Click Here to Back

Ayam Kampung

In Cerpen on February 14, 2007 at 6:37 am

Oleh Feri Purnama
Ruang kehidupan semakin sempit, nafas terasa sesak dihimpit bermacam kegelisahan, ancaman kematian semakin terasa dekat, hidup pun penuh keprihatinan, lari tak bisa, diam pun tak bisa bahkan terasa dicekik berjuta perasaan yang hinggap dikepala. Seolah hanya bisa pasrah dari kenyataan ini. Mati yang bukan waktunya terpaksa dibunuh karena merugikan kehidupan manusia, itulah kabar burung flu burung yang berdampak pembakaran masal terhadap burung, entog, bebek, ayam, dan jenis hewan unggas lainnya.

Aku bukan penyebabnya jangan musnahkan aku, salahkan saja manusia yang tak bisa mengurusi kebersihan dan kesehatan dirinya sendiri, kenapa mesti aku yang jadi korban pembunuhan masal, kalau memang aku penyebabnya, kenapa semua yang harus dimusnahkan? apa tidak ada pendeteksi yang lain untuk mengetahui mana yang harus dimusnahkan dan mana yang tidak perlu? bukankah Negara kita sudah maju? atau belum mempunyai alat canggih untuk menanggulagi masalah ini, atau memang ini solusi tepat dimana akhir sebuah masalah adalah pembakaran dan sebagai pembunuhan missal dan akhirnya semua urusan menjadi selesai, kenapa pikiran manusia itu pendek sekali. Tolong, aku masih mau hidup sama seperti kalian aku juga makhluk Tuhan yang layak untuk hidup, jangan egois seperti itu dong! kita kan sama-sama makhluk ciptaan Tuhan. Gerutu si Ayam jantan bersama teman sekandangnya yang di vonis terkena Virus Aviant influenza (AI).

Rasa keprihatinan Ayam jantan yang dari tadi memantau teman-temannya yang kelihatannya gelisah. dilihatnya ayam betina yang dari tadi ngomel terus
“Kehidupan Ayam hanya dihitung beberapa hari lagi dan semua ayam disini akan dibakar dan mati” cetus ayam betina yang mondar mandir terus dari dalam kandang. sehingga suasana semakin menambah panik.
Kulihat disamping kandang ayam betina itu. kelihatannya jantan muda itu sudah bingung seperti ingin berlari sejauh mungkin meninggalkan tempatnya, tapi kotak kecil berukuran 2 meter ke 3 meter mengurungnya sehingga tidak bisa keluar dan kabur dari kandangnya.
“Muak rasanya mendengar dan melihat berita-berita yang memberitakan saudara-saudaraku yang dibakar dan dikubur. Saya ikut kesal dengan kebijakan seperti itu” gerutu jantan muda itu dengan semangat jiwa mudanya sambil mematuk-matuk pintu kandang yang terbuat dari kayu.

“Saya memang Ayam betina yang tidak tahu apa-apa tentang kemajuan dunia ini dan saya juga tidak tahu kenapa flu burung bisa merambat pada Ayam saya bukan burung kenapa tidak disebut flu ayam saja biar lebih jelas. Ah..dasar manusia padahal burung saja yang dibasmi bukannya Ayam. Soal mati atau hidup semua sudah diatur oleh Tuhan, apalagi Ayam bisa saja Mati kapan saja ditangan manusia yang membutuhkan dagingku, apalagi tubuhku montok dan supel, paha yang besar, dada yang busung pasti jadi santapan manusia yang lapar, ‘kalau seandainya hidup ini bisa memilih menjadi manusia atau batu’ pasti akan kupilih menjadi batu karena batu dari dulu tidak bermasalah belum pernah ada batu yang terkena penyakit berbahaya.” Kesalnya ayam betina. Omongannya yang panjang lebar dan ngelantur membuat ayam disekitarnya merasa pusing.

“Sudahlah memang kita sudah divonis sebagai penyebab manusia mati karena memakan daging kita, dan bersentuhan dengan kita. Bahkan kandang kita dijauhkan dari pemukiman manusia, itu artinya kita tidak boleh bergaul dengan manusia. Jadi apalah arti hidup ini?” jantan muda semakin berani ucapannya.

Ayam betina tak henti-hentinya ngomel yang hanya ngomong terus tanpa bergerak, hanya memberikan perhatian yang sudah terjadi dan memberikan peringatan tanpa solusi yang baik. Seperti yang diberitakan, besok pagi pukul delapan tiga puluh akan ada pemusnahan terhadap binatang unggas penyebab virus flu burung.
Tapi informasi itu lebih di fokuskan terhadap warga yang mempunyai ayam dan hewan unggas lainnya.

“sepertinya ayam negeri bebas dari ancaman pembakaran massal dan bebas jalan-jalan pakai mobil dengan bak terbuka lalu bau ayamnya tersebar kemana-mana, kasihan kan pada pengendara motor yang dibelakangnya menghirup bau ayam yang terdiri dari bulu dan kotoran ayam. Tapi selama itu tidak ada tindakan apa-apa terhadap kejadian itu, harusnya ayam itu jangan dibawa kemana-mana apalagi sampai perjalanan jauh, walaupun tujuannya Ayam itu akan mati, tapi saya senang kalau memang mati untuk dimakan oleh manusia karena saya memang kebutuhan hidup manusia Ini sudah jelas pasti ada pendiskrimasian terhadap ayam negeri dan Ayam kampung, ya…seperti kita ini” ayam betina itu ngomel lagi.
Tapi kalau dipikir-pikir memang Ayam seperti kita ini dari ayam yang diternak oleh warga biasa-biasa saja ya…jenis ayam kampung yang selalu jadi sasaran, padahal saya tidak pernah kemana-mana, makan juga sama majikan selalu yang bergizi tanpa ada bahan kimia. seperti pagi-pagi saya diberi makan hu’ut ampasnya beras yang sudah diolah dari gabah menjadi beras, hu’ut itu disajikan dengan hangat, lalu air minum yang sudah basi diganti dengan air yang baru dan steril. Siangnya saya diberi makan dari sayur-sayuran sosin yang sudah dipotong kecil-kecil oleh majikan, sorenya saya diberi makan seperti pagi-pagi. Dan seterusnya.” Tambah si jantan muda.

Matahari sudah hampir tenggelam gelappun sebentar lagi tiba, saatnya memejamkan mata dan istirahat melepaskan kegelisahan dan kepanikan, yang dari tadi siang membahas tofik soal flu burung, mungkin ini hari terakhir bagi ayam jantan, ayam betina dan ayam jantan muda untuk merasakan sore hari dan melihat tenggelamnya matahari.
“mungkin saja….???” Sekilas ucapan ayam betina dengan nada kesal. ****

Fajar sudah datang ayam jantan yang biasanya mengepakkan sayapnya sambil berkokok tanda pagi sudah datang kini mulai malas-malasan dengan alasan sebuah pelajaran untuk manusia “bagaimana menyambut pagi tanpa dihiasi suara ayam berkokok” dengan gagahnya patuah ayam jantan itu diucapkan.
Jantan muda yang tadinya bergejolak jiwa mudanya dan ayam betina yang kemarin terus mengomel, tapi ketika ayam jantan merelakan dan melepaskan dari kebiasaan paginya, semua tertegun, menundukkan kepalanya menjadikan sebuah renungan nasib ayam di muka bumi ini, mungkin hanya meninggalkan sejarah tanpa jejak karena habis dibakar.

Unggas jadi kenangan suara ayam berkokok di pagi hari menjadi kerinduan, dan hanya meninggalkan bekas bau bulu yang terbakar dan lenyap menyatu bersama tanah dan tersapu oleh angin. Ayam negeri jaya, ayam…..???? hanya menjadi sejarah peradaban.

catatan : Cerpen ini pernah dimuat di surat kabar harian GALAMEDIA (Februari 2007)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: