Click Here to Back

“Pisau Songket”

In Cerpen on April 20, 2007 at 6:47 am

Oleh Feri Purnama

Jangan main-main dengan pisau itu, pisau itu sakral tidak boleh sembarang orang menyentuh benda itu apalagi memegangnya, Bantah seorang kakek penduduk kampung Sempal melarang cucu laki-lakinya yang masih belasan tahun bernama Dane untuk tidak boleh sesekali memegang Pisau itu. yang berada disebuah saung adat yang terbuat dari bambu yang berada ditengah-tengah kampung, dan pisau itu tidak ditutupi apapun hanya terbuka dan dapat dilihat dari dekat. Dan dikelilingi oleh rumah yang beralaskan tanah, semua bangunan kampung Sempal yang terbuat dari bambu dan tempatnya jauh dari keramaian dan peradaban manusia.

Entah apa maksud si Dane itu sehingga ingin memegang Benda keramat yang jelas benda itu tidak boleh ada yang menyentuh, Pisau itu adalah titipan dari leluhur kita, Mbah Songket. Pisau itu sangat berbahaya pada jaman nenek moyang kita dan pisau itu adalah pisau yang pertama kali ada dikampung ini yang dibawa oleh almarhum mbah Songket, seseorang yang pertama kali membawa benda itu. ketika mbah Songket masih muda ketika umur 20 tahun Songket disuruh pergi merantau, 10 tahun kemudian mbah songket kembali pulang dengan membawa sebilah pisau dengan panjang 25 centimeter dan lebar 4 Centimeter berikut ujung pisau lancip dan mengkilat, serta gagangnya yang bulat pas ditangan ukuran orang dewasa yang dibuat dari baja dan terpangpang di pinggang kanan dengan dicantelkan dicelana panjangnya yang gombrang lusuh berwarna Hitam.

ketika pertama kali Songket datang penduduk sempal berteriak “Songket pulang, Songket pulang” kegembiaraan penduduk dengan kedatangan Songket, ia diutus oleh kepala suku untuk merantau dan disuruh untuk belajar mencari ilmu dan pengetahuan sebanyaknya dan kembali dengan harapan bisa membuat kemajuan penduduk sempal supaya tidak menjadi penduduk tertinggal hanya itu masud tujuan dari kepala suku.

Mbah songket berjalan menyusuri jalan setapak sebelum sampai di kampung kelahirannya kerumunan orang menyambut mbah songket diringi teriakan bangga dan mengharukan, Songket langsung memeluk kepala suku Sempal dengan genggaman tangan yang melingkari tubuh masing-masing, Songket dan kepala suku.
***

“apa yang kau bawa Songket? Tanya kepala Suku. Di saung adatnya tempat berkumpulnya penduduk Sempal disaksikan ratusan Penduduk Sempal karena hanya itu yang pertama ditanyakan dan dimaksud oleh kepala suku bahkan oleh penduduk Sempal lainnya.

“Yang saya bawa adalah Pisau” tegas Songket.
“apa itu pisau?” Tanya kepala suku dengan herannya karena nama itu belum ia kenal sama sekali.
“pisau yang sangat berguna sekali untuk penduduk sini” jelas Songket dengan bangganya lalu dilihatkannya pada kepala suku.

“Ini adalah Pisau, yang saya bawa dari rantau” songket memberikan pisau itu dengan harap kepala suku bisa menjadi tahu bahwa ini yang dimaksud dengan pisau.
“hanya ini saja yang kau bawa selama bertahun-tahun?”

“ia kepala suku! Hanya ini yang saya bawa, dan benda ini juga yang menjaga dan memberikan kehidupan, selama perjalanan pulang kampung” ucap Songket dengan nada santai.

“apa maksud kamu benda ini yang menjaga kamu? Bukankah disaat kau pergi dari kampung ini kamu tidak membawa benda ini dan pada akhirnya kamu selamat” Tanya Kepala suku dengan herannya mendengar alasan Songket.

“benar, waktu itu saya pergi tanpa pisau, tapi saya pergi dengan tangan kosong, waktu di perjalan menyusuri hutan saya dihadapkan berbagai rintangan dan maut selalu mengikuti selama pemberangkatan” terangnya

Songket menjelaskan walau sampai sekarang belum juga dimengerti “disebuah Desa yang asing bagi saya, seorang laki-laki tua menerangkan bahwa ‘kamu ada didesa seribu pedang’ ucapan laki-laki tua yang membangunkan dari ketidak sadaranku, ucapan laki-laki tua itu belum saya mengerti yang ada hanya sakit sekujur tubuh dan luka yang sangat perih seperti gigitan binatang buas.” Terangnya lagi, para penduduk serta kepala suku mendengarkan dengan serius kisah Songket.

“lantas bagaimana ceritanya sehingga kamu membawa benda ini?”

“bukan benda ini, tapi ini namanya Pisau” jelas Songket.
“Ia itu, entah apa namanya” kepala suku mengelak. Sambil menyuruh Songket untuk menjawab pertanyaan tadi.

“lantas apa yang membuat benda ini selalu menjaga dan memberikan kehidupan pada diri kamu?” Tanya kepala suku yang masih bingung.

“pisau ini selalu menjagaku disaat aku berhadapan dengan binatang buas, aku tusukan pisau ini keperut binatang buas dan dagingnya aku makan, semua binatang yang pernah berhadapan denganku selalu jadi santapanku apalagi daging ular enak dan lezat, memburu dengan mudahnya tanpa menggunakan tombak yang terbuat dari bamboo dan memotong daging dengan mudah sekali” Songket dengan gagahnya menceritakan semua pengalamannya.

“itulah kelebihan pisau ini yang selalu aku banggakan, dan aku anggap pisau ini adalah teman setiaku yang selalu menjaga dari terkaman binatang buas, pisau ini juga yang mencabik daging, dan memudahkan mengambil buah-buahan dari pohon selama diperjalanan menyusuri hutan.” Jelas Songket.

Kepala suku masih saja kebingungan dengan benda itu, benda itu terlalu asing dan belum bisa dipahami oleh penduduknya, padahal sebelumnya jika Songket pulang dari Negeri orang berharap mendapatkan pengetahuan yang luas untuk kemajuan penduduk Sempal,. Tapi sayang sangat jauh sekali.apa yang diharapkan kepala suku.

Kepala suku menjadi naik pitam karena ulah Songket yang tidak membawa apa-apa, kepala suku kecewa pada Songket yang hanya membawa sebilah pisau saja, akhirnya kepala suku marah. perseturuan terjadi antara songket dan kepala suku, semua tak mau mengalah karena pemahaman kepala suku yang belum mengerti makna dari pisau itu, dan Songket penjelasannya sangat bertele-tele, dan kepala suku masih memegang adat yang kuat yaitu jangan pernah membawa benda asing dari luar Kampung Sempal. sedangkan Songket tidak setuju dengan adat seperti itu, percekcokan semakin menjadi, Pisau yang berada ditangan songket tiba-tiba bergetar seperti ada getaran yang tidak dimasuk akal, tangan songket tidak bisa lepas dari pisau itu, kepala suku masih saja terus mengoceh bahkan terus memaki Songket. Songket pun semakin risih mendengar makian dari kepala suku, diluar sadar songket yang terkenal penyabar dan selalu ramah, tiba-tiba karena kesal dengar ocehan kepala suku dan tangan sedang memegang pisau, kepala suku pun mati dengan pisau tertancap diperut, sekejap nafas kepala suku terhenti, suasana yang tadinya riuh kini menjadi hening melihat kepala suku yang selalu dihormati, kini sudah mati oleh sebilah pisau, dan terkapar di saung adat.

“kepala suku, kepala suku” teriak Songket dan di ikuti oleh ratusan penduduk Sempal lainnya, kampung sempal menjerit histeris penuh air mata.

“Maka dari itu kamu tidak boleh memegang pisau itu apalagi kamu anak kecil yang masih ingusan” tegas si kakek yang baru saja menjelaskan sejarah pisau itu.

“Lantas bagaimana mbah Songket setelah membunuh kepala Suku?
“Mbah songket dihukum secara adat yaitu hukuman gantung dan itu sudah aturan adat” jawab si kakek.

Seribu pertanyaan dibenak anak ingusan yang masih saja memandang pisau yang tergeletak di teras saung adat, dan tak ada yang berani menyentuhnya hanya anak ingusan saja yang berani mencoba menyentuh benda itu tapi harapan untuk mencoba menyentuh benda itu karena ketidak tahuan sejarahnya pisau itu. Harapan itu selalu saja gagal dan selalu saja diberi peringatan hanya berucap ‘tidak boleh’ tanpa alasan, beda dengan si kakek yang menjelaskan sejarahnya benda itu. Setelah dijelaskan sejarahnya anak ingusan itu menjadi ketakutan dan rasa keingin tahuan menjadi terhalangi oleh karena cerita-cerita yang turun temurun, akhirnya si anak itu pergi meninggalkan saung adat dan harapan untuk memegang pisau itu pudar begitu saja , dan akhirnya sampai sekarang kampung Sempal masih saja tertinggal hingga benda tajam berupa pisau saja tidak digunakan betapa ironisnya kemajuan terkurung oleh cerita lama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: