Click Here to Back

Penolong Malang

In Cerpen on March 15, 2007 at 6:42 am

Oleh Feri Purnama
Saat itu matahari mulai tenggelam sebentar lagi gelap akan menyelimuti hutan tempat aku mencari kayu bakar, “lumayan kayu bakar sudah cukup banyak buat persediaan memasak selama dua hari, saatnya aku pulang kasihan orang dirumah pasti khawatir” diperjalanan pulang kerumah yang cukup jauh melewati setapak jalan yang dikelilingi semak-semak yang cukup rimbun, ditengah perjalanan mendengar suara raungan, tapi suara itu dihiraukan karena takut akan mengancam keselamatan jiwaku yang aku pikirkan bagaimana supaya aku berjalan lebih cepat menjauh dari suara itu, tapi suara itu semakin jelas, dan itu bukan suara binatang yang tadi aku pikirkan, itu suara manusia yang merasa kesakitan.

Serentak kaki ini berhenti, suara itu semakin keras disamping kiriku tempat aku berdiri. dibalik semak belukar mencari keberadaan orang yang merintih itu, Dibalik ranting yang menutupi tubuh manusia itu bergegas aku turun dengan hati-hati, rintihan itu ternyata benar manusia dalam keadaan terkapar dengan wajah yang lusuh, kain sebagai penutup badan yang tak berbentuk, compang camping dan kotor, disemak-semak belukar sambil meringih seakan meminta pertolongan. Tak henti-hentinya manusia itu menyebutkan “tolong aku” disela-sela saat kedatanganku, kubawa dia kegubuk tempat tinggal bersama keluargaku, aku obati dia, aku beri makan dia dari sisa jatah makan yang cukup, jatah makan keluargaku kini terbagi enam, satu untuk istriku dan ketiga anakku, kini aku sisakan untuk orang yang membutuhkan pertolongan, walaupun hidupku serba pas-pasan kehidupan keluargaku hasil dari buruh tani tapi hati ikhlas.

Manusia itu kini sudah pulih kembali segar dan bisa bicara padahal seminggu kebelakang manusia itu tak sadarkan diri hanya merintih kesakitan, setiap malam hanya meraung sesekali mengucapkan ayat-ayat suci dengan samar. Kepulihannya membuat se-isi rumahku bahagia anakku dan istriku.

Waktu terus berjalan tiga hari dari kepulihannya manusia itu, cepat sekali akrab dengan keluargaku apalagi dengan si bungsu yang umurnya baru tiga tahun. Manusia itu tutur katanya sangat lembut apalagi saat berbincang-bincang santai pada malam hari ditemani cahaya lentera yang sedikit menyibakan cahaya ditengah ruangan yang cukup sempit, berbagi cerita dan pengalaman diiringi tawa yang selalu menghiasi obrolan kami, tapi manusia itu tak pernah menceritakan kenapa bisa terdampar di hutan belantara tapi malam ini manusia itu menceritakannya dengan rinci ia mengungkapkan “aku lari dari penjara karena aku akan dihukum mati karena telah melakukan….”
“Melakukan apa” Tanya sipenolong manusia itu.
“Aku telah korupsi, mencuri uang Negara, uang yang seharusnya memakmurkan rakyat tapi aku ambil dengan seribu alasan mengatas namakan kekuasaanku, pada akhirnya aku tertangkap dan dijebloskan kepenjara, dan hukukmannya berupa hukum mati bagi siapa yang telah melakukan prktek korupsi uang Negara, berbagai cara telah aku lakukakan supaya terlepas dari jerat hukum, tapi caraku selalu gagal karena kasus ini dibawah keputusan dari petinggi pemimpin pemerintah dan tidak bisa diubah lagi” gerutunya sambil menundukan kepala

“terus, kenapa kamu bisa lolos dari penjara?” Tanya si penolong itu sedikit heran
“Mudah sekali penjaga tahanan itu ternyata masih haus terhadap uang, disogoknya dengan jumalah uang yang cukup besar dan membantuku melarikan diri, aku minta untuk pergi jauh dari tempat ini, ternyata aku diturunkan ditempat gelap gulita ditengah hutan, karena memang itu pintaku” lakukan dengan mudahnya manusia itu menjawab “aku juga tidak tahu, kenapa bisa terjadi?” aku tanyakan lagi “apakah kamu punya keluarga?” dia menjawab singkat sekali “keluargaku jauh diseberang sana” sambil sekali-kali menebarkan senyum. Hanya itu yang aku ketahui tentang manusia itu, tapi dari lubuk hati aku tak menaruh rasa curiga, manusia itu baik dan sopan, maka perasaan curiga pun tak tersirat dalam pikiranku.

Dipenghujung obrolan kami dia mengatakan bahwa besok pagi setelah shalat shubuh akan beranjak pergi dengan alasan ada yang harus aku urusi, serentak peryataan itu membuat aku bertanya “kenapa secepat itu, apakah obrolan tadi ada yang salah?” tanyaku sedikit mengkerutkan dahi. dia menjawab sedikit tesenyum “tidak, memang ini rencana saya, tidak enak jika terlalu lama disini, lagian saya masih ada keperluan lain” jawbnya dengan tenang. keputusan manusia itu rasanya tidak bisa diubah aku pun tak dapat berkata apa-apa selain “meminta maaf jika ada kekurangan atau ada perasaan yang tidak berkenan atau ada yang membuat….” manusia itu langsung memotong pembiacaraanku, “ justru saya sangat berterima kasih atas kemurahan kalian yang tulus, kemuarahan bapak atas pertolongannya, saya ucapkan sangat berterima kasih, ternyata masih ada orang yang sudi menolong orang yang pada saat itu membutuhkan pertolongan dari orang lain ternyata orang desa lebih peduli terhadap sesama dibandingkan orang-orang diluar sana yang sibuk dengan keduniawian sehingga tanpa memperdulikan kehidupan sekitarnya, karena terselimuti oleh gilanya dunia seakan hubungan antar manusia pun menjadi terabaikan terkadang perasaan tolong menolong disangkut pautkan dengan untung ruginya, padahal ketika orang kota berkunjung kedesa rasa hormat orang desa mempersilahkan dengan keramahannya, tetapi sebaliknya orang desa yang datang ke kota selalu menjadi santapan empuk bagi orang yang lapar bahkan sambutan hangat menjadi senjata untuk mengelabui, senyuman manis pun hilang ditelan rasa saling curiga, yang ada hanya senyuman serigala” gumamnya sedikit cerita, manusia itu berpamitan tidur sambil berucap “mudah-mudahan fajar masih berkenan mempertemukan kita” ucapannya membuat seribu pertanyaan dibenakku aku merasa aneh sekaligus takut apa dibalik ucapan itu?” ucapannya masih terngiang ketika aku mematikan lentera ditengah ruangan.

Tubuh ini terasa lelah sekali, aku rebahkan tubuhku disamping istriku yang sudah terlelap tidur mungkin sedang mimpi indah karena aku lihat istriku pulas sekali, keadaanku berada disampingnya tak menggugahkan tidurnya. diatas kasur kapuk yang sudah mengeras tapi aku merasa nikmat sekali, nikmat yang tak ada taranya sebuah tempat mengakhiri aktifitasku setiap hari. Aku lihat ketiga anakku yang berada disamping kiri ibunya, wajah anak itu polos sekali sepertinya ia sedang bermimpi indah.

Melihat Tidak lama kemudian aku sudah memejamkan mata. Tapi mataku kembali terbuka aku mendengar suara yang riuh, langkah kaki manusia yang mengenakan sepatu, suara itu mengelilingi rumahku, sesekali terdiam lalu terdengar lagi, tapi saat itu aku berpikir mungkin binatang sejenis anjing hutan yang sedang mencari makan karena kelaparan. Anggapanku itu berubah ketika mendengar ada suara manusia dengan bahasa yang tidak aku mengerti sepertinya bahasa itu adalah bahasa sandi, kini kecurigaanku berubah, ini pasti maling, kalau pun maling pasti ini maling yang terbodoh sedunia karena apa yang akan diambil dari isi rumahku ini.

Dalam keadaan gelap hanya diterangi cahaya bulan setengah purnama ku lihat se isi rumah istri dan anakku masih terlelap tidur, aku beranjak dari tempat tidurku memastikan apa yang terjadi diluar sana? Untuk berjaga diri aku membawa pekarang berupa kayu balok sebesar tangan orang dewasa, lumayan kalau dipukulkan ke kepala orang, kulangkahkan kaki ku menuju ruang depan sepintas aku melihat manuisa itu yang tidur dibalik sarung tadinya akan aku bangunkan untuk membantu menemanikumelihat suara riuh diluar sana, tapi pikiranku berubah ketika melihat manusia itu yang kelihatannya nyenyak sekali, niatku aku batalkan akhirnya aku lihat sendirian tapi aku tak berani untuk membukakan pintu, takut terjadi apa-apa seandainya pintu itu aku buka, aku urungkan untuk melihat dari bilik yang sedikit bolong, terhentak aku melihat sekumpulan orang berpakaian seragam ada juga yang berpakaian seperti biasa dengan membawa senjata api yang sudah siap dan terarah menuju rumahku ini, kaki ini terasa tak bisa digerakan, jantung berdegup kencang karena baru kali ini aku melihat kejadian seperti itu, disaat jantung ini bedegup kencang tiba-tiba ada suara pintu yang didobrak tepat disamping tempat aku mengintip dibalik bilik yang bolong melihat kejadian itu aku tak tahu apa yang harus aku lakukan yang aku pikirkan lari dari tempat ini, aku putuskan langsung keluar dari rumah lewat pintu yang sudah didobrak, tak jauh aku berlari mungin baru lima langkah tiba-tiba suara semakin riuh, suara peluru yang keluar dan mengarah tepat pada dada kiriku kemudia aku masih sempat berlari tapi suara tembakan itu terdengar lagi dan pelurunya mengenai perutku, terhempaslah aku, dan terjatuh diatas tanah yang penuh kerikil, aku masih bisa merasakan semakin kacaunya suasana dihalaman rumahku, nafasku tersendat-sendat tapi aku coba untuk bisa melihat anak dan istriku yang masih tidur, ternyata suara teriakan dan tangisan yang histeris terlihat ketika anak dan istriku menangis dibalik perlindungan orang yang bersenjata, berjalan jongkok keluar dari rumah, sepintas aku teringat manusia itu yang masih tertidur pulas ternyata manusia itu keluar dari samping rumahku dengan bersimpuh darah di kakinya dan sarung itu ternyata masih menempel dibadannya. Tatapan matanya melihatku dengan tajam seolah manusia itu momohon untuk minta maaf dan mulutnya terlihat ingin bicara dan ingin menjelaskan yang sebenarnya dengan kejadian ini tapi tatapannya tidak bisa aku lihat dengan jelas karena tubuhku ini terasa melemah apa yang aku lihat menjadi buram dan samara ku lihat langit yang kelabu dan hanya bersinarkan bulan setengah purnama, tapi masih ada telingaku masih bisa mendengar tapi hanya suara riuh dan tangisan keluargaku yang masih terdengar itu terasa tidak begitu lama, karena suara tangisan itu hilang ditelan oleh kesunyian malam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: