Click Here to Back

Teater Kampus Serta Eksistensinya

In Feature on April 18, 2007 at 10:43 am

Oleh: Aris M Fitrian
eeerisjpg.jpgSeorang nyonya terlibat perdebatan yang sengit dengan suaminya. Hal ini dikarenakan Toni kesayangannya tengah terbaring sakit dan tidak berdaya. Semua cara telah mereka lakukan. Semua Dokter, Profesor bahkan Dukun sekalipun telah didatangkan khusus untuk kesembuhan Toni.

Nyonya yang begitu mempunyai pengaruh, ningrat dan terkenal dimasyarakat setiap harinya hanya disibukan dengan Toni. Toni adalah seokor anjing yang sudah sangat tua dan kini sakit termakan penyakit dimasa tuanya. Tidak seorangpun bisa mengubah pendirian sang Nyonya pada kecintaan dan keyakinannya akan kesembuhan Toni, bahkan sang suaminnya sendiri (sang Tuan) mati langkah bila dihadapkan pada persoalan tersebut.
Ironisnya sang Tuan yang terlihat begitu peduli pada keadaan Toni, padahal ia sebenarnya kurang mempedulikan keadaan anjing kesayangan sang Nyonya. Akibatnya konflikpun berlanjut, bahkan cek-cok diantara mereka tidak dapat dihindari. “Apa yang terjadi denganmu, kamu sepertinya sudah berubah sekarang, kamu terlihat menyeramkan?” bentak sang Nyonya pada Suaminya. Hingga sang Tuan terdiam dan berkilah akan perubahan yang terjadi pada sikapnya selama ini.

Apa yang mereka perdebatan berakhir teragis dengan matinya Toni sang anjing yang membuat Nyonya dan Tuan begitu bersedih dan terpukul. “ini bagaikan petir disiang hari” begitu yang mereka utarakan. Hingga sang Nyonya pun meminta pada suaminya untuk mengabarkan kesedihan yang mereka alami pada semua orang, bahkan meminta harus mengadakan jumpa Pers. Sebuah pidato khusus pun dipersiapkan oleh sang Tuan demi memenuhi permintaan istrinya tersebut. Orang-orang dan wartawan hadir untuk mengucapkan bela sungkawa pada Nyonya dan Tuan yang telah kehilangan Toni anjing kesayangan.

Semantara itu, disemua sela-sela waktu yang begitu sempit Otong dan Wilem dua orang pembatu yang setiap harinya setia pada sang Nyonya dan Tuan menyempatkan diri untuk menjalin cinta dibalik semua kesedihan dan kegelisah majikannya tersebut. Hingga jalinan kasih diantara keduanya tercipta dengan indah dan penuh guyonan. Otong yang padahal sudah beristri serta mempunyai seorang anak yang masih bayi dan sekarang tengah sakit keras lupa akan keadan yang dihadapi keluarganya. Hal itu dikarenakan kesetiannya pada sang majikan demi melaksanakan segala perintahnya. Suasana berubah kacau ketika seseorang mengabari bahwa putra si Otong telah meningagal serta dengan datangnya seorang gadis yang meminta dinikahi oleh Otong karena kini ia telah hamil muda.

Ditengah kesedihan Nyonya dan Tuan juga orang-orang yang datang, Otong mengambil keputusan untuk menjadikan sang gadis sebagai istri ke duanya dan Wilem istri ketiga. Semua terheran akan tingkah laku Otong yang kini memilkiki tiga perempuan sebagai istrinya. Sementara itu, Nyonya tetap dirundupi duka akan kematian anjing kesayangannya Toni. Semua tidak bisa berbuat apa-apa, hingga tuhanlah yang memiliki kuasa untuk memberikan kita kelahiran, cinta dan kematian.

Itulah beberapa penggal dari pertunjukan teater yang mengambil sebuah naskah dari karyanya Arifin C. Noer dengan judul “Kisah Cinta dll” yang dimaikan oleh Teater Awal UIN Sunan Gunung Djati Bandung, pada hari kamis dan jum’at (15 dan 16 Maret) di galeri UIN SGD Bandung. Penggarapan yang dimulai tiga bulan lalu ini juga akan dipentaskan di Pendopo Cicalengka pada Sabtu 24 Maret 2007. Pementasan teater ini merupakan garapan kesekian kalinya dari Teater Awal UIN Bandung, Namun ada yang berbeda pada pementasan kali ini, pementasan ini merupakan garapan pertama dari surtadara muda Abu Dzar Al-Gifari, serta studi panggung dari angkatan ke XIX yang merupakan angkatan termuda di Teater Awal.

Naskah yang Teater Awal ambil merupakan naskah yang syarat dengan pesan moral akan kasih sayang dan jalinan cinta pada setiap mahluk. Dari setiap adegan dan dialognya memiliki pesan yang hendak penulis sampaikan pada publik. Ini sangat menarik sekali, Arifin C Noer mengambil ide cerita seorang Nyonya yang begitu cinta dan sayang pada Toni anjing kesayangannya. Tentunya ini sebagai pesan akan penebaran cinta pada setian mahluk. Apalagi jika kita meng-Inflikasikannya kepada manusia dan seluruh mahluk hidup yang ada di muka bumi.

Segala yang telah tuhan gambarkan akan terjadi pada diri manusia. Semua mahluk tidak bisa memungkiri akan kekuatan tersebut. Kelahiran, Cinta dan Kematian semuanya telah tuhan gariskan dalam kehidupan manusia. Kita semua tinggal pesrah menerima kehendak tersebut, meskipun tetap segala upaya harus dijalankan sebagai syari’at agar manusia bisa berupaya. Itu pula pesan yang hendak “Kisah Cinta dll” ini sampaikan.

Keberadaan Teater Kampus

“Ekspresi Jiwa Merupakan Luapan setiap Insan Seni Teater”. Hal itu tidak terlepas dari keberadaan Teater Kampus atau Teater Non-kampus (indipenden). Lalu kemanakah kini keberadaan teater kampus yang pernah membuming beberapa tahun kebelakang di Bandung . Hal tersebut dibedah paska pementasan “Kisah Cinta dll” di galeri Teater Awal UIN SGD Bandung, disamping efaluasi dari pementasan. Hadir juga disana kang Yosep dari “Teater Laskar Panggung” dan beberapa orang dari “Teater Tema” serta berbagai insan yang memang peduli terhadap perkembangan teater di tanah air.

Permasalahanya memang sangat komplek. Mulai dari sulitnya mencari sponsor untuk sebuah garapan sampai masih adanya anggapan kurang keprofesionalan teater kampus itu sendiri. Padahal lepas dari itu semua, seharunya tidak ada dikotomi dan pengkotakan tentang keberadaan teater kampus atau non-kampus. Karena pada dasarnya semua komunitas teater sama yakni untuk berproses. Hanya saja permasalahnya mungkin terletak pada pandangan teater kampus masih selalu dibenturkan dengan kegiatan kuliah dan jadwal latihan. Berbeda dengan komunitas teater non-kampus (independen) yang dinilai lebih terfokus untuk waktu sebuah garapan.

Namun hal itu semua dibantah oleh Teater Awal yang berlebelkan komunitas teater dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Bahkan jika kita pandang UIN Sunan Gunung Djati Bandung bukan merupakan kampus yang menggemleng mahasiswanya mengeluti bidang teater. UIN SGD Bandung sendiri merupakan kampus yang memeliki jargon religi islami dalam setiap kegiatannya. Tetapi ternyata Teater Awal dapat mencetak bibit-bibit baru yang kini telah hidup dibidang kesenian. Matdon dan Tatang Pahat misalnya, salah satu yang pernah berkecimpung di Teater Awal dan kini menjadi Sastrawan ataupun budayawan.

Keberadaan teater kampus bagaikan tidak tersorot perhatian. Kemunculannya kadang dikucilkan, hal itu pula yang sulit untuk dihilangkan dari pandangan sebagian masyarakat kita. Maka kadang tidak heran jika hal ini membuat sulit komunitas tearter kampus di Indonesia untuk muncul. Kondisi seperti ini disadari oleh Teater Awal, namun tidak menjadikan mereka patah arah. Proses adalah bagian yang tetap harus dijalani meskipun hal itu sangat sulit untuk dilakukan. Kini pamor teater kampus diambang kepunahan, begitu kiranya yang di ungkapkan Yosep Laskar Panggung.

Menyikapi hal tersebut, maka perlu adanya suatu pemulihan terhadap kondisi seperti ini. Jangan sampai teater kampus dianggap jago kandang, yang hanya bisa main di rumahnya sendiri. Bahkan jangan sampai pamornya menjadi mundur. Jika Teater Awal seperti diatas tadi saja mampu untuk terus berproses di tengah kuatnya himpitan dunia globalisasi, mengapa bagi komunitas teater lain tidak menjadi sebuah motifasi untuk tetap eksis dan berproses.

Persaingan Panggung Teater

Mungkin disadari atau tidak, persaingan di dunia teater itupun terjadi. Dunia panggung kadang dijadikan eksploitasi untuk sekedar mencari keuntungan belaka bagi sebagian pihak tertentu. Misalnya bagi sponsor yang bersedia untuk memblow-up seluruh kebutuhan produksi pementasan. Namun hal ini tentunya harus menjadi sebuah timbal balik bagi pihak tersebut. Otomatis bagi komunitas teater seperti ini tidak akan mengalami kesulitan biaya produksi dan pementasan pun bisa berjalan dengan lancar. Namun bagai mana dengan nasib komunitas teater kampus yang tidak bisa mendapatkan sponsor untuk pementasannya.

Kesulitan seperti mendapatkan sponsor untuk sebuah pementasan bagi teater kampus merupakan salah satu yang menjadi sebab sulitnya untuk muncul kepermukaan. Hal ini tentunya akan mematikan semangat berproses secara perlahan-lahan. Bagi sebagian komunitas hal ini tentunya akan diminimalisir dengan merogok dari saku pribadi. Namun perlahan-lahan solusi seperti inipun akan mengalami kemandetan.

Tetapi kesulitan untuk memperoleh penyelesaian biaya produksi sebuah pementasan jangan dijadikan sebagai alasan untuk matinya sebuah kreatifitas. Meskipun mengalami kemandetan diwilayah ini tetapi kreatifitas harus tetap berjalan. Jika kemunduran sebuah pementasan karena tidak mendapatkan solusi untuk sebuah produksi pementasan, maka hal inipun sangat naïf juga. Sebagai jawaban, pementasan Tetaer Awal pun masih selalu merogok koceknya sendiri untuk sebuah pementas, bahkan untuk pementasan keliling.

Jurnal 04 Aktif di Teater Awal Bandung

 

  1. trimksih udah maen k karawang
    kpn mu pentas lg d krwng

  2. Aq pngen bgt msuk ke tab..
    Tp ada biaya lain lg gk..?!

  3. saya reni, jurnal angkatan 2001. kemarin saya mengikuti penulisan kritik seni. tapi gak beres, sama halnya dengan ajat angkatan 2004, yang terlihat nongol di sesinya septiawan santana. setelah itu menghilang entah kemana. kamana atuh jat? hehehe…..

    saya ingin sedikit komentar dengan tulisan ‘teater kampus serta eksistensinya’. menurut saya akan lebih bagus jika tulisan itu benar-benar dipecah, dalam artian tidak hanya sekedar diberi sub judul. tulisan pertama yang menceritakan tentang jalan sebuah lakon, menurut saya belum tuntas. penulis yang aktif di dunia teater tentunya lebih paham ketika menuliskan cerita dalam teater itu. tidak hanya sekedar jalan cerita, tapi bagaimana lakon itu dibawakan? bagaimana panggungnya? bagaimana bloking, dan sebagainya?

    cara penuturan isi cerita sering juga saya lakukan. alasan saya adalah untuk mempermudah tulisan. karena saya sendiri tidak mengerti teater. tapi mungkin kita bisa belajar lebih bagaimana caranya kita mengeksplorasi kemampuan kita menganalisa yang dituangkan dalam sebuah tulisan. bagaimana kita sebagai penonton melihat pementasan itu. karena saya pikir pembaca juga ingin tahu.

    di luar itu semua, saya acungkan jempol pada penulis. lain kali kita sama-sama belajar bersama tentang menulis seni. terima kasih….

    _ren
    yang lagi belajar tentang penulisan seni dan budaya

  4. Teh Ren, kemarin aku memang nongol di acara itu.
    cuma karena ajat waktu itu ajat udah deadline.
    jadi harus balik ke antara dulu.
    bwat barudak jurnal.
    sok diajar sing garetol.
    jadikan BN sebagai ajang mengasah keterampilan di bidang Jurnalistik.
    bwat Faisal, Iqbal, Candra, Zul, Armin.
    sok cing getol ngirim berita ka BN.
    kalau bisa mah, lebaran juga tetep nyetor berita.

  5. hallo apa kabar
    bwat anak jurnal 06
    ada kabar baik
    untuk opab nanti
    bakal ada kejutan yang sangat special bwat kalian
    jangan antusan weuhh nya nanti
    btw malam jum’at nanti (hari kamis) kalo bisa anak hima ama panitia opab datang donk ke ikro.
    ada hal yang harus di bagi dengan kalian
    diantozzzzzzzzzzzzzzzzzzz.

  6. bisa minta referensi dokumentasinya gak???
    kalau bisa, kirim ke email saya ya eu_arthemis@yahoo.com

    nuhun….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: