<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jurnalistik UIN SGD</title>
	<atom:link href="http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com</link>
	<description>Fakultas Dakwah dan Komunikasi JL. A.H Nasution No.105 Bandung 40614 Tlp. +6222-7800525 Fax. +6222-7803936</description>
	<lastBuildDate>Mon, 15 Aug 2011 04:37:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jurnalistikuinsgd.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Jurnalistik UIN SGD</title>
		<link>http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/osd.xml" title="Jurnalistik UIN SGD" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>(GoVlog-Umum) Kuliah Banyak Godaan</title>
		<link>http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/2011/08/15/govlog-umum-kuliah-banyak-godaan/</link>
		<comments>http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/2011/08/15/govlog-umum-kuliah-banyak-godaan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Aug 2011 04:13:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jurnalistikuinsgd</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/?p=693</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Dzarin Givarian Belajar berarti memberi kesempatan bagi persaingan sehat antara pengalaman lama dengan pengalaman baru dan antara pengetahuan lama dengan pengetahuan baru. Yang lama biasanya lebih memberikan rasa aman, tetapi tidak senantiasa menjamin kemajuan. Yang baru biasanya terasa asing dan tidak akrab, akan tetapi dapat menjanjikan pembaharuan dan kemajuan. Mengapa kita kuliah dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalistikuinsgd.wordpress.com&amp;blog=999779&amp;post=693&amp;subd=jurnalistikuinsgd&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Dzarin Givarian</p>
<p>Belajar berarti memberi kesempatan bagi persaingan sehat antara pengalaman lama dengan pengalaman baru dan antara pengetahuan lama dengan pengetahuan baru. Yang lama biasanya lebih memberikan rasa aman, tetapi tidak senantiasa menjamin kemajuan. Yang baru biasanya terasa asing dan tidak akrab, akan tetapi dapat menjanjikan pembaharuan<br />
dan kemajuan.</p>
<p>Mengapa kita kuliah dan untuk apa kita kuliah ? Pertanyaan seperti ini teramat layak dan pantas disuguhkan kepada (kita) masyarakat Indonesia.<span id="more-693"></span></p>
<p>Alasannya sangat sederhana bahwa orang kuliah (khususnya kita orang Indonesia) selalu berarti berakhir dengan suatu pengharapan akan sebuah pekerjaan setelah selesai belajar dan meraih gelar, berijazah. Bagi kita kuliah adalah untuk bekerja, bukan sebaliknya bekerja untuk kuliah. Maka alangkah “bahagia”-nya jika setelah wisuda mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan, sebaliknya. Alangkah “resah”-nya setelah kuliah tidak mendapatkan sebuah pekerjaan.</p>
<p>Septintas lalu sepertinya kuliah untuk kerja tentu saja tidak sepenuhnya dapat disalahkan, meski adakalanya tidak sepenuhnya dapat dibenarkan. Tidak salah karena memang buat apa juga setelah belajar kalau tidak untuk bekerja. Buat apa pula setelah menimba ilmu sedalam-dalamnya kalau tidak dicurahkan pada suatu pekerjaan, apalagi pekerjaan tersebut tidak menghasilkan uang. Bukan kah kita kuliah dengan begitu banyak mengorbankan uang, menguras tenaga dan juga pikiran serta mengorbankan banyak tumpukan waktu. Dalam pikiran seperti ini maka tidak salah jika kuliah untuk kerja. Sekali lagi meski tidak benar.</p>
<p>Namun apa yang diharapkan ketika kuliah sungguh berbeda dengan apa yang terjadi dalam kenyataan setelah kuliah. Sebab pada kenyataanya setelah kuliah justru puluhan bahkan ribuan sarjana menganggur tidak mendapatkan pekerjaan. Dalam setiap tahunnya seluruh perguruan tinggi mengeluarkan wisudawan-ti berjumlah ribuan, sementara lowongan kerja (terutama PNS) amatlah sedikit. Yang lulus 5000 orang sarjana misalnya, lowongan PNS hanya menerima 5 orang pegawai. Dari 5000 sarjana berarti yang menganggur 4995 orang. Dipotong yang bekerja dibidang swasta juga tidak banyak menerima.</p>
<p>Dari 4995 pelamar pekerjaan misalnya, perusahan swasta hanya menerima 995 pegawai. Berarti sisa 4000 orang masih menganggur. Dipotong lagi untuk lowongan pekerjaan yang sama sekali tak berhubungan dengan ilmu dari kuliah 1000 pegawai. Berarti sisa 3000. Yang 3000 ini, 1500 orang bekerja berdasarkan relasi KKN (Kolusi Korupsi Nepotisme) atau dalam istilah kita berdasar pada D3 (Sunda: Dulur, Deukeut, Duit). Yang 1500 berarti tidak ada pilihan lain selain harus menempuh pekerjaan serabutan atau culak-colek (suatu pekerjaan yang sangat tak menentu). Kerja culak-colek adalah suatu pekerjaan sekadar untuk mempertahankan hidup.</p>
<p>Dari skala seperti ini, maka berniat kuliah untuk kerja sangatlah tipis. Perbandingannya 0,10%. Jika cita-cita kuliah untuk bekerja maka kesempatan mendapatkan pekerjaan sungguh sedikit. Dari setiap tahun yang wisuda hanya 0,10% yang mendapat pekerjaan sebagaimana mestinya. Itu pun setengah dari 0,10% yang mendapat kerja adalah berdasar KKN atau D3. Masih ada kah yang mendapat pekerjaan secara murni berdasarkan skill dari menimba ilmu di kuliahan ? Jawabnya tentu saja ada. Ia hanya 1,5% dari 0,10% tadi. Di sini beratnya persaingan merebutkan 1,5% dari 0,10% oleh 5000 orang sarjana lulusan setiap tahun dari setiap perguruan tinggi yang ada di Indonesia dalam menempuh sebuah pekerjaan.</p>
<p>Berbeda dengan yang murni. Mereka yang memiliki Saudara (Dulur) dapat dipastikan tidak begitu sulit mencari kerja setelah kuliah. Demikian pula yang memiliki kedekatan (Deukeut) dan yang memunyai banyak uang (Duit). Karena saudara orang dengan mudah mendapat pekerjaan, sesuai mau pun tidak sesuai dengan pendidikan yang dijalaninya. Karena relasi kedekatan orang cenderung gampang menduduki pekerjaan strategis. Dan karena uang orang bisa saja membeli pekerjaan berapa pun harganya. Saudara, relasi, dan uang merupakan sesuatu yang paling nyata dan yang masih berlaku di Indonesia. Karena ketiga jalan ini pula seseorang dapat menjadi “pura-pura” dalam menimba ilmu di kampus.</p>
<p>Tak Hanya Pendidikan</p>
<p>Nampaknya repot juga seandainya setiap orang yang kuliah hanya untuk bekerja. Sebab harus demikian beratnya persaingan sementara lowongan sangat sedikit. Untung saja cita-cita orang kuliah tidak semuanya berkeinginan keras untuk bekerja, tetapi ada juga yang sebaliknya, bekerja untuk kuliah. Logika bekerja untuk kuliah sangat berbeda dengan logika kuliah untuk bekerja. Kalau kuliah untuk bekerja begitu berat dalam mendapatkan apa yang didambakannya kelak, maka bekerja untuk kuliah pun tidak demikian ringan dalam memperjuangkan cita-citanya. Hanya saja di dalamnya terdapat suatu kekuatan batin dalam menempuh hidup sebagai Human eksistensialistik; memilih kesetiaan dalam menempuh “sesuatu” yang tak pasti dari pada memasrahkan diri begitu saja terhadap “sesuatu” yang serba pasti.</p>
<p>Dalam pada itu, kita harus memahami bahwa disadari mau pun tidak, intisari pendidikan jelas adalah untuk perubahan. Orang setelah mengeyam pendidikan lama atau pun sesaat dapat dipastikan segera harus berubah. Berubah menjadi baik atau berubah menjadi buruk setelah belajar. Sebab buat apa pendidikan kalau juga tidak berubah, ke arah yang lebih baik mau pun ke arah yang lebih buruk. Pendidikan yang sebenarnya adalah pembelajaran sangat menentukan seseorang untuk mengubah dirinya (khusus) dan mengubah lingkungannya (umum). Sebab bagaimana pun juga suatu kekecewaan segera timbul ketika pendidikan sama sekali tidak mengubah peserta didiknya.</p>
<p>Perilaku Korupsi Kolusi dan Nepotisme adalah contoh baik dalam soal perubahan pendidikan yang buruk. Sedangkan sikap memertahankan sistem kekeluargaan tanpa terlanjur kepada nepotisme merupakan contoh perubahan dalam pendidikan yang baik yang mesti dipertahankan. Para elit yang terjebak menjadi koruptor ulung adalah orang-orang berpendidikan. Mereka pintar-pintar karenanya bergelar. Perilaku demikian justru terjadi setelah pendidikan yang dilaluinya. Tanpa pendidikan tak mungkin dapat korupsi hingga milyaran rupiah. Dan tanpa pendidikan juga tidak mungkin orang dapat berperilaku positif dalam dunianya.</p>
<p>Berbeda dengan perilaku positif karena pendidikan. Sikap sportif seorang dosen terhadap mahasiswa adalah contoh kongkrit dari hasil pendidikan yang berubah menjadi positiv. Sementara sikap curang dan licik, tak mau mengakui kekurangan, dan bahkan menutupinya dengan segala cara agar tersembunyi kekurangannya, juga contoh nyata dari hasil pendidikan yang kurang baik. Di sini problem penting menyoal Apakah pendidikan cukup untuk perubahan ? Jawabnya singkat. Ternyata tidak beres hanya dengan pendidikan. Memang benar pendidikan adalah untuk merubah, akan tetapi tidak benar jika selamanya pendidikan mengubah jelek menjadi baik. Tak selamanya pendidikan mengubah buruk menjadi baik, salah menjadi benar.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/693/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/693/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/693/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalistikuinsgd.wordpress.com&amp;blog=999779&amp;post=693&amp;subd=jurnalistikuinsgd&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/2011/08/15/govlog-umum-kuliah-banyak-godaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalistikuinsgd</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/2010/06/06/rangkuman-%e2%80%9cjurnalisme-sastra%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/2010/06/06/rangkuman-%e2%80%9cjurnalisme-sastra%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jun 2010 06:44:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jurnalistikuinsgd</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/?p=679</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalistikuinsgd.wordpress.com&amp;blog=999779&amp;post=679&amp;subd=jurnalistikuinsgd&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.vivanews.com/xl_govlog"><img src="http://www.vivanews.com/appaux/xl_govlog/lomba-310x250.jpg"></a> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/679/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/679/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/679/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalistikuinsgd.wordpress.com&amp;blog=999779&amp;post=679&amp;subd=jurnalistikuinsgd&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/2010/06/06/rangkuman-%e2%80%9cjurnalisme-sastra%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalistikuinsgd</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.vivanews.com/appaux/xl_govlog/lomba-310x250.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Salman Guruku</title>
		<link>http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/2010/02/14/salman-guruku/</link>
		<comments>http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/2010/02/14/salman-guruku/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 22:35:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jurnalistikuinsgd</dc:creator>
				<category><![CDATA[Feature]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Salman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/?p=659</guid>
		<description><![CDATA[Entah apa yang harus ku tulis untuk menggambarkan tentangnya. Hanya piringan kenangan yang selalu kuputar dalam layar putih kehidupan. Engkau berjuang tanpa lelah, tenpa keluh kesah, tanapa sebuah keputusasaan. Ku tak kuat untuk melukis kisahmu dalam perihnya kata-kata, karena ku harus berenang dalam air mata ku sendiri. Kau adalah guru bagiku. Kau ajarkan aku tentang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalistikuinsgd.wordpress.com&amp;blog=999779&amp;post=659&amp;subd=jurnalistikuinsgd&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Entah apa yang harus ku tulis untuk menggambarkan tentangnya. Hanya piringan kenangan yang selalu kuputar dalam layar putih kehidupan. Engkau berjuang tanpa lelah, tenpa keluh kesah, tanapa sebuah keputusasaan. Ku tak kuat untuk melukis kisahmu dalam perihnya kata-kata, karena ku harus berenang dalam air mata ku sendiri.</p>
<p>Kau adalah guru bagiku. Kau ajarkan aku tentang kehidupan, tentang kesedihan, tentang perjuangan, tentang keindahan, tentang sesuatu yang seharusnya kusyukuri. Tanpa keluh kesah kau jalani kehidupan dengan penuh pengobatan dan sebuah aturan. Tanpa tetes air mata kau habiskan waktumu untuk ujian-ujian yang memilukan. Tanpa rasa menyesal kau jalani masa mudamu untuk menahan berbagi cobaan.<span id="more-659"></span></p>
<p>Saat orang merasa riang, kau habiskan waktumu dipembaringan. Saat orang merasakan indahnya masa muda, kau hanya melihat dan memendam sebuah rasa. Rasa yang seharusnya kau katakan dan kau ekspresikan.</p>
<p>Sahabatmu adalah do’a, yang kau simpan harap dan keinginan didalamnya. Kau rajut impian dalam syahdunya kehidupan. kau adalah seorang manusia sejati, manusia yang hidup diantara keimanan dan kesabaran. Badai yang datang menerpa tak pernah sekalipun membuatmu goyah. Keyakinan tertancap kuat dalam sanubarimu, sanubari seorang manusia sejati.</p>
<p>Kau adalah penawar disaat aku terluka. Kau adalah pelita pelipur lara. Kau adalah sebuah miniatur manusia surgawi. Kau adalah cambuk dalam keterpurukan. Kau adalah imajinasi dalam dunia pengistirahatan. Kau adalah adikku dan kau adalah guruku.</p>
<p>Salman bukan hanya seorang adik, tetapi ia merupakan guru bagiku. Ia selalu mengajarkan kepadaku tentang kehidupan yang sering aku sia-siakan. Kehidupan yang harus diisi dengan sebuah perjuangan dalam mencapai puncak keabadian. Puncak tersebut hanya bisa didaki oleh seorang yang mempunyai kesabaran dan ketakwaan dalam menjalaninya.</p>
<p>Salman, bila orang melihatnya hanya dari bagian luar saja, mungkin orang-orang akan mengatakan kalau ia adalah manusia yang lemah dan menyedihkan. Tubuhnya kecil dan kurus. Seperti tidak ada daging yang membungkus tulangnya. Yang ada hanyalah selembar kulit tipis. Orang akan mengatakan bahwa ia anak yang lemah. Orang yang akan gampang terserang wabah penyakit. Orang akan mengatakan bahwa ia anak yang tidak mempunyai masa depan yang cerah. Orang akan mengira bahwa ia tidak akan sanggup menjalani kehidupan.</p>
<p>Namun cobalah kita melihat bagian dalam dari seorang salman. Aku akan berkata bahwa ia adalah seorang manusia yang kuat bukan manusia yang lemah. bagiku lemah dan kuatnya seseorang bukan dilihat dari fisiknya. Justru lemah dan kuatnya seseorang dilihat dari jiwannya. Ada orang yang fisiknya gagah, mempunyai tubuh besar, otot disekujur tubuhnya nampak, dadanya bidang dan ia sanggup memikul beban yang beratnya ber-ton-ton. Apalah artinya bila tubuhnya kuat tapi jiwanya rapuh.<br />
Tubuh tak lebih hanya sebagai hiasan atau topeng untuk menutupi kelemahan jiwa.</p>
<p>Memang benar, Salaman sering sakit-sakitan. Tetapi ia tidak memusuhi penyakitnya, bahkan ia bersahabat dengan penyakit yang dideritanya. Kuat dan lemahnya seseorang bukan hanya dilihat dari gampang atau tidaknya ia terserang penyakit, tetapi lemah dan kuatnya seseorang dilihat dari ia menerima dan memperlakukan penyakit yang menyerangnya. Salman tetap sabar dengan cara berikhtiar untuk sembuh. Impian terbesar dalam hidupnya adalah untuk sembuh. Ia terus berjuang tanpa rasa lelah.</p>
<p>Salah besar, jika orang mengatakan bahwa Salman tidak mempunyai masa depan yang cerah. Hari ini adalah gambaran dari hari yang akan datang. Masa depan Salman, masa depan yang sangat cerah, lebih cerah dari masa depan yang ada di dunia ini. Masa depan yang di impikan oleh seluruh umat manusia. Masa depan yang abadi, masa depan di Taman Firadus. Karena Salaman merajut mimpinya dengan benang kesabaran dan jarum perjuangan.</p>
<p>Sejak kecil Salman sudah menderita penyakit thalassaemia. Thalassaemia adalah suatu kelainan darah, thalassaemia ini terdiri dari berbagai jenis. Ada thalassaemia bawaan/ trait, thalassaemia minor dan thalassaemia mayor. adikku mengidap thalassaemia mayor, artinya tidak dapat membentuk hemoglobin yang cukup dalam darah. Sehingga adikku membutuhkan transfusi darah setiap bulannya.</p>
<p>Salman harus melakukan tranfusi setiap bulan. Sedikitnya, dua labu darah harus dimasukan ke dalam tubuhnya. Betapa mirisnya hati ini ketika harus melihat Salman menerima tusukan demi tusukan jarum suntik. Kulihat tangannya bengkak, akibat seringnya jarum suntik menusuk lengannya. Ia hanya menyucurkan air kesedihan dari kedua matanya. Sambil sesekali ia mengatakan kepada Ibuku, “Ibu sakit, sakit”. Dengan suara tersedu-sedu.</p>
<p>Salman pun menjalaninya dengan penuh kesabaran. Malah secara todak langsung ia mengatakan, “Penyakit ini diberikan oleh Allah, maka Allah akan memberi penawarnya”. Maka yang kita harus lakukan adalah berusaha untuk sembuh. Sabar bukan pasrah menerima keadaan dan tidak berusaha, tetapi sabar adalah menerima dan memperlakukan keadaan sebagaimana mestinya.</p>
<p>Menurut dokter, kemungkinan besar penyakitnya susah untuk disembuhkan. Kemungkinan untuk sembuh seribu banding satu. Bahkan dokter memprediksikan umur Salman tidak akan lama, paling hanya sampai kelas 4 SD. Perkataan dokter itu sempat membuatku merasa khawatir. Namun secara tidak langsung Salman mengajarkan kepadaku, bahwa dokter bukanlah Allah. Kebenarannya tidaklah mutlak. Prediksinya hanayalah berdasarkan kebiasaan dan kebanyakan. Tetapi Allah sudah menetapkan sesuatu, siapa pun tidak akan ada yang mengetahui, termasuk kapan dan dimana kita akan mati.<br />
Sebuah nilai ketauhidan yang sering manusia abaikan. Perkataan dokter pun tidak terbukti kebenarannya. Salman masih bisa menghirup udara di dunia ini. Keimananku hampir goyah.</p>
<p>Meskipun penyakitnya tidak kunjung sembuh, Salaman tidak pernah berputus asa dalam meraih mimpi-mimpinya. Semangatnya untuk mencari ilmu mengalahkan semangatku. Biasanya orang yang menderita thalasemia tidak boleh pikirannya terlalu diporsir. Karena itu bisa mengganggu terhap daya tahan tubuhnya. Tetapi Salman bersikeras untuk tetap pergi mencari ilmu. Ia tidak mau keadaan fisiknya menghalangi ia dalam menggampai setiap impiannya. Pernah suatu saat aku melihatnya sedang menangis di dalam masjid pesantren. Ia hanya memegang kakinya sambil mengurutnya. Saat sedang jajan saudaraku memberitahukan keadaan salman kepadaku. Aku pun segera menghampiri Masjid, dan benar saja aku melihat Salaman sedang menangis seorang diri di rumah Allah itu. Kemudian aku membantunya, aku urut-urut kakinya sambil bertanya kepadanya, “ Man, kenapa?”. Dia tidak menjawab. Ia hanya menangis sambil tangannya menutup kedua matanya. Aku hanya berharap Allah mengangkat penyakitnya tersebut. Aku tidak kuasa melihatnya menahan sakit. Ya Allah, hanya Engkau yang bisa menyembuhkan segala penyakit, hanya engkau yang bisa memberikan penawarnya. Mengapa kesembuhan tak kunjung Engkau berikan kepada Salman. Jikalau penyakit yang Kau berikan ini adalah suatu bentuk kasih sayang-Mu padanya, maka kuatkanlah Salman.</p>
<p>Ada bebrapa peristiwa yang membuatku menangis dan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Pernah suatu saat, keadaan fisik Salman mulai menjadi lemah. Salaman datang padaku dengan maksud mengajakku untuk pulang sekolah bersamanya. Aku sempat malas juga, masalahnya aku ingin bermain dudlu bersama taman-temanku. Namun aku mempunyai tanggung jawab terhadap adikku. Akupun pulang bersamanya. Kami berdua naik angkutan umum. Pada saat kami mau turun, aku menyuruh Salman untuk turun duluan. Tetapi, ia tidak mau dan mengatakan padaku;</p>
<p>”Luthfi saja yang turun duluan, kalau Salman yang duluan turun bakalan lama”.</p>
<p>Akupun segera turun dari angkutan tersebut, dan yang membuatku sedih ketika melihat Salman turun. Ia merangkak untuk turun. Ia duduk di tangga pintu angkutan umum teresbut, hanya berusaha untuk turun. Aku melihat badannnya mulai semakin lemah. kemudian aku segera membantunya. Tiba-tiba aku mendengar suara di belakangku. “Braak!”. Setelah kulihat, ternyata tukang es terjatuh dari sepedanya. Aku kembalikan perhatianku untuk membantu Salman.</p>
<p>“Pi bantu si emangnya, biar Salaman mah bisa turun sendiri”. Kata Salaman, yang membuatku terheran-</p>
<p>heran, kagum, sedih dan bangga. Meskipun keadaannya susah ia tidak mau menyusahkan orang lain, malah ia ingin membantu orang lain.</p>
<p>Kemudian Salman pernah bercerita padakku.<br />
“Pi, Salman waktu itu pernah dimarahin oleh supir angkot. Gara-gara waktu itu saking susahnya Salman untuk turun dan harus duduk dulu di tangga pintu angkot.”<br />
Pikirku, mungkin persis seperti kejadian waktu itu turun dari angkot. Salman memerlukan usaha yang keras hanya sekedar untuk turun.<br />
“Memangnya di marahin gimana Man?”. Tanyaku padanya.<br />
“Eeeuuh!! Budak teh meni hararese turun teh!.” Jawab Salman dengan raut muka yang menunjukan sakit hati.</p>
<p>Mendengar cerita tersebut membuatku merasa geram. Marah kepada supir angkot tersebut. Kalaulah aku ada disana akan aku pukul supir angkot itu. Kalau boleh berkata kasar akan aku katakan pada sopir itu, ”Pika Anjingeun pisan”.</p>
<p>Bagaimana kalau posisinya adik atau saudara kita yang diperlakukan seperti itu. Kira-kira apa yang akan kita lakukan?</p>
<p>Menginjak kelas 3 Mu’allimien, penyakit Salman bertambah parah. Tulangnya kropos, paru-parunya semakin parah. Salman terserang osteoporosis. Allah mengujinya kembali untuk menaikan derajatnya sebagai seorang hamba Allah. Tulang paha kanan dan kirinya patah. Sehingga menyebabkan Salman tidak bisa berjalan. Ia hanya terbaring tidak berdaya. Kedua kakinya dibalut perban, dan diberi beban pada kakinya. Selama setahu Salaman harus berbaring. Bayangkan bila kita berbaring setahun, kira-kira apa yang kita rasakan?. Kulit kakinya mengelupas akibat lembab yang diakibatkan perban yang menutupi kakinya. Punggungnya lecet-lecet, karena harus terus berbaring. Hatiku semakin menangis melihat keadaannya.</p>
<p>Kakinya gatal-gatal akibat kulitnya mengelupas. Untuk menggaruknya saja ia tidak bisa. Ia hanya meringis menahan gatal. Kadang ia meinta bantuanku hanya sekedar untuk menggaruknya. Ya Allah, begitu kuatnya adikku ini dalam menghadapi ujianmu. Untuk buang air besarpun baginya terasa susah. Buang air pun ia lakukan di atas pembaringan. Persis seperti seorang bayi. . Walaupun keadaanya begitu, dia tidak pernah memperlihatkan rasa sedih di depan kami, malah dia selalu menghibur kami. Pernah suatu saat dia menangis ketika melihat kami membantunya buang air besar. Ayahku bertanya padanya, “Man, kenapa nangis?”.<br />
“Salaman malu sama semuanya karena dari kecil sampai sekarang, Salman selalu menyusahkan semua”. Jawabnya dengan tersedu-sedu.</p>
<p>Jawaban tersebut membuat hatiku semakin menangis, “bagaiamana jawaban tersebut bisa diucapakan oleh adikku yang justru keadaannya sedang sakit”. Sangatlah wajar jika dia menyusahkan kami karena itu kewajiban kami.</p>
<p>Rumah sakit ibarat rumah baginya. Seminggu Salman pulang, seminggu yang akan dating ia harus masuk kembali ke Rumah Sakit. Saking seringnya keluar masuk rumah sakit, para perawatpun mengenal keluarga kami. Ketika Salman sedang melamun, menerawang menuju jendela, Salman bertanya pada Abah.<br />
“Bah! Kalau itu ruangan VIP?, sama tidak rasanya denga di ruangan kelas dua ini?”.<br />
“Iya Man itu ruangan VIP”. Jawab Abah.<br />
Terlintas dalam pikiran Abah untuk memaksakan diri menyewa ruangan VIP selama satu hari. Hanya untuk membahagiakan Salman.<br />
Suatu hari Abah mengajak Salman.<br />
“Man ayo kita pindah ruangan ke VIP”<br />
“Ah! Bah, lebih baik uangnya dipakai buat bayaran sekolah Silmi, Nazmi dan bekal Luthfi di Asrama Pesantren”. Jawab Salman.</p>
<p>Begitu bijak sekali jawaban yang terlontar dari remaja yang berumur 17 tahun ini. Dia tidak memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri. Dia memikirkan kami bertiga yang keadaannya jauh lebih baik dari dirinya.<br />
Minggu pagi, membuatku sangat sedih dan takut. Aku menerima telephon dari Abah untuk segera datang ke Rumah Sakit. Akupun bergegas menuju Rumah Sakit Al-Islam yang berada di Jl. Soekarno-Hatta. Sesampainya disana aku bertanya pada Ibuku.<br />
“Bu, ada apa?”<br />
“Salman masuk ICU, setelah tadi mengalami anfall”. Jawab ibu.</p>
<p>Aku bertanya-tanya, Allah akan memberikan ujian apalagi pada Salman dan kami?. Kemudian ibu menceritakan kejadian tadi pagi kepadaku. Ketika dalam anfal tersebut Salaman menanyakanku dan kemudian ia hanya mengucapkan, “A B C D” seperti anak yang baru belajar membaca. Namun ayahku menegurnya, “Man, jangan sebut A B C D, tapi Laa illaha illallahu”. Kemudian adikku tersenyum sambil membaca kalimat tauhid laa illaha illallahu. Seolah-olah Salaman sedang menguji ayahku tentang ke-imanan-nya. Akhirnya dokter membawa adikku ke ICU karena keadaannya yang drop. Pada saat perjalanan menuju ICU, tepatnya di dalam lift, salaman berkata pada Ibu ku, “Bu, Buka dong krudungnya”. Mungkin saja pertanyaan tersebut lahir karena adikku sudah sangat lama berada di rumah sakit. Sedangkan ibu ku ketika menunggunya terus menggunakan penutup kepala. Sehingga sudah lama adikku tidak melihat ibu ku tanpa penutup kepala. Secara sepintas pertanyaan tersebut sangat wajar terlontar. Ibuku juga merasa heran, kenapa adikku yang tahu hukum bisa berkata seperti itu.</p>
<p>Menanggapi pertanyaan adikku tersebut ibu hanya mengatakan, “Jangan shaleh, ini kan di lift banyak orang. Ini kan aurat”. Salman kemudian mengangguk dan tersenyum. Seolah-olah sama yang dilakukannya kepada ayahku, mengujinya. Biasanya permintaan terakhir orang yang akan meninggal selalu dipenuhi. Tapi tidak dengan ibu ku, ibuku tidak akan mengorbankan aqidahnya. Adikku menguji ayah dan ibu ku sebelum meninggalkan dunia ini dengan sebuah ungkapan dan permintaan. Jawaban ayah dan ibuku tersebut mungkin saja membuatnya tenang ketika akan meninggalkan kami. Karena ayah dan ibu ku masih memegang aqidahnya sebagaimana yang telah di ajarkan kepada adikku.</p>
<p>Ada satu lagi pertanyaan adikku yang dilontarkan kepada ayahku, sehingga membuatku semakin berpikir. “Abah, kenapa harus Salman yang mengalami ini?”. Pertanyaan yang sulit. Mungkin jika aku yang ditanya hanya bisa terdiam karena kebodohanku. Tapi tidak dengan ayahku, ia menjawab “Salman tuh pilihan Allah dan Allah sayang sama salman”. Jawaban yang hanya bisa dijawab dengan keimanan.<br />
Dokter berkata pada Abah dan Ibuku, kalau paru-paru Salman banjir, sehingga membuatnya susah untuk bernafas. Maka dokter menanyakan kepada Abah dan Ibu apakah Salman mau di operasi atau tidak?, karena resiko yang akan ditimbulkannyapun besar.<br />
“Hidup dan Mati itu urusan Allah, dokter tahu mana yang terbaik untuk dilakukan secara medic”. Jawab Abah dengan agak sedikit marah.</p>
<p>Akhirnya kami putuskan Salman untuk segera di operasi. Paru-parunya akan dilobangi dan dimasukan selang untuk membantu nafasnya agar tidak sesak.</p>
<p>Namun sebelum operasi dilakukan Salman sudah tidak sadarkan diri. Perawat sibuk membantunya dengan alat pernapasan. Denyut jantungnyapun melemah. Ibu membisikan pada telinga Salman.<br />
“Man, Abah dan Ibu Ridho. Salman harus tenang. Nanti Salman jemput Abah dan Ibu di Surga”.<br />
Kemudian keluarlah air mata dari kedua mata Salman, seolah-olah Salman mendengar dan mengerti apa yang Abah dan Ibu ucapkan. Kemudian Abah dan Ibu membisikan di telinga Salman Laa Ilaaha Illallahu, dan di ikutinya perkataan tersebut oleh Salman.</p>
<p>Pamanku memanggil aku dan Nazmi. Pada waktu itu aku dan Nzmi sedang berada di luar. Kemudian aku masuk ke ruangan ICU.<br />
“Pi, Talkinan”. Suruh Abah padaku.</p>
<p>Aku pun membisikan kalimat Laa ilaaha illallhu sebanyak tiga kali. Kemudian Nazmi pun sama membisikan kalimat tersebut. Akhirnya Salman menghembuskan nafasnya yang terakhir. “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rooji’uun” Ya Allah, janji Mu telah datang, janji bagi setiap yang bernyawa. Engkau memang telah mengakhiri penderitaannya dengan mengambilnya kembali.</p>
<p>Inilah sebuah perjuangan yang akan di tebus oleh indahnya surga. Tempat bagi para orang yang beriman. Salman aku akan merindukanmu, jemput kami di taman Firdaus. Aku ingin kita berkumpul bersama kembali dalam keabadian. Salman, engkau adalah guru yang mengajarkan padaku indahnya, sakitnya, lelahnya sebuah perjuangan. </p>
<p><em>{Penulis adalah Deli Luthfi Rahman Mahasiswa S1 Jurusan Jurnalistik UIN SGD Bandung}</em></p>
<br /> Tagged: <a href='http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/tag/guru/'>Guru</a>, <a href='http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/tag/salman/'>Salman</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/659/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/659/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/659/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/659/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/659/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/659/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/659/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/659/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/659/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/659/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/659/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/659/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/659/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/659/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalistikuinsgd.wordpress.com&amp;blog=999779&amp;post=659&amp;subd=jurnalistikuinsgd&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/2010/02/14/salman-guruku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalistikuinsgd</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebait Pengalaman</title>
		<link>http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/2010/02/14/sebait-pengalaman/</link>
		<comments>http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/2010/02/14/sebait-pengalaman/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 22:26:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jurnalistikuinsgd</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Aula UIN SGD]]></category>
		<category><![CDATA[Opak]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Sebait]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/?p=656</guid>
		<description><![CDATA[“Apa yang kau cari?”, adalah sebuah pertanyaan yang selalu menghantui kemana aku pergi dan dimana aku berada. Sebuah pertanyaan yang selalu melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru. Sebuah pertanyaan yang dipenuhi sekelumit misteri bagi si penjawab. Pertanyaan tersebut hanyalah terdiri dari satu kalimat, empat kata dan empat belas huruf. Namun memerlukan jawaban yang sangat panjang dan rumit. Sehingga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalistikuinsgd.wordpress.com&amp;blog=999779&amp;post=656&amp;subd=jurnalistikuinsgd&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Apa yang kau cari?”, adalah sebuah pertanyaan yang selalu menghantui kemana aku pergi dan dimana aku berada. Sebuah pertanyaan yang selalu melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru. Sebuah pertanyaan yang dipenuhi sekelumit misteri bagi si penjawab. Pertanyaan tersebut hanyalah terdiri dari satu kalimat, empat kata dan empat belas huruf. Namun memerlukan jawaban yang sangat panjang dan rumit. Sehingga pertanyaan itu hanya bisa dijawab dengan sebuah perbuatan, bukan perkataan atau dengan teori yang penuh dengan omong kosong belaka.</p>
<p>Ayah, memberi nasihat-nasihat kehidupan kepadaku, ”Nak, perhatikan dan dengarkan apa yang ada disekitarmu. Belajarlah tentang sesuatu darinya. Carilah ilmu, karena itu adalah sebaik-baiknya bekal, sehingga engkau tidak akan lelah untuk memikulnya. <span id="more-656"></span>Engkau tidak akan menjadi orang yang menyesal karena berteman dengan ilmu, Engkau akan melihat dengan ilmu, engkau akan mendengar dengan ilmu dan engkau akan berbicara dengan ilmu. Maka engkau tidak akan menjadi orang yang buta, tuli dan bisu”. </p>
<p>”Nak, Bersekutulah dengan kenyataan. Bila tidak begitu, engkau akan selalu diliputi resah bila harapan yang kau bingkai dan kau pajang dalam dinding-dinding mimpi kehidupan tidak tercapai. Nak, jangan kau memgikuti arus, karena itu hanya akan membuatmu terjebak oleh buih-buih yang menipu. Jangan pula kau melawan arus, karena itu akan membuatmu hancur berkeping-keping. Tapi yang kau harus lakukan adalah mengatasi arus, karena dengan begitu kau akan tahu kapan harus mengikuti dan melawan arus, sehingga kau tidak akan menjadi orang yang terjebak atau hancur”.</p>
<p>Aku adalah orang yang terjebak diantara pertanyaan yang dilematis, bahkan aku tidak mampu untuk menjawabnya dengan sistematis. ”Apa yang kau cari?”, ilmukah? Atau gelar kesarjanaan yang selalu dipuja-puja oleh orang disekitarnya?, sehingga orang rela melakukan apa saja demi memilkinya. Inilah sebuah prolog dari cerita sejarah hidupuku. Dan akan aku ceritakan tentang sebuah jawaban yang lahir dari pertanyaan dilematis tersebut.</p>
<p>Aku berfikir bahwa yang terpenting adalah ilmu, maka aku tidak akan menjadi orang yang memuja sebuah gelar. Aku melihat banyak orang yang mempunyai gelar tetapi dalam keilmuannya nol besar. Sebab mereka hanya memikiran cangkangnya bukan isinya. Maka aku putuskan ketika masuk perguruan tinggi harus merubah sebuah paradigma berfikir yang salah. Paradigma bahwa gelar adalah segalanya namun esensi dari gelar tersebut hilang ditelan gengsi.</p>
<p>Orientasi Pengenalan Akademik (OPAK) yang diselenggarakan oleh organisasi mahasiswa tertinggi di lingkungan akademik, Dewan Mahasiswa (DEMA). Opak, menghabiskan waktu selama empat hari, dimulai tanggal 18 Agustus-24 Agustus 2008, bertempat di Aula Universitas Islam Negri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung.</p>
<p>Hari pertama Opak sungguh luar-biasa, peserta sampai mebeludak keluar. Aula UIN tak sanggup menampung ribuan calon mahsiswa baru. Panitia pun tidak memperkirakan ini akan terjadi, wal-hasil panitia kewalahan dalam mengkondisikan para peserta. Akhirnya yang terjadi, peserta tidak dapat terpantau seluruhnya oleh panitia. Peserta yang tidak kebagian tempat di dalam aula, ditempatkan di luar aula sehingga sebagian peserta yang di luar bisa dengan bebas mengikuti Opak. Ada yang merokok, ada yang jajan dll.</p>
<p>Opak menjadi ”ajang” saling mengenal, disinilah aku memperhatikan setiap orang dengan berbagai keingininan dan tujuan. Mahasiswa menjadi potret yang menarik bagi orang yang melihatnya, bagi mereka yang sudah bosan dibelenggu dengan peraturan sekolah. Ucapkan selamat tinggal kepada seragam, ucapkan perpisahan kepada razia yang dilakukan oleh para guru sehingga membuat geram bagi yang mengalaminya. Sekolah menjadi salah satu bagian dari evolusi pendidikan formal, sehingga sampai pada tingkatan tertinggi, yaitu perguruan tinggi. Evolusi yang didambakan oleh setiap orang, kebebasan mengekspresikan diri menjadi ciri dari evolusi ini.</p>
<p>Hari pertama sungguh membosankan dan melelahkan. Mungkin lelah akibat dari rasa bosan yang mendampingiku dengan setia pada setiap acara yang disuguhkan oleh panitia. Rasa bosan ini hadir dalam tiap gerak dan langkahku diakibatkan aku tidak mendapatkan tempat didalam aula, lantas apa yang mau diperhatikan dari acara tersebut?.</p>
<p>Adzan dzuhur pun tiba, pada hari itu adzan dzuhur bagai sebuah lonceng istirahat yang ditungu-tunggu, adzan dzuhur bagai hari kebebasan bagi narapidana yang telah lama terkurung dalam rimbunnya terali besi, adzan dzuhur bagai sebuah tempat peristirahatan sang musafir yang telah menempuh jarak begitu jauh. Aku pun segera bergegas menuju para pedagang yang siap melepas kerinduan setiap para pelanggannya. Aku hisap sebatang rokok dengan penuh kerinduan, bagai dua sejoli yang telah terpisah ribuan abad lamanya. Asap mengepul dari rokok ku, berkumpul menjadi satu dalam putaran angin. Diantara sibuknya asap, terbersit dalam pikiran sebuah kata-kata pemberontakan, ”Aku bosan, aku akan pulang”.Hari pertama, aku hanya mengikuti selama setengah hari. Untuk persiapan hari kedua aku akan menanyakannya pada temanku saja, gampangkan!</p>
<p>Hari kedua tak ada bedanya dengan hari pertama, bagai saudara kembar identik. Setelah adzan ashar peserta dibagi kelompok untuk melakukan mentoring. Karena kemarin tidak masuk, aku tidak tahu masuk kelompok mana. setelah melihat papan yang didalamnya tertera pembagian tiap-tiap kelompok, ternyata aku masuk kelompok 110.</p>
<p>Mentoring pun dimulai, kelompok 110 disatukan dengan kelompok 109, jadi ada dua pementor. Bahasan yang diajukan tentang ke-UIN-an, kami pun asik berdiskusi. Pementor mengatakan, ”Kawan-kawan pernah baca buku yang berjudul ’Dahulukan Akhlaq daripada Fiqih?’, yang ditulis oleh Jalaludin Rahmat”. Aku berpikir bagaimana bahasan tentang ke-UIN-an bisa masuk kepada bahasan tersebut, apa hubungannya?, entah karena kehabisan kata-kata atau ada maksud tertentu?. Pementor menanyakan kembali, ”Kawan-kawan setuju tidak dengan buku tersebut?”. ada yang mengatakan dahulakan dulu akhlaq dan ada yang mengatakan dahulukan dulu fiqih. Mereka yang berpendapat dahulukan dulu akhlaq mengatakan ”bila fiqih yang didahulukan bisa terjadi perpecahan atau permusuhan karena masalah fiqih itu berbeda-beda tapi bila berbicara masalah akhlaq pasti sama”. Namun pendapat ini dibantah oleh mereka yang mengatakan dahulukan dulu fiqih dengan argumentasi, ”Fiqih memang berbeda-beda, tapi kita tidak bisa menafikan keberadaan fiqih sebagai hubungan kita dengan Allah”.</p>
<p>Sebenarnya dalam perbedaan pendapat tersebut aku setuju dengan orang yang mengatakan dahulukan fiqih. Namun aku coba memberi pertanyaan yang sedikit nakal, sehingga seolah-olah kontradiksi dengan pendapatku. Aku bertanya, ”Bagi anda yang berpendapat dahulukan fiqih saya ingin bertanya, bukankah di dalam hadits yang menceritakan tentang orang yang rajin puasanya, rajin shalatnya bahkan tidak pernah lepas tahajudnya, namun akhlaq terhadp tetangganya jelek. Banyak tersinggung oleh perkataannya. Kemudian shahabat melaporkan kepada Nabi saw., lantas Nabi mengatakan, ’Hiya min ahlin-nar’. Pertanyaannya apa maksud dari hadits tersebut?, apakah Nabi menyuruh untuk mendahulukan akhlaq dari-pada fiqih?”. aku bertanya begitu untuk memancing agar terjadi perbincangan yang lebih seru lagi.</p>
<p>Pendapatku tentang perbincangan tersebut, bahwa keduanya antara fiqih dan akhlaq harus ditempatkan sesuai posisinya. Keduanya saling berkaitan, bagiku tidak ada yang harus di dahulukan, tapi harus berjalan beriringan. Menanggapi hadits yang aku sebutkan di atas, bahwa hadits tersebut mensiratkan apa yang kita lakukan dalam beribadah harus menjadi aqidah dalam berkehidupan sosial kita. Artinya shalat, shaum, zakat dan haji yang kita lakukan harus ada dampak dalam berkelakuan atau dalam berkehidupan kita.</p>
<p>Bukankah Allah telah berfirman, ”Shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar?”, kemudian Allah juga berfirman, ”Kecelakaan bagi orang yang shalat. Orang yang shalatnya lalai”. Pertannyaannya apakah yang dimaksud dengan shalatnya lalai?. ”Lalai” disini bisa berarti, bahwa orang tersebut terkadang ia shalat dan terkadang ia tidak. Bisa berarti juga, shalatnya tidak sesuai dengan apa yang Nabi ajarkan, karena Nabi pernah bersabda, ”Shalatlah sebagaimana kalian melihat atau mengetahui aku shalat”. Bisa berarti juga, shalatnya tidak berdampak pada kehidupannya atau shalatnya tidak mencegah kepada fahsya dan munkar. Intinya keberadaan fiqih tidak bisa dinafikan dari pada keberadaan akhlaq itu sendiri.</p>
<p>Pementor itu juga menceritakan, bahwa mengapa buku ini ada, berdasarkan pengalaman penulis. Jadi beliau pernah mengunjungi rumah seseorang, kemudian pada saat beliau meminta izin untuk ke ikut ke kamar mandi beliau melewati jemuran. Jemuran tersebut terkena badannya. Orang yang mempunyai jemuran tersebut mencucinya kembali dengan alasan dia itu najis. Tentu saja beliau sakit hati.</p>
<p>Pada hari terakhir Opak, menampilkan kebolehan dari tiap-tiap Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dengan tujuan menarik mereka para calon mahasiswa untuk bergabung dengan komunitasnya. Disinilah ku lihat berbagai wajah islam untuk mencari tuhannya. Mencari kebenaran yang hakiki dengan dalil-dalil logika. LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman), LDM (Lembaga Dakwah Mahasiswa), SUAKA (Suara Kampus), PSPB (Pencak Silat Paku Banten) adalah diantara jenis-jenis UKM tersebut.</p>
<p>Setelah Opak yang penuh dengan berbagai peraturan selesai, hari seninnya kami pun harus bersiap-siap karena kegiatan perkuliahan akan dimulai. Perkuliahan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Perkuliahan yang di-isi dengan berjuta harapan tiap-tiap orang.</p>
<p>Mahasiswa yang di identikan dengan kehidupan yang bebas, pergaulan yang bebas dan lain sebagainya sempat membuatku khawatir. Karena aku takut terjerumus kedalamnya, kedalam jurang kenikmatan yang membuat tenang setiap orang yang terperosok. Aku takut kehadiran kelam di mimpi cerahku. Aku takut keindahan duniawi menodai ketentuan yang harus dijalankan bagi setiap yang diciptakan. Aku takut prinsip-prinsip yang aku bangun dengan tetesan keringatku hancur diterjang ketidak berdayaan. Aku takut di asingkan karena aku dianggap berbeda dengan orang disekitarku. Ini hanya sebagian butir-butir ketakutan yang mesti aku pikirkan jalan keluarnya.</p>
<p>Jawaban dari setiap ketakutan, ku temukan dalam tiap-tiap nasehat kebenaran dan sebaris kata, ”Apa yang kau cari?”. sebaris kata yang mengingatkanku akan sebuah tujuan dan jawaban. Bagiku jawaban bukan ada pada kata-kata, tapi jawaban ada pada sebuah perbuatan. </p>
<p><em>{Penulis adalah Deli Luthfi Rahman Mahasiswa S1 Jurusan Jurnalistik UIN SGD Bandung}</em></p>
<br /> Tagged: <a href='http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/tag/aula-uin-sgd/'>Aula UIN SGD</a>, <a href='http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/tag/opak/'>Opak</a>, <a href='http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/tag/pengalaman/'>Pengalaman</a>, <a href='http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/tag/sebait/'>Sebait</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalistikuinsgd.wordpress.com/656/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalistikuinsgd.wordpress.com&amp;blog=999779&amp;post=656&amp;subd=jurnalistikuinsgd&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalistikuinsgd.wordpress.com/2010/02/14/sebait-pengalaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jurnalistikuinsgd</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
