga yang sering para ibu-ibu Naga lakukan.

Sementara itu para pria tengah asik menganyam anyaman bambu yang diperuntukan sebagai cendramata khas naga. Tas, hiasan didnding serta pernak-pernik lainnya. Adapula yang membuat anyaman surumung untuk irigasi kolam mereka. Pada beberapa rumah, masyarakat naga memang membuka warung kecil sebagai tempat menjual cendramata serta berguna untuk penghasilan uang tambahan. Harganya cukup murah, lagipula ini adalah upaya untuk membantu perekonomian masyarakat. Jadi tak ada salahnya jika kita membeli oleh-oleh dari naga sebagai bentuk bantuan penopang keberlangsungan masyarakat naga.

Tak puas jika rasanya mengunjungi naga hanya cukup sehari, perlu bermalam disini agar benar-benar merasakan bagaimana situasi kampung ini secara keseluruhan. Maka diputuskanlah untuk bermalam disini. Untungnya Kang Ade mau menampung, merelakan rumahnya ditempati bermalam sementara ini.

Senja semakin terasa, udara dingin lembah menyelinap kedalam pori-pori kulit. Pada setiap rumah mulai menyalakan lampu. Ya, lampu petromak. Ada pula lampu temple yang cahayanya berkedip dalam keremangan senja sore itu. Sayup-sayup terdengar dari surau suara orang-orang mengaji. Kekaguman kembali tergugah, ini adalah suasana yang sngat jarang dijumpai. Cahaya petromak menyeribak dari celah-celeh rumah bambu, begitu pula dari dalam surau yang terus-menerus memanjatkan asma Allah.

Diambilah air wudlu, lalu segera beranjak masuk kedalam surau untuk menunaikan shalat magrib. Ternyata surau telah penuh oleh semua masyarakat yang hendak shalat magrib. Seluruh warga dari mulai anak-anak hingga orang tua berbaris mengikuti shap shalat. Selesai shalat, anak-anak dan orang tua melanjutkannya dengan mengaji al-quran bersama dalam surau. Suara alunannya begitu menggetarkan hati, hingga jiwa ini terasa ikut larut dalam persujudan pada Allah.

Bulan bersinar separuh menerangi hamparan langit yang hitam kebiruan. Malam dikampung naga bermandikan cahaya bulan dan kelipan bintang-bintang. Menikmati indahnya malam di Naga adalah pengalaman yang sangat berharga. Pembicaraan dengan kang Ade dilanjutkan. Kali ini didepan serambi rumahnya yang menghadap kearah lapang terbuka yang berada ditengah kampung. Suasana yang hangat mulai terbangun. Sembari menikmati secangkir kopi dan kepulan asap rokok.

Dalam system kekerabatan masyarakat naga menganut system Bilateral, yang artinya menarik keturunan dari garis ibu dan ayah. Itu yang dituturkan Kang Ade. Sedang untuk system pemerintahan sendiri masyarakat naga tetap mengakui adanya system kemasyarakatan Formal dan Non-formal. Dalam system formal meliputi kepala RT dan Kepala Dusun dan semua unsur yang terkait didalamnya, termasuk system pemerintahan.

Namun ia bercerita bahwa pada umumnya masyarakat naga tidak mengenal nama struktural pemerintahan secara benar. Bahkan untuk Presiden saja mereka hanya tahu dan kenal pada Soekarno, karena hanya beliaulah yang pernah mengunjungi naga, sedang para presiden yang lain belum pernah. Utuk itulah Kang Ade menuturkan kekecewaanya pada pemerintahan yang kurang memperhatikan keberlangsungan masyarakat Naga, termasuk pada pemerintahan Tasimalaya yang cenderung mengeksplorasi mereka sebagai lahan parawisata.

Dalam system Non-foramal, masyarakat naga mengenal dan mengakui adanaya Kuncen (juru kunci) sebagi pemangku adat. Disini dipegang oleh kanga Ade sendiri yang ditunjuk langsung oleh masyarakat. Sang juru kunci berperan dalam pengambilan kebijakan adat. Ada juga Punduh yang berfungsi mengurusi masyarakat dalam kerja sehari-hari. Dirinya bertindak sebagai pengayom masyarakat apabila ada kegiatan kemasyarakatan. Begitupula dengan bidang keagaman yang diusus oleh Leube. Dirinya punya wewenag dan tanggungjawab dalam mengurus masyarakat pada masalah keagamaan dan hal lain yang terkait dengan agama.

Malam pun kian larut dan bulan telah bergeser dari tempatnya semula. Sebagian lampu petromak telah dimatikan, tinggal sebagian cahaya lampu tempel yang masih tersisa. Aktifitas yang sejak tadi terjadi di Kampung Naga kini telah terhenti. Hanya tinggal suara katak dan jangkrik yang terdengar sayup dari persawahan. Larut malam telah merangkul dan memanggil untuk beristirahat, dan esok pagi kehidupan baru di Naga akan dimulai kembali.

Begitu banyak hal yang bisa diambil dari kehidupan masyarakat kampung Naga. Mulai dari hubungan kemasyarakatan, interaksi dengan alam, hingga pegangan bijak dari adat Naga. Semua itu tercermin dari budi yang luhur sebuah masyarakat sunda yang masih memegang teguh budayanya. Kita sudah sepatutnya mensyukuri keaneka ragaman budaya yang ada di nusantara. Selayaknya kita menghargai dan menjaga apa yang menjadi pegangan adat masyarakat kampung Naga. (Aris M Fitrian)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: