Click Here to Back

Tangisan Seorang Anak Buruh

In Cerpen on May 26, 2007 at 6:53 am

Oleh Feri Purnama
“Bu, lihat di TV banyak orang berkerumun sambil membawa kertas karton warna putih yang ada tulisannya dan dilihatin didepan para Polisi yang hampir sama banyaknya dengan orang yang berkerumun, memangnya polisi dengan orang yang membawa karton bertulisan itu lagi ngapain Bu?” Tanya Adi seorang anak kecil berumur 6 tahun yang sudah sekolah dibangku kelas satu SD, pertanyaannya sangat polos pada Ibunya yang menemani Adi nonton sekilas berita di TV.

Tanggal Satu Mei adalah hari Buruh sedunia, serempak semua media baik elektronik maupun cetak memberitakan tentang buruh, hampir semua media elektronik televise mengabadikan dan menayangkannya aksi para buruh yang berdemonstrasi dikantor pemerintahan pusat.

Adi, seusai nonton acara sinetron anak-anak di TV jam tujuh malam, selang lima detik TV itu menayangkan berita actual sekilas berita yang bias ditayangkan tiap jam tentang demo para buruh, dibawah teriknya matahari sambil teriak-teriak meminta kebijakan pemerintah dan penolakan atas tidak keberpihakan pemerintah terhadap nasib buruh.

“itu para buruh pabrik yang menuntut pemerintah untuk lebih memperhatikan nasib buruh” kata Ibu Adi menerangkan acara berita di TV, tangannya mengelus rambut Adi yang berwarna sedikit kemerahan karena terik matahari yang selalu menyinari rambutnya tiap hari sepulang sekolah.

“Buruh itu apa sih Bu, Adi ga ngerti” Tanya Adi pada Ibunya.
“buruh itu, ya, seperti Ibu ini yang terkadang selalu ninggalin Adi disaat malam ketika Adi sedang tertidur lelap, dan ketika siang hari sepulang sekolah tanpa ada Ibu dirumah, dan ketika sore hari menjelang magrib tidak ada yang menemani Adi mengaji, karena Ibu sedang bekerja di Pabrik, itulah buruh, Nak” jawab Ibu Adi dan masih tetap mengelus rambutnya tapi kini kepala Adi bersandar diatas paha Ibunya sambil membaringkan badannya yang kurus.

Kemudian Adi berucap “memang Ibu selalu ninggalin Adi sendirian dirumah, tapi yang Adi ga suka ketika Ibu pergi kerja malam-malam dan selalu saja Adi tidak tahu saat Ibu pergi kerja, Adi takut ketika terbagun di saat tengah malam, sendirian dirumah. Adi ga ada temen tidur, Bu” Anak itu mengeluh dan masih bersandar diatas paha Ibunya sesekali melirik wajah Ibunya yang pucat seperti kecapean karena baru pulang dari pabrik tempat Ibunya bekerja.

“itu semua Ibu lakukan hanya untuk Adi, untuk jajan Adi, untuk menyekolahkan Adi, dan semuanya untuk Adi, kalau Ibu tidak kerja kita mau makan apa? makanya Ibu berharap Adi harus pintar dan jangan lupa belajar shalat dan Ngaji, terus kalau malam-malam Adi jangan takut karena di depan (diluar rumah) banyak orang yang biasa tidur pagi” rayu Ibunya kepada Adi.

“Tapi Adi masih saja takut, Adi lebih senang dan nyaman kalau seandainya Ibu ada disamping Adi” manja Adi pada Ibunya.
“malam ini Ibu akan menemani Adi tidur” ajak Ibunya berharap anaknya merasa tenang dan bahagia disamping Ibunya.

Memang Adi anak yang manja maklum anak satu-satunya, dan Adi suka dimanja oleh Ibunya, Adi belum pernah dimarahin secara keras oleh Ibunya, pernah sesekali Ibunya marah tapi tidak sampai membentak apalagi menamparnya.

Adi adalah anak semata wayang hanya Adi satu-satunya yang menemani susana rumah yang dikontraknyai, Adi anak yang disayangi buah dari perkawinan pasangan Ajeung dan Dahlan orang tua Adi.. Awal cerita pernikahannya ketika Ajeung lulus SMA dan bekerja di Bandung menjadi buruh pabrik kemudian diajak oleh tetangganya yang sudah bekerja di Bandung yaitu Dahlan yang menjadi suami Ajeung, disanalah berawalnya benih cinta tumbuh dan berkembang sehingga mempunyai satu anak bernama Adi.

Semenjak umur empat tahun Adi selalu ditinggal oleh Ibunya, dan dititipkan pada tetangga dirumah kontrakannya, saudaranya jauh di Jawa Tengah, orang tua Adi adalah perantauan yang hampir sepuluh tahun tinggal di Bandung.

“kenapa Ibu ga ikut demo, Ibu kan sama seperti yang di TV itu” Tanya Adi melanjutkan pertanyaan tadi.
“Ibu capek ga enak badan, badan Ibu pegal-pegal” jawab Ibunya dan Adi percaya saja apa yang dikatakan Ibunya.
Padahal dalam hati Ibunya ingin sekali ia ikut bersama buruh lainnya memperjuangkan nasibnya sebagai buruh, tapi apalah daya di tempat perusahaanya ada isu yang tersebar bahwa sipapun di saat tanggal 1 Mei melakukan aksi demo akan terkena sanksi ringan seperti tidak diberi gaji dan sanksi yang berat sekali yaitu pemutusan hubungan kerja (PHK).
Isu itu sangat kuat sekali sehingga menyebar keseluruh karyawan tempat Ibunya Adi bekerja dan tidak ada yang berani melakukan demo, semua bekerja seperti biasanya, walaupun ada yang mendorong dari pihak luar dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli terhadap buruh, tapi tetap saja tidak ada keberanian, bagaikan kerbau yang dicocoki hidungnya, dan seperti sapi perah yang dikuras tenaganya tiada henti, nasib buruh memang harus diperhatikan baik secara kesehatan, perekonomiannya, dan yang lebih penting jaminan keselamatan kerja.

Banyak sekali para buruh saat bekerja mengalami kecelakaan, entah itu tangannya terbawa oleh mesin penggulung kain sehingga nyaris putus dan ada juga yang ikut tergulung sampai meninggal.banyak kasus seperti itu namun kasus seperti itu jarang sekali diberitakan oleh media, sehingga hanya pihak yang berkaitan yang mengetahuinya.

Seperti dua tahun yang lalu dialami Dahlan (Suaminya Ajeung dan Ayahnya Adi) meninggal karena kecelakaan saat bekerja, waktu itu Ayah Adi sip malam atau kerja bagian malam samapi pagi. Dibagian mesin penggulung kain Dahlan kurang paham dalam pengoperasiannya, sebenarnya Dahlan dibagian mesin pengangkut kain, karena karyawan dibagian mesin penggulung kain tidak masuk kerja dikarenakan sakit, saat itu dibagian mesin penggulung tidak ada lagi karyawan akhirnya ditunjuk Dahlan oleh Kepala Bagian, untuk menggantikan karyawan yang sakit, perintah dari atasan akhirnya dituruti, karena takut terkena saksi, memang mesin itu alat vitalnya mesin yang lain, jadi seandainya mesin penggulung itu tidak berjalan maka akan terjadi penumpukan kain didalam mesin dan membenarkannya cukup menyita waktu.

Tanpa piker panjang Dahlan berwenang menangani mesin penggulung kain, tetapi disaat mesin sedang beroperasi terjadi penumpukan kain, Dahlan pun langsung membenahinya takut akan terjadi penumpukan yang lebih parah didalam mesin, tapi apa yang terjadi tiba-tiba kain mesin penggulung itu menarik tangan Dahlan dan sekejap terbawa kemudian terjepit disela-sela besi baja, Susana pabrik menkjadi getir, teman seprofesinya langsung membantu dan mematikan mesinnya tapi yang maha kuasa berkehendak lain Dahlan meninggal saat diperjalan menuju rumah sakit.

kematian atau kecacatan yang dialami oleh para buruh pabrik sering terjadi tapi terkadang perusahaan selalu menyalahkan pegawainya dengan alasan kecerobohan saat bekerja seperti kasus, Dahlan yang dianggap sebagai kecerobohan, tapi sebenaranya adalah pemaksaan dalam bidang pekerjaan yang bukan ahlinya.

Ditambah lagi uang gaji yang sangat kecil, buruh hanya sebagai sapi perah saja bekerja tanpa kenal siang dan malam, begitu juga para wanita yang bekerja sebagai buruh pabrik yang seharusnya menemani suaminya tidur kini terpaksa untuk tetap bekerja tanpa alasan, dimanakah keadilan bagi wanita yang dipaksa bekerja malam saat masnusia lainnya tertidur.
Ibu Adi pun selalu meninggalkan kewajibannya sebagai Ibu seperti menemani anaknya saat malam, dan mendampingi anaknya saat belajar, Ibu Adi sadar dengan hal itu sehingga ketika kepala anaknya bersandar dipahanya air mata seorang Ibu pelan-pelan menetes keluar dari sudut matanya yang bulat, wajah Adi terlihat heran melihat Ibunya menangis.

“ada apa Bu? Adi buat Ibu menangis ya?” Tanya Adi dengan lusuh.
“tidak Adi, Ibu cuma teringat Ayahmu saja”
“Ayah kan sudah lama meninggal, dan sekarang sudah ada disurga, memangnya kenapa Bu, Ibu mau menyusul kesana, kalau begitu Adi ikut ya, Bu?”
“Ibu takut, selain Ibu siapa lagi yang akan menemani Adi, kamu tidak punya apa-apa selain Ibu, disini Adi Cuma punya Ibu sendiri, saudara-saudaramu jauh, dan saudara dari Ibu sibuk dengan ke-egoisannya, bahkan kamu sendiri tidak tahu saudara kamu sendiri” lirih Ibu Adi dengan mata yang berkaca-kaca, menangisi nasibnya.

“Memangnya saudara Adi dimana sih Bu, terus kakek dan nenek Adi dimana?”
“kakek dan Nenek dari Ibu mu sudah meninggal sebelum kamu lahir, sedangkan dari Ayah juga sama”
“Terus, saudara-saudara Adi dimana”
“Saudara Adi ada Di Jawa Tengah”
“kapan dong Bu, kita berkunjung ke saudara”
“nanti saja Di, kalau kita sudah kaya pasti saudara-saudara kita akan mengakui kita sebagai saudara, makanya Adi harus menjadi orang kaya” Ibu nya berharap pada anaknya, karena memang Adi harapan Ibunya.
****
Malam pun tiba, Adi yang tertidur diatas paha Ibunya terlihat nyenyak sekali, Ibu Adi pun kelihatannya tertidur pulas dan tangannya masih memegang rambut Adi, tapi malam itu sepertinya sebentar sekali bagi Adi sehingga ketika Ibunya membangunkan Adi, tangannya masih erat merangkul kaki Ibunya sepertinya Adi tidak mau jauh dari Ibunya, Adi ingin sekali didekat Ibunya, Ibunya pun terasa heran, karena tidak biasanya Adi seperti ini.

Adi terbangun namun hanya pantatnya saja dan kepalanya masih dibawah diatas Paha Ibunya, karena hari semakin siang dan Ibu Adi harus bergegas untuk pergi bekerja, dan Adi pun pergi kekamar mandi. Semua sudah siap Adi dengan seragam Merah Putihnya sedangkan Ibu menggunakan seragam berwarna Coklat cirri khas buruh pabrik diperusahaan tempat Ibunya bekerja.

Pagi ini Adi tidak seperti biasanya, Adi terlihat senang sekali, berjalan bersama Ibunya sampai depan gerbang sekolah, Ibunya pergi untuk bekerja kembali sebagai buruh pabrik, Adi masih saja melihat Ibunya yang terus melangkah menuju jalan raya sampai naik bis jemputan karyawan, Adi masih saja melihat Ibunya, wajah Adi seperti merindukan Ibu nya, seolah tidak ingin pergi dari pandangan Ibunya.

“teng,teng,teng” suara besi yangdipukul tanda semua murid masuk kelas untuk mengikuti kegiatan belajar, Adi yang dari tadi pagi riang gembira, belajar dikelaspun semangat sekali, dan tugas yang diberikan oleh Ibu gurunya mendapatkan nilai sepuluh, kebahagiannya makin bertambah hidupnya wajahnya riang sekali, Ibu Gurunya pun melhat Adi terasa bangga karena ada peningkatan dalam belajar.

Bel sekolah berbunyi, Adi ingin cepat-cepat pulang dan membersihkan rumah supaya Ibu senang dan melihatkannya nilai yang bagus pada Ibunya, dalam pikiran Adi Ibu pasti senang dengan Nilai yang didapat Adi dari Ibu Guru.

Teman-teman yang biasa bersama ia tinggalkan karena ingin cepat sekali pulang ke rumah dan tidak mau didahului oleh Ibu. Tapi disaat masuk gang menuju rumah kontrakan terlihat rumah Adi banyak dikunjungi orang bahkan sampai keluar teras rumah, tiba-tiba mang Atang penjual Kue basah yang rumahnya berhadapan dengan rumah Adi memeluknya sambil memangkunya, Adi melihat wajah Mang Tatang yang tampak sedih dan matanya berkaca-kaca, Adi menjadi bingung tidak biasanya Mang Tatang seperti ini.

ketika melangkah mwelewati Pintu rumah, Adi yang digendong oleh mang Tatang tiba-tiba loncat dan memeluk Ibunya yang terkapar di teras ruang tamu masih menggunakan seragam coklatnya tapi warna coklatnya tidak sebersih waktu pagi, seragam coklatnya kini dipenuhi warna merah yang berbau amis dan mata Ibunya tertutup Adi menangis melihat Ibunya yang dari tadi terdiam tanpa bersuara, meskipun Adi sudah memperlihatkan nilai sepuluhnya pada Ibu, namun masih saja terdiam, Adi menangis mengingat seperti Bapaknya dulu tertidur diteras ruang tamu, Adi kembali dirangkul dari belakang oleh mang Tatang, dan Adi masih saja menangis sambil teriak, Ibu….!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: