Click Here to Back

Menulis itu Ada Caranya

In Menulis on October 12, 2004 at 11:06 pm

Banyak orang berpendapat bahwa kemampuan menulis itu perlu, karena dengan kemampuan itu, pikiran dan gagasan dapat disosialisasikan dan didiskusikan melalui media massa. Tulisan itu sendiri penting bagi setiap orang, karena tulisan dapat menambah pengetahuan, memperluas wawasan, mempertajam daya analisis, dan dapat membuat sikap semakin bijak, rasa kemanusiaan makin peka dan keputusan serta tindakan kita kian menuju ke arah yang benar.

Namun, ternyata menulis tak semudah menganggukkan kepala. Buktinya, begitu banyak kiriman artikel dikembalikan redaktur surat kabar kepada penulisnya, karena berbagai alasan. Dalam bukunya yang lebih banyak berisi panduan praktis menulis artikel dan tajuk rencana itu, AS Haris Sumadiria menunjukkan teknik dan kiat menulis agar tulisan dimuat media massa. Haris mensinyalir bahwa media massa yang punya reputasi tak mungkin meloloskan artikel begitu saja untuk dimuat. Surat kabar besar biasanya menentukan persyaratan muat sebuah artikel.

Artikel dapat dipastikan akan ditolak jika tak memenuhi kriteria atau karakteristik sebuah artikel. Artikel haruslah orisinal, ditulis atas nama penulisnya, ringkas dan tuntas, mengandung gagasan aktual atau kontroversial, menyangkut kepentingan sebagian terbesar khalayak pembaca, disusun secara referensial dengan visi intelektual, dan disajikan dalam bahasa yang sederhana, jelas, menarik, hidup, segar, populer, dan komunikatif (hlm 5-8).

Selain itu, untuk dapat menulis artikel yang baik, penulis harus memenuhi syarat-syarat tertentu, yakni harus memiliki kemampuan teknikal, punya sikap pantang menyerah, punya kebiasaan membaca yang tinggi, mampu mengembangkan daya nalar dan kemampuan intelektual, serta mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial termasuk dengan pihak media massa (hlm 14-17). Itu baru merupakan kondisi dasar yang harus dipenuhi seorang penulis. Lebih jauh, penulis pun harus melakukan persiapan-persiapan antara lain mencakup kemampuan untuk menemukan ide menarik yang perlu dikembangkan, menyusun alur pikir sederhana, menetapkan topik secara spesifik, membuat rumusan tesis secara ringkas dan jelas, memilih referensi yang relevan dan judul yang provokatif (hlm 19-41).

Dalam menulis artikel, perlu disadari betapa pentingnya fungsi intro. Kerap sebuah artikel tak dimuat gara-gara intro yang buruk dan kurang merangsang selera baca. Itulah sebabnya intro perlu digarap secara hati-hati untuk merangsang selera baca, sebab ia merupakan “pintu gerbang”. Intro itu haruslah dapat membangkitkan minat dan perhatian khalayak terhadap topik bahasan (atraktif), mengantarkan pokok bahasan secara jelas (introduktif), menunjukkan hubungan antar-kalimat atau paragraf (korelatif), dan menunjukkan kredibiltas penulisnya (hlm 44-46). Memasuki tahap pengembangan gagasan dalam tulisan, seorang penulis artikel dapat memilih satu atau beberapa pendekatan antara lain dengan memberikan penjelasan, contoh, perbandingan, penegasan, kutipan, dan statistik (hlm 56-59).

Selain itu, dalam buku yang ditulis ketua jurusan jurnalistik fakultas dakwah IAIN Sunan Gunung Jati Bandung ini dijelaskan bahwa penulis artikel haruslah memperhatikan urutan organisasi pesan. Artikel hendaklah dimulai dengan kesimpulan (deduktif) atau dengan rincian (induktif). Tulisan artikel dikembangkan berdasarkan urutan waktu (kronologis), urutan ruang (spasial), urutan pokok bahasan (topikal) serta disusun berdasarkan hubungan sebab-akibat (logis). Dengan memenuhi urutan organisasi pesan tersebut, pesan yang tersimpan di dalam artikel itu akan lebih mudah dipahami dan diterima khalayak pembaca (hlm 61-63).

Lebih jauh, buku karya monumental seorang kolumnis, penulis, novelis, dan juga jurnalis ini juga menitipkan pesan bahwa menutup sebuah artikel perlu dilakukan secara hati-hati agar dapat memperkuat kesan positif di hati khalayak. Artikel perlu ditutup misalnya dengan mengutip pendapat tokoh, ayat kitab suci, syair lagu, bait puisi, peribahasa, kata mutiara, atau kata-kata yang sangat populer di tengah masyarakat. Jika tidak begitu, artikel perlu ditutup dengan menegaskan kembali urgensi pokok bahasan, atau dengan pesan klimaks sebagai bahan renungan atau pemikiran, atau bahkan mengajak pembaca untuk melakukan tindakan (hlm 63-65).

Kendati semua itu sudah dipenuhi, belum tentu sebuah artikel akan diterbitkan surat kabar. Bisa saja artikel yang bermutu ditolak, karena keterbatasan halaman surat kabar, kurang memenuhi selera dan kebijakan redaksional surat kabar bersangkutan, tulisan terlalu panjang, atau kehilangan momentum (hlm 77-78).

Akan halnya dengan penulisan tajuk rencana, Haris yang telah menulis lebih dari 4200 tajuk rencana ini menjelaskan bahwa pekerjaan ini hendaknya digarap dengan urutan: pencarian ide dan topik, seleksi dan penetapan topik, pembobotan substansi materi serta penetapan tesis, dan pelaksanaan penulisan. Penulisan bisa dilakukan dengan menggunakan teori ANSVA (attention, need, satisfaction, visualization, action) atau dengan teori SEES (statement, explanation, example, summary).

Di antara sekian banyak buku jurnalistik, buku ini merupakan yang paling lengkap dan jelas dalam mengupas tuntas teori, teknik dan kiat menulis artikel dan tajuk rencana. Buku ini disusun dengan sistematika yang apik dan runtut, dimulai dari paparan jenis dan karakteristik artikel, disusul dengan tahap-tahap persiapan dan pelaksanaan penulisan artikel, dilanjutkan dengan teknik menulis tajuk rencana. Setiap paparan diurai dengan jelas dan disertai contoh yang gamblang. Disajikan secara menarik, menggunakan gaya bahasa yang lincah, segar dan mudah dicerna.

Buku ini sangat bermanfaat bagi para mahasiswa yang menyukai tradisi intelektualisme dan tahu menghargai tulisan, para praktisi media massa, praktisi humas, dosen, peneliti, ilmuwan, politisi, aktivis, dan siapa saja yang memiliki hasrat mengembangkan minat dan bakat untuk menjadi penulis dan jurnalis profesional.

Judul buku: Menulis Artikel dan Tajuk Rencana
Penulis: AS Haris Sumadiria MSi
Penerbit: Simbiosa Rekatama Media
Tebal: xiv + 162
Terbit: Oktober 2004

  1. Menulis adalah Ibarat mengasah Pisau yang Tumpul dimana Pisau yang Tumpul kalau diasah ,Lama -kelaman akan semakin tajam juga .Jadi yang penting bagi siapa saja siapapun orangnya kalau belajar pasti pintar juga .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: