Click Here to Back

“Terjebak” Di Leuweung Geulap

In Feature on June 16, 2007 at 8:22 am


Oleh : Feri Purnama
Kejadian Aneh di Leuweung Geulap
Kejadian ini sulit diterima oleh akal sehat manusia termasuk oleh diriku sendiri, tetapi aku percaya adanya alam lain yaitu alam gaib, karena Allah menciptakan Manusia, Malaikat dan Jin, kalau seandainya saya tidak percaya berarti saya juga tidak percaya apa yang sudah di Ciptakan oleh Allah SWT.

Terkadang kejadian aneh seperti melihat, atau mendengar yang gaib bisa dialami oleh kalangan orang tertentu saja, dan hanya orang yang kebetulan saja. seperti kejadian aneh di Leuweung Geulap, jalan menuju Pameungpeuk kabupaten Garut. Kejadian yang dialami oleh salah satu team Independen Pers Foto (IPF) komunitas fotografi mahasiswa jurnalistik UIN Bandung.

Namun kejadian aneh di Leuweung Geulap dialami oleh beberapa teman saya, ketika itu kejadiannya berada ditengah hutan (dijalur lintas lokasi Leuweung Geulap), teman saya mendengar suara aneh yang memanggil nama dan satu lagi sesosok bayangan hitam, tinggi besar berdiri di tepi tebing. Kejadian itu terjadi ketika motor salah satu rombongan kami mengalami kerusakan karena terjadi tabrakan dengan motor lain, sehingga harus diperbaiki oleh kami walaupun masih berada di lokasi Leuweung Geulap yang jauh dari keramaian. Selama memperbaiki motor, kami sadar bahwa hanya rombongan kami yang berada di tengah hutan Leuweung Geulap dan lalu lalang motor dan mobil yang tidak begitu sering melintas kalau dihitung-hitung hanya lima menit sekali pengguna jalan raya yang melintas pada saat itu baik mobil maupun sepeda motor.

Kejadian yang dialami oleh tim IPF sangat menarik sekali sekaligus untuk berbagi pengalaman pada pembaca setia rubrik kisah. Berawal dari rencana berkunjung kerumah teman sekampus bernama Aceng pada hari Sabtu, 7 April 2007. Belum lama ini. mengajak untuk main kerumahnya didaerah Pameungpeuk Kabupaten Garut, ujung timur Jawa barat. Rencana untuk berkunjung kerumahnya sudah direncakan dari dua tahun yang lalu, awal 2005, tapi karena kesibukan kuliah dan keterbatasan biaya, akhirnya rencana untuk berkunjung kerumahnya selalu ditunda-tunda.

Namun rencana itu akhirnya terkabulkan juga ketika beranjak semester enam tahun sekarang yaitu 2007, apalagi Aceng dengan nada memaksa “iraha atuh ulin ka lembur urang teh? Geus lila teu baleg wae, sakeudeung deui tereh lulus, ayeuna geus semester geuneup” katanya dalam bahasa sunda yang diartikan dalam bahasa Indonesia “kapan main ke kampungku? Sudah lama rencana ini tapi tidak ada kepastian, sekarang sudah semester enam, sebentar lagi lulus,” katanya, ketika sedang berkumpul di warung Si Babeh pemilik warung kopi di kawasan kampus UIN Bandung.

Tanpa dikomandoi, Agus satu angkatan dan sejurusan, menanggapi tawaran Aceng “Juma’ah, ayeuna indit! Aya waktu tilu poe deui, waktu ngumpulkeun duit jang meuli bensin jeung rokok, da dahar mah di tanggung ku si Aceng, sepakat teu?” (Jum’at sekarang kita berangkat! Ada waktu tiga hari lagi untuk ngumpulin uang buat beli bensin dan rokok, kalau soal makan pasti ditanggung sama Aceng, Sepakat ga?) bujuk Agus sambil meminum kopi hitam dan sebatang rokok kretek ditangan kiri disela-sela jemarinya, sesekali dihisapnya sambil menunggu tanggapan dari teman-teman lainnya.

Agus, orang yang umurnya diatas rata-rata lebih tua dari mahasiswa jurnalistik semester enam, angkatan 2004 yang lainnya, namun sebelumnya Agus pernah kuliah di STSI Bandung. Semangat belajarnya sangat kuat sehingga ingin mempelajari ilmu
ke-Jurnalistikan di UIN Bandung. Ketika pernyataan Agus seperti itu, semua menyepakati, walaupun sebelumnya juga teman-teman satu jurusan sudah direncanakan dari dulu dan mungkin saja minggu ini semuanya serempak sepakat atas keputusan Agus.

Entah kenapa hampir semua yang berkumpul disana sepakat untuk berangkat ke Pameungpeuk, kesepakatan itu diperkuat olehku dengan alasan “diantara kita itu-kan anggota Independen Pers Foto (IPF). Apa salahnya, selain berkunjung ke Rumah Aceng kita ambil objek foto wisata di Pameungpeuk yang katanya sangat menarik, pantainya masih asri” kataku dengan memberi semangat. ****

Motor Unik Jadi Pusat Perhatian
Hari Sabtu pukul 10 pagi, kami jadi berangkat, rencana yang tadinya akan berangkat hari Jum’at ditunda karena orang yang menjanjikan untuk berangkat hari Jum’at (Agus) ada kegiatan memotret upacara adat sunatan di Bumi perkemahan Gunung Puntang, akhirnya dipastikan hari Sabtu berangkat, memang dia selalu ada Job (pekerjaan) pemotretan.

Tadinya yang mau berangkat diperkirakan lebih dari 20 orang karena mungkin ada jadwal yang bentrok yang tidak bisa di undur, maklum mahasiswa banyak kegiatan diluar kampus dan banyak juga yang pada “kanker” (kantong kering). Akhirnya yang jadi ikut hanya tujuh orang saja. diantaranya. Aceng, (orang yang menawarkan untuk berkunjung kerumahnya di Pameungpeuk) Agus, Aris, Entang, Faisal, saya sendiri Feri, dan Iseng, dengan menggunakan empat kendaraan beroda dua (sepeda motor).

Sebelum berangkat saya merasa ada keraguan dan perasaan yang tidak enak hati ketika Faisal memakai kendaraan motor Vespa yang sudah dimodifikasi menjadi wujud setengah motor Harley yang hampir panjangnya dua meter. Memang Faisal nama panggilan Bajay adalah scooterist (hobi motor antik Vespa). Ketika Faisal menggunakan Vespa tersebut, dalam hatiku ragu dan khawatir dengan keadaan motor tersebut sepertinya “asa karagok” apalagi perjalanan menuju Pameungpeuk bukan berjarak dekat tetapi memakan waktu berjam-jam.

Sejenak saya berpikir dan teringat kepribadian dan kebiasaan Faisal yang sudah berkelana kemana-mana dengan motor Vespa kesayangannya dan ia juga mengetahui soal teknisi mesin Vespa, ditambah lagi ada yang jago soal mesin motor yaitu Agus sama Iseng. sehingga keraguan itu hilang begitu saja ketika selesai berdo’a masing-masing sebelum pemberangkatan.

Suara knalpot khas Vespa mengawali pemberangkatan kami menuju arah timur Pameungpeuk dengan pemberangkatan dari kosan tidak jauh dari lokasi kampus. Sepanjang perjalanan, mata para pengguna jalan baik pengemudi ataupun pejalan kaki tertuju pada keunikan dan anehnya sepeda motor milik Faisal yang tidak biasanya dengan sepeda motor lainnya. Namun selama perjalanan ketika akan memasuki wilayah Kadungora Kabupaten Garut, dipinggir jalan ada dua orang bocah berseragam merah putih, satu orangnya menunjuk dengan tangan kanannya sambil teriak, maaf kalau terlalu kasar “******, motor butut” sambil menunjuk dan meihat terus bahkan badannya sambil berbalik mengikuti arah motor Faisal, kejadian itu dilihat dan didengar oleh teman saya Iseng dan Aceng yang berada dibelakang Motor Faisal sehingga kejadiannya tahu betul.

Iseng yang menceritakan kelucuan saat diperjalanan kepada kami semua, ketika beristirahat di kebun teh daerah Cikajang karena melihat mimik wajah si Bocah itu sembari teriak Iseng pun tak tahan menahan ketawa.

Adzan Dzuhur terdengar samar saat diperjalanan kawasan kebun teh Cikajang, sejenak berhenti sekedar melemaskan rasa pegal disekujur tubuh sekaligus merasakan sejuknya dikawasan kebun teh.

Hati-hati di Sepanjang Jalan Leuweung Geulap
Hujan turun cukup deras spontan semuanya meninggalkan tempat peristirahatan di kebun teh untuk mencari tempat berteduh karena dikawasan kebun teh tidak ada tempat berteduh akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sembari mencari tempat yang aman.

Dipinggir jalan dibawah kaki “Gunung Batu” ada warung kecil dan saung yang terbuat dari bambu, kami semua berteduh sambil meneruskan istirahat yang tadi tertunda, sambil memesan kopi dan makanan kecil sambil menunggu hujan reda.

Tiga puluh menit kemudian hujan pun reda, hanya menyisakan genangan air dijalan aspal, kelihatannya jalan itu seperti licin, dengan melihat kondisi jalan seperti itu kami saling mengingatkan kepada para pengemudi motor rombongan kami agar berhati-hati. Sebelum kami melanjutkan perjalanan, kami diberitahu oleh orang tua yang ditaksir umurnya sekitar 50tahun-an, orang tua itu baru pulang dari Pameungpeuk menuju kota Garut, kebetulan orang tua itu sedang berteduh menunggu hujan reda diwarung yang sama, orang tua itu sedikit memberi “peringatan” dan memberitahu bahwa disepanjang perjalanan tadi, melihat banyak kecelakaan di daerah Leuweung Geulap dan orang tua itu berpesan pada kami untuk berhati-hati saat memasuki kawasan Leuweung geulap! “jalannya licin akibat hujan, juga banyak tanjakan dan turunan serta jalannya berkelok-kelok, apalagi melihat keadaan motor ini, (orang tua itu sambil tangannya menunjuk motor milik Faisal)” ucap orang tua itu pada kami agar lebih berhati-hati.

Perhatian orang tua itu kami dengar sebagai acuan, apalagi selama diperjalanan tadi melihat beberapa kali mobil ambulance malintas dari arah berlawanan, apalagi setelah mendengar cerita orang tua tadi, saya termasuk teman-teman yang lainnya semakin yakin dengan ucapan orang tua itu, ambulance yang tadi kami lihat mungkin mengangkut orang yang mengalami kecelakaan, kami saling berpesan agar tidak terlalu cepat menjalankan motornya, konsentrasi, dan selalu hati-hati, sementara itu Aceng menambahkan, “Sebentar lagi akan memasuki wilayah Leuweung Geulap” tambah Aceng dengan muka kusut mungkin terlalu capek karena sebelumnya Aceng kurang tidur, jadi kelihatan muka dan badannya tidak bergairah.

Mengalami Tabrakan
Selepas melewati permukiman penduduk entah apa namanya saya lupa lagi, motor yang dipakai Faisal melaju paling depan seolah-olah sebagai komando kami dan sebagai tameng, berikut dibelakang motor Faisal ada saya sendiri dengan mengendarai motor bebek Blitz R, bersama aris dibelakang punggungku yang sibuk memotret panorama alam dengan Camera digital milik saya. Selanjutnya diikuti oleh motor (Suzuki kristal) dikemudikan oleh Agus dan boncengannya adalah Entang, lalu selanjutnya yang paling belakang adalah Iseng dengan motor trailnya yang “gagah” berikut membonceng Aceng yang kelihatannya seperti terkantuk-kantuk.

Keadaan jalan memang berkelok-kelok berikut turunan, persis seperti apa yang orang tua tadi katakan diwarung. Memang kami, kecuali Aceng baru pertama kali kedaerah Pameungpeuk, jalannya seperti tidak dikira sebelumnya, jalan penuh tikungan tajam berikut di kiri jalan adalah jurang yang tertutupi oleh pohon-pohon kecil dan rumput liar setinggi kira-kira satu meteran, di kanan jalan membentang tebing dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi berikut rumput dan pohon-pohon kecil entah apa nama jenisnya.

Rambu-rambu jalan saya amati, sepanjang perjalanan memasuki kawasan “Leuweung Geulap” ternyata kurang maksimal, walaupun masih ada seperti rambu yang menggambarkan tanda seru “!” yang artinya Hati-hati berikut rambu lainnya ada yang kelihatan dan ada juga yang kurang terlihat karena rambu tersebut sudah karatan dan dibiarkan begitu saja, apalagi saya cermati soal penerangan lampu dimalam hari, saya amati, ternyata belum adanya fasilitas penerangan jalan umum, saya lihat dari tidak adanya penerang jalan disebabkan tidak adanya berdiri tiang-tiang lampu jalan. Saya sejenak berpikir tentang keganjilan dijalan ini, lalu saya tanya pada diri sendiri “bagaimana keadaan jalan ini ketika malam hari?” ucap saya dalam hati.

Sebelum terjadinya insiden kecelakaan itu tim IPF yang beriringan dan kejadian yang tidak diduga oleh saya sendiri mungkin oleh teman-teman yang lain, ketika ditengah perjalanan leuweung gelap, motor Vespa yang berada didepan motor saya tiba-tiba tepat ditikungan belokan kiri, Vespa itu tergelincir didepan mata saya sendiri dan Aris yang dibonceng oleh saya, spontan Aris teriak dengan kagetnya melihat faisal tergelincir sehingga motornya terlempar mengambil jalur yang berlawanan, sedangkan Faisal loncat kesamping kiri dari motornya untuk menghindari tubuhnya supaya tidak tergekincir ditengah-tengah badan jalan, tiba-tiba motor GL pro dari arah pameungpeuk langsung menabrak ban depan vespa, pengemudi GL pro itu terlempar sekitar dua meter.dari motornya, dan tergeletak di tengah jalan.

Kalau tidak salah kejadian itu selepas adzan Ashar pukul tiga sore, Perjalanan pun tertunda melihat pengemudi GL Pro itu mengalami luka di jari dan betis kaki kanannya, namun Alhamdulillah lukanya tak separah yang saya bayangkan.

Orang tua yang umurnya sakira 50 tahunan, dengan nada sedikit shock atas kejadian yang menimpa dirinya. Melihat orang tua itu butuh pengobatan intensif seperti Obat Merah (obat cair luka) dan air minum, saya bersama Aris mencari Waruing terdekat kearah timur jalur Pameungpeuk, tanpa ditunda-tunda saya dengan Aris dengan sepeda motor melaju mencari warung terdekat dan beberapa kilo meter kemudian saya menemukan warung dan membeli dua botol air minum dan obat merah, sehabis membeli apa yang diperlukan saya kembali lagi ketempat kejadian. Dilihatnya Faisal mengerang kesakitan sambil memegang telapak tangan kirinya saat meloncat tadi, tangan kiri Faisal mengenai aspal, namun lukanya tak parah, satu botol air minum saya berikan pada faisal, dan satu botol lagi berikut obat lukanya saya berikan pada orang tua itu, dibantu oleh Agus, Iseng dan Aris membasuhi luka dan meneteskan obat merah pada luka orang tua itu, namun takut ada salah urat pada pergelangan kakinya, Aceng yang jago pijat menghampiri orang tua itu, lalu memijatnya berharap tidak ada apa-apa, Alhamdulillah ternyata tidak ada apa-apa atau salah urat pada pergelangan kaki orang tua itu.

Beberapa menit kemudian, orang tua itu bisa berdiri dan sedikit meregangkan badannya, saya yang berada disamping jalan tepat ditikungan mengatur lalu-lintas dan memberi perhatian para pengguna jalan atau para pengemudi yang lain agar berhati-hati, sesekali saya melihat orang tua itu namun dalam hati saya merasa tenang karena melihat otua itu baik-baik saja.

Hampir semua pengendara melihat kejadian menimpa kami, tak jarang suara klakson pun berdereretan dibunyikan entah apa maksudnya? Yang jelas menandakan mungkin, memberikan salam ataupun ikut prihatin, dan entah apa maksudnya karena selama itu juga tidak ada yang menolong dan hanya menanyakan “ada apa?” Tanya pengemudi mobil yang melintas, dan saya jawab dengan apa adanya “tabrakan”
“bagaimana, tidak ada apa-apa?”
saya jawab lagi “Cuma luka sedikit”
tanpa pamit pengemudi mobil itu pergi begitu saja.
Kemudian suara klakson motor yang sedang konvoi sambil membunyikan klakson yang cukup keras sehingga memecahkan keheningan ditengah hutan, sesekali terasa sunyi kembali.

Kulihat motor GL Pro itu bodi samping kanannya sedikit tergores dan lampu sent kanannya pecah, tapi yang lebih parah lagi motor Faisal bagian depannya atau besi penyangga pelk ban patah dan garpuhnya bengkok sehingga ban tidak bisa berputar seperti biasanya, sebagian dari kami dari tujuh orang itu, Entang, Aceng dan Aris membantu Faisal memperbaiki motor, dan saya seperti biasa mengatur lalu-lintas, sedangkan Agus sama Iseng membantu orang tua yang sudah bisa berdiri sendiri dan membantu menyalakan motor GL Pro. Kami semua merasa bersalah karena tidak membantu selebihnya apa yang diminta orang tua itu untuk dua orang mengantarnya pulang ke Daerah Kota Garut karena takut orang tua itu diperjalanan terjadi apa-apa sehingga meminta bantuannya untuk mengantarkannya, tapi itu juga tidak memaksa hanya menawarkan saja.

Namun permintaan orang tua itu tidak dikabulkan karena faktor lain apalagi mesti balik lagi ke Kota Garut yang memakan waktu dua jam, dengan negosiasi Agus dan orang tua itu akhirnya orang tua itu memakluminya, mudah-mudahan orang tua itu membaca kisah ini dan memberi maaf pada kami atas kejadian itu karena kejadian kecelakaan itui tidak diharapkan oleh kami bahkan orang tua itu dan pasti tidak diharapkan oleh siapa pun juga, sekali lagi kami mohon maaf sebesar-besarnya, mudah-mudahan kebesaran hati orang tua itu diberikan rakhmat oleh Allah SWT. Amin.

Satu jam sudah kami memperbaiki motor Faisal dan waktu menunjukan pukul empat sore motor belum juga membaik, ternyata kendalanya ban depan tidak bisa berputar optimal, terhalang oleh besi garpuh motor, akhirnya semuanya dibongkar untuk bisa diluruskan dan berharap minimal ban depan bisa berpeutar kembali, berbagai cara pun dilakukan, akhirnya ban depan bisa dipasang dan berputar walaupun tidak maksimal, tapi sediktinya bisa dipakai untuk mencari bengkel kalau seandainya saja ada bengkel nanti.

Motor faisal dipaksakan untuk bisa maju walaupun ku lihat ban depannya mengenai bodi motor tapi tak dipedulikannya yang jelas bisa keluar dari hutan yang sepi ini, hingga menemukan perkampungan yang tadi saya beli air minum dan obat merah, kulhat tak ada bengkel satu pun, diespanjang jalan, beberapa menit kemudian terasa bau ban terbakar tercium tapi tetap saja tak dihiraukan oleh Faisal.

Perjalanan lumayan jauh dari tempat kejadian tabrakan tadi, kulihat motor Faisal yang berada dibelakangku terhenti pas berada ditikungan selepas jembatan,
Sedikit-sedikit motor melaju pelan dan akhirnya berhenti.

Ada Suara yang Memanggil dan Sosok Hitam Tinggi Besar
Sabtu sore waktu menjelang pergantian siang menuju malam disaat lima menit menjelang adzan Magrib. Aku lihat ponselku untuk melihat jam, ternyata waktu menunjukan pukul 17’45. Sedangkan kami masih berada dikawasan Leuweung geulap, kulihat disekitar tampak pohon besar dan jurang, sesekali terdengar samar suara gemuruh air sungai, suasanapun menjadi terasa aneh dan terbawa seperti getaran dan perasaan yang tak seperti biasanya.

Jauh dari keramaian kampung apalagi hujan gerimis yang menitik dari atas langit yang kelabu membasuhi renkrut (jas hujan). Motor Faisal semakin parah bahkan mesinnya tidak menyala, mogok entah kanapa? Semua diperiksa satu persatu termasuk busi dibuka dan dibersihkan tapi tetap saja tidak menyala, untungnya membawa busi cadangan tapi setelah dipasang masih tetap saja tidak menyala.

Mau tidak mau semua dibongkar dan diperiksa dan ternyata saluran bensinnya tidak berfungsi, kemudian diperbaiki oleh Agus, Iseng, dan Faisal karena hanya orang itulah yang tahu soal mesin, tapi setelah diperbaiki masih saja tetap tidak menyala, mau tidak mau dibawah rintik hujan motor Vespa di bongkar lagi tapi disela kesibukan memperbaiki motor Entang menceritakan apa yang dialaminya tadi sebelum berhenti dan sesudah melewati jembatan.
dorong sampai ke tempat yang ramai karena hari sudah semakin gelap.

“tadi saencan eue’reun aya anu ngagoroan, tapi eu’weuh sasaha” (sebelum berhenti ada suara yang memanggil namanya, tapi tidak ada siapa-siapa) ucap entang pada kami yang sedang sibuk memperbaiki Vespa, ucapan Entang tidak saya hiraukan walaupun dalam hati saya merasa ditempat ini suasananya tidak nyaman, berulang-ulang Entang membicarakan hal yang aneh namun tak dianggap serius, bahkan saya sendiri supaya tidak terlarut dalam omongan Entang saya mencoba untuk mengalihkan pikiran saya terhadap sesuatu yang aneh, saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat pikiran dari apa yang Entang ceritakan.

Saya lihat Aris sibuk dengan Kameranya, memotret apa yang dia anggap sesuatu yang menarik namun disaat itu tiba-tiba Aris berbisik pada kami semua untuk cepat-cepat pergi dari sini, “geus Maghrib, urang pindah kanu rame, tong didieu” (sudah Maghrib, Kita pindah ke tempat yang ramai, jangan disini) ucap Aris membujuk teman-teman, namun Aceng yang tadi terdiam dibawah pohon yang tumbang, sedang melihat-lihat disekitar sambil tangan kanannya memegang janggutnya yang leubat, ketika Aris membujuk untuk cepat pergi dari tempat ini, Aceng langsung menanggapi bujukan Aris untuk segera pergi dari tempat ini, ucapan Aceng langsung direspon baik, Vespa pun yang tadinya dibongkar kemudian dipasang kembali secepatnya motor Vespa didorong oleh Agus dan saya dengan sejuta perasaan yang membuat hati ini tidak nyaman berada di tempat itu.

Namun yang dialami Entang itu benar dan Aris meyakinkan bahwa ditambah lagi oleh Aceng, tetapi Aceng tidak menceritakan kejadiaan apa yang dialami Aceng ketika berada di tempat Leuweung Geulap Aceng Justru hanya diam tanpa banyak bicara, tetapi sesudah pergi dari tempat itu Aceng masih saja terdiam, dan Aceng menceritakan kejadian yang aneh mungkin dianggap biasa oleh Aceng menceritakan kembali setelah kami pulang ke Bandung dan Aceng menjelaskan di kampus di warung “Babeh” di depan teman-teman, bahwa ketika berada di Leuweung Geulap Aceng melihat sosok yang menyeramkan didepan mata kepalanya sendiri sosok itu berdiri didataran tebing yang diselimuti oleh pohon yang berjejer dan hari yang nampak gelap namun masih terang, Aceng hanya terdiam dan duduk di pinggir jalan dekat pohon yang bekas ditebang.

Katanya sosok itu sangat menakutkan tapi bagi Aceng ia sudah terbiasa dan tak mau meributkannya atau bilang pada teman-temannya karena dikhawatirkan semuanya akan terbawa suasana panik dan akhirnya akan terjadi sesuatu yang tidak diingtinkan maka Aceng hanya diam tutup mulut dan apa yang dia lihat hanya dirasakan olehnya sendiri, Aceng hanya berharap pada waktu itu berdo’a dan memohon perlindungan pada yang maha Kuasa dan segera pergi dari tempat itu.

Sedangkan ketika itu saya menyakan pada Aceng supaya lebih jelas seperti apa yang telah Aceng lihat sekedar memastikan karena waktu itu sempat saya merasakan aneh dari tingkah laku Aceng yang hanya diam disaat teman-temannya sibuk membantu motor Faisal, tetapi Aceng hanya diam saja dan duduk-duduk namun sesekali dia menyarankan untuk pergi, waktu saya lihat tingkah laku Aceng saya tidak merasa bahwa aceng melihat sesuatu yang aneh, namun yang kurasakan mungkin Aceng kelelahan karena selain perjalan yang jauh dia juga semalaman hanya tidur sebentar.
Kata Aceng ketika sudah melewati jembatan tepat berada ditikungan jalan, “kenapa saya waktu itu diam karena ada sosok hitam, tinggi besar berdiri di atas tebing dan itu saya lihat oleh mata kepala saya sendiri, seperti itulah yang saya alami” tegas Aceng yang menceritakannya seperti hal yang biasa, namun kami semua yang mendengarkannya merasa kaget.

Kembali ke perjalanan kami menuju Pameungpeuk. Memang saat itu Tak bisa dipungkiri oleh kami disaat berada dilokasi Leuweung Geulap, semua merasakan hal yang aneh tapi alhamdulillah perasaan itu tidak terus dipikirkan justru perasaan aneh itu dialihkan pada yang lain.

Beberapa menit setelah pergi dari lokasi yang meyeramkan akhirnya kami menemukan juga penduduk dilihatnya dari lampu 5 watt menyala ditiap depan rumah itu tandanya ada perkampungan hati merasa tenang seolah-olah terlepas dari suasana hutan yang mencekam dan menakutkan, berikut rasa dingin membuat bulu roma ini berdiri.

Sejenak kami semua istirahat untuk menenangkan hati, kulihat didepan ada plang tukang Las karbit, kebetulan itu yang dicari oleh kami khususnya oleh Faisal untuk memperbaiki pelk depan yang bengkok untuk bisa diperbaiki supaya kembali normal, tapi sayang tukang lasnya tutup, dan harapan itu sirna begitu saja.

Perjalananpun dilanjutkan dan Motor vespa dengan ban depan miring didorong kembali dari belakang oleh motor Agus, tapi baru saja beberapa meter, dari arah belakang motor Mio menyelip kami dan memberitahukan bahwa disini ada tukang Las, dan pemiliknya ada direstoran, memang ketika tadi istirahat kami memang tidak jauh dari restoran, saya lupa lagi apa nama restoran itu.

Inforamasi itu membuat kami bahagia, tanpa dipikir panjang kami mendatangi sebuah gubuk tempat Llas, dan memarkirkan motor didepan gubuk yang berdindingkan bilik, Agus memanggil tukang las tersebut tidak lama kemudian datang, tukang Las itu mau membantu untuk memperbaiki garpuh penyangga ban depan supaya bisa lurus. Satu jam kami bersama tukang Las meluruskan besi penyangga ban itu, tak kusangaka akhirnya bisa juga diperbaiki. walaupun tidak maksimal namun dalam tekad faisal, “biar saja asalkan bisa maju dan ban depan tidak mengenai bodi motor” keputusan Faisal akhirnya disetujui teman-teman karena memang memperbaiki dimalam hari hasilnya tidak akan maksimal dan hanya buang waktu saja, apalagi malam semakin larut menunjukan pukul 8 malam sedangkan kata Aceng sekitar satu jam lagi menuju sampai ketujuan.

Setelah memperbaiki motor yang bengkok karena tabrakan, kemudian memeprbaiki mesin yang tidak bisa menyala. Keberuntungan bagi kami, motor Vespa yang tadinya mogok kini sudah tidak mogok lagi,
Dengan hati yang girang tapi tetap saja berhati-hati, kami melaju kembali dan selama diperjalan sampai tempat yang dituju tidak ada halangan namun kami mengnedarai motornya sangat lamban sekali karena takut terjadi apa-apa pada motor Faisal untuk mengantisipasinya kami pun melaju pelan sekali sekitar 20 Km/jam. Tapi alhamdulillah kami semua selamat sampai tujuan ke Kampung Aceng pada pukul 9 malam.

Kejadian-kejadian yang menimpa kami saat itu hanya sebagai pengalaman yang harus direnungkan, mudah-mudahan para pembaca, bisa mengambil hikmahnya, kejadian seperti tabrakan adalah suatu musibah, karena memang itulah logika disaat mengndarai kendaraan di “kalau tidak ditabrak, berarti menabrak” mungkin itulah kami hanya bisa mengambil hikmah dari apa yang kami alami, dan kami semua tidak memikirkannya lebih jauh apa yang sudah terjadi kami anggap sebagai pengalaman kami, dan kini kami berada di Pameungpeuk ingin menikmati keindahan suasana pedesaan dan menikmati wisata pantai di Pameungpeuk.

Ikan Bawal dan Jengkol Memang Lezat
Ikan mas memang sudah biasa baik digoreng ataupun dibakar apalagi ikannya hasil pancingan sendiri, lalu dimasak sendiri sambil menunggu nasi liwet, ditambah lagi dengan lalab dan sambal goang, pasti terasa nikmat sekali bahkan makanpun yang biasanya hanya satu piring kini menjadi dua piring.

Seperti yang kami alami, tim IPF yang sudah melakukan perjalanan Bandung-Pameungpeuk, dengan memakan waktu yang cukup lama, selama diperjalanan hanya makan seadanya saja seperti makan gorengan dan leupeut hanya untuk mengganjal perut saja karena waktu itu bukannya dipikirkan maslah perut tapi memikirkan bagaimana caranya supaya Motor Faisal bisa diperbaiki.

Waktu untuk mampir ke Warung Nasi tidak terlintas dalam benak yang ada hanya ingin cepat sampai ke tujuan. Tak menyangka suguhan makanan yang disediakan oleh tuan rumah begitu sangat mengejutkan ketika melihat ikan Bawal yang cukup besar, lebarnya seukuran betis orang dewasa, namun Ikan Bawal ini tipis, disajikan dengan nasi hangat dan sambal kecap, sehingga membuat perut ini terasa keroncongan, ya, memang perut ini sudah dari tadi sore berbunyi terus menandakan rasa lapar.

Ikan bawal ya, memang ikan bawal yang menjadikan perut kami semakin lapar, saya termasuk baru pertama kali makan ikan bawal, ternyata ikan bawal tidak jauh beda rasanya dengan ikan mas, namun daging ikannya lebih empuk dan terasa nikmatnya menempel dilidah, ikan bawal yang baru saja dipancing dari kolam milik keluarga besar Aceng dan sengaja dipancing dengan cara di Kecrik untuk disuguhkan buat tamu dari Bandung. Memang sebuah keistimewaan buat kami apa yang disuguhkan oleh keluarga Aceng.

Makan bersama teman-teman terasa lebih akrab rasa kekeluargaannya semakin erat, karena memang anak Jurnalistik UIN doyan sekali makan bareung, dikampus saja ketika sudah beres Kuliah sering melakukan makan bersama yang sering dikenal oleh mahasiswa yaitu ngaliwet, ataupun makan bersama dengan membeli teman nasinya di warung nasi yang sudah langganan dan makannyapun punya kekhasan tersendiri bagi mahasiswa Jurnalistik UIN yaitu di amparkan dua lembar plastik bekas membungkus kertas foto kopian. Seperti itulah kebiasaan kami mashasiswa jurnalistik UIN Bandung angkatan 2004.

Tapi beda lagi di Pameungpeuk kini cara makannya berbeda, satu orang satu piring yang tadinya biasa dengan diampar beralaskan plastik namun sekarang alasnya tidak ada jadi solusi lain adalah memegang piring masing-masing, tapi tetap saja rasa nikmtanya masih ada dan terasa.

Sambal goang dan jengkol goreng, menambahkan kenikmatan makan kami, Jengkol salah satu kesukaan kami terkecuali saya, jujur saja saya tidak sangat suka dengan jengkol, dengan alasan, saya pernah mengalami mabuk jengkol, waktu itu saya masih duduk dibangku SMA, dan saya termasuk orang yang doyan jengkol apalagi digoreng, namun karena kelebihan makan jengkol sehingga terjadi operdosis, kepala menjadi mendadak pusing, ditidurin bukannya membaik justru kepala terasa berputar. Berawal dari sanalah melihat Jengkol menjadi salah satu musuh pribadi saya, saya jadi jauh dengan apa yang namanya Jengkol.

Beda lagi dengan Faisal, orang yang doyan sekali dengan yang namanya jengkol, dan yang lainnya juga sama doyan Jengkol namun beda dengan faisal dia adalah “si raja jengkol”.

Rasa ikan bawal yang harum dan masih hangat membuat saya nambah dan nambah terus, memang saya merasa lapar sekali mungkin sama dengan teman-teman yang lain. Dan ternyata memang sama juga semua hampir nambah selama Ikan bawal dan jengkolnya masih ada.

Oh ya, lupa! suasana rumah Aceng di Pameungpeuk adalah kawasan pesantren, dan aceng termasuk anak pemilik pesantren, nama pesantrennya adalah At-Taufiq lokasi di desa Citeureup, Kecamatan Pameungpeuk, pesantren yang didirikan oleh kakek Aceng tahun 1973, khasnya pesantren disini adalah seni musik islami “Rebana” (jenis kelompok musik keislaman) berbagai piagam penghargaan dan juara lomba Rebana sudah banyak disandangnya di Pesantern At-Taufik ini. Maka ketika makanpun kami diiringi suara tabuh alat musik yang mensyairkan keislaman, kalau kata Entang disebut dengan Band kepret, memang alat musik ini dikepret atau ditampar terbuat dari kayu dan kulit, lalu di mainkan dengan cara dikepret kemudian mengelurkan suara yang khas, irama dan nada yang beraturan sehingga menghasilkan alur nada yang berirama dan enak didengar.

Para santri yang sedang latihan diruang khusus dan terdengar sayup-sayup sehingga menemani kami yang sedang asyik makan, sesekali terdengar suara tawa para santri yang riang sekali. Makanpun semakin nikmat, ikan bawal sudah tinggal durinya saja, jengkol hanya menyisakan kulitnya yang berwarna hitam, dan sambal menyisakan rasa pedasnya berikut Coet tempat sambal yang terbuat dari batu alam tak menyisakan sambal goang semuanya bersih.

Malam yang kulihat keadaan diluar sana yang gelap namun sedikit terang oleh lampu lima wath, suasana malam yang sunyi hanya terdengar suara binatang malam, dan suara alat musik yang dimainkan para santri At-Taufiq yang sedang memainkan alat musik, menjadi salah satu hiburan buat kami dan ternyata salah satu hiburan juga bagi para santri At-Taufiq, kami semua merasa tertarik melihat para santri yang sedang latihan sehingga kamipun ikut nonton dan ikut tertawa ketika ada salah satu santri salah memaikan alat musiknya.

Waktu menunjukan pukul sepuluh malam, kegiatan latihan Rebana selesai, para santri yang memenuhi ruang tempat latihan Rebana bubar tanpa dikomandoi dan masuk kebarak atau kamar masing-masing. Tapi kami masih menikmati suasana malam dipedesaan yang sunyi, tapi mungkin pengaruh dari ikan Bawal, saya merasa mata ini ingin memejamkan dan terlentang tidur diatas kasur, munkin pengaruh Ikan Bawal yang membuat saya ngantuk, dan rasa kantuk itu dirasakan oleh semua teman-teman, kamipun semua tertidur lelap. Ikan Bawal dan Jengkol memang Lezat, sehingga kami terlelap tidur.

Pantai Pameungpeuk Memang Indah dan Berkesan
Pengalaman yang dialami oleh tim IPF ketika di Leuweung Geulap, memang berbekas dalam benak, mungkin kejadian itu tidak akan terlupakan oleh kami. Takut, khawatir, dan bemacam perasaan tidak nyaman dalam hati begitu berbaur saat berada di lokasi Leuweung Geulap sehingga berpengaruh pada kondisi fisik kami menjadi lelah, bahkan sekujur tubuh ini merasa tak berdaya terlalu capek.

Tapi kejadian itu terobati, ketika kami, keesokan harinya (hari Minggu). Kami dimanjakan oleh suasana pantai yang indah, pertama yang kami kunjungi adalah Pantai Sayang Heulang, namun sebelum menuju lokasi Pantai Sayang Heulang, ketika pertama masuk kelokasi Pantai, kami melihat laut yang membentang semu kebiruan kulihat pantainya seperti hamparan batu karang bukannya pasir pantai melainkan batu karang yang begitu indah dan menakjubkan, dipinggir pantai itu membentang karang, bukan pasir tapi karang yang terhampar dan menakjubkan.

Allah maha Kuasa menciptakan tempat yang sangat fantastic, memikat hati dan tak di duga keajaiban-Nya. Ini baru pertama kali saya lihat. kalau boleh usul tentang hamparan batu karang ini adalah termasuk keajaiban dunia dari tujuh keajaiban dunia yang salah satunya adalah candi borobudur, kalau ditambah lagi dengan hamparan batu karang jadi delapan dan Indonesia mempunyai dua keajaiban dunia. Untuk meyakinkannya pembaca bisa datang kesana dan menikmatinya, saya yakin pembaca akan berkesan dan terpesona melihat penomena pantai dan batu karangnya.

Tapi sayang kami semua tidak menginjakan kaki diatas batu karang itu. Kami langsung melanjutkannya kearah selatan menuju pantai Sayang Heulang, keindahan pantai Sayang Heulang membuat kami semakin takjub dengan fenomena alam yang begitu memikat hati. kulihat batu karang yang berdiri tegak kokoh dan besar berikut hamparan pasir serta karang-karang kecil yang berhamburan dibibir pantai, kami tak sungkan-sungkan untuk menginjakan kaki dan mengabadikannya dengan Kamera digital, tak disangka tanpa dikomandoi Aris langsung memotretnya kesana-kesini, Agus, dan Iseng pun mengeluarkan Kamera SLR (Single Lens Reflek) nya dan sibuk memotret kesana-kesini.

Memang panorama alam dipantai Sayang heulang membuat kami takjub dan menjadi kebanggaan tersendiri ketika kami berdiri memandang laut lepas diatas pantai Sayang heulang.

Makan Kepiting Rebus
Ketika sedang menikmati keindahan Pantai Sayang Heulang salah satu warga sekaligus yang membuka warung disekitar lokasi Pantai Sayang Heulang menawarkan makanan khasnya “kepiting rebus” kalau pembaca nanti datang kelokasi Pantai Sayang Heulang pasti ada yang menawarkan Kepiting rebus, namun tetap ada porsi-porsi tertentu dan harganyapun relatif murah, namun kami waktu itu tidak menayakan berapa satu porsi kepiting rebus itu kami hanya menikmatinya saja dengan Cuma-Cuma atau gratis.

Sungguh lezat dan gurih kepiting rebus itu, kami menikmatinya sambil menikmati pantai yang tak berombak besar, airnya tenang, jernih dan sesekali terlihat ikan kecil dibalik karang. Apa yang saya bayangkan waktu itu sepertinya hilang begitu saja kesumpekan kegiatan kampus, tidak seperti dikampus yang hampir setiap hari mempermasalahkan tugas dari dosen, sumpek rasanya kami kalau mesti membahas tugas kuliah, hal itu sepertinya hilang begitu saja seperti ada getaran yang melupakan kesumpekan pikiran namun getaran itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, pembaca boleh coba bagaimana perasaanya ketika berkunjung ke Pantai Sayang Heulang saya yakin kesumpekan dalam pikiran itu semuanya hilang begitu saja yang ada hanyalah menikmati pantai Sayang heulang.

Kurang lebih setengah jam, waktu yang sangat singkat, kami menikmati pantai Sayang heulang. Waktu sudah hampir sore dan tempat wisata masih banyak yang harus dikunjungi, walaupun perasaan ini masih merasa “betah” berada di pantai Sayang heulang, namun Aceng menawarkan untuk pergi ke pantai Santolo disana lebih indah dibandingkan dengan lokasi pantai disini.

Sekitar 15 menit kami meluncur kearah utara, jalan aspal yang membentang lurus dan sepi disamping masih banyak ilalang yang terhampar dan pagar kawat yang membatasi jalan, namun saya juga dengan Aris kaget, saya melihat pintu gerbang yang serba biru, disampingnya ada pos kecil berikut ada penjaganya. Saya bersama Aris dan yang lainnya meninggalkan saya dan Aris, saya dan aris turun melihat apa yang tertuliskan dibatu depan pintu gerbang itu, ternyata, tertuliskan LAPAN, Stasiun Peluncuran Roket, Cilautereun, saya teringat apa yang dikatakan oleh Bapak saya ketika menceritakan masa mudanya yang berpetualang kedaerah Pameungpeuk bahwa, disana ada tempat peluncuran roket, dan tidak sembarang orang bisa masuk ataupun hanya melihat-lihat tempat itu, apalagi untuk memotret tempat itu, tempat itu adalah kawasan terlarang. Tapi saya tidak meikirkan hal itu yang serba dilarang, justru saya dan Aris tertarik dengan tempat itu yang harus diabadikan dan saya bersama Aris sangat puas sekaligus bangga bisa meotret tugu dan tembok yang bertuliskan itu.

Pantai Santolo
Saya dan Aris tanpa berlama-lama langsung menyusul teman-teman yang lain, sebelum memasuki kawasan pantai Santolo, suara deburan ombak sudah samar terdengar, ternyata pintu gerbang memasuki Pantai Santolo sudah terlihat, Pantai Santolo terlihat ramai pengunjung tidak seperti pantai sebelumnya yang sepi pengunjung, kebetulan di Pantai Santolo ada hiburan rakyat, yang sering disebut dengan “pasar malam” dan sebelumnya juga ada acara 7777 motor “oray-orayan ka Laut” acara yang diselenggarakan oleh Kabupaten Garut.
Ketika melewati gerbang kami belum melihat pantai, justru banyak perahu yang terdampar di sungai besar atau muara, suara deburan ombak terdengar jelas, karena lokasi Pantai tidak jauh dari telinga kami sekitar sepuluh meter pantai yang membentang luas sekali serta disamping kiri diantara pantai dan Muara ada tumpukan batu berbentuk jalan seukuran lebar mobil sedan, dan disamping kanan pantai dengan pasir putihnya yang membentang jauh sekali tak sabar kami ingin cepat turun dan menikmati deburan ombak dari dekat.

Pantai Santolo terlihat bersih dan enak dipandang ternyata benar kata Aceng ada pantai yang lebih indah, kami melihat sepanjang bibir pantai Santolo tidak banyak sampah yang berserakan semua lengang bersih hanya pasir bersemu putih yang terlihat. Tapi ada pertanyaan besar bagi saya,
Kerangka Kapal ditengah Laut
Di tengah deburan ombak ada empat batang kokoh yang berlumut menjorok keatas seperti kerangka kapal laut yang terdampar, ternyata memang benar kata Aceng itu adalah bekas kapal laut yang hanya kerangkanya saja, kami percaya apa yang dikatakan Aceng namun jawaban Aceng tidak begitu lengkap hanya sekilas ketika saya Tanya bermacam pertanyaan, seperti kenapa terdampar? Kenapa kerangka itu di biarkan? dengan adanya batang tersebut membuat kami semakin bertanya-tanya dan menampung bermacam-macam pertanyaan sampai sekarang.

Kerangka kapal itu tak luput untuk kami fotret, dan indahnya pantai Santolo kami abadikan, dan menjadi dokumentasi IPF. Disela-sela kami menikmati pantai, ternyata ada yang lebih menarik lagi Motor Faisal dikerumuni banyak warga disekitar, mungkin motor itu menajdi sebuah keunikan bagi warga pantai santolo khusunya anak-anak, menjadikan tontonan gratis yang ditawarkan oleh kami, tak jarang beberapa warga menanyakan bermacam-macam pertanyaan tentang motor Vespa Faisal yang unik beda dari yang lain.

Hari sudah hampir gelap kami tidak bisa berlama-lama di Pantai Santolo dan kami pun tidak bisa mengunjungi tempat wisata lainnya seperti ranca buaya yang terkenal itu. Kami lebih memilih untuk pulang kembali kerumah Aceng. Seperti biasa kami merasa betah dan merasa ingin berlama-lama menikmati pantai Santolo, mungkin waktu kami sangat sempit sekali karena hari senin kami seperti biasa melakukan rutinitas sebagai mahasiswa, kalau hari semakin malam kami takut terjadi apa-apa yang tidak diinginkan saat diperjalanan menuju pulang ke Bandung.

Malam pun tiba waktu menunjukan pukul 7 malam selepas shalat Isya, kami bersiap-siap untuk berangkat ke Bandung, tekad kami sudah bulat untuk melakukan perjalanan pulang malam hari walaupun resiko yang tak diduga ditanggungnya, semua sudah siap berangkat namun tinggal menunggu Aceng yang sedang bernegosiasi dengan orang tuanya untuk memohon izin berangkat ke Bandung malam itu juga.

Setengah jam kami menunggu Aceng, namun tiba-tiba kedua orang tua Aceng menghampiri kami yang sedang duduk-duduk di kamar tidur tempat kami bermalam.
Orang tua Aceng menolak pemberangkatan malam hari, terutama Bapaknya “lebih baik berangkat ke Bandung nanti Shubuh saja, khawatir diperjalanan terjadi sesuatu, apalagi cuaca malam ini kurang baik” begitulah kurang lebihnya ucapan bapak Aceng pada kami.
Saran orang tua Aceng disepakati oleh kami terutama Aris dan Entang lebih setuju pemberangkatan ditunda nanti shubuh, namun Agus dan Faisal lebih antusias terserah kesepakatan semua, “terserah kalian, Shubuh ataupun sekarang saya setuju saja” tegas Agus. Rencana yang tadinya akan berangkat ke Bandung malam hari, akhirnya ditunda menjadi pagi-pagi selepas shalat Shubuh.

Dari pernyataan bapak Aceng, apakah mungkin ada kaitannya dengan kejadian yang dialami kami waktu itu di Leuweung Geulap jadi orang tua Aceng pasti lebih tahu bahwa kawasan tersebut sangat rawan, entah itu rawannya apa, yang jelas orang tua lebih tahu dengan masalah itu. Dan kami hanya mengikuti aturan yang apa semestinya tidak diperbolehkan. Wallahualam bissawab.

Catatan : Sebelumnya Tulisan ini sudah dikirim ke surat kabar harian “Galamedia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: