Click Here to Back

Mengomunikatifkan ISKI

In Artikel on April 18, 2007 at 10:39 am

Oleh SUBAGIO BUDI PRAJITNO

TELAH lama tidak terdengar kiprah Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI), baik di tingkat lokal maupun nasional. Kondisinya berbeda dengan ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia) atau asosiasi profesi seperti dokter dan advokat, juga perhimpunan profesi di bidang komunikasi seperti Perhumas, PWI, dan AJI. Tiadakah manfaat bergabung dalam
ISKI? Pesimiskah Anda akan peran ISKI dalam dinamika sosial di tingkat, lokal, regional, nasional atau bahkan internasional?.

Tentu 40 orang lebih panitia Musyawarah Cabang (Muscab) ISKI Bandung, ditambah belasan pengarah, meyakini pentingnya revitalisasi ISKI agar berperan signifikan dalam penyelesaian masalah-masalah sosial di Nusantara yang sedang terpuruk. Masalahnya tinggal, cukupkah kapasitas para calon anggota potensial ISKI? Bagaimana mengembangkan strategi organisasi supaya mampu menjawab tantangan komunikasi yang makin rumit secara sosial maupun teknologi?.

Ribuan sarjana komunikasi, baik yang masih menganggur maupun yang telah berkiprah di bidang komunikasi yang luas, siap bergerak atau digerakkan. Mereka selalu berkomunikasi di rumah, bersama komunitas masing-masing, juga ketika bekerja sebagai reporter, fotografer, kamerawan, editor, produser, presenter, penceramah, pemimpin redaksi, penulis, pemilik penerbitan, perancang grafis, copy editor, penerjemah, dosen, konsultan komunikasi, knowledge officer/manager, pustakawan, public relation officer, manajer atau operator sistem informasi manajemen, website developer, web master, programer komputer, account executive, event organiser, aktivis ornop/LSM, pelobi politik dan bisnis, diplomat, dan entah apa lagi profesi serta jabatan di bidang komunikasi.

Kesadaran akan luasnya bidang profesi komunikasi dan besarnya dampak komunikasi (massa) bagi tiap individu dan masyarakat, menjadi alasan yang lebih dari cukup untuk membangunkan kembali ISKI, khususnya Cabang Bandung. Tidaklah mengherankan, jika Bapak H.A.M. Ruslan yang telah berkali-kali memimpin kepengurusan ISKI Bandung, mendorong kepemimpinan yang lebih muda dan dinamis. Kawan-kawan di Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jabar pun merespons dengan antusias, diikuti oleh sarjana komunikasi lainnya. Terbentuklah panitia Muscab ISKI Bandung 2007 dengan dukungan para individu dan institusi seperti Pemprov Jabar, PT Telkom, Kadin Jabar, media massa, dan perguruan-perguruan tinggi di Bandung yang memiliki fakultas atau jurusan komunikasi.

Namun, bagaimana banyaknya dukungan itu dimanfaatkan untuk merevitalisasi ISKI Bandung atau bahkan nasional? Setidaknya ada empat aspek yang patut menjadi perhatian ISKI.

Aspek keorganisasian

Pada umumnya kegagalan organisasi disebabkan oleh ketidakjelasan tujuan-tujuan, kegagalan kepemimpinan, dan ketidakpedulian anggota. Memerhatikan sambutan yang antusias atas rencana Muscab tanggal 29-30 Maret, kami optimistis para calon anggota potensial siap bergotong-royong membangun ISKI. Beberapa kader pimpinan pun mulai menampakkan bakat manajerialnya. Soal kejelasan tujuan ISKI atau pemancangan visi dan misi ISKI Bandung, kita lihat hasil muscab nanti.

Pembenahan organisasi ISKI dapat berurut dari penguatan basis keanggotaan, penetapan visi-misi yang kritis dan kontekstual, pemilihan para pengurus yang mumpuni, penjabaran program yang realistis, baru kemudian meningkatkan dampak terhadap dinamika sosial. Selain itu, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) ISKI harus dikaji ulang. Batasan “sarjana komunikasi” disesuaikan dengan perkembangan keilmuan, teknologi, dan profesi di bidang komunikasi. Ada aspirasi juga untuk membentuk ISKI tingkat provinsi apabila kepadatan penduduk dan lembaga pendidikan tinggi komunikasi memungkinkan hal ini.

Lantas, dari mana dana diperoleh untuk menyokong keberadaan ISKI? Kecerdasan berjejaring dan kepiawaian penggalangan dana menjadi tuntutan bagi para pengurus ISKI mendatang. Iuran anggota dan usaha komersial ISKI pun wajib digarap secara optimal. Knowledge management di bidang komunikasi dan pelatihan-pelatihan keprofesian adalah tambang emas bagi ISKI, sekaligus tantangan penanganan konflik dengan para penyedia layanan tersebut.

Aspek akademis

Kegiatan akademik ISKI sebaiknya mampu menjadi lokomotif perkembangan ilmu dan pendidikan komunikasi bagi lembaga-lembaga pendidikan tinggi komunikasi. Sungguh menyedihkan apabila para sarjana yang aktif dalam ISKI, gagal saling mempertukarkan pengetahuan dan saling mengasah keterampilan metoda ilmiah.

Kesenjangan kualitas lembaga-lembaga pendidikan tinggi komunikasi, memang menyempit akibat iklim kompetisi bebas. ISKI akan dicintai anggotanya, jika berhasil meng­harmoniskan interaksi kelembagaan dan individual. ISKI dapat memelopori benchmarking (pembandingan) kualitas lulusan dan pendidikan komunikasi.

Program konkretnya bisa berupa pengembangan perpustakaan mutakhir, baik sarana maupun isinya. ISKI pun diharapkan sering menyelenggarakan seminar dan lokakarya, baik yang berorientasi pembangunan ilmu maupun penyelesaian masalah-masalah praktis, seperti resolusi konflik atau perluasan gerakan melek media (media literacy). Kesinambungan penerbitan jurnal ilmiah, juga dapat menjadi indikator keberhasilan akademik ISKI sebagai wadah ilmuwan dan praktisi komunikasi.

Aspek profesional

Banyaknya jenis profesi di bidang komunikasi seperti didaftarkan di atas, berimplikasi pada kerumitan pengelolaan perkumpulan seperti ISKI. Tetapi, lebih baik memandang hal ini sebagai daya tarik. Bayangkan, ada puluhan jenis pekerjaan bertampalan ketika menyentuh tiap peserta komunikasi. Kecenderungan konvergensi teknologi komunikasi pun, meningkatkan intensitas interaksi pelaku komunikasi dan profesional di bidang komunikasi.

Heterogenitas peserta komunikasi itu menuntut adaptabilitas tinggi. Kegagalan menyesuaikan diri dalam sistem komunikasi yang makin rumit, dapat meningkatkan tekanan psikologis yang bisa memicu konflik. Inilah tantangan para profesional komunikasi yang sangat sering digoda untuk tunduk pada dominasi kepentingan tertentu. Sering dominasi itu berupa eksploitasi atas kebanyakan warga negara atau konsumen yang kurang kritis.

ISKI dapat memfasilitasi pertemuan antarprofesioanl, para profesioanal dengan vendor teknologi dan operator telekomunkasi, juga pertemuan multistakeholders (beragam pemangku kepentingan) mencakup masyarakat, pelaku usaha, organisasi nonpemerintah dan pemerintah. Pertemuan-pertemuan ini hendaknya dapat memelihara hubungan politis dan ekonomis berlandaskan etika bisnis yang sehat. ISKI pun dapat membentuk dewan kehormatan untuk menegakkan kode etik anggota ISKI sebagai pelaksanaan tanggung jawab moral organisasi.

Aspek politis

Sistem politik demokratis terbiasa dengan suara terbanyak, manifestasinya dalam pemilu periodik dan pemungutan suara di lembaga perwakilan rakyat. ISKI, kalaupun anggotanya ribuan, kurang efektif jika hanya mengandalkan jumlah suara anggotanya untuk memengaruhi kebijakan publik. Kekuatan politis ISKI adalah kemampuan persuasif para anggotanya. Para ahli komunikasi sepatutnya mampu mengubah sikap individu dan kelompok, juga membentuk opini publik yang bisa mendorong perubahan kebijakan publik.

Semua proses pembentukan dan penerapan kebijakan publik adalah lahan bagi para ahli komunikasi, terlebih bagi ahli komunikasi yang berlatar belakang pendidikan formal di bidang komunikasi. Sayang sekali para sarjana komunikasi terkonsentrasi di lembaga pengelola komunikasi massa. Padahal, banyak pejabat pemerintah dan anggota DPR (D) sering melakukan kesalahan komunikasi sehingga mengundang antipati bahkan perlawanan warga. Banyak ornop/LSM juga membutuhkan ahli komunikasi untuk mendukung keberhasilan advokasi. Berbeda sekali dengan perusahaan-perusahaan, terlebih yang mapan, mereka siap menggelontorkan dana demi keberhasilan kampanye produk dan jasa, membiayai lobi-lobi di lembaga eksekutif dan legislatif, serta membayar pengacara mahal untuk membela kepentingan mereka.

ISKI yang bertanggung jawab hendaknya menyisihkan tenaga dan pikiran untuk menyeimbangkan kekuatan politis tersebut. Semoga kepengurusan ISKI Cabang Bandung yang baru nanti, cukup kritis untuk berperan serta mengatasi dampak buruk globalisasi yang cenderung melanggengkan dominasi negara-negara maju dengan perusahaan-perusahaan multi/trans-nasional (MNC/TNC) mereka.

Tetapi, apabila kepengurusan ISKI Bandung dan nasional gagal memahami peta politik yang menyedihkan itu, maka para sarjana komunikasi yang kritis harus bersiap melancarkan subversi di berbagai level dalam satuan geografis yang beragam. Sarjana komunikasi yang tercerahkan, ibarat prajurit Sparta yang sedikit harus bertindak cerdik melawan sejumlah besar prajurit Persia.

Di luar penyimpangan sejarah yang dilakukan penulis skenario film “300″, pelajaran penting dari Leonidas Sang Raja Sparta adalah memilih medan perang sempit di bibir pantai terjal. Tiga ratus prajurit Sparta mampu menahan laju invasi puluhan ribu tentara Peria, walau cuma sementara. Seorang prajurit Sparta ditugaskan pulang untuk mengabarkan heroisme Raja Leonidas dan para pengikut setianya. Kematian 299 prajurit Sparta berhasil menyulut semangat juang bangsa-bangsa Yunani. Akhirnya mereka bersatu mengusir tentara Persia.

Cerita ribuan tahun lalu itu mungkin cuma legenda. Namun, legenda sebagaimana mimpi dan cita-cita adalah penggugah inspirasi. Daya persuasinya dapat membuat manusia bergetar, menagis, tertawa, sedih, marah, atau bertindak. Dramatisasi dalam film, teater, musik, dan lagu, juga karya sastra adalah unsur komunikasi yang kuat sehinga dapat dimanfaatkan untuk mengubah sikap dan perilaku.

Sanggupkah para sarjana komunikasi menjadi sutradara atau aktor di panggung politik? Sanggupkah ISKI menghimpun para sarjana komunikasi dan bekerja sama membangun dunia yang lebih adil dan sejahtera? Wahai para sarjana komunikasi, bersatulah! ***

Penulis- anggota panitia musyawarah cabang ISKI Bandung 2007, Direktur Sawarung (Sarasehan Warga Bandung), Dosen Jurnalistik UIN Bandung
Published at Pikiran Rakyat
March 29/07 Thuesday

 

  1. Jika ada kelanjutan signifikan dari musyawarah cabang di Bandung yang lalu, apakah hanya revitalisasi lokal (Bandung – Jabar) atau sebagai embrional kembalinya ISKI dalam pentas nasional. Hal mana sebagai esensi memandang bagaimana seharusnya organisasi intelektual ini mengambil sebagian peran tetapi signifikan dan menentukan. Mengingat realitas dan fakta sekarang ini mendeklarasikan kegagalan “KOMUNIKASI” yang berlangsung dalam setiap level, relasi, yang di dalamnya hanya ada komuntas “MANUSIA”.
    By this comment, I hope we have to make it to be real!

    Love dan Peace

  2. saya sarjana komunikasi lulusan 2011 dan ingin sekali bergabung dengan ISKI. Saat ini abstrak penelitian saya diterima untuk konferensi internasional di Turki, dan saya ingin membawa nama ISKI, bagaimana atau apa yang harus saya lakukan untuk menghubungi ISKI? Mohon informasinya, saya berdomisili di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: