Click Here to Back

Tulisan yang Terlarang

In Feature on July 5, 2007 at 6:09 am


Oleh : Feri Purnama

Senin hari yang cukup cerah, namun hari itu 18 Juni 2007 pukul 11 WIB wajah Ajat Sudrajat Mahasiswa UIN SGD Bandung jurusan Jurnalistik angkatan 2004 tak membuat wajahnya menjadi ikut cerah, tampak diwajahnya kalut dan gelisah, dengan gaya berjalan yang cukup cepat karena memang seperti itulah cara berjalan Ajat.

Laki laki kelahiran Bandung , 7 April 1986 kini tinggal di Margahayu Bandung, wajahnya murung karena akan menghadapi permasalahan cukup besar dia akan berhadapan dengan ketua jurusan komunikasi, dimana Ajat berpijak menuntut ilmu ke-jurnalistikan. Hatinya getar setiap langkah menuju kampus, tak ada perasaan untuk berlari dari kenyataan karena Ajat mempunyai tekad yaitu demi sebuah kebenaran.

Laki-laki yang mengenakan kaos warna putih yang ditutupi jaket warna biru dan celana levis berwarna putih sedikit kebiru-biruan, dengan rambut pendek tertata rapih mengenakan tas gandong lusuh, serta tak pernah terlepas dari kacamata minusnya.

Di Fakultas Dakwah dan Komunikasi tempat bernaung para Mahasiswa mengurusi segala aktivitas akademiknya, disebuah ruang jurusan, Ajat mendengar Suara yang sudah cukup tua dan tidak asing lagi bagi mahasiswa Jurnalistik, tampak didepan kepalanya sendiri memanggil nama Ajat sini Jat, Bapak mau bicara sebentar suara memanggil itu berasal dari ketua jurusan Drs. Ujang Saefullah, M.Si dosen yang sudah senior dan berpengalaman dalam kajian ilmu komunikasi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Ajat sedikit kaget, walaupun Ajat sudah tahu apa maksud ucapan dosennya sendiri, bukan soal mata kuliah, ataupun masalah nilai, tapi ini permasalahan serius yang sangat fatal bagi jurusan dan khususnya fakultas Dakwah dan Komunikasi, bahkan bagi Ajat sendiri, dengan memberanikan diri serta kebetulan bertemu dengan Dzarin teman satu jurusan dan satu angkatan Ajat merasa ditemani oleh Dzarin berhadapan dengan Dosen Ujang, sekaligus Dzarin juga ada keperluan dengan Dosen tersebut (Ujang Saefullah), tapi keperluannya berbeda dengan Ajat, Dzarin hanya untuk memberikan karya tulisnya yang sudah dimuat di media cetak, karena pada awalnya Kamis 14 juni 2007 Dosen Ujang sudah berjanji bagi mahasiswa yang mempunyai karya baik tulisan, film maupun foto dan keahlian lainnya yang bersangkutan dengan kajian mahasiswa dibidangnya, mohon untuk menghubungi bapak ujar dosen kajian ilmu Komunikasi, Ujang Saefullah.

Diruang jurusan Ajat dan dosen disaksikan oleh Dzarin, duduk dikursi diruangan yang banyak makalah, skripsi dan kertas yang tidak tertata rapih diatas meja, namun dibalik perbincangan dan dibatasi oleh papan triplek ada dua orang wanita teman Ajat dan Dzarin masih satu jurusan dan satu angkatan, dua orang wanita itu bernama Windu dan Irma yang baru saja berbicara dengan dosen masalah pembayaran buku karya Ujang Saefullaah judul bukunya Kapita Selekta Komunikasi yang di jual pada Mahasiswanya beberapa bulan lalu.

Dua orang wanita itu tidak langsung pergi namun duduk dulu sebentar karena ingin mengetahui apa yang dibicarakan ketiga orang tersebut, karena dua orang wanita itu sudah tahu permasalahan Ajat, tapi karena ingin lebih tahu apa yang dibicarakan antara dosen dengan Ajat, dan Dzarin, maka sedikit menguping dari balik triplek walaupun samar namun cukup jelas ditelinga dua orang wanita itu, tidak lama kemudian dua wanita itu berlalu dari ruang jurusan karena ada keperluan lain yang lebih penting selain menguping pembicaraan orang lain.

bagus tapi pedas ungkap Dosen Ujang kepada Ajat.
Ucapan itu membuat Ajat sedikit terkejut, pikirannya sudah kemana-mana, karena apa yang ditulisnya membuat dosennya sendiri mengucapkan pedas namun Ajat masih duduk dan diam mendengarkan ceramah dosennya, Ajat hanya bisa mengiya-iyakan apa yang diucapkan oleh dosen Ujang.

Ditengah perbincangan, Ajat menjelaskan bahwa apa yang ditulisnya itu adalah sesuai dengan kenyataan, saya hanya mengkritik, brosur yang disebarkan fakultas ucap Ajat membela. Satu minggu kebelakang Ajat mendapatkan brosur dari fakultas, namun ketika dibaca terlihat jelas sekali fasilitas tertarik untuk membacanya termasuk saya sendiri (penulis, red). ikut membacanya diwarung kopi dakwah sembari menunggu dosen yang tak kunjung datang, bahwa dari brosur itu ada yang menjelaskan soal fasilitas yang tertera delapan point. Pertama, ruang kuliah yang leluasa, nyaman, dan dilengkapi sarana perkuliahan yang modern, kedua, ruang kantor dan tata usaha yang modern dan aksesibel. Ketiga, laboratorium televisi, radio, fotografi dan tekhnologi tepat-guna berperangkat komputer. Ke-empat, laboratorium makro masyarakat bina. Ke-lima, pusat praktik professional kerjasama dengan pemerintah, perusahaan, media massa , NGO, dan lapangan kerja potensial. Ke-enam, perpustakaan fakultas dan perpustakaan jurusan, fasilitas internet, dan terakhir point delapan, yaitu beasiswa.

Namun yang lebih dipermasalahakan ada point pertama dan ke-tiga sehingga terdorong Ajat untuk mengkritiknya dengan menulis surat pembaca yang akan dikirimkan pada surat kabar, kemudian di muat Jumat 15 Juni 2007 di surat kabar harian Seputar Indonesia rubrik Opini. Ajat tidak tahu bahwa tulisan itu akan menghebohkan Fakultas, namun dibalik Ajat menulis surat pembaca itu karena mempunyai rasa kepeduliaan terhadap kampus dan jurusan. Seandainya ada sesuai dengan kenyataan masalah fasilitas yang tertulis dibrosur mungkin Ajat juga tidak akan mengkritik habis-habisan di media cetak melalui surat pembaca.

Apalagi ada salah satu mata kuliah penulisan artikel yang dosennya bernama Haris Sumadiria terus mendukung para mahasiswanya agar menulis dengan kritis dan intelektual, namun dosen tersebut tidak menyuruh Ajat untuk menulis soal fakultas, masalah penulisan surat pembaca mengkritik brosur adalah inisiatif sendiri bukan suruhan pihak lain, Haris Sumadiria menyuruh mahasiswanya untuk menulis surat pembaca kalau bisa menulis artikel kemudian dikirimkan ke-surat kabar, dan itu adalah salah satu tugas individu yang wajib dan nilainya dijamin B kalau satu kali dimuat dan nilai A kalau tiga kali dimuat surat pembaca dan syaratnya harus mengatasnamakan mahasiswa Jurnalistik UIN bandung. Ucap Haris Sumadiria saat mengajar di kelas kajian penulisan Artikel.

Rasa kekecewaan Ajat pada fasilitas yang tertera di brosur dan tidak sesuai dengan kenyataannya, apalagi Ajat sendiri pernah mengalami pengalaman yang cukup menarik sekaligus mengkhawatirkan saat mengikuti kuliah Komunikasi grafis dosen bernama Djeje, dosen Djeje meminta pada mahasiswanya untuk memakai infokus supaya menerangkan mata kuliah ini berjalan efektif, ucap dosen komunikasi grafis beberapa tahun kebelakang ketika itu Ajat semester empat.

Ajat adalah Kosma kelas A dia bertanggung jawab sebagai Kosma, maka permintaan dosen pun di usahakan, Ajat meminjam infokus ke fakultas karena apa yang ada dibenaknya mungkin saja di fakultas menyediakan infokus, namun setelah ke fakultas harapan Ajat mendapatkan infokus kandas tidak membuahkan hasil, dan akhirnya sesuai perjanjian anatara Ajat dan dosen Djeje. Minggu depannya lagi Ajat memutuskan meminjam pada orang lain walaupun harus disewa, akhirnya infokus didapatnya walaupun harus ditunggu oleh pemilik infokus sembari pemilik infocus itu ikut kuliah juga, sampai akhirnya kuliah selesai dan uang sewa pun dibayar sesuai disepakati. Permasalahan itu selama ini belum bisa terhapuskan, dan kuliah seperti biasanya lancar begitu saja sampai akhirnya mata kuliah komunikasi Grafis sampai saat ini nilainya belum juga kelar.

Perbincangan diruang tertutup Ajat, Dzarin dan Dosen Ujang semakin menarik, Dosen Ujang masih terus memberikan ketidak setujuan atas apa yang telah ditulis oleh Ajat, dan Ajat masih juga memegang teguh bahwa semua itu adalah kebenaran yang ada di Fakultas. Sehingga dosen ujang pun menjelaskan bahwa dalam penulisan di brosur itu tidak lain untuk menarik minat masyarakat khususnya bagi calon mahasiswa UIN, maka dengan cara mempromosikan yang baik dan menarik, mudah-mudahan dengan brosur itu dapat menarik massa dalam persaingan perguruan tinggi sekarang ini.

Dosen Ujang juga tidak memungkiri atas keluhan mahasiswanya yang tidak mendapatkan praktek yang maksimal karena sebelumnya Dosen Ujang pernah menanyakan kepada Irma salah satu mahasiswanya yang baru saja berbicara masalah pembayaran buku, dosen Ujang bertanya pada Irma apakah betul selama ini tidak ada praktek? tanya Dosen Ujang. Irma pun menjawab dengan apa adanya yang terjadi di fakultas Dakwah dan komunikasi tentang kurangnya kegiatan praktek, khususnya dalam kajian bidang Jurnalistik.

Dosen Ujang pun mengetahui keluhan mahasiswanya selama ini yaitu praktek yang kurang maksimal tetapi karena tidak ingin membongkar kekurangan yang ada di Fakultas, Dosen Ujang hanya bisa menjelaskan brosur itu hanya semata-mata untuk menarik minat masyarakat. Dan yang lebih dikhwatirkan di Fakultas dakwah dan komunikasi adalah atas dimuatnya tulisan yang mengkritik brosur tersebut apalagi sampai dimuat di media cetak, takutnya jika surat pembaca ini diterima oleh lapisan masyarakat luas bisa beranggapan lain dan berdampak negatif bagi kampus UIN dan Fakultas, apalagi yang menulis dan mengkritiknya adalah mahasiswa UIN sendiri.

untuk kedepannya seandainya ada permasalahan soal mengkritik fakultas, bisa secara intern dan dibicarakan terlebih dahulu jangan sampai berhubungan dengan media massa , lebig bagusnya konfirmasi dulu sebelum disebarkan melalui media massa mungkin ungkapan itu yang diterangkan oleh Ajat antara permasalahan Ajat atas di panggilnya oleh Dosen, ketika menceritakan pada teman-temannya satu jurusan.

Teman-teman Ajat semua mendukung apa yang telah dilakukan oleh Ajat atas kritikan buat Fakultas, walupun tidak hampir semua kawannya mendukung permasalahan Ajat, ada yang sedikit tidak mendukung dengan apa yang telah dilakukan oleh Ajat, sebelum berhadapan dengan Dosen Ujang, Ajat bertemu dengan kakak kelas satu jurusan mun rek nulis dipikirkeun heula (kalau mau menulis dipikirkan dulu) ucap salah satu kakak kelasnya dengan wajah yang tidak enak dipandang seperti tidak peduli terhadap adik kelasnya, Ajat tidak menghiraukan kakak kelasnya yang tidak mendukung justru Ajat membiarkannya dan berlalu pergi dari hadapan kakak kelasnya, siapa kakak kelas yang menyebut seperti itu Ajat tidak mau menjelaskannya.

Pembicaraan di ruang jurusan yang hampir satu jam, berlalu dengan ungkapan tidak berpengaruh pada nilai Ajat ucap seorang dosen Ujang pada Ajat, yang kemudian Ajat dan Dzarin meninggalkan tempat duduknya, lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruang jurusan. Setelah pengarahan dosen Ujang kepada Ajat suasana fakultas heboh membicarakan Ajat.baik sebelum Ajat bertemu dengan dosen Ujang maupun sesudah.

Masih di hari yang sama, ketika di kelas (Z1) mata kuliah Statistik dengan dosennya bernama Sri yang ramah dan serta tubuhnya mungil, gaya bicaranya yang sedikit teriak namun lembut membuat mahasiswa betah ketika memberikan materi Statistik, dikelas Ajat termasuk saya dan teman-teman Ajat lainnya yang mengikuti mata kuliah statistik, dikelas kami (mahasiswa jurnalistik semester VI kelas A) mendengarkan cerita dosen statistik tentang kritikan Ajat terhadap fakultas, memang bagus kritikan Ajat, tapi yang namanya brosur hampir setiap kampus pasti seperti itu, memperlihatkan kelebihannya dan kekurangannya ditutup-tutupi, maksudnya untuk menarik masyarakat ucap dosen Sri sambil menebarkan senyumnya yang khas, lalu Ajat bertanya saya takut kalau terjadi apa-apa, terhadap diri Ajat, seperti dipersulit masalah nilai ucap Ajat bertanya pada dosen Sri yang sedang duduk dikursi baru didepan mahasiswanya dan senyuman manis tidak terlepas dari setiap bicaranya. Lalu dosen Sri itu menjawab tidak akan terjadi apa-apa dengan nada yang sedikit ragu dosen Sri menjawab pertanyaan Ajat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: