Click Here to Back

“Do’a kan Bapak”

In Cerpen on January 20, 2007 at 6:30 am

Oleh Feri Purnama
Malam ini seperti tak biasanya, malam yang begitu sunyi, hening dan tenang, suara binatang seperti jangkrik atau jenis binatang malamnya pun seolah tidur terlelap, waktu menunjukan pukul dua belas malam tapi mata ini tak bisa aku tutup malam ini sepertinya tak bisa aku lepas dan menanggalkannya begitu saja. hati, pikiran dan mata ini tak bisa diajak untuk beristirahat, tubuh ini pun tak mau merebahkan diatas kasur yang sudah menyahut dari tadi.Padahal seharian aku sibuk dengan mempersiapkan barang yang akan bapak bawa untuk naik haji, “ya…!! Besok bapak akan pergi ketanah suci untuk menunaikan rukun islam yang kelima” kulihat bapakku dibalik pintu kamar yang sedikit tertutup, bapak sudah terlelap tidur sedangkan ibuku masih mengaji dan sepertinya belum merasa ngantuk mungkin lebih baik mengaji dari pada mata ini hanya melongok tak karuan.” Ucap Nina yang dari tadi bicara dalam hati sambil termenung duduk disofa ruang tengah, pandangan mengacu pada wajah ibunya “kasihan Ibu tidak jadi berangkat ke Tanah Suci” sahut dalam hati Nina, tapi aku bangga pada Ibuku, iya kelihatannya Ikhlas tidak pergi bersama Bapak ke Tanah Suci. Teringat saat Ibu bersama bapak sedang membicarakan soal pergi naik haji, Padahal tadinya bapak akan mengurungkan niatnya untuk pergi ke tanah suci tahun ini, tapi Ibu menolak usulan itu, ia bersisih kukuh memaksa bapak pergi ke tanah suci, “biarlah Pak, bapak saja yang duluan ke tanah suci, biar Ibu nyusul tahun depan kalau masih diberi umur panjang dan diberikan rezeki yang lebih dari Allah Swt.sudah Bapak saja yang duluan Pergi mumpung ada Rezeki Ibu Ikhlas” Sahut ibuku memberi semangat pada Bapak satu bulan sebelum perencanaan pergi ketanah suci.

Jam dua pagi suasana semakin hening, aku coba beranikan keluar rumah walau keadaan diluar rumah sangat sunyi apalagi rumahku didaerah garut katanya suasana garut sangat hening dan khas dengan suanana pedesaannya, memang keadaan diluar sangat hening dan sunyi walau keadaan diluar saat itu sedikit mencekam entah ada apa tidak seperti biasanya tapi entah kenapa aku justru ingin sekali keluar, tak sengaja aku menatap keatas langit kelabu tapi dalam kelabunya itu sepertinya mengindahkan mataku dengan ratusan bintang menghiasi langit kelabu itu, terasa kepala ini tidak mau menundukan kembali beberapa menit kemudian gumpalan awan tipis menutupi ratusan bintang itu, hatiku merasa mencekam melihat fenomena itu entah kenapa? aku putuskan untuk kembali masuk kedalam rumah, kulihat saudara-saudaraku berdempetan diruang tengah sepertinya sedang menari dialam mimpinya, tapi suara ibuku yang tadi sedang mengaji kini sudah hening berarti Ibuku sudah terlelap tidur. Tak terasa kantuk mulai menyerang aku tak bisa menahannya dan akhirnya alu pun tertidur diatas sofa yang berada diruang tengah.

Pagi pun menyambut diirirngi suara merdu adzan Shubuh, suara adzan itu sangat berbeda sekali dari hari biasanya, suara itu suara bapakku, memang itu bapakku tapi suaranya beda dari hari sebelumnya, ah…itu perasaanku saja karena memang suara itu suara yang selalu terdengar dispeaker mesjid yang didirikan didepan rumahku.

Mentari sudah mengintip dibalik bukit dibelakang rumahku sehingga sedikit menerangi suasana didesa. dua mobil kijang, satu mobil Cary berjejer disamping rumah, mobil itu untuk mengantarkan bapak pergi ke jakarta menuju tempat penampungan rombongan calon haji. Bis untuk menjemput para calon haji mulai datang. isak tangis para keluarga yang mengantarkan membuat suasana menjadi terharu begitu juga keluargaku, Bapakku mencium kening Ibuku, air mata Ibu pun sepertinya sudah tidak bisa dibendung lagi selanjutnya bapakku mencium ke sembilan anaknya beserta empat cucunya yang masih kecil, berikut juga dengan diriku anak perempuan bungsu dari ke sembilan bersaudara tapi disela saat mencium keningku bapakku berbisik dengan suara yang parau ucapan yang tak diucapkan pada yang lain, ucapan itu…? “Do’a kan bapak ya? pernyataan itu membuat hatiku menjerit dan ingin menjerit sekeras mungkin tapi mulut ini terasa terkunci, dan hanya tetesan air mata yang mewakili jeritanku ini. lambaian tangan bapakku sambil tersenyum, ku lihat ibuku masih tetap menangis kuhampiri ibukku sambil memeluk tubuh ibuku yang sudah sedikit renta.***

Kamis jam 8 malam telepon Cellularku berbunyi keras diatas meja disamping tempat tidur sehingga membuyarkan semua lamunan, kaget diiringi rasa cemas, “Ya, Assalammualikum” sahutku menyapa!
Sontak aku terbangun dari tempat tidur, HP ku terlepas dari genggaman tangan dan jatuh kelantai, plak.. plak..plak…!! suara benturan benda keras sehingga memecahkan suasana keheningan malam, tak aku pedulikan HP yang tergeletak dilantai keramik warna putih, serentak seisi rumah datang kekamarku “ada apa Nina jerit-jerit??” Tanya salah seorang yang entah siapa? suara itu riuh dalam kamar membuat pandangan kabur dan kalap, tubuh ini terasa lemas tak kuat menahan untuk berdiri kamarku menjadi gelap dan…….!!!
“Na,Na…!bangun” suara itu aku kenal jelas itu suara Ibu, Aku buka mata ini pelan-pelan,
”Bapak…..!! tidak mungkin, ini hanya mimpi, ini mimpi” teriakku sehingga membuat se isi rumah semakin mencekam diiringi rasa heran terhadap diriku, “sudah Na, kamu tadi mimpi? kupeluk Ibu ku yang ada disamping sambil menagis terisak-isak, “sudah Na, semua baik-baik saja! Ini minum biar sedikit segar” kakak perempuanku yang ke empat menyodorkan gelas berisikan air putih. Sedikit lega, air putih itu membasahi tenggorokanku yang kering. Kulihat disekitar semua mata menuju padaku. Disela keteganganku Tiba-tiba semua dikagetkan oleh suara telepon rumah, suara telepon itu berhenti sejenak kulihat wajah kakak laki-lakiku dibalik pintu kamarku, wajahnya begitu tak jelas kulihat matanya memerah, lalu meneteskan air mata. Semua termenung dan menatap wajah kakak tertua ku itu, ditutupnya telepon dan menarik nafas panjang lalu…
”bapak meninggal karena penyakitnya kambuh” ucapnya menggetarkan hati se isi rumah
“tidak mungkin….” Teriakan ibu penuh dengan histeris, spontan semua memeluk ibu diringi dengan isakan tangis.
Aku yang masih terbaring lemas diatas kasur ingin rasanya kuteriak sambil berlari memeluk Ibu yang sedang menangis, aku hanya bisa menangis diatas tempat tidurku “tidak mungkin……” teriakku melepaskan kesedihan, ternyata mimpi itu benar, tadi yang aku alami dimimpi adalah bercakap bersama bapak dan mengucapkan kata yang sama ketika sebelum bapak pergi ke Tanah Suci, Ucapan itu “doakan bapak ya?” persis ucapan itu yang ada dimimpiku tambah lagi disela waktu yang tak jauh bapak dikabarkan sudah meninggal.
Tapi dibalik itu Kakak ku yang tertua seorang Ustadz di kampungku berpesan bahwa meninggal Di Tanah Suci adalah harapan bagi semua umat muslim, tak banyak orang yang pulang pergi ke Tanah Suci disaat Musim Haji walaupun Orang itu sudah Haji tapi karena mungkin Orang itu ingin meninggal di Tanah Suci yang kata orang lebih dekat dengan pintu surga dan setiap orang yang meninggal disana tidak dapat dikembalikan lagi kenegerinya berikut juga dengan Bapak, Bapak sudah tenang disana dekat dengan Pintu Surga yang telah disediakan oleh Allah SWT. Aku akui kalaupun memang seperti itu aku hanya bisa berucap “Semoga Bapak ditempatkan yang mulia di sisi Allah SWT. Nina akan selalu mendoakan bapak, seperti apa yang bapak ucapkan” ucapku dalam hati sambil menitikkan air mata dan jatuh di pipiku.

Penulis adalah mahasiswa jurusan jurnalistik UIN SGD Bandung, IPF (Independen Press Foto), alumni BATIC angkatan XIII

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: