Click Here to Back

Jurnalis, Tong Keok Memeh Dipacok

In Artikel on March 13, 2007 at 8:42 pm

Oleh AHMAD SAHIDIN

Kerja merupakan bukti dari adanya aktivitas yang dilakukan manusia, baik itu perorangan maupun kelompok. Katakanlah aktivitas jurnalistik merupakan bentuk kinerja yang mengalami beberapa proses dan tahapan yang dijalani selama beraktivitas.

Banyak aktivitas yang berkaitan dengan jurnalistik. Wawancara, editing, photografy, dan menghubungi sumber berita juga termasuk aktivitas jurnalsitik. Demikian yang dituturkan Kang Romel, Ketua Balai Pelatihan Kewartawanan dan Jurnalstik (BATIK) –Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kota Bandung, Sabtu (25/9) pekan lalu.

Bahkan menurut Bill Kovach dan Thomas E. Patterson dari Universitas Harvard yang menulis buku ”The Elements of Journalism”, yang diterjemahkan dengan judul “Sembilan Elemen Jurnalisme” yang diterbitkan PANTAU, 2003, bahwa aktivitas jurnalistik itu didasarkan pada sembilan elemen.

Pertama, harus menyuarakan dan berpihak kepada kebenaran. Kedua, loyalitas pada masyarakat atau mementingkan public. Ketiga, berani melakukan verifikasi terhadap fakta. Keempat, menyajikan fakta yang akurat dan tidak berada di bawah tekanan siapa pun (selain nurani jurnalisme). Kelima, berani menjadi pemantau sekaligus penyidik kebijakan penguasa. Keenam, menjadikan media sebagai sarana menampung kritik, komentar atau suara public. Ketujuh, berupaya menjadikan persoalan penting jadi menarik dan actual. Kedelepan, berperan sebagai pembawa perubahan dan penentu kehidupan selanjutnya. Terakhir, atau kesembilan adalah berani bertanggung jawab dan mempertanggungjawabkan atas apa-apa yang ditulis-edit-dan diputuskan layak tidaknya sebuah tulisan dimuat di media.

Ini memang idealnya sikap yang harus dimiliki seorang jurnalis. Bisakah seorang yang kurang ahli dalam persoalan media menggapainya?. “Bisa!” Ini mungkin kata yang lebih baik dikedepankan daripada kata “tidak”. Sebab kata “tidak” telah menunjukkan kalah sebelum bertarung, keok memeh dipacok—kata urang Sunda. Karena itu, kita atau siapa pun orangnya yang ingin menjadi seorang jurnalis harus berkata “bisa”, “mampu”, atau “insya Allah akan saya coba”.

Inilah yang perlu kita tanamkan dalam diri jika ingin menjadi seorang jurnalis. Ini juga sesuai dengan pernyataan KH.Abdullah Gymnastiar dalam sebuah ceramahnya, jika kita ingin menjadi muslim yang sukses dunia dan akhirat harus belajar dan berlatih, baik itu menyangkut agama maupun dunia. Tentu, jika ingin menjadi seorang jurnalis harus belajar dan berlatih tanpa lelah serta mulai saat ini. Ini kuncinya. Ini konsepnya. Insya Allah berhasil.

*Penulis adalah Reporter/Redaktur Majalah SWADAYA, Editor situs http://www.dpu-online.com, Redaktur Buletin Keluarga SAKINAH (Yayasan Daarut Tauhiid Bandung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: