Click Here to Back

Salam Hormat “Bapak Pers Indonesia”.

In Artikel on February 8, 2007 at 8:58 am

151684645m1.jpgOleh Feri Purnama

Di hari Pers dan hari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang bertepatan tanggal 9 Februari 2007 setidaknya di hari yang istimewa ini sekaligus rasa hormat saya pada Bapak Pers Indonesia. Salam hormat hanya itulah yang bisa saya ucapkan bangga! sekaligus terkesan pemberani dalam mengobarkan jiwa semangat perjuangan kepada rakyat untuk melawan penjajah kolonial, beliau adalah R.M Tirto Adi Sodiryo lahir di blora 1880. perjuangannya melalui surat kabar Medan Priyayi. Pada tanggal 1 Januari 1907, dimana untuk pertama kali diterbitkan media nasional bernama Medan Priyayi.

Menurut para pakar sejarah khususnya tentang sejarah Pers yang saya baca dari berbagai buku, betapa besarnya jasa beliau pertama yang membuat surat kabar yang didirikan oleh bangsa pribumi sehingga dinisannya pun tertulis bapak pers Indonesia pendiri pers pada waktu itu Pers sebagai alat perjuangannya, bagaimana tidak beliau berjuang melawan penjajah lewat surat kabar padahal sebelumnya beliau sering menullis untuk surat kabar yang didirikan oleh bangsa kolonial tulisannya menentang ketidak pihakannya pemerintah belanda pada saat itu. Atas perjuangannya yang berani menentang sangat patut untuk dijuluki pendiri pers sekaligus nenek moyang penulis yang berasal dari pribumi rakyat Indonesia.
Keberaniannya melawan penjajah menjadikan Tirto Adi Sodiryo layak menjadi pahlawan nasional dan diangkat menjadi bapak pers di Jawa Barat pejuang yang memperjuangkan segalanya di Jawa Barat karena pada awalnya beliau menikah dengan orang bandung R.A. Siti Habibah, sehingga beliau walaupun bukan orang asli Jawa Barat tapi beliau tetap layak menjadikan pahlawan yang berjuang di Jawa Barat. sebagai pahlawan nasional dari Jawa Barat. Meskipun ia bukan orang Sunda, ia berkiprah di Jawa Barat, mengangkat nama Jawa Barat dalam pergerakan nasional, khususnya melalui pers, bahkan kuburannya pun di Jawa Barat tapi sebelumnya beliau dimakamkan di Mangga dua Jakarta kemudian dipindahkan ke Bogor tahun 1973.
Suatu kebanggaan bagi saya terhadap Tirto Adi Sodiryo berani menuliskan terhadap skandal-skandal yang bisa merugikan rakyat pribumi dalam tulisannya mengkritik pejabat pada saat itu sehingga beliau pernah di buang ke suatu pulau selama dua bulan sepulangnya dari pembuangan beliau tidak kapok dan terus melawan keganjalan-keganjalan yang terjadi pada masa itu lewat surat kabarnya yang didirikan oleh beliau sendiri. ketertarikan saya terhadap surat kabar Medan Priyayi yaitu surat kabar yang pertama berdiri di jawa barat walupun pada sebelumnya telah berdiri surat kabar yang didirikan oleh orang pribumi yaitu Soenda berita yang pertama terbit di cianjur tapi kelangsungan surat kabar itu tidak begitu lama sehingga akhirnya mati dan menjadi sejarah maka dari itu berdiri Medan Priyayi gebrakan Adi Tiro Soediryo. bagaimana melawan penjajah dan membengunkan semangat rakyat pribumi untuk membukakan mata bahwa dengan adanya bangsa lain di tanah air ini menjadi sebuah musibah dan merugikan maka patut untuk dilawan. Dari surat kabar bernama Medan Priyayi lah bagaimna isme-isme melawan penjajah terbentuk..

Seiring berjalannya waktu, dimana dunia masih berputar mengelilingi matahari segala kejadian dan peristiwa yang heboh di jagat raya ini menjadi sebuah kepentingan yang relative bagi manusia, disanalah perjalanan Pers terus berlanjut, Di Indonesia sendiri Pers dijadikan alat perjuangan.

perjalanan Pers Indonesia cukup panjang dari mulai Zaman Kolonial Belanda sampai sekarang dengan berbagai belantika Pers terus berkembang pada pasca keruntuhan Medan Priyayi. Sampai sekarang Pers bisa disebut Zaman yang banyak Pers.

Semoga Pers sekarang menjadi alat perjuangan bagi pembangunan Tanah Air bukan lagi melawan penjajah tapi melawan kebatilan yang merugikan berbagai pihak alangkah baiknya mengikuti langkah Tirto Adi Sodiryo, yang berjuang melawan penjajah lewat korannya Walaupun Tirto Adhi Soerjo pun terkena delik pers dan diputus pengadilan untuk dihukum buang ke Ambon selama 6 bulan

beliau tetap bersisikukuh membongkar keganjalan yang terjadi pada masa itu, pada akhirnya Koran Medan Prijaji berhenti terbit 22 Agustus 1912 tidak terbit lagi yang salah satu surat kabar sebagai alat perjuangan bagi rakyat yang dijajah oleh bangsa Kolonial semoga insan pers untuk terus melawan semua keganjalan di tanah air ini walaupun kenyataannya tak semudah membalikan telapak tangan! banyak proses dan harus berpikir berulang kali untuk menjadikan pers yang idealis seperti pers yang dipimpin oleh Tirto Adi Soediryo.

Begitu kuatnya pers sebagai alat perjuangan membangkitkan semangat rakyat untuk menciptakan kemerdekaan yang dinanti-nanti, tidak akan terlupakan jasa-jasa nya melawan penjajah, layaklah ia disebut sebagai perintis kemerdekaan, perintis pers Indonesia dan akhirnya beliau meninggal pada tanggal 7 Desember 1918 sehingga di Nisannya pun tertulis Perintis Kemerdekaan, Perintis Pers Indonesia. Hormat saya untuk Bapak Pers Indonesia.

*Penulis adalah mahasiswa jurnalistik UIN SGD 04, alumni BATIC angkatan XIII

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: